RSS

Efficiency Measurement in Health

Oleh Citra Dewi Astuti

Sebagai pendahuluan, dr Citra menyampaikan bahwa setiap kesempatan memiliki mekanisme trade off, karena keterbatasan sumber daya. Oleh karena itu, efisiensi merupakan penggunaan sumberdaya yang terbatas ini untuk output yang sebesar-besarnya.

Sebagai tambahan beliau juga menjelaskan mengenai “equity”=”size of economic pie”, yang sering kali bertabrakan dengan “efficiency”=”to what extent the pie is devided”. Sebagai contoh, ketika asuransi kesehatan hanya untuk orang miskin sebagai kebijakan pemerataan kesempatan untuk mendapatkan layanan kesehatan, padahal orang miskin tersebut biasanya memiliki status kesehatan yang lebih buruk, bahkan dimungkinkan tidak produktif.

Definisi berikutnya yang beliau jelaskan adalah “cost” = pengorbanan yang diperlukan untuk mendapatkan sesuatu. Dalam hal ini membandingkan biaya dan manfaat yang diperoleh dari berbagai alternative, termasuk opportunity cost. Sebagai contoh: seorang ibu yang harus memilih mengantarkan anaknya yang sakit ke Puskesmas, atau tetap di rumah bekerja sehari-hari.

Grafik yang menunjukan berbagai kombinasi output yang dimungkinkan diproduksi dengan adanya input dan teknologi yang ada. Pareto efficiency, efisiensi yang terjadi ketika menggunakan seluruh sumber daya yang ada.

Allocative efficiency, keduanya baik input maupun output digunakan secara optimal untuk mendapatkan benefit social yang secara maksimal. Oleh karena itu digunakan grafik social indifference curve (apa yang masyarakat mau dari pelayanan yang diberikan).

Technical efficiency, memproduksi sebanyak mungkin output dengan input tertentu dan tingkat teknologi tertentu (output oriented). Atau, meminimalkan input yang digunakan untuk ouput tertentu (input oriented). Contoh: vaksinasi di daerah terpencil untuk 1000 anak. penggunaan kombinasi input: bidan minggu, dan bicycle weeks. iso=sama; quant=jumlah. Sehingga jika sudah bisa mencapai titik titik tersebut maka efesiensi telah tercapai.

Economic efficiency: mengkomibinasikan input yang meminimalkan biaya. Dengan menambahkan isocost. Ketiak bersinggungan antara garis isocost dan isoquant, terjadi economic effiency. Kalau terlau rendah costnya, outputnya tidak tercapai, atau sebaliknya.

Permasalahan penggunaan efisiensi di layanan kesehatan antara lain, sebagai contoh: di Emergency care ketika alat tidak terpakai, atau sumberdaya tidak melayani ketika harus menunggu pasien, sebagai bagian dari “Readiness”. Kemudian, ketika efisiensi semakin tinggi, maka terjadi penurunan kualitas, hal ini sangat tergantung ouput yang dipilih. Contoh: output imunisasi : jumlah anak yang diimunisasi, kasus yang dapat terhindar, kematian yang dapat dihindari, harapan hidup. Jika kita memilih output yang sangat dekat (jumlah anak yang diimunisasi), maka kualitas nya tidak bisa langsung diukur. Karena mungkin saja ternyata tidak berdampak pada kematian.

Sebagai studi kasus untuk diskusi, pertanyaan mendasar adalah mana yang paling efisien dengan sumber pembiayaan berdasarkan: 1) Pajak; 2) social insurance; 3) private? Hasilnya cukup menarik, ada asumsi bahwa private financing bisa lebih efisien karena orang harus berpikir ketika ke layanan, tapi di sisi lain masih ada asimetri informasi, sehingga terjadi supply induce demand.

Mengapa perlu pengukuran efisiensi layanan kesehatan? Hal ini menjadi penting karena 1) pengeluaran kesehatan diberbagai Negara meningkat sangat tajam, baik di Negara OECD, maupun Negara berkembang di Asia. 2) Terdapat fenomena pergeseran supply layanan kesehatan, yakni memberikan pelayanan dnegan teknologi baru tanap bukti cost-effectivenes. 3) Yang terakhir, adanya peningkatan demand layanan kesehatan akibat populasi yang makin menua dan penyakit kronis.

