Bagaimana pendidikan yang sesuai untuk “Public Health”? belajar dari Leeds

media-20170511 (4)

Oleh: Daerren Shickle

University of Leeds memikirkan bagaimana seharusnya pendidikan untuk jurusan “public health” atau di Indonesia disebut sebagai Kesehatan Masyarakat. Yang selama ini hanya baru tersedia master degree (MPH). Dalam beberapa tahun terakhir terutama di tahun 2015 terjadi peningkatan aplikasi untuk jurusan public health, namun penerimaannya stagnan. Oleh karena itu sempat diajukan proposal bagaimana jika dibuat jurusan S1, karena jurusan ini hanya berjumlah sedikit, dan sebagian besar hanya focus kepada promosi Kesehatan dan pengembangan Komunitas.

 

Untuk mengembangkan bisnis tersebut dibutuhkan market research dengan pertanyaan berikut:

  1. Factor pendorong
    1. Apakah anak muda tahu apa itu public health?
    2. Apakah mereka tau bahwa ada jenjang Pendidikan public health?
    3. Apakah mereka menyadari karir dalam public health?
  2. Faktor yang menarik
    1. Apakah pemberi kerja menginginkan lulusan S1 public health? Ataukah mereka lebih menginginkan lulusan dengan gelar yang spesifik seperti psikologi, epidemiologi, statistik

Jika melihat karakteristik pelamar:

  1. Siapakah yang sebenarnya tertarik untuk belajar Kesehatan Masyarakat? Ternyata sebagian besar dari mereka berumur di atas 35 (mature) dan selama ini memang sudah bekerja di bidang public health.
  2. Terkait nilai akademik mereka, sebagian besar adalah rata-rata dan rendah. Sedangkan yang bernilai tinggi cenderung untuk melamar Pendidikan ke kedokteran klinis.
  3. Agar menyamakan dengan ekspektasi pelamar Kesehatan masyarakat, dilakukan survey juga apa menurut mereka Kesehatan Masyarakat itu? Sebagian responden menjawab dengan beberapa keyword utama yakni “general”, “population”, “people”, “society”, “healthy”, wellbeing”, “mental”, dan “physical”.

Dari sisi pemberi kerja, rasanya memang public health dengan berbagai kategori masih dibutuhkan. Dari yang yang bisa terjun di pelayanan langsung, teknis di belakang meja, dan pengambil kebijakan.  berikut beberapa tanggapannya:

  1. Kalau dari pemerintahan, mereka saat ini mengidentifkasi dan membutuhkan
    1. Public health untuk layanan seperti social care untuk orang dewasa, anak, dan penasehat untuk pemerintah terutama untuk kegiatan monitoring dan evaluasi.
    2. Public health untuk memberikan saran dan membuat kebijakan seperti ruang terbuka, kemiskinan, perumahan, dll
    3. Public health yang memang sangat teknis dan terampil sebagai contoh mengetahui bagaimana teknis konsekuensi polusi udara, statistik, dll.
  2. Public health sangat dibutuhkan, namun untuk mengidentifikasi bukti saja tidak cukup. Mereka juga harus dapat meyakinkan orang untuk mlelakukan sesuatu, mencari sumber, mencari waktu yang tepat, mencari jalan untuk tercapainya tujuan. Sehingga tidak hanya ilmu dan kompetensi public health, tapi juga dapat menyampaikannya.

Oleh karnea itu dengan luasnya kompetensi yang dibutuhkan, pemerintah saat ini mengembangkan kompetensi untuk public health. Sebagai contoh kompetensi A1.1 Identify data needs obatain, verify and organise data/ information. Kompetensi satu orang dengan lainnya tidak harus sama, namun pemerintah memiliki bobot terhadap masing-masing kompetensi untuk mengatur level gaji seseorang.

Tahap berikutnya adalah: pengembangan inisiator antara universitas dan pemberi kerja, sehingga terjadi kesamaan antara Pendidikan yang diberikan dan kebutuhan di lapangan. Sebagai contoh program blended learning dengan distance learning lalu ada kegiatan Praktek di akhir tahun.

