RSS

Transfer PhD di Leeds University

Tanggal 12 Agustus 2015 yang lalu saya melewati sebuah ujian dengan istilah transfer viva sebagai assessment untuk menentukan apakah saya layak menjadi mahasiswa PhD atau belum di Leeds University. Kata-kata transfer selalu menjadi hal yang menyeramkan di tahun pertama studi PhD, karena berdasarkan cerita cerita dari senior, ada yang hanya sekedar mendapatkan masukan, atau mendapatkan perubahan metodologi, diperpanjang waktu studinya karena perlu perbaikan mayor, hingga ada yang dipulangkan karena dianggap tidak layak menjadi mahasiswa PhD.

Karena kecemasan dari cerita cerita tersebut, saya mencoba menyiapkan diri secara intensif selama sebulan sebelumnya. Jadi sederhanya saya tidak ngutak ngatik data, belajar hal lain dulu, bahkan tawaran pekerjaan dengan terpaksa saya tolak,.. hiks.. Beberapa hal yang saya siapkan selain laporan transfer itu sendiri, adalah penguatan teori, diskusi dengan rekan sejawat terkait topik kita, dan yang tidak kalah penting bahan presentasi, termasuk cara kita mengkomunikasikannya.

Tahapan dalam transfer viva tersebut adalah : pengantar dari penguji, presentasi mahasiswa selama 10 menit, diskusi, 5 menit diskusi hanya antara mahasiswa dan penguji, 10 menit diskusi hanya antara penguji dan supervisor, dan yang terakhir pemberian informasi hasil keputusan.

Beberapa tips yang bisa saya bagi diantaranya adalah:

  1. Mempersiapkan transkrip presentasi termasuk potensi tanya jawab yang akan terjadi. Meskipun supervisor saya mengatakan jangan dihafal, tapi setidaknya dengan kita mencoba membacanya beberapa kali, struktur speaking kita lebih tertata dan mengurangi blank kita bicara.
  2. Mempersiapkan bahan presentasi. Supervisor saya juga memberikan saran yang cukup unik kali ini. Dalam benak saya, namanya presentasi pakai power point, tapi kali ini dia menantang saya untuk mempresentasikan bahan tesis dengan cukup dengan selembar kertas. Ternyata hal ini tidak mudah, karena seperti membuat poster tapi dalam kertas A4. Oleh karena itu akhirnya saya membuatnya dengan struktur: 1) Aim; 2) Context/ background; 3) Originality; 4) Plan. Keuntungan dari menggunakan selembar kertas ini, tidak hanya memberikan kesan simple, tapi juga memberikan suasana lebih informal dengan penguji. Akan terasa aneh mempresentasikan kepada hanya 2 orang di ruangan dengan layar besar power point, dan harus berdiri.
  3. Melakukan mock viva dengan supervisor. Saya benar-benar salut kali ini dengan superivor, karena di saat dia masih sakit dan harus tinggal di rumah, dia mengundang ke rumah nya untuk geladi bersih viva. Dia memberikan tips berbicara, membangun kepercayaan diri, dan yang tak kalah penting, dia memberikan infromasi apa saja yang dinilai oleh penguji. Sehingga dia memastikan pertanyaan pertanyaan dalam mock tidak terlewatkan untuk dicoba dijawab.
  4. Membaca tulisan penguji. Sempat saya membaca salah satu tulisan penguji terkait topik saya, dan ini saya jadikan bahan diskusi ketika dalam ujian tersebut. Saya bisa melihat wajah dia, bahwa dia sangat senang kita membaca hal-hal kecil, dan terkesan luas wawasan karena kebetulan tulisan tersebut masih dalam bentuk working paper.
  5. Beberapa hal yang ditanyakan dalam ujian dalam kasus saya beliau menanyakan urut berdasarkan chapter: a) terkait background penelitian kita, b) literature review termasuk aim dari literature review, metdologi yang digunakan, bagaimana mengases kualitas literature review, bagaimana mensisntesis literature review; c) metodologi, kenapa menggunakan metodologi tersebut; terkait teknis ketika terjadi masalah dalam data sebagai contoh ketika ada missing value; hingga rencana software yang akan digunakan; d) hasil, bagaimana mengintepretasikan hasil, terutama ketika terjadi hasil yang tidak sesuai dengan harapan kita; e) plan: apakah ada jadwal yang dirasa kurang sesuai; pelatihan-pelatihan apa saja yang dibutuhkan selama studi ke depan.