Bagaimana pengukuran efisiensi?

1) economic evaluation. (Analaisis komparasi 2 atau lebih alternaif, dengan cara membandingkan cost (inputs) dan consequences (outputs). Tujuan dari evaluasi ini adalah menemukan “the value for money” untuk intervensi/ program kesehatan. Memang benar bahwa sebagian besar pengukurannya digunakan untuk kegiatan kuratif, namun saat ini juga sudah mulai banyak terkait kegiatan kesehatan masyarakat, sebagai contoh penggunaan chlorin untuk air. Memang ada perbedaan variable output dan jenis cost yang diukur.


Tipe studi

Pengukuran input

Identifikasi Konsekuensi

Pegukuran konsekuensi

Decision

Cost analysis/ minimization

Monetary unit

None

None (asumsi: outputnya sama; ini yang sulit.)

Least cost alternative

CEA

Monetary unit

Single, sama alternative keduanya

Unit natural (life-years gained, disability-days saved, blood pressure, other health outcome)

Cost per unit of consequences. Contoh biaya per LY gain

CUA

Monetary unit

Single or multiple, tidak musti sama alternative outputnya

Utility weight (QALY)

Cost per unit of consequences. Contoh: cost per QALY

CBA

Monetary unit

Single or multiple, tidak musti sama alternative outputnya.

As for CUA but valued in monetary unit

Net $ cost/ benefit ratio

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan:

a) Rentang biaya dan benefit (sebagai contoh jangka waktu pengukuran)

b) Memastikan biayanya diperhitungkan secara penuh

c) Penggunaan harga pasar

d) Penggunaan ent present value atau modelling ketiak melakukan ekstrapolasi

e) Memperhitungkan ketidakpastian, sebagai contoh: fluktuatif dan variasi harga. Caranya bisa dengan melakukan sensitivity analysis dengan pengukuran yang berbeda, sehingga lebih berhati-hati dalam interpretasinya.

2) Analisis yang lain adalah adalah frontier analysis untuk layanan kesehatan: layanan kesehatan/ sistem kesehatan sebagai fungsi produksi, dengan tujuan menemukan seberapa efisien layanan kesehatan yang diproduksi oleh pemberi layanan/ sistem kesehatan.

Dari penelitian yagn sering dilakukan adalah data evenlopment analysis (DEA), dan SFA. Dalam DFA, mengobservasi data input dan output dengan teknik program matematis. Hasilnya adalah koefisien efisiensi dari masing-masing provider dan ranking. Karena kita membandingkan satu dengan yagn lain, maka hasilnya merupakan efisensi relative. DEA ini merupakan parametric analisis sehingga tidak perlu asumsi distribusi inefisiensi. Analisis ini dapat digunakan untuk multiple input dan multiple output, yang sering diguankan di rumah sakit.

Stochastic frontier analysis (SFA). Merupakan parametric analisis dengan memperhitungkan distribusi inefisiensi. Hal ini menggunakan dengan dasar klasik linier regression model. Keuntugnannya adalah dapat membedakan pengukuran inefisiensi dan pure error, tidak seperti DFA. Untuk ini dapat mengestimasi tingkat efisiensi secara individu provider itu sendiri tanpa membandingkan dengan provider lain.

Studi dengan metode ini masih terus dikembangkan, sehingga harus hati-hati dalam menginterpretasinya, dan tentu saja di sisi lain penelitian seperti ini tidak terlalu masalah untuk trial and error.

Okay sekian dulu pelajaran hari ini.

 
 

Tag:

CERPIN (Cerita pendek inspirasi) 2

Ada bapak bercerita, dia telah kehilangan satu dari kedua orang tuanya, dan salah satu saudara yang tumbuh besar bersamanya sedari kecil. Namun rasa sedih yang melanda, tak sebesar ketika dia harus kehilangan salah satu anaknya. Meski baru beberapa saat berada dalam pelukannya, sama saat dia kembali harus kehilangan cucunya. Puluhan juta telah dikeluarkan tapi nyawa tak tertolong juga. Mungkin Tuhan punya rencana lain, akhirnya dia berpasrah. Dan mulai memanjat keluar dari lubang kesedihannya, setelah beberapa bulan tidak memiliki gairah untuk hidup.

