RSS

Berlebih-lebihan dalam Islam: bagaimana Teori Ekonomi menginterpretasikannya?

Oleh: Firdaus Hafidz

Dipaparkan pada pengajian ba’da Jumat 12 Februari 2016, Leeds Grand Mosque

Seorang pengajar menyetir pernah bertanya kepada saya, “bagaimana penelitianmu terkait dengan Islam?” lalu dengan lugunya saya pun hanya bisa menjawab, “referensi kami selama ini masih merujuk kepada jurnal-jurnal atau teori pemikir barat”, tapi memang begitu kenyataannya. Oleh karena itu, saya menjadi tergelitik bagaimana penelitian yang saya lakukan saat ini terkait efsiensi dalam Islam.

Untuk memulai tulisan ini saya melakukan pencarian informasi terkait kata Tabzir (foya-foya), dan berlebihan dengan menggunakan Program Indeks Tafsir atau Terjemah Al-Quran[1]. Lalu kemudian membaca dan menginklusi ayat dari terjemahan tafsir Ibnu Katsir[2] yang terkait langsung dengan berlebihan-lebihan dalam kaitannya dengan ekonomi, bukan sikap, atau perilaku.

Saya temukan terdapat 6 ayat Al-Quran yang berhubungan langsung dengan hal tersebut yakni:

  1. 6 (Al An ‘Aam):141, terkait berlebih-lebihan dalam makan, dan tunaikanlah zakat
  2. 7 (Al A’ Raaf):31, memakai pakaian yang indah ketika memasuki masjid, dan tidak makan dan minum secara berlebihan
  3. 17 (Al Israa’) :26, jangan menghamburkan harta secara boros, dan Allah Ta’ala melarang berlebih-lebihan dalam berinfak, dan menyuruh melakukannya secara seimbang, atau menginfakkan harta untuk jalan maksiat atau kerusakan.
  4. 17 (Al Israa’):27, para pemboros adalah saudara syaitan
  5. 17 (Al Israa’):29, jangan kikir, namun juga jangan memberi di luar kemampuan, sehingga lebih banyak pengeluaran dari pemasukan.
  6. 25 (Al Furqaan) :67, tidak membelanjakan harta secara berlebihan, namun juga tidak kikir atau berada di tengah-tengah.

Kutipan lengkapnya terdapat pada lampiran

Dalam perspektif ilmu ekonomi yang menjadi pertanyaan, sejauh mana dianggap berlebihan? Boros? Kikir? Seimbang?. Melirik definisi efisiensi yang merupakan kemampuan meminimalkan pemborosan dalam penggunaan sumberdaya (input) yang tersedia untuk menghasilkan sebuah produk (output) [3] [4] Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17/02/2016 in 1, Efisiensi, Pemikiran

 

Tag:

Healthcare financing in Africa: challenges and strategies

Oleh Dr Osasuyi Dirisu

Pengantar

Kenapa kita sebagai dokter harus memikirkan pembiayaan kesehatan, tidak hanya di belakang meja dan mengobati pasien. Pembiayaan kesehatan menjadi penting karena hal ini menentukan memberikan prioritas dalam pembiayaan, memastikan sustainabilitas pelayanan, dan kualitas layanan. Sebagai contoh: seorang pasien yang mengalami transplantasi, lalu kita harus memikirkan siapa yang akan menemani pasien tersebut selama 5 tahun ke depan, apakah ada yang bekerja untuk finansial akses transport untuk control, makan, dll.

Kenapa uang saja tidak cukup?

“More money for health care is a necessary but insufficient condition for better health. Health has never before seen such wealth” (Margaret Chan, Director – WHO).

Sebagai contoh, anda punya uang banyak lalu anda membangun fasilitas yang canggih di pedesaan. Tapi kemudiaan, tidak ada dokter yang mau bekerja di sana. Hal ini menjadi sia sia karena kemudian tidak ada pasien yang mau mengakses. Atau mungkin tetap ada dokterya, tapi alat diagnosis nya tidak sesuai dengan epidemiologi di daerah tersebut. Oleh karena itu, priroritas dalam investasi kesehtan sangat pentign, dan selalu melibatkan masayrakat dalam setiap tahapan proses membangun kesehatan dari assessment, perencanaan, dan pelaksanaan. . Kenapa penting? Sebagai contoh layanan kesehatan dibuka di pagi hari, tapi tidak ada yagn dating, kenapa? Karena ternyata di pagi hari semua orang pergi bekerja di sawah. Oleh karena itu, akhirnya sebagai salah satu solusinya adalah membuat mobile clinic.

