Tips menulis untuk PhD

Writing techniques for your PhD; oleh: Dr Nilam Ashra-McGrath

#PhD #PhDchat

@NilamAMcGrath @Ridnet_Leeds

WhatsApp Image 2017-07-13 at 00.44.53

Saya berkesempatan untuk bertemu dan mendengarkan langsung dari penulis buku “A PhD rollercoaster”. Beliau adalah mahasiswa legenda di Leeds University karena dapat menyelesaikan PhD di tahun 2008 tanpa koreksi. Dalam pengantarnya, beliau memberikan rekomendasi website berikut sebagai panduan untuk menulis:

  • Manchester http://www.phrasebank.manchester.ac.uk/
  • Thesis whisperer: thesiswhisperer.com
  • TW backline masters  google.com/site/twblacklinemasters/
  • Patter Patthomson.net
  • nextscientist.com/writers-block-students
  • com/daily-routines-writers

Disarankan sebagai mahasiswa untuk subscribe dengan twitter untuk alert jika ada artikel yang menarik. Kita perlu mengenal diri kita, apa yang sesuai untuk memotivasi kita untuk menulis. Sebagai contoh menetapkan deadline, target rutin 500 kata per hari. Diperlukan disiplin yang kuat sebagai penulis. Penulis buku fiksi menulis 80-100 ribu kata per buku. Oleh karena itu perlu mengatur diri sendiri, rutin, lingkungan termasuk teknologi dan alat, jangan merasa salah dengan menulis bebas (tetap menulis apa yang ada di pikiran), terus menulis draft, istirahat dari layar, dan olah raga setiap hari.

Berikut adalah beberapa contoh penulis buku terkenal: Penulis da vinci code menulis mulai jam 4 pagi meskipun natal. Secara rutin akan berhenti untuk melakukan push up, sit up, dan stretching. E.B. White mengatakan bahwa jangan pernah menunggu suasana yang ideal dalam menulis, just start. Haruki Murakami mengatakan repetisi adalah hal penting agar bisa menjadi kebiasaan. sebagai contoh duduk pada jam tertentu setiap hari. Stephen King menulis dengan ruang yang terdedikasi dan sunyi. Jodi Picoult memproduksi buku setiap 18 bulan, dan saran beliau adalah ” anda tidak bisa mengedit kertas kosong”. Khaled Hosseini menulis baik anda suka atau tidak. Inilah yang selalu menjadi masalah sebagai akademia, kita menulis dengan harapan harus sempurna dulu  di kepala.

Hal penting lain dalam proses menulis adalah mengetahui apa distraksi kita. Sebagai contoh makan, tv, kopi, internet. Hal ini tidak masalah, tapi harus juga dibuat sebagai hal yang rutin dan dikurangi secara bertahap. Beliau memberi contoh rutinitasnya dalam menulis:

  • 8 pagi, bangun dan membaca tulisan terakhir, dan diimuli dengan bullet point untuk tahapan tulisan berikutnya.
  • 11 pagi, istirahat, makan, dan nonton.
  • 12 siang, menulis selama 3 jam
  • 3-4 sore istirahat dengan snack dan nonton.
  • 4-6 sore menulis
  • Berhenti dulu untuk waktu keluarga sampai pukul 11.
  • 11 malam hingga 1 pagi menulis lagi terakhir. Hal ini menjadi penting karena kita sempat memikirkan selama istirahat dan bisa wrap up semuanya sebelum tidur.
  • Tidur 6 jam. tidur yang tidak terlalu lama akan baik karena masih ingat apa yang sedang ditulis pada malam sebelumnya.

Dalam proses menulis ini tidak perlu merasa bersalah ketika tidak produktif. Tapi yang paling penting adalah rutinitis yang secara konsisten dilakukan.

Membuat perencanaan meulis juga merupakan hal yang akan sangat membantu. Sehingga dalam proses menulis kita mengetahui gambaran besar puzzle yang akan kita tulis. Penggunaan flip chart, postaid, mind-map secara fisik seringkali lebih membantu karena mudah dan flexible.