Aku tak tahu bagaimana perasaan yang dialaminya. Aku tidak pernah mengalaminya. Dalam hati, aku
sebenarnya tak ingin mendengar cerita itu karena aku tak tahu bagaimana harus merespon. Aku hanya terdiam, khawatir apa yang kulontarkan akan mengorek luka lama. Karena mata si bapak pun masih berkacakaca ketika menceritakannya, dan terdengar menahan isakan tangis.

Aku teringat kedua anakku yang masih balita. Aku berharap tak terjadi sesuatu yang buruk terhadap mereka. Aku hanya bisa membayangkan tak punya arti hidup jika mereka tiada. Walaupun begitu, aku masih tak bisa menahan emosiku kala mereka memancing kemarahanku. Aku berteriak, menatap tajam, dan menggeram.

Ya Allah, ampuni aku. Kau beri anugerah paling sempurna dalam hidupku, tapi terkadang aku lupa mensyukurinya. Kuatkan aku, bimbing aku, dan lindungil anak-anakku selalu.

IMG-20140705-WA0007

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 06/07/2014 in Pemikiran

 

Tag:

CERPIN (cerita pendek inspirasi) 1

Ada berita seorang teman mengkhianati istrinya dengan berselingkuh lalu ada yang meminta ijin istrinya untuk menikah lagi…dua orang malahan. Fenomena keidaksetiaan memang marak terjadi…entah karena sifat, kesempatan atau bahkan bukan keduanya.

Mantan pacar…mereka sudah history, tidak layak menjadi ancaman. Namun saat suami bertemu seorang wanita baru yang tidak hanya cantik tapi juga pandai bergaul –sama seperti suami- dan mereka bertemu karena minat bidang yang sama dalam pekerjaan sehingga banyak hal pintar yang bisa mereka bicarakan bersama…maka itu bisa menjadi alarm tanda bahaya.

Sedangkan dalam kasusku sendiri…terkurung selama 3 minggu dengan sekelompok orang –yang bisa juga menjadi momen kelonggaranku karena dibebastugaskan dari mengurus suami dan anak-anak- dan bertemu seorang pria yang sesuai dengan tipeku yang kebetulan berbeda dari pria yang kunikahi, aku kembali menjadi gadis remaja bodoh seperti mereka yang menuliskan inisial namanya dan nama orang yang disukai lalu menggambar tanda payung di atasnya.

Tak ada jaminan memang perasaan kita akan sama sepanjang waktu…mungkin tidak seperti para orang tua kita yang walaupun mungkin juga tertarik pada orang lain di usia yang cukup senja, itu karena jaman dulu tak ada klinik kecantikan yang menjamur seperti sekarang ini. Ada kalanya kita kehilangan jati diri dan akan menambatkan hati pada dia yang bisa membuat kita kembali merasa percaya diri…entah itu seseorang yang memuji aku belum pernah bertemu orang secantik dirimu pada wanita atau seorang pria yang dipuji kejantanannya dalam memimpin sidang atau apapun maksudnya itu.

Yang bisa kita lakukan adalah banyak beristighfar dan selalu ingat padaNya. Manusia sempurna hidup di dunia yang tidak sempurna dan terkadang tidak adil pula…

( Ini hanyalah cerita semata dengan perumpamaan-perumpamaan, tapi inti yang diajarkan adalah nyata )

Penulis: Anonymous (bukan Hafidz)

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 03/06/2014 in Pemikiran

 

Tag:

Relative Value Scales (RVS)

ZOE_0095_1

Oleh: John Langenbrunner

15% dari biaya BPJS untuk primary care. Biaya ini sangat rendah, karena menurut Depkes hanya 45% dari pasien yang berkunjung primary care. Hal ini jauh dibandingkan di UK, sebanyak 85%. Tapi hal ini harus dibarengi dengan primary care yang kuat. Selain perlu menguatkan SDM, sarana dan prasarana di primary care, tapi juga status. Di UK dan Jepang, status dan bayaran dokter primary care lebih baik dibandingkan spesialis.