Sebagai refleksi saya pribadi di UGM, saya piker hal ini sangat cocok untuk dijadikan benchmark ketika kita hendak mengembangkan program ilmu Kesehatan Masyarakat. Saat ini pengembangannya masih terpaku pada jenis ilmu, yang padahal kalua dilihat dari atas sebenarnya pembagian program berdasrkan skill dan target market Mahasiswa.

Banyak ahli selalu teriak teriak Kesehatan masyarkat masih kurang dan kuratif selalu diutamakan. La memang kenyataannya kedokteran selalu jadi prioritas dan andalan dibandingkan Kesehatan Masyarakat. Saya pikir Kesehatan Masyarakat S1 bisa lebih cocok untuk yang ingin terjun pada layanan ke Masyarakat langsung. Sedangkan S2 bisa lebih cocok untuk lebih penjurusan seperti pengembangan policy dan Manajemen. Sedangakn untuk teknis lebih baik berasal dari S1 dengan jurusan detail masing-masing sebagai contoh statistik, ekonomi, dll. Karena luasnya ilmu kesehatan masyarakat, course course seperti blended learning sangat diperlukan untuk memperluas wawasan dan ket para kesehatan masayrakat.

Demikian dulu, ternyata di negara maju pun hampir sama masalahnya dengan Indonesia. .hehe.

Ketika risk assessment dan ethical clearance bukan hanya sekedar formalitas

media-20170510

Oleh: Pak Nawawi

Kembali lagi curhat bersama rekan-rekan PhD di acara CURDIS (curhat akademis), Pak Nawawi dan teman-teman lain berbagi pengalamannya terkait risk assessment dan ethical clearance. Di awal presentasi beliau menyampaikan secara singkat penelitian beliau yakni tentang gerakan politik para elite buruh dalam momentum demokrasi dengan pendekatan kualitatif wawancara mendalam kepada responden.

Karena data penelitian harus diambil di luar Inggris, maka dalam risk assessment dianggap sebagai middle risk. Beberapa pertanyaan dalam risk assessment tersebut antara lain terkait teknis di lapangan ketika kita mengatasi setiap situasi termasuk menggunakan kendaraan apa? Bagaimana kultur di negara tersebut, dll. Formulir ini menjadi penting tidak hanya sebagai salah satu syarat dokumen untuk ethical clearance, tapi juga dijadikan sebagai pegangan Universitas ketika terjadi masalah pada saat pengambilan data.

Dalam pengalaman beliau, beliau menulis menggunakan kendaraan mobil sebagai transportasi selama pengambilan data. Yang diasumsikan sebagai jawaban aman untuk dan formal agar terlihat aman. Namun pada kenyataannya di lapangan beliau menggunakan kendaraan motor dan mengalami kecelakaan. Alhasil, universitas tidak dapat membantu Asuransi dalam hal ini Karena berbeda dengan jawaban risk assessment sebelumnya. Beruntung Pak Nawawi memiliki Asuransi Kesehatan di Indonesia sehingga tidak terlalu masalah. Namun tidak hanya berujung pada hal tersebut, setelah kembali ke Inggris, beliau harus lapor dan supervisor juga diminta menjelaskan dalam rapat rutin di school dan melaporkan kronologis kejadian secara tertulis kasus kecelakaan yg terjadi dgn saya ke pihak school dan universitas. Tidak hanya berdampak pada beliau, risk assessment ini menjadi lebih teliti untuk mahasiswa lainnya agar tidak mengalami masalah yang sama.

Begitu pula dengan ethical clearance. Ethical clearance selalu terkesan menyulitkan peneliti Karena apliaksi yang banyak, memakan waktu, dan pertanyaan dari reviewer yang seringkali seperti mengada-ada. Pengalaman Pak Nawawi sampai 4x bolak balik revisi dokumen. Berikut beberapa  pertanyaan dari komite etik