Alhamdulillah, hampir semua pertanyaan dapat saya jawab meskipun ada istilah teori-teori yang saya lupa, tapi setidaknya saya bisa memberikan secara teknis bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dan bahkan ketika saya tidak bisa menjawab, saya pun mengatakan belum tau jawabannya dan akan mempelajari lebih lanjut.

Ketika diumumkan hasilnya, beliau langsung memberikan selamat kepada saya, dan memberikan masukan yang konstruktif untu perbaikan ke depan. Yang lebih membuat saya sangat bahagia adalah tidak perlu adanya revisi dokumen, dan saya lihat dalam komentarnya tidak ada komentar terkait writing seperti grammar, struktur, yang sepertinya membuat dia happy membaca report saya. Sehingga bisa liburan dan menenangkan pikiran untuk sementara waktu (nego supervisor untuk bertemu lagi bulan depan aja ya… hahaha). Okay, happy face today..

20150814012119

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 14/08/2015 in Kuliah

 

Dimana kita harus meletakkan variable z (exogenous)?

Hingga training yang paling akhir dengan Greene saya ikuti di London pada bulan Januari 2015 lalu beliau masih mengatakan bahwa tidak ada konsensus dimana harus meletakkan variable z dalam analisis stochastic frontier analysis, apakah di dalam production function ketika mengestimasi inefsiiensi (one-step), atau ketika menggunakan inefisiensi sebagai variable dependent (two-step).

Sebagai contoh yang menurut saya mudah untuk dimengerti adalah tulisan Battese, dimana dilakukan two step analysis yakni ineffciency model (step 1) dan regression model (step 2) untuk menentukan exogenous variables. Studi tersebut menunjukkan bahwa inefisiensi secara signifikan mempengaruhi dalam stochastic frontier production function.

Namun Wang (2002) berargumen, bahwa baik ketika variable input ( x ) berhubungan atau tidak berhubungan dengan variable ( z ), maka hasil two-step akan bias karena akan menurunkan nilai korelasi itu sendiri ketika dilakukan step ke dua.

Penelitian lebih lanjut menjadi menarik, karena kita bisa mencoba apakah mungkin z faktor yang dimaksud hanya  internal exogenous factor, atau mencakup external exogenous factor?

Referensi:

Battese, G.E. and Coelli, T.J. A Model for Technical Inefficiency Effects in a Stochastic Frontier Production Function for Panel Data. Empirical Economics. 1995, 20(2), pp.325-332.

Wang, H.-j. and Schmidt, P. One-step and two-step estimation of the effects of exogenous variables on technical efficiency levels. Journal of Productivity Analysis. 2002, 18(2), pp.129-144.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12/08/2015 in Efisiensi

 

Tag:

Mahasiswa Indonesia di Inggris Kaji Pembenahan BPJS

Sumber: http://lampung.antaranews.com/berita/282405/mahasiswa-indonesia-di-inggris-kaji-pembenahan-bpjs

Revisi: Firdaus Hafidz mahasiswa University of Leeds, bukan York seperti berita di bawah.

Bandarlampung (ANTARA Lampung) – Lingkar Studi Cendekia Inggris Raya, sebuah kelompok diskusi yang digagas oleh para pelajar Indonesia di Inggris Raya pada seri ke-4 menggelar sebuah diskusi yang bertajuk Problematika Jaminan Kesehatan di Indonesia.

Menurut mahasiswa Indonesia di Inggris asal Lampung, Arizka Warganegara, dalam penjelasan tertulis diterima di Bandarlampung, Rabu (17/6), menjelaskan pada diskusi yang mengkaji Badan  Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS)Kesehatan yang dilaksanakan pada Minggu (14/6) di Huddersfield Inggris, para mahasiswa yang bergabung dalam Lingkar Studi Cendekia United Kingdom memberikan beberapa masukan penting. 