Semakin detail unit pembayaran, semakin kecil tingkat pembayaran. Namun semakin besar unit dan pembayarannya, meskipun semakin sederhana, tapi semakin sulit memprediksi pembiayaan secara rinci.

Fee for services

- banyak digunakan di US, kanada, jepang, Taiwan, Cina, dan secara selektif di UK, dan Belanda untuk layanan preventif.

- Dengan fee for service, menignkatkan akses/ demand. Sedangkan untuk kualitas lumayan, karena mungkin berusaha memberikan yang terbaik, tapi juga sering unnecessary treatment. Hal ini tentu saja tidak membuat pengendalian biaya.

- Sehingga mungkin FFS, cocok daerah yang selektif, seperti di rural area, atau di daerah yang susah akses dalam layanan kesehatan.

- Dengan menggunakan FFS, banyak Negara membengkak biayanya, seperti US, Kanada, Croatia, Czech, Iran, Russia, Chian, Taiwan, dimana terjadi 15-20% peningkatan biaya, admisi yang berlebihan, layanan yang tidak diperlukan, kegagalan proteksi finansial, krisis anggaran.

RVS Fee Schedule

- Pre-set tariffs

- Resource based-relative value scales (RB-RVS) yang paling rumit.

- Developed at Harvard (Prof. William Hsiao) selama hamper lebih 20 tahun (1975-1995)

- Tujuanna adalah pembobotan ulang untuk membiayai primary care secara lebih relative dibandingkan spesialis.

- Digunakan di medicare, US.

RVS tariff = Work (Time does service take + Intensity) + Biaya praktek (berdasrkan survey struktur biaya layanan dokter) + Education costs

- Intensitas= Temuannya adalah ternyata spesialis memiliki intensitas yang rendah karena melakukan kegiatan yang berulang ulang untuk kasus yagn spesifik. Tapi tidak dengan dokter umum yang harus mendiagnosis penyakit dari awal.

- Biaya praktek = biaya seluruh layanan ketika praktek layanan kesehatan

- Education costs= karena harus belajar lebih lama, maka aka nada cost opportunity yang hilang. Oleh karena itu harus ada kompensasi dari tahun yang hilang.

Dalam penganggarannya, dibuat batasan (cap), pool of money masing-masing untuk primary care dan spesialis.

Dari sini dibaut relative value, dari rata-rata tariff. Dengan RVS ini primary care bisa mendaptkan revenue yang lebih baik dari spesialis.

Penelitian ini bisa dilakukan tapi cukup kompleks dan membutuhkan kurang lebih 5 tahun untuk studi ini. Dan butuh psychomitrician.

Di Kanada dan Jepang, melakukan negosiasi fee schedule untuk melaukan set price dengan budget cap tertentu dan goals tertentu. Ternyata dengan negosiasi, 70% memiliki korelasi dengan yang dilakukan secara scientific di amerika serikat.

Capitation

“one payment, person, periode, package”

Di Rusia, secara ekstream, primary care sebagai fund holding. Memang terjadi efisiensi dan layanan primer yang baik. Tapi rujukan menjadi terlambat, dan banyak pasien meninggal yang seharusnya bisa dihindari.

Untuk memperbaiki kapitasi di primary health care:

Dalam Jangka pendek:

- Standarisasi koding menggunakan ICPC-2/MIS

- Monitoring dan evlauasi framework

- Adjustment for case mix

- Adjustment for urban and rural

Dalam jangka panjang

- P4P untuk memanage rujukan

- Enrollment choice, ada rencana bahwa di triwulan akhir tahun, akan dibuka untuk memilih siapa dokter keluarganya untuk tahun depannya.

Tantangan selanjutnya adalah:

1. Bagaimana membawa asuransi swasta ke dalam BPJS?

2. Bagaimana menggabungkan Jameksda ke dalam BPJS?, karena secara politik susah untuk ditarik ke pusat.

3. Bagaimana melindungi 70 juta penduduk informal sektor? Karena kesadaran masyarakat terhadap asuransi masih rendah, karena ketidakmampuan untuk membayar dan ketidakpercayaan terhadap kualitas layanan kesehatan.