Terkadang memang kita membuat alasan sendiri yang menjadi hambatan dalam menulis, sebagai contoh: harus menulis kalimat yang sempurna sebelum memulai, menunggu mengumpulkan semua informasi sebelum menulis, menunggu membaca satu artikel sebelum menyimpulkan sebuah tema, kehilangan pena keberuntungan, terlalu sibuk, pencuri waktu seperti twitter, email, dll yang seharusnya dapat dilakukan ketika jam istirhat. Oleh karena itu just begin, don’t wait and be confidence.

Sebagai penutup beliau menyimpulkan hal-hal penting tips tahpan dalam proses menulis:

  • Tulis dengan bullet point di awal.
  • Tulislah dengan bahasa bicarau
  • Gabung tulisan tersbut sehingga menjadi sebuah kalimat
  • Hilangkan duplikasi
  • Setelah terlihat strukturnya, kita bisa mengurutkan kembali
  • Isi gap bagian bagian yang mungkin masih kurang.
  • Telah terbentuk draft awal
  • Rubah kalimat-kalimat bicara menjadi bersifat akademik
  • Draft berikutnya yang mungkin sudah bisa dikirim ke supervisor untuk mendapatkan feedback.

Demikian tips menulis kali ini, semoga bermanfaat.

 

 

iHEA 2017 – Leeds to Boston

Leeds, 6/7/2017. Pagi yang benar-benar nggak enak rasanya karena harus meninggalkan keluarga. Saya hendak pergi selama 6 malam untuk mengikuti acara international health economic association 2017 di Boston. Ini kedua kalinya saya mengikuti acara setelah di tahun 2011 di Toronto.

Subuh, masih ada pekerjaan rumah yang harus dikerjakan, makasih buat istri yang lebih mengetahui kebutuhan isi koper dan disiapkan secara lengkap. Bongkar-bongkar tas punggung, baru nyadar kalau mouse tertinggal di kantor. Setelah mandi langsung ambil ke kantor sebentar. Setelah itu, booking uber untuk berangkat ke stasiun kereta. Karena panik, sarapan, handuk dan kamera ketinggalan. Terimakasih lagi buat teman ku Mas Daeng yang bersedia saya ganggu pagi pagi dan mengantarkannya ke stasiun.

IMG_20170706_072512.jpg

Ini kali pertamanya juga saya menggunakan mobile ticket. Ternyata ticket di hp harus diaktifasi terdahulu untuk melewati gerbang ticket. Ternyata saya membeli tiket tanpa reservasi tempat duduk, jadi ya duduk sembarang, beruntung ada tempat duduk reservasi yang tidak ada orangnya. Ternyata di kereta juga ketemu Mas Darius dari York yang akan berangkat ke acara yang sama. Sesampainya di terminal airport ternyata pemeriksaan tiket kereta api dilakukan secara manual oleh petugas, jadi jangan sampai hp anda batreinya habis untuk menunjukkan e-ticket nya.

Perjalanan pesawat yang saya pilih kali ini menggunakan AerLingus rute Manchaster – Ireland – Boston. Ketika check in petugasnya menanyakan alamat saya tinggal, dan saya baru nyadar ternyata di booking confirmation akomodasi nggak ada alamatnya. Jadi bikin tambah panik, beruntung google maps masih nyimpan sedikit data gambar lokasi, karena internet three di banda Manchaster agak kacau termasuk wifi nya. Pemeriksaan barang di Manchaster saya rasa cukup ketat, karena semua elektronik, jaket, tas harus diletakkan terpisah, dan pemeriksaan manual dilakukan kepada hampir semua bawaan. Saya sempat ditegur karena hasil scan menunjukkan banyak kabel, dan ada power bank besar yang tidak saya keluarkan. Tas juga diusap usap nggak tau pemeriksaan apa, baru bisa diambil tasnya.

Penerbangan dari Manchaster menuju Ireland menggunakan pesawat baling-baling. Yah jadi ingat penerbangan Jogja – Bandung. Kebetulan juga tidak ada penumpang di sebelah saya, jadi nyaman. Penerbangan juga memakan waktu 1 jam an, dan saya habiskan untuk tidur saja.