  1. Bagaimana jika dokumen penelitian hendak dibaca oleh polisi?”. Wah masak ada si polisi sampai tanya tanya penelitian saya, Karena hal ini sangat tidak biasa terjadi dalam pengalaman penelitian beliau. Tapi pada kenyataannya di lapangan ternyata terjadi betul, dimana ada petugas BIN yang menelpon beliau untuk meminta presentasi. Wah kok bisa ya, ternyata ada salah satu NGO yang memberikan informasi ini ke BIN dan meminta untuk menelusuri. Akhirnya dengan jawaban diplomatis sesuai jawaban di ethical clearance, bahwa beliau tidak bisa memberikan informasi data ini Karena masih dalam proses penelitian.
  2. Lalu bagaimana anda mendapatkan inform consent dari responden? Seperti biasa hal ini sering kali menjadi kegiatan formalitas. Padahal ternyata di lapangan sangat sulit untuk mendapatkannya Karena para politisi tersebut menjadi sangat sensitive terkait hal-hal berbau tanda tangan, takutnya ada buntut di kemudian hari. Sehingga alhasil, inform consent didapatkan melalui persetujuan secara oral yang direkam. Bu Lusi menambahkan hal ini seharusnya disampaikan apa adanya saja dan solusinya dalam ethical clearance, Karena tidak hanya kultur, tapi ketika mengambil data kepada orang buta huruf, tidak mengerti Bahasa Inggris, juga tidak bisa tandatangan dan membaca dokumen.
  3. Mbak Bintan juga menyampaikan bahwa merekam adalah hal krusial juga. Merekam menggunakan video memang paling ideal, sehingga kita mengerti maksudnya dan membaca gerakan tubuhnya untuk menghindari salah interpretasi ketika melakukan tarnskrip. Tapi masalahnya beliau mengalami kesulitan untuk mengambil gambar, Karena bukan masalah sensitive, melainkan responden tidak percaya diri Karena belum dandan atau lainnya. Sehingga alangkah baiknya ketika memberikan informasi di awal agar responden bisa menyiapkan diri.
  4. Lalu pertanyaan lain juga terkait apa benefit dari responden dengan anda mengambil data dari mereka? Hal ini menjadi sangat krusial, Karena seringkali peneltiian hanya mengambil data namun tidak memberikan dampak positif, atau bahkan menjadi dampak buruk. Sebagai contoh Karena kita berasal dari universitas luar negeri, lalu hal ini menjadi gejolak social tersendiri di antara para warga, atau Karena kita akan mempublikasikan salah satu teknik kelompok tertentu, maka teknik tersebut dapat dicuri idenya oleh kelompok lain dalam usaha bisnis. Atau hal kecil terkait apakah anda akan memberikan insentif kepada responden, ada yang setuju dan ada yang tidak setuju dalam hal ini. Tips salah satu Mahasiswa PhD memberikan gift Manchaster yang cukup terjangkau dan hal tersbut membuat para responden senang. Sedangkan Mahasiswa yang tidak setuju, gift dianggap sebagai hal yang akan mempengaruhi informasi responden.

Tips lain dalam curhat ini:

  1. Terkait proteksi data jika hal tersebut sensitive. Bisa dengan cara melakukan embargo tesis dalam jangka waktu tertentu.
  2. Terkait proteksi data juga dalam pengambilan data, bisa menggunakan anti-virus contoh McAfee untuk enkripsi jika dirasa software dari universitas cukup ribet.

Demikian dulu tulisan Curhat edisi Bulan Mei.. samnpai juga di edisi berikutnya

Review film Iqro’

WhatsApp Image 2017-04-28 at 09.32.41

Alhamdulillah, kami memiliki kesempatan untuk menonton bersama film iqro’ di Leeds bersama kru film dari Masjid Salman, dan Salaman film academy berserta salah satu aktor yakni Pak Cok Simbara yang berperan sebagai Opa. Film dimulai pukul 6 sore dan berakhir sekitar pukul 8 malam. Ramai sekali, ditambah bonus snack gratis selama menonton oleh Panitia KIBAR Leeds. Anak-anak antusias menonton dari yang bisa konsentrasi menonton dari awal hingga akhir, hingga konsentrasi lari ke depan dan belakang guling guling di depan dan mengganggu operator.

Film ini bercerita tentang seorang anak bernama Aqila yang sangat antusias terhadap ilmu pengetahuan dan ingin melihat planet pluto dari Boscha tempat kakeknya bekerja. Namun kakeknya memberikan syarat untuk dapat mengaji terlebih dahulu jika ingin datang ke Boscha. Dalam perjalanan, ternyata ada masalah sosial di lingkungan Boscha yang membuat janji sang Kakek kepada cucu mengalami hambatan.

Film ini sangat menginspirasi bagaimana agama dan sains seharusnya dapat berjalan beriringan. Semangat pantang menyerah memperjuangkan hal yang kita yakini, kejujuran dan kepasrahan kepada Allah pasti akan membuahkan hasil yang tidak sia-sia. Aktor dan aktirs dalam film berperan sangat baik karena diperankan oleh para senior dan membuat emosi kita terbawa, terutama sebagai orang tua yang tentunya menghadapi masalah yang sama untuk mengajarkan anaknya mengaji namun kadang sangat sulit karena interst anak yang berbeda. Sehingga membuat orang tua semakin semangat untuk mengajarkan anak mengajarkan Al-Quran dan tidak segan untuk meminta bantuan keluarga sendiri yang mungkin akan lebih manjur untuk memotivasi mereka.

Namun saya juga ingin memberikan masukan terhadap film ini. Saya sangat senang di awal film dimulai dengan animasi imajinasi anak yang yang ingin menjadi astronot. Saya berharap film ini akan menjadi film yang penuh imajinasi anak, dengan ilustrasi kartun dan penuh fun. Tapi saya salah, film ini lebih ditujukan untuk para orangtua, sehingga permasalahan yang lebih ditekankan adalah terkait masalah sosial di Boscha dan bagaimana pendidikan terhadap anak itu sendiri. Sehingga tokoh yang lebih menonjol menurut say adalah Opa sang profesor yang berpetualang dalam lika liku kehiduapn Boscha dibandingkan bagaimana perjuangan Aqila untuk bisa mengaji dan membaca ilmu pengetahuan. Yah mungkin karena saya membandingkan dengan film Sherina yang cukup sukses ketika itu, dimana pertualangan  lebih ditekankan pada Sherina diselingi lagu yang fun. Sehingga alhasil, yang tertanam pada anak saya selama film ketika saya tanya malah terkait usaha pemboman oleh Jepang di Boscha ketika itu sebagai salah satu ucapan Professor ketika mempertahankan argumennya dalam rapat. Memang kebetulan anak saya senang dengan sejarah perang dunia ke-2 saat ini. Jadi hal-hal berbau peperangan menempel kuat. Tapi intinya, kalau film dibuat sesuai perspektif dan imajinasi anak mungkin bakal lebih mengena, seru, dan jadi memotivasi mereka bertanya tanya apa isi Al-Quran, dan orang tua juga senang menemani anak menonton.

Dalam sesi tanya jawab, film Iqro’ 2 juga sedang dalam proses katanya. Semoga film tersebut tidak kalah menariknya dengan film pertama ini. Tentu saja kami tunggu, dan karena terkait jarak dan fasilitas, besar harapan kami untuk dapat menonton streaming di luar negeri. Salah satu hal yang sangat saya harapkan untuk ada web official streaming film film Indonesia secara legal. Sukses selalu untuk tim Iqro’ dan selamat kembali ke Indonesia setelah perjalanan yang melelahkan di Inggris dan Eropa.

Tips menempuh PhD

Oleh: Pak Albertus Kurniadi

WhatsApp Image 2017-04-14 at 15.36.48.jpeg

Tulisan ini dibuat atas presentasi di acara curhat akademis (Curdis) bulan April 2017. Pak Kurniadi bercerita tentang pengalamannya dari tahun pertama hingga viva akhir. Pesan utama yang beliau sampaikan dari seluruh proses PhD adalah “Fokus dan berani mengatakan cukup”. Karena peneltian bisa sangat luas dan tidak akan pernah berakhir.

Tips di tahun kedua melihat rekannya yang kelihatannya sempat mengalami kesulitan dari Iraq, kita harus bisa menjaga tempo bekerja. Jangan terlena dengan keberhasilan transfer. Sehingga Pak Kurniadi, ketika assessment memasuki tahun ketiga telah memiliki full draft chapter seluruh tesisnya yang diperbaiki di tahun ke-3.

Pelajaran berikutnya adalah “be active”. Karena ini adalah budaya Inggris rasanya. Ketika itu beliau telah submit tesisnya, namun setelah dua hari yang dijanjikan untuk dikirimkan, ternyata belum diperiksa. Sehingga harus rajin rajin follow up.