Terimakasih

John_langenbrunner@aiphss.org

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 06/05/2014 in Kuliah

 

Tag:

Case mix payment

Oleh: John Langenbrunner (Jack).

clip_image002

Di tingkat global disebut DRG (diagnosis related group), tapi di Indonesia disebut INA-CBGs

Payment for a case in DRG = Base rate x cost weight for DRG

Base rate= Average standardize amount for every tariff = biaya yang akan digunakan untuk rumah sakit / jumlah utilisasi.

Biaya yang digunakan untuk rumah sakit, sifatnya lebih politis dengna melihat pengalaman tahun sebelumnya sebagai konsiderasi ekonomi

Cost weight for DRG, sebagai kalkulasi teknis. Sebagai contoh: 0.5 (berarti setengah dari base rate hasilnya), dan seterusnya.

Beberapa Negara yang sudah menggunakan DRG adalah Negara OECD, ditambah beberapa Negara diantaranya:

1. Croatia

2. Estonia

3. Ghana

4. Hungary

5. Indonesia

6. Kyrgyzstan

7. Macedonia

8. Mexico

9. Mongolia

10. Poland

11. Romania

12. Thailand

13. Tunisia

14. Turkey

Kelebihan dari DRG adalah :

1. Berdasarkan jumlah kasus:

2. Membuat melakukan kegiatan secara efisien: karena dengan DRG, ruamh sakit tidak akan menahan pasien lama, dan membuat orang menjadi bekerjasama secara tim.

Di Amerika ketika diaplikasikan di tahun 1980an, bisa menekan biaya kesehatan dari 17% menjadi 3%. Sedangkan di Eropa, yang sebelumnya menggunakan gaji (tidak termotivasi), menjadi 1990an/2000an.

3. Transparan: jelas pembayarannya, dan bisa dibandingkan, best efisiensi, best outcome, dll

Kekurangan dari DRG adalah:

1. Sistem yang sangat kompleks. Di Amerika ada 25 orang yang menganalisis setiap hari klaim yang masuk. Sehingga kalau ada rumah sakit yang complain, bisa langsung dibeirkan feedback, apakah benar mereka dibayar secara layak. Di beberapa Negara, mereka menjual database (sampling) untuk mahasiswa sebagai contoh, lalu di analisis. Contoh research: urban rural?, teaching hospital apakah benar lebih mahal?, siapa rumah sakit yang mendapatkan plus and minus?

2. Layanan per kasus, hal ini memungkinkan layanan tidak diberikan secara utuh. Mungkin seharusnya butuh layanan A, tapi tidak dibeirkan karena rumah sakit dituntut sangat rendah biaya.

3. Terjadi :

a. Dumping (avoidance): karena bayarannya dianggap rendah, ketika ada pasien datang ditolak

b. Creaming (selection): melihat kasus yang mudah saja yang diterima, yang kompleks mahal ditolak.

c. Skimping (undertreatment): tidak memberikan layanan secara optimal.

d. Up/ wrong-coding – gaming: moral hazard koding untuk mendapatkan klaim yang lebih besar.

Dampak dari menggunakan DRG pada Negara OECD:

1. Menurunkan biaya per pasien

a. Menurunkan lama rawat inap

b. Menurunkan intensitas layanan kesehatna

c. Memilih pasien

2. Meningkatkan pendapatan per pasien

a. Merubah kode

b. Merubah pola praktek

3. Meningkatkan jumlah pasien

a. Merubah aturan admisi

b. Meningkatkan reputasi rumah sakit

 

Dampak dari DRG di middle income countries:

1. Di Macedonia: terjadi penurunan lama rawat inap

2. Kapasitas rawat inap menurutn 40% di Kyrgyzstan

3. Croatia: terjadi efisiensi

4. Efek terbatas pda cost-containment ketika ceiling dihilangkan.

Langkah dalam penyusunan DRG:

1. Pengumpulan data terkait: demografi, data klinis, data baiya, sample size

Di Thailand, diagnosis yang bisa diinput di DRG, bisa sampai 10 diagnosis untuk 1 klaim, tapi menurut pengalaman beliau, ketiak berkunjung ke sebuah rumah sakit, rata-rata hanya 1 diagnosis yang diinput dan hanya 800 kode ICD-X yang digunaan dari sekitar 15 ribuan diagnosis. Hal ini tidak hanya merugikan rumah sakit menajdi tidak dibayar penuh, tapi juga kerugian bagi BPJS karena tidak dapat menganalisis dengan tepat.