Diskusi kali ini, menurutnya, sangat spesial karena dihadiri banyak pegiat lingkar studi dari berbagai universitas, seperti M Haikal Karana dan Aswin Siregar dari Leeds University, Herri Mulyono dari York University, Nur Wanto, Sartini Wardiwiyono, dan Anom dari Huddersfield University, dan Dzulfian dari Warwick University, dan beberapa mahasiswa asal Indonesia di Inggris lainnya.

Tiga poin masukan yang menjadi catatan kritis adalah pembenahan tata kelola, adanya political will dari pemerintah, serta pemberlakuan universal health care. 

Poin pertama disampaikan oleh Hafidz Firdaus, kandidat doktor Ekonomi Kesehatan dari University of York, “BPJS harus diakui masih memiliki beberapa kekurangan seperti lemahnya sistem pengawasan di lapangan, sehingga menimbulkan calo-calo pendaftaran BPJS, sistem rumah sakit yang belum seluruhnya terintegrasi dengan BPJS dan tata kelola anggaran yang masih belum sempurna. Oleh karena itu diperlukan sebuah pembenahan dari sisi operasional secara menyeluruh dari pemerintah pusat hingga daerah.”

Selain itu, menurut Giovanni Van Empel dari University of York bahwa “Indonesia dapat belajar dari Thailand, dan negara di Eropa lainnya yang berhasil justru mengandalkan penerimaan pajak secara penuh. Indonesia perlu mengubah sistem yang ada, karena selama ini masih mengandalkan iuran individual. Pengenaan pajak baru, misalnya pajak makanan yang berbahaya bagi kesehatan (fat tax) dan pajak lainnya bisa menambal kebocoran anggaran BPJS ke depannya.”

Para pembahas diskusi ini menyatakan, tidak kalah menarik adalah perlu dukungan politik dari semua aktor di lapangan, terutama pemerintah daerah. 

Dzulfian, mahasiswa University of Warwick menimpali, “Kasus di Bali, misalnya, dapat terselenggara dengan baik karena aktor daerah seperti bupati memberikan dukungan penuh, political will dari pemerintah daerah ini menjadi hal krusial dari keberhasilan BPJS.”

Solusi terakhir yang ditawarkan oleh para peserta diskusi menyangkut tentang penerapan universal health care, atau jaminan kesehatan yang bersifat menyeluruh tanpa memandang kelas sosial, seperti di Inggris dengan NHS (National Health Service)-nya. 

“Saat ini pemerintah masih menerapkan perbedaan perlakuan terhadap tiga kelas sosial yang berbeda, sehingga wajar apabila BPJS justru digunakan lebih banyak oleh kelas menengah. Padahal awal peruntukan BPJS untuk membantu kelas bawah. Alhasil pemerintah sempat kesulitan memikirkan anggaran yang semakin membengkak,” ujar Bhima Yudhistira, mahasiswa University of Bradford.

Sebagai penutup, Hafidz Firdaus mencoba merangkum seluruh diskusi dengan optimisme BPJS sebagai sebuah program pemerintah yang harus terus didukung oleh berbagai kalangan, “Bukan berarti dengan segala kelemahan yang terdapat di dalam BPJS lalu kita tidak mendukung, justru ini merupakan program dengan tujuan yang baik, hanya perlu disempurnakan lagi.”

Editor: Budisantoso Budiman

COPYRIGHT © ANTARA 2015

 

Tag:

Jaminan Kesehatan untuk Semua?

Oleh: Firdaus Hafidz
Mahasiswa PhD University of Leeds

Beawal dari pengalaman pribadi, dalam sebuah sesi persiapan keberangkatan lembaga pengelola dana pendidikan (lpdp), seorang pembicara perencana keuangan bertanya, “Siapa yang memiliki asuransi?” dari seluruh peserta, hanya beberapa orang yang mengangkat tangan, dan lebih sedikit lagi yang memiliki asuransi kesehatan. Dari kejadian ini, tidak heran banyak orang di negeri ini berpotensi menjadi jatuh miskin karena sakit atau bahkan harus meninggal karena penyakit yang seharusnya dapat ditangani namun tidak dapat mengakses layanan kesehatan karena permasalahan pembiayaan.