Sebelum viva, yang diperlukan hanya baca, baca, dan baca. Terutama baca tesis kita sendiri. Karena semakin kita baca, akan semakin kita temukan kesalahan dan kekurangannya. Seperti typo, limitasi struktur, titik koma, dll. Dengan mengetahui kesalahan kita sendiri, kita bisa mengakui, atau berargumen seharusnya seperti apa.

Ada baiknya kita melakukan mock. Latihan presenasi dan diskusi di depan teman atau orang awam. Memastikan bahwa bahasa kita mudah untuk dimengerti dan mempersiapkan diskusi atas pertanyaan-pertanyaan yang dapat diantisipasi menghilangkan kegugupan.

Ketika viva, be yourself, it is defence, but not defensive:

  • Think: take time to think before answering. Hela nafas, pikirkan dan jawab
  • Honest: Admit if you don’t know the answer. Atau pakai bahasa diplomasi: I am not sure, but to the best my knowleddge, …Atau terimakasih atas pemekirannya, akan saya baca dan terima masukannya untuk tulisan saya.
  • Ask: Ask the question to be repeated
  • Talk: have a diaglogue with the examiners

sebagai awalan dari viva, kita harus bisa menyampaikan isi tesis kita dengan singkat. sehingga peras tesis anda untuk menjelaskannya dalam 10 menit, atau secara ekstream dalam satu kalimat. Presentasikan apa yang telah kita lakukan dan highlights point-point nya. Highlights originality, findings, dan contribution.

Dalam tulisan, highlights tersebut dapat ditaruh pada intorduction, masing-masing chapter, dan conclusion. Memang terkesan repetisi, tapi hal ini dimaksudkan untuk memberikan penekanan.

Viva Checklist:

  • I know my thesis thoroughly
  • I have written a one-page summary of each chapter
  • I have kept up to date with relevant literature
  • I have explained my thesis to friends and family who are not familiar with it
  • I have investigated the backgrounds and publications of my examiners
  • I have looked at my institution’s guidelines for vivas
  • I have produced a list of likely questions
  • I have identified areas of my thesis that are likely to be challenged
  • I have marked up my thesis to help me refer to it in the viva
  • I know how I will be informed of the outcome of my viva

Pengalaman menghadapi penguji. Pertanyaannya disisir per halaman, hingga titik koma dan typo. kalau ini gampang, yang penting kita mengerti maksud kalimat kita dan terima jika ada masukan. Karena mereka adalah native. Sehingga minor correction untuk tesis beliau lebih pada struktur tesis yang harus diselesaikan dalam 3 bulan.

Jangan menganggap bahwa tesis dibaca oleh expert. Sehingga jelaskan terminologi dalam foot note atau body.

Jangan lupa bawa post it, dan menggunakan print tesis satu halaman print, sehingga dapat ditulis catatan catatan atas masukan yang diberikan.

Terakhir yang paling penting adalah “jaga kesehatan”, karena beliau sempat drop karena tekanan mental untuk menghadapi  viva ini.

Semoga kita semua sukses melewati ini semua.

Tulisan di atas juga diambil dari berbagai sumber website salah satunya https://www.vitae.ac.uk

Apa yang mempengaruhi orang menggunakan rekam medis elektronik personal?

WhatsApp Image 2017-04-06 at 13.49.07.jpeg

Seminar dengan judul : ” Factors affecting patient’s use of ePHRs: Systematic review”

Oleh: Alaa Abd-arazaq

ePHRs adalah electronic-Personal Health Records yang merupakan web-based yang bisa diguankan oleh pasien untuk melihat informasi kesehatan, booking, melakukan peresepan berulang, dll. Terdapat 3 ePHRs: Stand alone (hanya untuk pasien, dan paling umum), Tethered PHR (hanya dapat direview oleh pasien, dan paling umum digunakan); dan Integrated PHR.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya adopsi penggunaan padahal telah banyak investasi untuk program ini.

Dari review yang dilakukan, meskipun banyak penelitian yang kualitasnya kurang, berikut beberapa faktor yang mempengaruhi penggunaan ePHRs:

  1. Ketersediaan akses internet
  2. Persepsi terhadap kegunaan
  3. Privacy dan security
  4. Sedangkan jenis kelamin tidak mempengaruhi

Oleh karena itu, dari segi dampak praktis: sangat jelas bahwa akses internet menjadi sangat krusial, melakukan outreach program sesuai dengan kebutuhan pasien, memastikan keamanan, memberikan technical support dan training pada pasien.

(Penelitiannya jadi bikin inget tesis S2..hehe.. )

 

Sulitnya bicara dengan penderita stroke..bagaimana melibatkan mereka dalam penelitian?

Presentasi “… I just can’t express myself..” Strategies for interviewing stroke survivors with communications disabilities.

Oleh: Faye Wray

Penelitian beliau dilatarbelakangi oleh minimnya keterlibatan para penderita stroke yang mengalami kesulitan komunikasi dalam penelitian. Kenapa sering dieksklusi? karena mereka tidak bisa melakukan inform consent.

Padahal melibatkan pasien stroke ini sangat penting untuk mengurangi inequality dalam layanan kesehatan, lebih melibatkan stakeholders, dan yang paling penting memastikan kebutuhan kesehatan untuk pasien.

Lalu bagiamana metodenya agar dapat berkomunikasi dengan para pasien?

  1. Melibatkan keluarga. Tentunya akan mempermudah translasi maksud dari pasien, sedangkan negatif dari melibatkan pasien, kita sebagai peneliti tidak bisa membedakan opini keluarga atau pasien sendiri.
  2. Menggunakan talking mats, yakni gambar dengan kategori perasaan dan kegiatan. kelebihan dengan penggunaan metode ini digunakan sebagai ice breaker, membantu bicara. Sedangkan kekurangannya terbatas topik yang dapat dibicarakan karena tergantung ketersediaan gambar, dan alat ini cukup mahal.
  3. Conversation techniques: dengan cara memberi waktu untuk respon, dan selalu check artinya.
  4. Mengurangi lelahnya komunikasi dengan cara istirahat secara reguler, dan tetap fokus pada pertanyaan dan tujuan komunikasi.
  5. Menggunakan interview yang berulang untuk cross-check
  6. Menggunakan rekaman audio dan video karena seringkali kita melewati gesture dari pasien yang bermakna tertentu.

Rasanya dengan teknik teknik di atas, penelitian ke depan bisa lebih melibatkan pasien stroke yagn mengalami kesulitan bicara. Dan jadi ingat dengan kakek, mungkin seharusnya dokter atau perawat bisa mengadopsi teknik ini untuk bisa berkomunikasi dengan pasien.

Kakek

 

Peran JKN dalam inequality, belajar dari NHS

WhatsApp Image 2017-04-04 at 15.03.20

Seminar kali ini disampaikan oleh  Richard Cookson (University of York), dengan judul Unequal lives: Re-designing the NHS to bridge the health divide.

Presentasi dibuka dengan menampilkan bayi bernama Paul si miskin (poor), dan Richard si kaya (rich). Rata-rata QALY gap antara si kaya dan si miskin adalah 12 tahun. Untungnya gap ini di Inggris masih stabil selama 10 tahun terakhir, tidak seperti di Amerika yang semakin tinggi kesenjangannya.

Begitupula dengan layanan emergency yang sehaursnya dapat dicegah/1000 (emergency admission prevantable) antara si miskin dan kaya, hampir 3x lipat (kaya: 3.7; miskin 9). Dengan menghilangkan gap ini, maka NHS dapat menghemat hingga £20 milyar dan mencegah 38 ribu kematian yang sebenarnya dapat dicegah.  Sehingga yang menjadi pertanyaan, bagiamana cara menurunkan kesenjangan ini?

saivng

Dengan latar belakang ini, Prof. Richard sangat concern dengan efek setiap intervensi pada kelompok yang berbeda, kaya dan miskin. Sebagai contoh: bagaimana dampak terhadap kebijakan pajak, apakah ternyata lebih banyak merugikan pendapatan orang miskin, atau orang kaya? ternyata pendapatan orang miskin lebih banyak yang menurun dengan regulasi pajak yang baru.

Terkait dengan hubungan antara status kekayaan dan kesehatan terdapat 3 teori
1. Warisan keluarga

Keluarga mewariskan kekayaan, dan childhood development. Sedangkan Childhood development mempengaruhi health behaviour, dan status kesehatan. Di sini tidak ada hubungan antara status kekayaan dan kesehatan.