Pengumpulan data biaya rumah sakit di Indonesia masih kurang terlalu baik karena sistem informasi manajemen keuangan rumah sakit. Sebagai contoh hanya ada 4 departemen di rumah sakit yang dikumpulkan. Hanya 150 rumah sakit yang mengumpulkan data yang sifatnya sukarela, sehingga datanya tidak benar-benar baik.

2. Grouping / kategorisasi pasien, berdasarkan: diagnosis, prosedur, kompleksitas, – terus dilakukan revisi secara frekuen.

- Di Indonesia = 1077

- Di America : 679

- Di Poland : 518

- Thailand 2450

- Kyrgyzstan: 150

Harus dipasitkan bahwa dokter mengerti terhadap diagnosis yang dgiunakan untuk sebuah group. Sehingga DRG dapat berjalan dengan baik.

Setelah kedua langkah tersebut dialkukan

3. Price setting

a. Cost weights

b. Base rate(s)

c. Prices/ tariffs

d. Average vs. “best”

Di Amerika pengembangan DRG dilakukan selama 15 tahun.

4. Actual hospital payment

a. Volume limits

b. Outliers

c. High cost cases

d. Negosiasi

Terdapat 2 cara ketika kebijakan ini hendak dilakukan

1. Kembangkan secara mandiri.

- Tapi harus punya data yang lengkap terlebih dahulu,

- Dari data tersebut, dibentuk dengan variable yang berbeda-beda. Sebagai contoh ada yang menganggap penting tentang ventilator, tapi ada beberapa DRG yang tidak.

- Pola di DRG di beberapa Negara terus naik groupnya.

- Tidak ada yang tahu, seberapa banyak dikatakan banyak atau sedikit. Namun semakin banyak, berarti anda mengarah ke fee for service.

- Di Indonesia cukup tinggi di bawah Thailand, apakah ini bagus? Perlu riset.

- Beberpa menggunakan data charge (tariff) sebagai relative value untuk menentukan biaya. Pertanyaannya adalah apakah charge benar benar merefleksikan revaltive cost?

- Pengumpulan data di beberapa Negara bervariasi dari hampir 10-60%.

2. Beli dan modifikasi grouper

- Beberapa Negara gagal ketika memberli dan mengugnakannya. Hal ini gagal, karena:

o Kateogri klniis yagn dibeli tidak cocok dengan kasus di Negara tersebut. Sebagai contoh Indoneisa membeli dari UNU, yang mengadopsi grouper dari Amerika Serikat.

o Struktur biaya nya tidak cocok ketika diaplikasikan.

Tentukan aturan mana yang masuk INA-CBG dan tidak. Sebagai contoh:

1. Pengobatan yang sifatnya outlier, sebagai contoh pasien dengan LBP, lalu di rumah sakit terkena stroke dan infeksi, dll.

2. Obat atau teknologi baru

3. Kasus tertentu yang tidak cocok dengan INA-CBGs, sebagai contoh penyakit mental, pasien yang direhabilitasi (hanya butuh nursing care). Karena sangat tidak dapat diprediksi.

4. Untuk rumah sakit pendidikan, perlu di top-up, karena ada aktifitas pendidikannya.

5. Untuk rumah sakit di pedesaan. Karena tidak selalu full, atau ruamh sakitnya kecil. Karena mungkin tariff tidak bisa menutup biayanya, tapi secara equity harus tetap dipertahankan.

6. Capital cost, dibayar terpisah sebagai contoh kasus, Private hospital, seharusnya pemerintah juga memberikan subsidi kepada swasta agar adil. Di Jakarta, hanya 50% rumah sakit swasta yang mau bergabung dengan BPJS.