Pembiayaan kesehatan di Indonesia meningkat sangat tajam. Menurut data National Health Account yang dipublikasikan oleh World Health Organization (WHO), rata-rata biaya kesehatan per kapita di Indonesia meningkat 12.6% per tahun dari 1995 hingga 2013 (4,8 USD per tahun). Peningkatan ini melebihi rata-rata negara dengan pendapatan yang setara (lower-middle income) yang hanya sekitar 8%.

Hal tersebut bisa menjadi indikasi positif dan negatif secara bersamaan. Dari kacamata positif, masyarakat berarti telah semakin sadar akan pentingnya layanan kesehatan. Dibuktikan dengan persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di tahun 1995 hanya kurang dari 50%, dan telah mencapai 83% di tahun 2012. Meskipun dari sisi kacamata negatif biaya yang harus dikeluarkan dari kantong masyarakat sendiri untuk mengakses layanan tidak banyak berubah sejak tahun 1995 hingga 2013 sekitar 47%. Hal ini menandakan bahwa Oleh karena itu dengan digulirkannya program jaminan kesehatan (JKN), masyarakat menjadi semakin mudah untuk mengakses layanan kesehatan.

Setelah berjalan selama satu tahun, euforia masyarakat terhadap program JKN begitu terasa. Peserta yang awalnya hanya 117 juta jiwa di bulan Januari 2014, telah mencapai 144 juta jiwa pada Mei 2015. Dari berbagai jenis kepesertaan, pekerja bukan penerima upah (setiap orang bukan fakir miskin dan tidak mampu yang bekerja atau berusaha atas risiko sendiri, seperti petani, tukang becak, tukang ojek, dan lain-lain) memberikan kontribusi paling signifikan dalam pertumbuhan kepesertaan JKN. Rata-rata setiap bulannya terdapat 735 ribu peserta baru, sehingga dalam 17 bulan telah mencapai 12 juta peserta. Di sisi lain, penambahan peserta bagi pekerja penerima upah masih jauh dari target. Target badan usaha swasta dan BUMN yang ditargetkan mencapai 31 juta jiwa di tahun 2015, hingga bulan Mei ini baru mencapai 8 juta jiwa (26%).

Masing-masing jenis kepesertaan memiliki tantangan tersediri. Meskipun untuk peserta pegawai bukan penerima upah telah mengalami perkembangan yang pesat, hal ini menjadi masalah karena sifat pembayaran premi dilakukan secara “sukarela” layaknya asuransi komersial. Pertama, adverse selection, yakni peserta yang mendaftar hanyalah peserta dengan risiko tinggi saja. Peserta mendaftarkan diri ketika sakit atau memiliki kecenderungan untuk menggunakan pelayanan rawat inap yang mahal di rumah sakit. Hal ini tentu mengakibatkan pengeluaran kesehatan jauh di luar perkiraan. Klaim rasio (biaya pelayanan kesehatan dibagi pendapatan iuran) di tahun 2014 telah mencapai 104%, atau dengan kata lain telah mengalami defisit sebesar 3,3 triliun rupiah termasuk dana cadangan.

Kedua, tantangan lain pada pekerja bukan penerima upah adalah tingkat keberlanjutan pembayaran premi akibat dari ketidakpastian pendapatan. Meskipun strategi pembayaran secara fleksibel dapat diterapkan untuk meningkatkan kepatuhan, sebagai contoh para pekerja dapat membayar lebih tinggi ketika sedang mendapatkan banyak keuntungan dan membayar lebih rendah ketika masa masa merugi, namun secara bersamaan dimungkinkan terjadi moral hazard dalam bentuk penunggakan pembayaran berkepanjangan. Atau sebaliknya, peserta patuh dan ingin membayar premi secara rutin, namun kesulitan karena minimnya media untuk pembayaran. Hal ini menyebabkan implikasi lain yaitu mahalnya biaya administrasi untuk mengumpulkan data dari masyarakat.