Setelah mendarat di Ireland, dasar saya nggak teliti saya sempat masuk jalur untuk keluar ke arah imigrasi bukan transfer pesawat, karena petunjuknya memang hampir bersamaan dengan pemeriksaan ke Amerika (U.S. Preclearance). Mas Pugo yang sehari sebelumnya sudah melewati hal yang sama menyampaikan kalau pemeriksaan yang dilakukan di sini seperti pemeriksaan imigrasi ketika di Amerika biasanya, jadi nanti ketika di Amerika kita tidak perlu diperiksa lagi. Pemeriksaan meliputi barang bawaan, kemudian pemeriksaan dokumen, pasang sidik jari, dan ditanya-tanya tujuan ke Amerika. Orang yang menanyakanpun ramah, bahkan sempat menanyakan penelitian saya apa dan bagaiamana metodenya. Dari sini saya jadi sadar, bahwa saya harus bisa menjelaskan kepada orang awam dengan singkat dan bisa dapat dimengerti, hehe, susah juga ternyata. Sambil menunggu penerbangan berikutnya, bandara di Ireland ini menyuguhkan foto foto sejarah presiden Amerika yang pernah mendarat di Ireland, serta ada foto-foto pemandangan yang indah di Ireland. Bagus juga jadi contoh, dibandingkan hanya tembok modern atau kaca besar di sebagian besar bandara.

Perjalanan dilanjukan menuju Boston ditempuh dalam waktu 7 jam. Secara umum pengalaman selama penerbangan cukup  menyenangkan, karena kebetulan mendapatkan orang Amerika yang ramah di sebelah saya, kita share pengalaman dari tentang musik, mobil, budaya dan politik. Kalau untuk hiburan di pesawatnya menurut saya kurang, karena earphone yang diberikan kurang nyaman, sempat error tv nya, dan nggak ada subtitle. Snack diberikan 2 kali, makan besar 1 kali.

Mendarat di Boston langsung menuju pengambilan bagasi. Terimakasih sekali buat Mas Pugo yang bersedia menjemput orang ndeso yang datang ke Amerika. Karena tidak biasa naik transportasi publik. Jadi kalau mau menggunakan transportasi publik dari airport, kita langsung keluar menyebrang jalan, di sana ada shuttel bus no 33 ke arah terminal utama (Free). Nah setelah itu, kita membeli di mesin yang menerima maksimal uang 20 dollar untuk membeli metro 7 days passes dengan harga 21 an dollar. Nah setelah masuk ke terminal metro ini saya sangat terbantu dengan Mas Pugo, karena beliau tau jalur jalurnya naik turun basement jalur biru hijau, dll. Saya cuma ngikut aja pindah pindah lalu akhirnya kita turun di Pleasant Street station dan sampai ke hotel tepat dibelakang nya Agganis arena. Melelahkan perjalanan hari ini, berikut terakhir di atas foto kamar di 33 Harry Agganis Way, Boston University.

 

 

 

Bagaimana pendidikan yang sesuai untuk “Public Health”? belajar dari Leeds

media-20170511 (4)

Oleh: Daerren Shickle

University of Leeds memikirkan bagaimana seharusnya pendidikan untuk jurusan “public health” atau di Indonesia disebut sebagai Kesehatan Masyarakat. Yang selama ini hanya baru tersedia master degree (MPH). Dalam beberapa tahun terakhir terutama di tahun 2015 terjadi peningkatan aplikasi untuk jurusan public health, namun penerimaannya stagnan. Oleh karena itu sempat diajukan proposal bagaimana jika dibuat jurusan S1, karena jurusan ini hanya berjumlah sedikit, dan sebagian besar hanya focus kepada promosi Kesehatan dan pengembangan Komunitas.