7. Layanan emergency, contoh di Thailand

8. Layanan disease management untuk penyakit kronis – dibayar secara fee schedule.

Terdapat 5 hal yang dilakukan secara global untuk mengatasi dampak buruk

1. Admisi yang tidak diperlukan, yang seharusnya dapat dilayani di rawta jalan atau primary care. Sehingga, kriteria admisi/ pre sertifikasi diperlukan, atau Beberapa Negara mencampurnya dengan global cap, sebagai contoh jumlah admisi maksimal 180, kalau lebih dari itu, INA-CBG akan dibayar beberapa persennya, tapi kalau kurang dari itu, akan mendapatkan bonus. Di Jakarta 35% admisi sebenarnya tidak perlu. Di Amerika juga ditemukan sekitar 35% di awal implementasi. Pada waktu itu, dikontraklah ahli praktisi kesehatan yang mereview, kemudian jika tidak perlu admisi, maka tidak dibayar. Di Russia sekitar 40% dan China 51%.

2. Telaah utilisasi di rumah sakit, hal ini untuk memastikan menghindari skimping pada layanan yang diperlukan, atau early discharge

3. Reduksi biaya untuk re-admisi yang cenderung menignkat, karena rumah sakit bisa mendapatkan “double payment”.

Hal yang bisa dilakukan adalah, tidak ada bayaran dalam jumlah hari tertentu, sebagai contoh di Amerika, Inggris, dan Jerman (dalam 30 har). Di prancis, memberikan bayaran ekstra jika ada peningkatan kualitas, Di Inggris diturunkan hingga 1.5% jika kualitas tidak terpenuhi, di German pengurangan byaran jika tidak submit data yang berkualitas.

4. Mereview koding pada praktek. Code creep cenderung terjadi di setiap Negara.

Solusinya adalah, mlakukan sampling untuk dilakukan audit, dan jika teryata memang fraud, maka akan ada denda atau putus kontrak.

5. Fase bertahap selama 4-5 tahun untuk INA-CBGs, karnea perlu dikumpulkan data secara bertahap. Hal ini untuk memproteksi kementerian keuangan dan rumah sakit juga. Terutama ketika jika adata dan grouper tidak precise.

Contoh tahapan,

- 50% dibayar mengguanakn INA-CBGs, siasnya menggunakan fee schedule.

- Dilaksanakan di daerah tertentu, atau rumah sakit tertentu

- Dilaksanank untuk kategori tertentu

- Kategorisasi DRG yang bertahap

Di Jerman, butuh 10 tahun dalam membangun fase adopsi DRG.

Tantangan di Indonesia

Langkah langkah analisis yang telah dilakukan:

1. Apakah diagnosis dilakukan dengan tepat? Ternyata studi UI menyebutkan bahwa 50% dari diagnosis CVD salah.

Solusi: better medical education, medical record system, medical equipment to diagnosed.

2. Bagiamana koding dilakukan? Studi WHO menunjukkan hanya 31% benar, dan hanya 10% ICD X yang digunakan, dengan rata-rata hanya 1 kode diagnosis yang digunakan.

Solusi: Training and proses akreditasi

3. Costing template. Sifatnya masih sukarela, hanya ada 4 departemen

Solusi: template baru, wajib melaporkan untuk provider yang dikontrak, sistem akuntasi terstandarisasi.

4. Grouper? Menggunakan grouper dari US, Baltimore dan LA. Sampai saat ini hnyaa 58% yang digunkaan dalam kategori CBG.

Solusi: pemeriksaan terhadap pengadaan DRG, abolish NCC, dan membuat team dengan orang yagn tepat seperti ahli statistic, tim klinisi di BPJS dan university. Dan buang kategori yang tidak digunakan.

Respon jangka pendek:

1. Dilakukan adjustment: 1) memisahkan base rate berdasarkan kelas rumah sakit. ; 2) FFS untuk beberpa prosedur; 3) menebak tariff minggu per minggu yang pas untuk biayanya.

2. Namun hasilnya: 1) tidak ada framework yang logis untuk dokter; 2) provider semakin binung terhadap isstem; 3) terdapat dampak fiscal, overpay, atau under pay, MOF baik out.