Sedangan tantangan untuk pekerja penerima upah juga tidak kalah kompleks. Pertama, persepsi peserta terhadap kualitas layanan kesehatan. Sebagian besar badan usaha telah memberikan paket manfaat yang lebih baik kepada pegawainya dibandingkan JKN. Oleh karena itu, terjadi penundaan kepesertaan sampai dengan Juni 205 akibat kompleksitas mekanisme koordinasi manfaat yang harus dilakukan. Kedua, dinamisnya mobilitas pekerja penerima upah menambah kesulitan dalam ketersediaan dan pendaftaran peserta pada salah satu fasilitas kesehatan tingkat pertama.

Dan tantangan terakhir yaitu untuk peserta penerima bantuan iuran. Pertama, permasalahan yang sama terjadi dari tahun ke tahun, yaitu mengenai ketersediaan dan akurasi data. Hal ini menyebabkan masih seringnya fasilitas kesehatan menjumpai masyarakat miskin namun tidak memiliki jaminan kesehatan. Pada akhirnya pemerintah daerah melalui program Jamkesda berusaha menutup kesenjangan ini, meskipun sangat tergantung dengan kemampuan daerah masing-masing. Kedua, peserta penerima bantuan iuran cenderung kurang memanfaatkan layanan kesehatan akibat dari pengetahuan terhadap kesehatan yang masih rendah, termasuk program jaminan kesehatan, sulitnya mengakses layanan kesehatan akibat kondisi geografi dan transportasi, dan rendahnya persepsi kualitas layanan kesehatan akibat menggunakan jaminan kesehatan.

Jika kita belajar dari Negara berkembang lain seperti Thailand dan Rwanda, skema asuransi masih tetap terbagi menjadi tiga, yaitu asuransi untuk pegawai negeri sipil, swasta, dan kelompok masyarakat lainnya. Dari awal, seluruh masyarakat telah ditanggung oleh pemerintah dengan paket manfaat yang minimal, yang lalu kemudian secara bertahap ditingkatkan dengan seiring meningkatknya kemampuan Negara. Berbeda dengan Sri Lanka dan Sierra Leonne, seluruh masyarakat ditanggung oleh pemerintah dengan paket manfaat yang sama, lalu untuk golongan tertentu dapat menambah paket manfaatnya. Pembiayaan bersumber dari pajak atau dana publik sesuai dengan arahan dari WHO telah terbukti di berbagai Negara lebih hemat dan cepat dalam mencapai jaminan kesehatan untuk semua. Beberapa contoh dari sumber pendanaan tersebut adalah earmarked tax (pajak yang ditujukan secara speisfik untuk pengeluaran tertentu), sin tax (pajak dosa, yang berasal dari produk tertentu seperti alcohol, tembakau, perjudian, dan lain-lain), atau pengalihan subsidi negara terhadap jenis barang/ jasa tertentu.

Jika melihat dari konteks di Indonesia, pengurangan subsidi bahan bakar minyak (BBM) dapat dijadikan sebagai salah satu sumber alokasi untuk jaminan kesehatan di Indonesia. BBM dapat dipilih menjadi sebagai salah satu alternatif. Menurut data survei sosial ekonomi nasional (Susenas) subsidi BBM lebih banyak dipergunakan oleh rumah tangga berpenghasilan menengah ke atas. Oleh karena itu, melalui pengurangan subsidi energi untuk kepentingan yang lebih besar yakni melindungi seluruh warga negara Indonesia dari beban biaya kesehatan,. Tapi rasa-rasanya Pak Presiden masih suka repot-repot cetak kartu baru meskipun BBM sudah dinaikkan. Tanya kemana keberanian dan komitmen para pengambil kebijakan untuk kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 31/07/2015 in Pemikiran

 

Tag:

Dengan menyesal Wix memang lebih asyik

Beberapa hari belakangan saya membantu istri membuat blog baru nya untuk menyalurkan hobi memasak. Sebelum menentukan pakai website tertentu saya search dulu di google apa yang paling bagus. WordPress masih tetap menduduki posisi nomor wahid, tapi tentunya yang wordpress berbayar karena harus hosting sendiri. Lalu gatel dengan google plus yang ternyata juga sudah menyediakan situs, tapi ternyata sifatnya lebih untuk bisnis jadi harus memasukkan alamat dan verifikasi. jadi lewat.. Alhasil menemui template yang asyik di Wix. Lalu akhirnya saya coba buat perlahan lahan.. Wow ternyata membuat ketagihan dan hingga tengah malam kutak katik sendiri ditemani anak anak. Berikut adalah kelebihan dan kekuarangan yang saya temui dari Wix:

Kelebihan:

  • Template terlihat seperti website professional
  • Flexible pengaturan layout webiste nya, bahkan untuk tampilan mobile nya.
  • Sudah cukup banyak fitur dasar yang gratisan
  • Media sudah bisa terhbuung dengan media sosial, sehingga tidak perlu upload gambar-gambar lagi ketika sudah ada di website.
  • Mengakomdir untuk menshare dengan berbagai sosial media

Kekurangan:

  • Karena pengaturan yang sangat flexible kadang kalau tidak hati hati malah jadi berantakan, tumpuk sana sini tanpa disadari.
  • Terdakang frustasi karena ada hal-hal yang tidak bisa diedit, terutama versi mobile, seperti contohnya social button untuk blog
  • Penulisan blog harus secara online, tidak bisa melalui writter, atau word. Bahkan di sini oleh pihak SKY diblokir entah kenapa.
  • logo iklan Wix untuk webiste gratisan cukup besar dan menurut saya kadang cukup mengganggu.

Kesimpulannya Andaikata wordpress.com ini bisa dipindahkan artikelnya ke Wix, saya akan memindahkannya semua, atau saya cuma berharap wordpress bisa berkembang untuk memberikan feature yang lebih flexible seperti Wix tanpa harus ribet ribet dengan file file template.

Berikut contoh blog webiste yang telah saya coba buat:

maudifirdaus.wix.com/mykitchentale

image

Selamat mencoba juga bagi yang ingn mengembangkan blog nya atau buat webiste untuk bisnis nya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 31/07/2015 in Pemikiran

 

Tag:

Aplikasi Hukum Waris Islam

Tulisan ini saya buat sebagai bahan diskusi acara KIBAR Leeds bulan Januari 2015 lalu. semoga bermanfaat

Aplikasi Hukum Waris Islam

Latar Belakang: Semua manusia pasti akan meninggal dan membagi harta yang dimilikinya. Namun tidak jarang pembagian warisan menjadi permasalahan dalam hubungan sebuah keluarga. Hal ini disebabkan karena pengetahuan mengenai pembagian warisan untuk masyarakat awam sulit dikuasai.

Tujuan: 1) Mencari aplikasi hukum waris islam; 2) Membandingkan aplikasi hukum waris islam

Metode: search google: dengan kata kunci: hukum waris* dalam islam aplikasi software

Search google play: dengan kata kunci: waris islam

Hasil dan pembahasan:

Aplilkasi yang diperoleh:

1. iWaris. Sumber: http://iwaris.or.id

a. Software

b. Web

c. Google chrome , android, windows tablet, Ipad, kindle fire,

2. At-Tashil Version 4.2. Sumber: http://kaisansoft.com/

a. Web

b. Software

c. Google play

3. FARO’IDH. Sumber: http://www.faroidh.webs.com/faroidh.html

a. Web

4. Hak Waris menurut hukum islam (google play)

5. Pembagian Harta Warisan (google play)

6. Pembagian Warisan (google play) à dikeluarkan karena tidak ada kalkulatornya, hanya ilmu dan contoh.

Perbandingan :

1. Semua aplikasi bersifat gratis.

2. Aplikasi dikembangkan oleh pihak yang berbeda-beda, meskipun hasil FARO’IDH dan “Hak Waris menurut hukum islam” terlihat sama persis.

3. Aplikasi at-tashil memiliki fitur diagram keluarga sebagai awal simulasi, sehingga tidak membuat rancu dalam isitlah silsilah keluarga.

4. Semua aplikasi secara umum menghasilkan angka yang serupa. 2 aplikasi, yakni At-tashil, dan pembagian warisan memberikan hingga 2 digit decimal. Meskipun ada sisa uang pada aplikasi pembagian warisan.

5. Aplikasi iWaris memberikan fitur “Harta gono gini” untuk istri

Secara rinci dapat dilihat pada table di halaman belakang.

Kesimpulan

iWaris memiliki fitur yang paling kaya dan compatible dengan berbagai operating system.

At-tashil bermanfaat jika ada bingung terkait istilah silsilah keluarga. Dan sangat cocok jika ada perlu komunikasi dengan orang asing (inggris, dan arab), anda bisa menggunakan at-tashil dan meyimpannya, sehingga tidak perlu mengulang lagi. Bahkan anda bisa melatih ilmu anda dengan berlatih

Faro’idah cocok untuk anda yang suka dengan tampilan simple dan memerlukan informasi terkait penggunaan software dan cara pembagian warisan.

Hak Waris menurut hukum islam: cocok untuk anda yang menyukai tampilan simple, tapi sangat sulit dalam entri datanya, karena dijadikan dalam satu lembar.

Pembagian harta warisan: pilihan yang cocok untuk anda ketika tidak bisa membagi warisan secara rata pada akhirnya karena sifatnya decimal, sehingga memberikan harta sisa. Ccocok untuk hp atau tablet android anda,

Namun pada intinya, kita harus mendahulukan hukum islam meskipun pada akhirnya terjadi kesepakatan musyawarah mufakat, karena tidak semua harta dapat dibagi secara murni dengan angka.

Perbandingan:

iWaris

At-Tashil ver.4.2

Developer

Masjid Raya Al-Azhar, Jakarta

Kaisansoft.com

Iliustrasi Tampilan hasil

clip_image002[6]

clip_image004[6]

Fitur

– Terdapat konten syariah

– Terdpat Bait Zauijiah (Harta Gonogini): 50% istri ikut bekerja, 30% istri ibu RT

– 9 tahapan, dan penejelasan kenapa seorang saudara terhalang.

– Ada Bahasa inggris dan Bahasa Indonesia, dan arab

– Tampilan diagram keluarga

– Daftar warisan dapat disimpan, versi desktop.

– 2 digit desimal

– Ada kegiatan latihan perhitungan

Hasil

1 Istri (1/8): 12.500

1 Ibu (1/6): 16.667

3 Anak Laki-laki (1:1A): Rp.18.056

1 Ayah (1/6): 16.667

*hasil dapat berbeda ketika mencantumkan bait Zauijilah.

Bapak: 16.666,67

Ibu: 16.666,67

Anak laki-laki: 18.055,56

Sdr. Kandung laki-laki: terhalang

Sdr. Kandung perempuan: terhalang

Istri: 12.500

 

FARO’IDH

Hak Waris menurut hukum islam

Pembagian Harta Warisan

Developer

Ashilah Shop

Andi Andriansyah (Universitas Putra Indonesia) Cianjur

XLabour Inc.

Iliustrasi Tampilan hasil

clip_image002[4]

clip_image004[4]

clip_image006[4]

Fitur

– Tampilan simple

– Ada menu bantuan: cara penggunaan program, batasan program, ilmu faro’idah, perincian pembagian harta warisan.

– Terdapat konten: pengertian, penggugur hak waris, syarat, studi kasus

– Ada iklan

– Perhitungan hingga 2 digit decimal

– Ada sisa pembagian??

– Ada iklan

Hasil

Jatah tiap Saudara Kandung : 0 (karena dihalangi oleh Anak Laki-Laki)

Jatah tiap Saudari kandung : 0 (karena dihalangi oleh Anak Laki-Laki)

Jatah tiap Istri (1/8): 12.500

Jatah tiap Anak Laki-laki (Sisa) : 18.055

Jatah Bapak (1/6): 16.667

Jatah Ibu (1/6): 16.667

Jatah tiap Saudara Kandung : 0 (karena dihalangi oleh Anak Laki-Laki)

Jatah tiap Saudari kandung : 0 (karena dihalangi oleh Anak Laki-Laki)

Jatah tiap Istri (1/8): 12.500

Jatah tiap Anak Laki-laki (Sisa) : 18.055

Jatah Bapak (1/6): 16.667

Jatah Ibu (1/6): 16.667

Untuk masing2 anak laki-laki: @18,055.33

Untuk istri (1/8 bagian): @12,500.00

Untuk Ayah(1/6 bagian): @16,666.00

Untuk Ibu (1/6 bagian: @16,666.00

Untuk adik/ kakak laki-laki: 0.00

Untuk adik/kakak perempuan: 0.00

Sisa pembaigan: 2.00

Dasar hukum:

Allah mensyari´atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

(QS: An-Nisaa Ayat: 11)

Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari´at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.

(QS: An-Nisaa Ayat: 12)

(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.

(QS: An-Nisaa Ayat: 13)

Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.

(QS: An-Nisaa Ayat: 14)

Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

(QS: An-Nisaa Ayat: 176)

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 05/02/2015 in Journal, Pemikiran

 

Tag: ,

Tips melakukan focus groups discussion/ diskusi kelompok terarah (FGD) dalam penelitian

By Dr. Karen Vinall / Dental Public Health/ academic unit of health economics.

Sebuah diskusi grup terarah, tidak hanya menangkap apa yang dikatakan oleh responden, tapi juga bagiamana interaksi dan dinamika yang terjadi ketika diskusi tersebut. Sebagai peneliti, yang paling penting adalah kita harus tetap konsisten ketika terjadi perbedaan pendapat, contoh antara pendapat dokter dan pasien.

Secara ideal, jumlah orang yang ideal adalah antara 6-8 orang, sehingga tidak terlalu ramai. Siapa saja yang di dalam nya? Kita harus memikirkan, apakah harus terpisah stakeholder nya, atau harus dicampur? Karena dimungkinkan salah satu akan tidak berbicara, atau mungkin terjadi emosi negative yang tidak diinginkan ketika terjadi konflik pendapat.

Waktu yang ideal sebenarnya tidak ada, sesuai dengan kesepakatan, tapi rata-rata 45-90 menit. Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana peserta FGD, sebagai contoh, apakah nyaman dengan waktu tersebut, dan ketika pendapat sudah jenuh, maka disudahi. Atau ketika orang tidak mau berbicara, mulai lah dengan hal-hal yang mudah, seperti memperkenalkan nama, bagaimana pengalaman umum dia, dll.

Untuk di awal kegiatan, bisa diberikan pengantar seperti video, atau drama, statement yang provokatif , newspaper clipping, statistic dan gambar, dll yang dapat membangun dan mencairkan suasana. Dan ketika berdiskusi pun bisa menggunakan metaplan, membuat prioritas, dll. Yang paling penting adalah mulai dengan general/ broad lalu ke spesifik.

Terkait dengan data, jangan lupa merekam dengan audio recorder, yang tentu saja membutuhkan ethical approval. Bahkan jangan berhenti merekam terlalu cepat ketika diskusi disudahi, karena seringkali masih ada perbincangan di akhir. Atau ketika di akhir diskusi masih ada follow up interview terhadap beberapa orang. Tapi pastikan semua orang tau bahwa hal ini masih direkam.

Setiap diskusi menggunakan pendekatan yang berbeda tergantung analisis yang akan digunakan: Content analysis – how often something is discussed?; thematic analysis – what are the things discussed?; interpretative phenomological analysis – who said what under which circumstances; discourse analysis – the language used to describe?

Informasi lebih lanjut:

– Silverman D. Doing qualitative research. London: Sage Publications, 2000

– Kitzinger J. The methodology of focus groups: the importance of interaction between research participants. Social Health Illn 1994; 16:

– Morgan D L. The focus group guide book. London: Sage Publications, 1998

– Bloor M, Frankland J, Thomas M, Robson K. Focus groups in social research. London: Sage Publications, 2001.

– Stewart D W, Shamdasani P M. Focus grpus. Theory and practice. London: Sage Publications, 1990.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30/01/2015 in Kuliah

 

Tag:

 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.