2. Kondisi kehidupan

Kekayaan –> kondisi kehidupan –> health behaviour –> health. Kondisi kehidupan secara jangka panjang mempengaruhi kesehatan. Sebagai contoh chronic stress karena miskin yang harus terus menerus bekerja keras dan stress dalam kehidupannya menyebabkan masalah kesehatan. Tapi memang seringkali sulit mengukur karena tidak dapat diukur dalam jangka waktu pendek.

3. Sakit – dampak kesehatan terhadap kesejahteraan

Ketika sakit, ekonomi dapat runtuh akibat berkurangnya pendapatan, meningkatnya biaya akibat perlunya kesehatan, atau indirect cost seperti social care.

Lalu, Apa peran pemerintah untuk memutus hbuugnan antara status kekayaan dan kesehatan?

Sebenarnya pemerintah telah melakukan berbagai strategi untuk mengatasi hal tersebut.

1. NHS menyasar pada layanan kesehatan secara langsung;

2. Kementerian di bidang infrastruktur menyasar pada kondisi kehidupan;

3. Public health menyasar pada health behaviour, sebagai contoh meningkatkan pajak untuk rokok, merubah lingkungan agar ramah terhadap aktivitas fisik.

4. Kementerian sosial menyasar wealth, contoh dengan cara benefit benefit

5. Antar kementerian menyasar childhood developement. Dan dianggap paling kaut pengaruhnya untuk meningkatkan kesehatan dan mengurangi inequality.

Meksipun dari 5 strategi di atas secara relatif cost-effectiveness nya belum ada yang tahu.

Secara etik, pemerintah harus memegang prinsip Freedom, dan Justice. Sebagai contoh, kita tidak bisa memaksa semua orang untuk berhenti merokok, itu adalah hak kebebasan setiap orang, namun perlu diatur. Sedangkan keadilan, jangan sampai sebuah kebijakan pemerintah memihak kelompok yang membutuhkan.

Sebagai contoh: kanker kulit VS screening depresi pada ibu hamil.

Untuk menilai kasus di atas, mana yang harus diprioritaskan, tedapat tiga perspektif:

  1. Current Perspective: kanker kulit dirasa lebih menderita karena bahaya dan penampilan yang dialami, dibandingkan dengan ibu yang sebagian besar masih dalam kondisi baik.
  2. Ante lifetime: Memiliki dampak pada kematian ibu dan anak yang lebih tinggi dibandingkan kanker yang mungkin meninggal di usia lansia.
  3. Post lifetime: Anak yang lahir dapat menderita yang dibawa hingga besar. Sedangkan pasien kanker muncul ketika usia 40 tahun.

Media cenderung lebih suka melihat current perpsektif.

Bagaimana kita melihat sebuah kebijakan apakah hal tersebut efektif dan mengurangi inequality? kita bisa membuat health equity impact plane. dengan diagram 2×2, yang terdiri dari cost effectiveness, dan health equity impact. Dan harusnya sebuah kebijakan focus keapda cost effectiveness dan equity. Berita baiknya 80% dari kebijakan di Inggris telah berada di posisi ini. Sedangkan intervensi yang sifatnya cost effective, tapi inequal dapat digeser dengan cara targeting dalam marketing, sebagai contoh free excercise di leisure centre, dimana hanya orang kaya yang dapat mengakses.

Balik ke teori lagi terkait inequality:

  1. RAWLS (maximin)
  2. BENTHAM (maxtotal)
  3. PLATO (maximum)
  4. MARX (close to equity)
  5. ATKINSON (priority the worse-off)

Contoh konkritnya, terdapat 2 program: program A menignkatkan 16 total health , tapi gap kesehatan antara kaya dan miskin 12 tahun. Atau program B menignkatkan kesehatan hanya 9 , tapi gap kesehatan antara kaya dan miskin hanya 3. Dua dua nya tidak ada yang salah dan benar, hal ini tergantung tujuan dari kebijakan itu sendiri.

Lalu bagaimana cara implikasi policy nya agar hal ini dapat berjalan? tidak hanya melulu insentif moneter, namun monitoring progress melalui professional embarrassment. Membandingkan antara capaian nasional dan daerah tertentu yang memiliki good performance.