 

Untuk mengembangkan bisnis tersebut dibutuhkan market research dengan pertanyaan berikut:

  1. Factor pendorong
    1. Apakah anak muda tahu apa itu public health?
    2. Apakah mereka tau bahwa ada jenjang Pendidikan public health?
    3. Apakah mereka menyadari karir dalam public health?
  2. Faktor yang menarik
    1. Apakah pemberi kerja menginginkan lulusan S1 public health? Ataukah mereka lebih menginginkan lulusan dengan gelar yang spesifik seperti psikologi, epidemiologi, statistik

Jika melihat karakteristik pelamar:

  1. Siapakah yang sebenarnya tertarik untuk belajar Kesehatan Masyarakat? Ternyata sebagian besar dari mereka berumur di atas 35 (mature) dan selama ini memang sudah bekerja di bidang public health.
  2. Terkait nilai akademik mereka, sebagian besar adalah rata-rata dan rendah. Sedangkan yang bernilai tinggi cenderung untuk melamar Pendidikan ke kedokteran klinis.
  3. Agar menyamakan dengan ekspektasi pelamar Kesehatan masyarakat, dilakukan survey juga apa menurut mereka Kesehatan Masyarakat itu? Sebagian responden menjawab dengan beberapa keyword utama yakni “general”, “population”, “people”, “society”, “healthy”, wellbeing”, “mental”, dan “physical”.

Dari sisi pemberi kerja, rasanya memang public health dengan berbagai kategori masih dibutuhkan. Dari yang yang bisa terjun di pelayanan langsung, teknis di belakang meja, dan pengambil kebijakan.  berikut beberapa tanggapannya:

  1. Kalau dari pemerintahan, mereka saat ini mengidentifkasi dan membutuhkan
    1. Public health untuk layanan seperti social care untuk orang dewasa, anak, dan penasehat untuk pemerintah terutama untuk kegiatan monitoring dan evaluasi.
    2. Public health untuk memberikan saran dan membuat kebijakan seperti ruang terbuka, kemiskinan, perumahan, dll
    3. Public health yang memang sangat teknis dan terampil sebagai contoh mengetahui bagaimana teknis konsekuensi polusi udara, statistik, dll.
  2. Public health sangat dibutuhkan, namun untuk mengidentifikasi bukti saja tidak cukup. Mereka juga harus dapat meyakinkan orang untuk mlelakukan sesuatu, mencari sumber, mencari waktu yang tepat, mencari jalan untuk tercapainya tujuan. Sehingga tidak hanya ilmu dan kompetensi public health, tapi juga dapat menyampaikannya.

Oleh karnea itu dengan luasnya kompetensi yang dibutuhkan, pemerintah saat ini mengembangkan kompetensi untuk public health. Sebagai contoh kompetensi A1.1 Identify data needs obatain, verify and organise data/ information. Kompetensi satu orang dengan lainnya tidak harus sama, namun pemerintah memiliki bobot terhadap masing-masing kompetensi untuk mengatur level gaji seseorang.

Tahap berikutnya adalah: pengembangan inisiator antara universitas dan pemberi kerja, sehingga terjadi kesamaan antara Pendidikan yang diberikan dan kebutuhan di lapangan. Sebagai contoh program blended learning dengan distance learning lalu ada kegiatan Praktek di akhir tahun.

Sebagai refleksi saya pribadi di UGM, saya piker hal ini sangat cocok untuk dijadikan benchmark ketika kita hendak mengembangkan program ilmu Kesehatan Masyarakat. Saat ini pengembangannya masih terpaku pada jenis ilmu, yang padahal kalua dilihat dari atas sebenarnya pembagian program berdasrkan skill dan target market Mahasiswa.

Banyak ahli selalu teriak teriak Kesehatan masyarkat masih kurang dan kuratif selalu diutamakan. La memang kenyataannya kedokteran selalu jadi prioritas dan andalan dibandingkan Kesehatan Masyarakat. Saya pikir Kesehatan Masyarakat S1 bisa lebih cocok untuk yang ingin terjun pada layanan ke Masyarakat langsung. Sedangkan S2 bisa lebih cocok untuk lebih penjurusan seperti pengembangan policy dan Manajemen. Sedangakn untuk teknis lebih baik berasal dari S1 dengan jurusan detail masing-masing sebagai contoh statistik, ekonomi, dll. Karena luasnya ilmu kesehatan masyarakat, course course seperti blended learning sangat diperlukan untuk memperluas wawasan dan ket para kesehatan masayrakat.

Demikian dulu, ternyata di negara maju pun hampir sama masalahnya dengan Indonesia. .hehe.