Di Amerika ketika DRG diterapkan, dampak yang terjadi memecat perawat yang berkelas rendah, dan memilih perawat yang tersertifikasi, atau terlatih. Sehingga harapannya bisa merawat lebih baik pasien dan bayarannya bisa lebih rendah. Hal ini dilakukan cepat oleh lembaga swasta, tapi tidak public. Hal ini menjadi tidak cocok ketika otonnomi untuk efisiensi ini ditetapkan dengan DRG yang canggih. Beberapa Negara yang lain telah merubah kebijakan arah rumah sakit, dari murni dengan budget ke arah kopertis, atau bahkan murni private.

Namun memang response semkain kea rah kopertis atau private, fungsi social nya akan berkurang, yakni menhidnari masyarakat miskin. Masyrakat miskin punya beban penaykit yang lebih berat karena: 1) datang terlambat ke layanan kesehatan, sehingga sudah parah ; 2) pada umumnya punya komorbiditas, dan komplikasi yang lebih berat; 3) tidak punya support keluarga ketika di rumah setelah pulang dari rumah sakit.

“Setiap reformasi di dunia punya kejutan..”

clip_image003

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 05/05/2014 in Health economics, Kuliah

 

Restoran Kesuma

image

Makan di restoran Kesuma di Jogjakarta membawa kesan tersendiri.  Meskipun di tripadvisor no 3., tapi di google muncul no 1. Itu yang membuat saya pengen mencoba.

Makanan yang disajikan begitu fresh, suasana begitu rumahan dan terasa sekali jawa nya. Sampai sampai untuk mengusir nyamuk pakai yang bakar.. terasa klasik nya. Tempat duduk nya sangat terbatas, ada outdoor indoor, dan lesehan. Disarankan jangan ramai ramai, atau jangan makan ketika ramai, karena mereka menyadari proses pembuatan makan nya sangat lama. Bahkan saya sempat main bola dulu sama anak anak..

Tapi dengan harga kelas bule .. memang rasa nya pas dan lezat.. puedes nyeplus sambel di nasi goreng nya juga yahud..  dan disarankan juga kalau ke restoran ini, jangan bawa mobil karena ndak ada tempat parkir nya.. kalau bisa jalan kaki atau naik motor aja..

Okay.. monggo jika yang mau coba..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 13/04/2014 in Journal

 

Tag:

Memerangi Plagiarisme

‘Many people say that it is the intellect which makes a great scientist. They are wrong: it is character’ (Albert Einstein).

4 prinsip dalam menulis (singapore statement of research integrity):

  1. Honesty in all aspects of research
  2. Accountability in the conduct of research
  3. Professional courtesy and fairness in working with others
  4. Good stewardship of research

Definisi Plagiarisme = plagiarius = pencuri

  • Taking over the ideas, methods, or written words of another, without acknowledgement and with the intention that they be taken as the work of the deceiver
  • Deliberate plagiarism: rewriting, copying & pasting
  • Accidental plagiarism: not knowing when & how to cite; now knowing how to pharapharase.

Dari tahun 1970 sampai 2013, publikasi artikel yang mengangkat isu misconduct and plagiarisme semakin banyak (terakhir sekitar 300an artikel)

Pedoman penulisan

  1. Penulis yang etis selalu menyebutkan kontribusi penulis lain dan sumber  ide-idenya.
  2. Pneulis harus berusaha keras untuk memperoleh (membaca langsung) actual published paper
  3. Penetapan tim penulis dibahas sebelum melakukan kolaborasi riset dan mengacu pada panduan misalnya ICMJE
  4. Ghost author tidak etis, tidak dapat diteirma. Ada beberapa syarat seseorang dapat dikatakan author, yakni orang yagn berkontribusi secara substansi, penulisan draft, menyetujui, dan bertanggungjawab atas isi. Tempat terimakasih adalah acknowledment.

Meskipun penelitian yang sederhana, namun jika memiliki metodologi yang baik dan terus tekun, maka akan dapat tetap publish.

Langkah lebih lanjut, baca referensi, pilihan journal (3 pilihan). untuk dosen, harus masuk ke dalam scopus.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 28/03/2014 in Kuliah

 

Tag:

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya.