Refleksi Ph.D. Tahun Kedua: Data

DSCF2370.JPG

Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel refleksi Ph.D tahun pertama.

Setelah melewati proses transfer (ujian tahun pertama untuk menjadikan kita resmi sebagai kandidat Ph.D), tahun kedua terasa jauh lebih lega. Tahun kedua merupakan langkah awal masuk ke dunia nyata penelitian, dengan melihat konteks di lapangan termasuk data yang tersedia.

Data merupakan kunci penting untuk memastikan penelitian dapat berjalan. Di awal tahun kedua dengan hasil membaca di tahun pertama, terdapat keinginan besar untuk mendapatkan data yang komprehensif yang tentunya sangat banyak. Namun dengan menyadari keterbatasan dana dan waktu, saya harus mulai berpikir strategis data apa saja yang harus saya peroleh. Terutama data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang cukup mahal untuk diperoleh.

Setelah jenis data sudah bisa ditentukan, tantangan berikutnya adalah barrier geografi. Dengan kondisi saya yang berada di Inggris, menjadi kendala tersendiri untuk memperoleh data yang berasal dari Indonesia. Beberapa kali saya sempat pesimis, karena proses birokrasi pemerintah Indonesia yang beberapa kali konsultasi ke rekan sejawat yang seringkali kesulitan. Tentunya dengan peraturan beberapa instansi harus meminta dokumen asli (tandatangan basah dan materai). Selain itu, data idealnya hanya bisa diberikan dalam bentuk CD, namun untungnya setelah berdiskusi, data bisa dikirim melalui elektronik. Oleh karena itu, memiliki banyak teman Indonesia di Inggris sangat membantu untuk proses pengiriman dokumen dan teman-teman di dalam instansi terkait untuk membantu follow-up permintaan data.

Setelah memperoleh izin dan data, perlu dipastikan data asli disimpan di lokasi yang sudah ditentukan oleh Universitas demi keamanan. Kebingungan muncul setelah membuka file file tersebut karena struktur data yang bervariasi. Sebagai contoh, ada data yang dikirim dalam bentuk file excel, sehingga memiliki ukuran file yang besar dan dipecah-pecah. Kemudian, ada data yang dikirim dalam bentuk file STATA (.dta) tapi ada wilayah tertentu yang dibuat dalam file terpisah dan tidak bisa langsung digabungkan. Sehingga saya harus menentukan jenis file apa yang harus saya gunakan untuk analisis, dan menentukan struktur akhir agar semua data tersebut bisa digabungkan. Dalam proses ini, dibutuhkan komputer dengan performa baik agar bisa mengolah dengan cepat. Pernah pengalaman menggunakan komputer di perpustakaan, karena kantor tutup jam 6.30 malam, kemudian perpustakaan tutup pukul 12.00 malam namun proses pengolahan belum selesai. Akhirnya saya tinggal menyala, namun ketika perpustakaan buka paginya saya periksa proses gagal. Wuah… ngulang lagi akhirnya, tapi di sinilah seninya untuk melihat kenapa gagal dan bagaimana mengatasinya.

Karena kita sekolah di Inggris dan data harus bisa dikomunikasikan ke supervisor minimal, maka data harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Ternyata hal ini juga tidak mudah untuk saya, karena kita bermain dengan nama variable, bukan sekedar deskripsi yang panjang. Proses konversi ini juga tidak mudah ketika ternyata definisi di kepala kita berbeda dengan definisi pemberi data.

Dengan banyaknya variabel data yang tersedia, kita harus bisa menentukan variabel kunci mana yang bisa digunakan dan didukung oleh teori. Di awal penelitian, saya menyajikan data ke supervisors, saya bisa melihat kebingungan beliau karena banyaknya data yang saya sajikan. Tapi dari sana kita bisa berpikir kembali mana variabel yang memiliki arti atau diinterpretasikan dalam hasil penelitian sesuai konteks dan teori.

Di awal proses pengolahan data, tantangan yang saya hadapi adalah ditemukannya data outlier dan missing value. Jangan sampai penelitian yang kita gunakan bermasalah dan memberikan hasil yang tidak benar. Oleh karena itu, diperlukan asumsi-asumsi untuk membersihkan data sebagai contoh teknik imputasi yang bervariasi. Proses pembersihan ini sepertinya tiada ujung, setiap kali melihat data mentahnya lagi, ada saja rasanya yang harus diperbaiki dan tidak sesuai. Namun supervisor membantu saya memantapkan hati untuk pada titik tertentu harus berhenti melakukannya dengan segala limitasi yang disadari.

Saya memiliki kesempatan untuk mewawancarai Mbak Daliya, rekan PhD tahun kedua yang juga menggunakan data sekunder. Beliau menyampaikan bagaimana tantangan beliau di tahun kedua dalam mengolah data apalagi menggunakan karakter non-latin, data besar yang membutuhkan proses lama dan variasi stuktur. Berikut videonya:

Saya merasa, Indonesia memiliki kaya data. Sehingga sebenarnya banyak penelitian yang bisa dikembangkan dengan data yang sudah tersedia. Pandangan saya juga berubah, yang beranggapan bahwa penelitian dengan menggunakan data sekunder lebih mudah. Saya berharap bahwa data data Indonesia ke depan dapat terintegrasi agar bisa lebih bermanfaat dan memliki dampak lebih besar. Namun tetap, proses kreatif sang penelitilah yang menjadi kunci penting untuk menghasilkannya.

#PhDlife #PhD #University #Leeds #Universityofleeds

 

Refleksi Ph.D. Tahun Pertama: Membaca

dscf2522

Sudah hampir setahun akhirnya menulis lagi di blog. Setelah berjibaku dengan PhD tahun terakhir yang menguras tenaga, emosi dan pikiran. Sehingga rasanya saya harus mulai lagi mengasah belajar menulis lagi meski blog yang saya harapkan bermanfaat untuk banyak orang.

Setelah selesai kuliah ini saya ingin refleksi apa yang telah saya lalui dari tahun pertama hingga terakhir. Untuk artikel ini saya buat untuk refleksi tahun pertama.

Tahun pertama adalah tahun yang begitu terbuka untuk apa saja menurut saya. Seperti membuka pintu keluar rumah, melihat dunia yang begitu luas. Perasaan yang muncul, antara bahagia karena telah diterima menjadi mahasiswa universitas luar negeri (anak desa yang akhirnya bisa kuliah keluar negeri soalnya), lalu cemas karena tidak mengerti apa yang akan dihadapi di depan dan punya impian yang besar.

Setelah bertemu dengan supervisor beberapa kali, saya menjadi bingung karena beliau sangat membebaskan kita untuk memilih dan menentukan jalan PhD kita. Tentunya shock sekali karena biasanya meksipun dalam project penelitian, biasanya kita sudah diberikan list deliverable dan target deadline. Namun semua ini seperti melihat kertas kosong di hadapan untuk start menulis apa yang hendak kita lakukan, bagaimana penyelesaiannya dan kapan mau selesai.

Semua itu membuat saya sebagai mahasiswa akhirnya hanya bisa membaca apa saja yang ada di hadapan saya. Kalau boleh dibilang belajar “grambyang”.  Jadi, selama tahun pertama rasanya hanya penuh dengan bacaan, membaca lewat online, membaca buku di perpustkaaan, membaca jurnal, membaca bahasa baru software statistik dan membaca hal yang saya rasa menarik. Supervisor juga pernah tes saya sekilas bagaimana kemampuan matematika saya. Yang akhirnya jelas beliau tau bahwa saya harus belajar dari dasar kembali. Beliau membantu saya memberikan buku ketika beliau S1 di tahun 1984.

Di sisi lain, dengan banyaknya bacaan, tantangan berikutnya adalah saya jadi seperti kehilangan arah. keinginannya jadi banyak sekali. Nah di sinilah peran supervisor untuk mengarahkan. Beruntung supervisor saya adalah orang yang sangat pragmatis. Sehingga beliau bisa membantu saya untuk mengatakan “TIDAK” pada hal yang belum saat ini seharusnya saya lakukan. Sehingga akhirnya bisa mantap dengan satu topik yang fokus dan bisa mendalam.

Tantangan berikutnya dengan membaca adalah bagaimana kita mensintesisnya, menulisnya menjadi satu laporan yang sangat padat, yakni transfer report. Di Indonesia terbiasa dengan jumlah minimal kata, di sini dikasihnya maksimal kata. Jujur aja sulit karena bahasa Inggris dan kemampuan menulis saya yang pas pasan. Beruntung ada guru bahasa Inggris (Kate) yang membantu memberikan semangat. Supervisor juga bisa menghargai tulisan saya yang acak kadul. Ingat saya ketika menulis seperti tulisan opini koran. Tapi beliau tetap membacanya dan memberikan apreasiasi dengan komentar yang serius untuk perbaikan ke depan.

Untuk berkaca, saya wawancara teman PhD tahun pertama dari Bahama, Mas Francis. Beliau orangnya sangat ramah sehingga mau share pengalamannya. Menurut dia menentukan topik , atau research question adalah hal yang paling berat di awal tahun pertama PhD. Berikut videonya :

Saya rasa ini benar, meskipun kita telah menentukan topik kita sebelum masuk PhD, kita harus membaca lagi dan memastikan kita telah berpikir terbuka atas segala ide, dan berakhir dengan membuat justfikasi untuk mengatakan “TIDAK” atau “YA” untuk setiap ide tersebut untuk kita. Karena tidak jarang mahasiswa PhD hanya bisa menerima satu ide dan tidak bisa membaca ide lain yang membuatnya gagal menurut saya.

Kuliah Prof. Ghufron: UHC di Indonesia

Coventry- 21/11/2017.

WhatsApp Image 2017-11-21 at 16.41.20

Catatan ini diambil dari kuliah terbuka Prof. Ghufron setelah penganugeran gelar doctor H.C. dari Coventry University. Topik yang beliau angkat kali ini adalah tentang

Universal Health Coverage: The Indonesian Health Reformation System to Achieve Sustainable Development Goals

Kuliah difasilitasi oleh  Prof. Guy Daley, memberikan pengantar terkait background Prof. Ghufron, bagaimana kiprahnya di Indonesia dan internasional.

Di awal Prof. Ghfuron, memberikan pengantar terkait konteks negara Indonesia, dan bagaimana peran Indonesia dalam hal ini presiden RI, bersama perdana menteri Inggris mengembangkan SDGs. Dalam indikator, terdapat tiga hal penting yang dianggap penting, 1. Providing access of high quality of education 2. health care services (quality, cost, need) 3. Providing basic needs.

Terkait pendidikan, universitas tidak hanya menjadi agen dari pendidikan dan penelitian, tapi juga harus sebagai agen untuk kultur dan pengembangan ekonomi. Sedangkan untuk reformasi untuk kesehatan, Prof. Ghufron membandingkan GDP per person, kesehatan, dan outcome kesehatan antara Indonesia, UK, dan Amerika dari tulisan Guy Daley, 2017. Memang kelihatannya Indonesia sangat rendah , tapi hal ini sebenarnya relatif ketika dilihat dari capaian yang diperoleh dibandingkan dengan pengeluaran kesehatan. Jadi mana yang lebih baik?

Indonesia mengalami perkembangan pesat atas kesehatan setelah reformasi. Sebagai contoh dulu orang miskin dilarang sakit, tapi saat ini orang miskin dilarang membayar kesehatan. Struktur layanan kesehatan diperbaiki, tarif diatur oleh pemerintah. Isu kesehatan menjadi isu penting dalam publik , hal ini tentunya menjadi agenda politik dan tentunya komitmen.

Indonesia juga memiliki peranan penting dalam WHA terkait UHC. Beliau menjelaskan mengenai definisi terkait UHC. Sebagai tools untuk mengakses layanan kesehatan yang berkualitas, dan affordable. UHC dapat dinilai dari tiga indikator, yakni populasi, financing, dan benefit layanan kesehatan. Membandignkan di antara negara-negara ASEAN, sebagai contoh Malaysia yang sudah mengcover 100% warganya, ternyata financial protectionnya 40%, hal ini menunjukkan bahwa banyak yagn tidak puas dengan layanan publik. Dibandingkan dengan Indonesia, yang mengcover sekitar 60%, tapi telah melindungi keuangan sebesaer 30 an %.

Prof. Ghufron juga menjelaskan sejarah evolusi terkait asuransi kesehatan di Indonesia. Dari tahun 1990 di mana masih terfragmentasi , hingga saat ini telah terintegrasi ke nasional. Bagaimana ke depan? targetnya adalah untuk mengcover seluruh rakyat Indonesia di tahun 2019. Terdapat opportunities, yakni komitmen yang tinggi dari pemerintah, melindungi seluruh rakyat Indonesia di tahun 2019, meningkatkan kontribusi, mengembangkan fasilitas kesehatan yang baru, meningkatkan good coporate governance.  Di sisi lain terdapat tantangan yang tidak dapat dihindari: sustainabilitass dari skema asuransi akibat defisit keuangan, mekanisme pembayaran dan tarif sehingga bisa menarik seluruh fasilitas kesehatan terutama swasta.

Masalah asuransi kesehatan di Indonesia diperparah dengan gaya hidup masyarakat yang menyebabkan penyakit katastrofik, dan adanya  indikasi moral hazard sebagai contoh caesar yang meningkat hingga 50%. Oleh karena itu diperlukan solusi dengan academic health system. Terdapat faktor faktor kritis, yakni kepemimpinan, komitmen politik, memfasilitasi expert untuk health insurance, belajar dari skema asuransi yang telah ada sebelumnya, menyiapkan infrastruktur dan tenaga kerja, asuransi kesehatan, pendidikan adokasi dan kesasdaran stakeholder.

Disimpulkan, bahwa ada tiga hal krusial yang butuh dilakukan yakni dalam pendidikan, kesehatan dan ekonomi termasuk reformasi di dalamnya. Peran dari Unviersitas tidak hanya pendidikan dan penelitian, tetapi juga merubah kultur dan ekonomi dalam inovasi industri. Dalam reformasi pendidikan kesehatan, diperlukan integrasi antara fakultas kesehatan, ilmu kesehatan dan rumah sakit pendidikan. Hal ini bisa diraih melalui academic health system.

Diskusi:

  1. Belajar dari Inggris, sebagai upaya untuk melakukan kegiatan promosi kesehatan, dokter keluarga tidak meresepkan obat, melainkan meresepkan olah raga. Tapi yang menjadi tantangan adalah bagaimana memonitornya? wah ini big data analysis kalau mau pakai tracking.
  2. Tantangan dalam membership. Permasalahan utama dalam Indonesia adalah terdapat masyarakat near poor dan near rich yang kadang sangat membingungkan. Jadi memang ini terus menjadi perdebatan apakah universal atau targeting. Strategi untuk mengcover informal sektor ini adalah memberikan sosialisasi yang terus menerus terkait asuransi kesehatan ini. Saat ini juga pasien tidak dapat menggunakan fasilitas asuransi kesehatan tapi harus menunggu waktu tertentu sehingga mereka lebih sadar. Strategi lainnya adalah sebagai syarat kewajiban untuk mengurus administrasi lain, sebagai contoh KTP, dan lainnya. Di UK juga di awal adalah sangat menantang untuk mewajibkan dokter dan tenaga kesehatan lain join dalam sistem NHS. Jadi memang di awal diperlukan paksaan.
  3. UHC di Indonesia memang didorong oleh komitmen politik. Keputusan politik jadi sangat penting untuk alokasi dana dan regulasi.
  4. Hubungan antara BPJS dan IDI saat ini sangat baik, tapi yang paling penting untuk menjaga hubungan ini adalah membangun tarif yang sesuai tidak memeras, tapi di sisi lain, di sisi provider juga harus memberikan pengobatan dan diagnosis yang rasional dan tanpa fraud tentunya. Sehingga hal ini diperlukan fariness, dan good governance.
  5. Bagaimana dampak reformasi kesehatan ini terhadap perkembangan supply side? Memang terus terjadi peningkatan jumlah fasilitas kesehatan, tapi asuransi kesehatan mengkontrol tarif dan memonopolinya, sehingga dengan sistem ini dapat dikontrol harapannya. Dan terkait karir, ketika pemerintah mengencourage dan menjadi market yang besar sehingga tentunya hal ini membuat masyarakat ingin menjadi tenaga kesehatan. Meskipun dari dulu faculty of medicine masih selalu menjadi peringkat pertama hingga saat ini.

 

 

 

 

 

 

 

Catatan tips menulis esai

23561852_10211794919122516_2255192821316752931_n

Catatan ini saya buat dari kegiatan ngaDem (Ngobrolin Akademik) yang diselenggarakan oleh Divisi Akademik PPI Leeds oleh Dr. Arief gusnanto, dan Triana Rahajeng Hadiprawoto.

Dr. Arief Gusnanto menyampaikan ekspektasi dari pembaca dalam proses menulis. Dan ini tips dengan ekspektasi dengan perspektif konteks orang Inggris.  Berikut beberapa tips dari beliau

  1. Menulis dari kiri ke kanan, old and new idea.
  2. Menggunakan kalimat aktif.
  3. Jangan kejauhan antara subject dan verb. Karena orang cenderung capek bacanya.
  4. Menggunkan sign posting. Yakni memberikan informasi penghubung, ketika ada penjelasan lebih lanjut di section lain.
  5. Menggunakan kata kata stressing, menggunakan keyword di kalimat.
  6. Orang Inggris ternyata tidak suka tulisan yang panjang-panjang, tapi padat berisi. Jadi pengalaman beliau thesis tidak boleh lebih dari 200 halaman. Hal ini sangat berbeda dengan konteks negara di Indonesia yang menetapkan minimal.
  7. Kalimat pertama, paragraf pertama dari tesis bisa menjelaskan isi tesis ini. Ini merupakan proses synthesising. Kalimat pertama dari paragraf  pertama, ..”this thesis focuses on… and that..” jadi ini adalah summary dari thesis. Karena konteks orang Inggris, mereka suka summary di depan, lalu dijelaskan.
  8. Membuat figure dan table yang mudah dimengerti dan menjadi support (bukan hal yang semakin membuat kompleks), cotohnya dari artikel “the economist“.

Dari Mbak Yana, beliau mengawali dengan menyampaikan bahwa pengalaman sharing beliau mungkin lebih sesuai dengan kondisi di business school ketika beliau menempuh pendidikan master. Sehingga belum tentu cocok dengan kondisi dari ilmu ilmu lain. Beliau mendapat semangat dari momen mendapatkan nilai yang beliau anggap buruk. Jadi mempertanyakan apa yang salah dari assignment. dan beliau nyadar ternyata:

  • Tidak cukup hanya dari jurnal
  • tidak ada contoh terutama dalam reality
  • tidak ada cerita, hanya menceritakan fact,
  • Dan tidak perduli dengan pekerjaan itu sendiri.

Jadi berikut tips beliau:

  1. Pahami dulu question dan requirement, sebagai contoh jumlah word. Sehingga menulis harus seekfektif mungkin
  2. Dengar kembali pemahaman dari kuliah dan diskusi dengan teman untuk memastikan pengertian kita.
  3. Jangan merasa dua hari sebelum deadline itu cukup. Pengalaman dia dua minggu sebelumnya, termasuk cari referensi dan pastikan jurnal yang berkualitas (dari Q  berapa jurnalnya). Pakai web of science, atau academic journal guide.
  4. Submit sebelum deadline, karena bisa diperbaiki di saat saat terakhir
  5. Jika tidak mengerti subject, baca atau lihat video yang mudah dimengerti sebelum membaca artikel  atau buku yang akan jadi sitasi.
  6. Developing argumen di awal, kemudian hal ini didukung atau dicounter oleh referensi. Contoh: membuat perbandingan, apa yang mau dibandingkan, dan opini kita bahwa kita menulis bahwa ada perbedaan
  7. Kontennya clear, dan kreatif dalam arti ambil dari perspektif yang berbeda, namun jangan njelimet.
  8. Struktur tulisan. Buat dulu heading headingnya dan apa yang mau dijelaskan (guideline) yang mau ditulis. Biar ceritanya nyambung.
  9. Terkait implikasi, tidak hanya secara teori, tapi juga praktikal implication.
  10. Punya file junk, jadi sumber yang sifatnya copy paste dari hasi baccaan yang menarik dan referensinya.
  11. Paraphrasing. Pastikan dapatkan ide kuncinya, dipecah-pecah, dan thesaurus untuk wording,  order key idea – aktif menjadi pasif.
  12. Managing referensi: jika manual periksa aturannya di library, dan pakai software excel untuk mengurutkan. Ada software referensi seperti Endnote atau Mendeley jika banyak.
  13. Cari feedback dari orang lain, menurut mereka make sense nggak? bisa dimengerti nggak?
  14. Proof reading, pakai software , contoh grammarly bisa untuk hal hal kecil, tapi tetap perlu manusia untuk mengerti konteks.

Sedangkan untuk kerja kelompok, tipsnya:

  1. Tetapkan tujuan atau ambisi dari awal. Apakah mau mencapai nilai tinggi, atau biasa biasa aja.
  2. Pilih sendiri teman yang benar benar cocok jika memungkinkan. Atau jika tidak kenal, coba makan bareng atau kumpul bareng sehingga lebih enak jika nantinya untuk berargumen.
  3. Cari tau kelebihan dari masing-masing orang untuk kerja kelompok, karena hal ini untuk delegasi tugas.
  4. Komunikasi intens, agar mengerti jika ada kelemahan atau kekurangan dari pembagian tugas.
  5. Semua yang kita lakukan untuk individu juga diimplementasikan di group, sehingga bermanfaat untuk bersama.

Penutup: 

Kalau mau menulis, harus banyak membaca, oleh karena itu jangan sungkan untuk subscribe topik terkait bidang kita agar tetap up to date. Tapi karena seringkali saking banyaknya membaca bingung, coba buat diagram bagaimana hubungan dari masing-masing topik.

Demikian semoga bermanfaat.

MONKEY AND THE BANANA

 

By Azka

One day there was a monkey climbing a tree to get a banana but he falls of and made a loud nose. OUCH

Suddenly a tiger came to eat the monkey but the monkey got away so the tiger chases the monkey. AHHHH

Then a spider scared the tiger and the tiger ran away and the spider got a mouse. ROAR

The monkey got the banana but there was a nose saying help so he saw the spider want to eat the little mouse then the monkey got the mouse the felt proud and happy after all.

 

HOARAY

THE END.

All about us

by: Syafiq

Me I play games achily lots of games and eats lots of sweats and chewing gums and Haribo there is lots of sugar and I play on my computer all the time.

My baby he do lots of funny things and we all love my baby and we have 5 people and he like fighting and we laugh at him and my baby like watching YouTube and YouTube kids and he eats candy as well.

My brother likes candy and he likes Roblox and he likes play diep.io and me and my brother love playing with everyone except for me and that is sad but I give him candy then he plays with me and my whole family is a youtuber and that is good.

My mom she always work but she never work at school but she always cook delicious foods and she always the leader of our family and she always want to cook new foods.

My dad he always go to school like me and my brother except my mum and he has lots of money and share  people are poor and the poor people buy a house.

Oh and also so my baby birthday is in 6th of April and me is in 27 of January and my brother is in 25 of September and my mum Is in 4 of February and last one my dad is in 15 of may and goodbye see you in the next story have a good day good bye.

The end.

 

 

They were bored again

Chapter 2

By: Syafiq

Once upon a time the children wake up and the door ring and they said who ring the bell then it take all time to find the key so they decided to tell dad to find the key then they get there mobile phone and they watch some youtuber called dantdm,ashdubh,ballistic squid and final one sinxbadx then dad found the key and it was.

GRAN!

And gran said hello everyone then she bring  some surprise then she got golf tennis and final one is foot ball then gran said lets make it like a club ok every one and every one said yes then they get in to equal and then they had turn each time and it was so fun then they finish they were so bored again so they watch for 10 hours!

Then mum said it is bedtime so they went to the bath room and do the right thing to do in the bath room. After that they read lots and lots and lots and lots of books then they write in there reading record and they cover up and get there teddy bears and they went to bed and they said zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz and that was silly and make Shure to subscribe to our channels called firdaus hafidz and wait for   chapter 3 and wait patiently good bye every one have a nice sweets dream and the had lots and lots and lots and lots and lot and lots of dreams and so many dreams so good night have a nice dream.

DSC01782.jpg