Health system

Video recommended to watch: WHO: financing health care

https://www.youtube.com/watch?v=ozcRK688GMs

Ditanyangkan bagaimana anggaran yang terbatas merupakan tantangan yang terus dihadapi. dalam dunia kesehatan akibat tingginya biaya kesehatan,

Kenapa di negara berkembang tidak menggunakan strategi yang sama seperti negara maju menggunakan pajak? Karena di negara bekrembang sangat sedikit pekerja formal yang bis membayar pajak. Dan bagaimana kalau dengan pajak dosa dari rokok dan alcohol? Seringkali terjadi korupsi yang membuat hal tersebut tidak berjalan.

Health workforce, merupakan tantangan ketika merecruit tenaga untuk bekerja di pedesaan. Salah satunya adalah tidak meminta tenaga muda untuk bekerja di rural area, melainkan bidan dan perawat yang sudah pension yang diminta untuk bekerja di rural area, karena mereka sudah memiliki anak yang besar, dan tidak ada tanggungan. Bahkan mereka lebih berpengalaman dalam menangani ketika berada di rural area. Atau, terdapat project di Afrika selatan, ketika terjadi keterbatasan dokter di rural area, mereka membangun klinik tanpa dokter, hanya perawat. Lalu kemudian ketika perawat tidak bisa mendiagnosis, maka mereka bisa telpon melalui teleconference kepada pasien.

Information, memberikan informasi kepada masyarakat tidak hanya bisa membeirkan hal normative melalui leaflet, dll. Tetapi kita harus mengetahui apa yang dipercayai oleh masyarakat. Sebagai contoh kita selalu meminta masyarakat untuk datang ke fasilitas kesehatan untuk perasalinan. Tapi ternyata tidak ada masyarakat yang mau dating. Kenapa? Karena ternayta di daerah tersebut memiliki kepercayaan bahwa jika mereka melahirkan di atas tempat tidur, merkea akan mati. Oleh karena itu akhirnya fasilitas kesheatna melayani persalinana di lantai.

Demography context, negara maju jumalah populasinya hampir sama sejak 1950 hingga 2050, tapi tidak pada negara berkembang. Hal ini juga menjadi tantangan kesehatan di negara berkembang. karena mungkin masih ada kepercayaan untuk tidak ada pembatasan terhadap jumlah anak.

Diskusi scenario: Community based health insurance

Anda diminta oleh kementerian kesehatan melakukan piloting project untuk mengembangkan community based health insurance di dua desa. Kementeiran kesehatan akan mendanai kegiatan tersebut, dan jika berhasil, maka akan dikembangkan lebih lanjut ke daerah lain. Kondisi daerah sebagia berikut: Desa A sebagian besar (80%) bekerja sebagai petani, dan desa B tak jauh dari desa A merupakan komunitas nelayan. Masing-masing desa kira kira jumlah penduduk sekitar 10ribu termasuk anak anak. Jalan yang menghubungkan desa tersebut dan menuju kota sangat buruk sehingga sulit mengakses rumah sakit di kota, atau mengakses obat. Untuk memulai kegiatan tersebut, terdapat hal –hal yang perlu dipikirkan, sebagai berikut:

  • Who will be in your team?
  • Need assessment: what health priority need?
  • Infrastructure, and services
  • How much funding do you need
  • Community issues (adat, kepercayaan)
  • Politic issues di daerah tersbut?
  • Bagaimana rencana aksi ke depan?

Beberapa inovasi dari mahasiswa yang presentasi adalah:

  • Investasi dalam IT karena keterbatasan dokter, dan memastikan komunikasi layanan kesehatan.
  • Investasi infrastruktur dari hasil pertanian dan nelayan
  • Central pool corps: food cooperative, with prices system.
  • Bekerja dengan local village leader, and traditional healer. Hal ini sangat penting karena setiap orang memiliki ego dan kepentingan masing-masing yang harus diakomodasi.
  • Membuka layanan kesehatan sesuai dengan waktu selesai kerja
  • Mengambangkan kuis dan lottery terkait kesehatan untuk funding kesehatan. (ide dari Nigeria)
  • Train local community. Tapi perlu disadari bahwa dalam melatih local community terkadang tidak bisa dengan cara instruksi, melainkan dengan cara bersama-sama berdiskusi dan sedikit demi sedikit memberikan ilmu untuk merubah perilaku.
  • Road access

Healthcare financing

Pembiayaan kesehatan merupakan cara mengumpulkan biaya kesehatan , mengaturnya, dan membeli layanna kesehatan hingga dapat di akses. Akses terdiri dari physical access, dan financial access. Terkadang kita dekat dengan fasilita skesehatan, tapi kita tidak bisa mendapatkan layanan karena tidak dapat membayar.

Tantangan berat di Afrika sebagai contoh adalah ketika negara berkembang sedang menghadapi keterbatasan sumber daya kesehatan, dan sedang mengembangkan system kesehatan, semua hal tersebut menjadi hancur ketika muncul epidemic penyakit Ebola.

Healthcare provision

  • Pemerintah membangun layanan kesehatan. Tapi beberapa tantanganya sering kali:
  • Birokrasi
  • Time to access yang bertabrakan dengan farmers time
  • Membangun tidak sesuai dengan kebutuhan. Hal ini menyebabkan underutilization karena membangun layanan terlalu mewah atau besar, tapi tidak bisa digunakan maksimal karena tidak ada dokter.
  • Pelayanan kesehatan oleh swasta bisa membantu, tapi sangat mahal.
  • Hospitals owned by foundations/ charities
  • Patent medicine dealers. Ada kisah, seorang pembersih apotek setiap hari tidak sengaja belajar tentang obat, dan kemudian akhirnya membuka apotek sendiri. Tapi masalahny adalah dia tidak memiliki informasi mengenai supplier obat yang benar, dan dia hanya bisa menebak ketika ada pasien mengeluh kepada dia.
  • Traditional healer. Kita tidak bisa mengharapkan semua orang datang ke fasilitas kesehatan dan mencegah mereka datnag ke tradisional healer. Tapi kita harus bekerjasama dengan mereka agar dapat ditangani dengan segera sebelum semakin parah.
  • Funding options

    • Government funded
    • Out-of-pocket payment
    • Private insurance
    • Community based health insurance: it is risk pooling, which usually voluntary and common in the informal sector.
    • Health saving accounts

    Universal coverage

    • Physical access
    • Financial access
    • Strengthening health system and making them more equitable

    Penutup

    Last video: improving access to healthcare

    https://www.youtube.com/watch?v=w0P8Cp3cyEc

     
     

    Inequalities in health status from EQ-5D findings: A cross sectional study in low income communities of Bangladesh

    By: Dr. Jahangir AM Khan, PhD (Senior lecturer in health economics, liverpool school of tropical medicine), Centre for equity and heath systems, icddr, b, Bangladesh.

    Tujuan penelitian beliau adalah mengukur inequality status kesehatan, dengan metode:
    1.    cross sectional survey dengan subject household di salah satu kecamatan yang tidak berbeda jauh kondisinya dengan nasional secara umum menggunakan kuesioner terstruktur. Yang menjadi tantangan dalam pembentukan kuesioner ini adalah ketika harus mengadopsi berbagai bahasa dengan dialeg yang berbeda untuk kuesioner.
    2.    kuesioner terdiri dari socio-econoic demographic information (gender, age, education, martial status, occupation, income quantile), EQ-5D, dan menggunakan VAS (visual analog scale 0-100) untuk mengukur secara pribadi status kesehatannya sendiri.
    3.    menggunakant english tariff EQ-5D
    4.    menggunakan logistic regression analysis untuk melihat perbedaan EQ-5D berdasarkan variabel  demografik and sosial ekonomi.

    Dalam hasil penelitian tersebut, sekitar 50% baik permpuan maupun laki-laki merasa “some problem”, namun perempuan merasa lebih banyak meraskan problem.

    Secara umum, laporan yang paling banyak terkait permasalahan dalam EQ-5D adlaah terkait anxiety or depressions, dan pain or discomfort. Seara rinci, terdapat kecenderungan semakin tinggi edukasi, semakin baik status kesehatan. Begitu juga semakin tinggi income, semakin baik status kesehatannya. Status widow/ divorced/ lebih merasa anxiety or deperssions dibandingkan married, atau unmarried. Sedangkan jensi pekerjaan tidak dapat terlihat pola nya.

    Tidak fully comparable, namun tidak terdapat perbedaan yang mencolok antara group antara menggunakan EQ-5D, dan VAS, terutama nilai yang tinggi, tapi tidak untuk nilai yang lower. Hal ini dimungkinkan karena persepsi yang berbeda terkait kesehatan pribadi, sebagai contoh sakit kepala mungkin dianggap bukan masalah bagi pribadi, namun tidak dengan pengukuran EQ-5D.

    Hasil logistic regression, menunjukkan, bahwa usia lansia, bekerja sebagai housewife, dan 1st  income quantiles secara statistik signifikan memiliki perbedaan risiko kesehatan, terutama pain dan anxiety/ depression. Oleh karena itu, policy ke depan harapannya lebih membantu untuk dapat memberikan akses kesehatan bagi warga miskin, melihat masih besarnya out of pocket.

    Limitasi: validasi kuesioner EQ-5D di negara berkembang kelihatannya masih belum banyak, sehingga meskipun sudah robust dilakukan di negara Eropa sekuler, tapi bisa berbeda persepsi di negara Asia yang spiritual, jadi memberikan hasil yang berbeda. Hasil ini juga menjadi kurang mengena untuk policy maker, ketika hasilnya banyak orang mengalami anxiety/ depression, tapi tidak jelas apakah meraka cuma cemas ringan, atau depresi berat.

     
    Tinggalkan komentar

    Ditulis oleh pada 03/11/2015 in Kuliah

     

    Tag:

    Buat apa survey lama dan mahal tapi tanpa action

    Tulisan ini saya buat berdasarkan kuliah singkat oleh Siddarth Agarwal, direktur Urban health resoruce centre, India, dengan judul: Qualitative adaptation of urban HEART (health equity and response) assessments across slums/ vulnerable neighbourhoods, bring knowledge and wisdom of slum women’s groups to the fore and prioritize the actions/ response components

    Seringkali pemerintah, donor melakukan survei besar dengan alasan agar dapat merepresentasikan kondisi sebuah wilayah. Memang benar juga, tapi pada kenyataannya, waktu persiapan, pengambilan data, dan analisis memakan waktu yang lama. Menurut pengalaman saya yang lalu lalu, minimal sebuah survei menghabiskan waktu sekitar setahun paling sedikit untuk akhirnya dihasilkan sebuah laporan. Lalu kemudian ketika dipresentasikan kepada pengambil kebijakan, sepertinya mereka sudah merasa tidak hangat lagi akan isu tersebut, atau sudah ada perubahan kebijakan, dll. Alhasil action yang dilakukan rasanya tidak maksimal.

    Oleh karena itu, di India dilakukan ujicoba untuk mengukur indikator kesehatan melalui alat yang simple, bersifat kualitatif, dan tidak perlu survei. Bagaimana caranya? menggunakan persepsi dari perwakilan warga. Berikut tahapannya:

    1. Tim konsultan mengadopsi indikator kesehatan dari WHO (HEART) dam membuatnya menjadi pertanyaan dan indikator yang simple
    2. Tim konsultan membentuk tim penilai yang terdiri dari wanita kader desa
    3. Lalu masing-masign tim mendiskusikan dan membeirkan penilaian secara kualitatif, yakni dengan cukup memberikan warga merah (buruk), kuning (sedang), hijau (baik). Sebagai contoh indikatornya adalah ketersediaan toilet di desa tersebut.
    4. Langkah berikutnya adalah, review dan validation dengan melakukan triangulasi. Dari masing-masing perwakilan di desa tersebut ke tingkat yang lebih atas (kecamatan) untuk melakukan review terhadap masing-masign desa nya, dan saling cross check.
    5. Mendiskusikan respon dan action yang perlu dilakukan terhadap problem yang dihadapi.

    Dengan kegiatan ini, satu siklus assessment cukup memakan waktu hanya 1.5 bulan. Sehingga action bisa langsung dilakukan sebagai contoh petisi, atau kampanye.

    Kegiatan ini tentu saja menurut saya memiliki limitasi, sebagai contoh:

    1. Memang yang dipertanyakan adalah, bagaimana sustainabilitas dari program ini jika tidak diadopsi oleh pemerintah setempat sebgai alat monitoring dan evaluasi?
    2. Karena kader desa yang memiliki pendidikan terbatas di daerah daerah tertentu, masih diperlukan pendampingan terutama untuk memahami indikator kesehtan yang kadang cukup rumit dipahami, dan pengambilan action yang do able.
    3. Karena hanya ibu ibu yang menjadi penilai, saya pribadi merasa ketika penilaian terhadap laki-laki cendrung menjadi buruk. Sebagai contoh: apakah masih banyak laki laki yang pemabuk, judi, dan tidak bekerja.

    Semoga metode ini bisa dijadikan sebagai alternatif untuk kegiatan monitoring dan evaluasi sebuah kegiatan.

     
    Tinggalkan komentar

    Ditulis oleh pada 03/11/2015 in Kuliah

     

    Tag:

    Pengalaman melahirkan di Leeds, Inggris

    AoXoZ4slu_0PkCshha8oj-0wVLZOEj_hKb_uhAZvyWKL Aor5ZuT94pe71OrgKvefLoxfrzIajepCvzeRK-74o4g7 Au1d1pJACGpGu6bDzKmgmZg5FHlVfV73oaLMwCZwtSeT ArMtO3nqLNIS4t9rOMI4HXGQtg7yxVY28oaTnd3C4dzM

    Oleh: Maudi Fria Andhini

    Untuk memori Zhafran Asyraf Firdaus..semoga menjadi seorang yg berjaya semasa hidupnya dan mendapat kemuliaan di surgaNya

    Setengah tahun berlalu sejak aku melahirkan Zhafran di Leeds, UK, dan kami masih di sini. Aku ingin berbagi pengalaman hamil dan melahirkan di salah satu negara maju di dunia ini. Aku, bersama suami dan kedua anakku, tiba di Leeds pertengahan September (tepatnya tanggal 16) 2014. Saat itu kami tahu aku sedang hamil, sudah tes sebelumnya, namun belum sempat periksa ke dokter obsgyn karena banyak yang musti diurus untuk meninggalkan Indonesia dan bersiap bertahun-tahun menetap di Inggris. Sebenarnya beberapa hari sebelum berangkat pernah mau periksa, sudah datang dan daftar ke klinik tapi karena ditunggu dokternya lama banget ngga dateng-dateng terus pulang dulu eh pas balik lagi malah dokternya dah pergi, dah selese periksa semua pasien. Payah dah, dan udah ngga ada waktu lagi. Akhirnya di Leeds kami mendaftarkan diri di sebuah klinik, ceritanya kan kami terjamin asuransi kesehatan gratis di sini, dan mendaftar untuk periksa kehamilan. Sistem layanan kesehatan dengan asuransi pemerintah di sini untuk pemeriksaan non emergency harus membuat janji, ndilalah jadwal bidannya di klinik itu baru ada yg kosong di bulan November, jadilah aku menunggu sebulan untuk diperiksa. Alhasil ketika si bidan heran dan bertanya kenapa baru saat itu periksa ya aku cuma mesem aja, lah aku kan ngikut aja kapan bisanya periksa. Selama kehamilan, calon ibu ditawari beberapa pemeriksaan darah yang tidak dilakukan di Indonesia, seperti pemeriksaan down syndrome janin. Tapi sayang, umur kehamilanku terlalu tua untuk dilakukan itu. Ada alternatif lain dengan amniocentesis, tapi aku tolak karena tidak mau ambil resiko untuk efek sampingnya. Bismillah, semoga janinku sehat walafiat mengingat aku juga tidak memiliki resiko melahirkan anak dengan down syndrome. Di sini aku tidak medapatkan suntik TT, melainkan vaksinasi influenza dan setelah umur kehamilan 28 minggu mendapatkan imunisasi pertusis dikarenakan insidensi di sini tinggi.

    Read the rest of this entry »

     
    2 Komentar

    Ditulis oleh pada 29/10/2015 in Pertumbuhan Zhafran

     

    Tag:

    Pengalaman Sunat di Leeds, Inggris

    ApnFnuyRfO4ocUBSzHR9XP5_9kofE0K1_qgG9Cvay9b6

    Akhir September 2015 saya menyunatkan anak saya (Zhafran) di Leeds setelah usianya genap 5 bulan. Kali ini saya ingin berbagi pengalaman sunat anak saya di Inggris.

    Sejak di awal kelahirannya, saya berusaha membaca brosur, dan website NHS terkait layanan sunat ini. Tapi dikatakan secara jelas bahwa mereka tidak melayani sunat atas tujuan keagamaan. Jadi akhirnya saya telusuri lagi, berapa biaya dan tempatnya. Akhirnya saya mendapatkan lokasi nya yaitu di Children’s Circumcision Service (http://www.circumcisionleeds.com/). Namun mereka hanya melayani weekend saja dengan biaya 130 pounds jika anak saya masih di bawah usia 3 bulan. Namun karena anak saya sudah 5 bulan, maka diberikan harga 140 pounds.

    Sempat juga saya mencari informasi ke GP terlebih dahulu untuk mendapatkan rujukan. Siapa tau kalau di rumah sakit umum sunat nya bisa lebih murah. Tapi ternyata si dokter tidak bisa langsung mengambil keputusan dan rujukan, melainkan diminta menunggu 1 hari untuk dia mencari informasi dan menelpon saya. Mereka merujuk saya ke Ashton View (http://www.ashtonviewmedical.co.uk/circumcision-minor-surgery-clinics.html). Tapi saya lihat kok rating nya kurang bagus, dan mereka juga tidak melayani bayi di atas usia 12 minggu.

    Okay, akhirnya setelah menelpon untuk buat janji dengan Children’s circumcission service, kami berangkat di hari H dengan taxi. Di tempat, kami langsung dilayani setelah pendaftaran, diberikan penjelasan, inform concern, dan Sunat. Nah ini dia, karean saking buru buru nya, kami tidak membawa apa apa seperti di Indonesia, seperti bawa sarung, baju ganti, dll. Ternyata sunat di sini menggunakan cara cincin. Jadi cincin dipasang di perbatasan yang hendak dipotong, lalu diikat kencang, dan sisa kulit dipotong, setiap terjadi perdarahan di couter. Jadi hampir tidak ada darah mengalir. Setelah itu langsung ditutup menggunakan pampers. Selesai.

    Memang dalam sehari itu, anak saya rewel, karena mungkin kesakitan. tapi sehari setelahnya dia sudah santai. Petunjuk perawatannya pun sangat sederhana:

    1. Dimandikan setelah 2 hari
    2. Mandi direndam selama 15-20 menit setiap hari nya.
    3. Tidak usah diberikan antibiotik, salep, dll
    4. Tidak usah diberikan antinyeri jika tidak dibutuhkan
    5. Dan akan lepas dalam waktu 5-10 hari. jika tidak lepas sendiri silakan hubungi dokter.

    Saya pikir ini cara surat yang efisien, jadi mereka memang mendorong untuk sejak lahir segera disunat. Karena menurut klnik tersebut, cara ring ini agak susah sembuh untuk anak yang sudah besar.

    Semoga infromasi ini bermanfaat untuk orang tua yang merencanakan sunat anak nya di Leeds.

     
    Tinggalkan komentar

    Ditulis oleh pada 19/10/2015 in Pertumbuhan Zhafran

     

    Tag:

    CERPIN Sumbangan Kesehatan

    Miris sekali hati ini membaca berita yang dibagikan salah satu forum ngobrol di ponselku, kisah seorang tukang becak yang meninggal karena keracunan nasi basi yang terpaksa dimakannya karena dia tak punya uang sepeser pun untuk membeli makanan yang layak. Dikabarkan pula (secara hiperbolis) dia terkapar di samping becaknya, di bawah terpampangnya poster wakil rakyat yang notabene berjanji menyejahterakan orang kecil..padahal mungkin kenyataannya banyak wakil yang dipilih rakyat itu justru memilih memikir isi kantongnya sendiri. Heran juga rasanya, padahal lembaga sumbangan Islami sudah banyak beroperasi di Indonesia, tapi kenapa masih saja ada kisah tragis seperti ini? Kemanakan sumbangan-sumbangan yang disalurkan kepada mereka? Harapannya kan pada akhirnya diserahkan kepada orang-orang yang benar-benar memerlukan, apapun bentuknya. Apakah itu pun hanya ditujukan kepada sekelompok orang yang menjadi sorotan media? Seperti ketika gencar ada serangan di Gaza, kekeringan di Gunung Kidul, naungan pengungsian bencana gempa, gunung meletus atau lainnya. Apakah tidak untuk perseorangan yang tidak masuk dalam berita? Itu adalah sebuah pertanyaan, bukan pernyataan meski nadanya berkesan begitu. Saya jadi teringat sepasang suami istri yang bekerja di tempat praktek dokter yang saya kelola. Mereka mendapat hak tunjangan kesehatan gratis, tapi itu pun tak membuat mereka lantas mendaftar. Mungkin, menurutku mereka lebih butuh uangnya daripada hak berobat gratisnya. Orang miskin belum tentu sakit kan? Ayo pemerintah, ada inovasi program baru yang bisa membuat negara Indonesia selangkah lebih maju meninggalkan kemiskinan??

     
    Tinggalkan komentar

    Ditulis oleh pada 03/09/2015 in Pemikiran

     

    Tag:

     
    Ikuti

    Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

    Bergabunglah dengan 34 pengikut lainnya