Ketika risk assessment dan ethical clearance bukan hanya sekedar formalitas

media-20170510

Oleh: Pak Nawawi

Kembali lagi curhat bersama rekan-rekan PhD di acara CURDIS (curhat akademis), Pak Nawawi dan teman-teman lain berbagi pengalamannya terkait risk assessment dan ethical clearance. Di awal presentasi beliau menyampaikan secara singkat penelitian beliau yakni tentang gerakan politik para elite buruh dalam momentum demokrasi dengan pendekatan kualitatif wawancara mendalam kepada responden.

Karena data penelitian harus diambil di luar Inggris, maka dalam risk assessment dianggap sebagai middle risk. Beberapa pertanyaan dalam risk assessment tersebut antara lain terkait teknis di lapangan ketika kita mengatasi setiap situasi termasuk menggunakan kendaraan apa? Bagaimana kultur di negara tersebut, dll. Formulir ini menjadi penting tidak hanya sebagai salah satu syarat dokumen untuk ethical clearance, tapi juga dijadikan sebagai pegangan Universitas ketika terjadi masalah pada saat pengambilan data.

Dalam pengalaman beliau, beliau menulis menggunakan kendaraan mobil sebagai transportasi selama pengambilan data. Yang diasumsikan sebagai jawaban aman untuk dan formal agar terlihat aman. Namun pada kenyataannya di lapangan beliau menggunakan kendaraan motor dan mengalami kecelakaan. Alhasil, universitas tidak dapat membantu Asuransi dalam hal ini Karena berbeda dengan jawaban risk assessment sebelumnya. Beruntung Pak Nawawi memiliki Asuransi Kesehatan di Indonesia sehingga tidak terlalu masalah. Namun tidak hanya berujung pada hal tersebut, setelah kembali ke Inggris, beliau harus lapor dan supervisor juga diminta menjelaskan dalam rapat rutin di school dan melaporkan kronologis kejadian secara tertulis kasus kecelakaan yg terjadi dgn saya ke pihak school dan universitas. Tidak hanya berdampak pada beliau, risk assessment ini menjadi lebih teliti untuk mahasiswa lainnya agar tidak mengalami masalah yang sama.

Begitu pula dengan ethical clearance. Ethical clearance selalu terkesan menyulitkan peneliti Karena apliaksi yang banyak, memakan waktu, dan pertanyaan dari reviewer yang seringkali seperti mengada-ada. Pengalaman Pak Nawawi sampai 4x bolak balik revisi dokumen. Berikut beberapa  pertanyaan dari komite etik

  1. Bagaimana jika dokumen penelitian hendak dibaca oleh polisi?”. Wah masak ada si polisi sampai tanya tanya penelitian saya, Karena hal ini sangat tidak biasa terjadi dalam pengalaman penelitian beliau. Tapi pada kenyataannya di lapangan ternyata terjadi betul, dimana ada petugas BIN yang menelpon beliau untuk meminta presentasi. Wah kok bisa ya, ternyata ada salah satu NGO yang memberikan informasi ini ke BIN dan meminta untuk menelusuri. Akhirnya dengan jawaban diplomatis sesuai jawaban di ethical clearance, bahwa beliau tidak bisa memberikan informasi data ini Karena masih dalam proses penelitian.
  2. Lalu bagaimana anda mendapatkan inform consent dari responden? Seperti biasa hal ini sering kali menjadi kegiatan formalitas. Padahal ternyata di lapangan sangat sulit untuk mendapatkannya Karena para politisi tersebut menjadi sangat sensitive terkait hal-hal berbau tanda tangan, takutnya ada buntut di kemudian hari. Sehingga alhasil, inform consent didapatkan melalui persetujuan secara oral yang direkam. Bu Lusi menambahkan hal ini seharusnya disampaikan apa adanya saja dan solusinya dalam ethical clearance, Karena tidak hanya kultur, tapi ketika mengambil data kepada orang buta huruf, tidak mengerti Bahasa Inggris, juga tidak bisa tandatangan dan membaca dokumen.
  3. Mbak Bintan juga menyampaikan bahwa merekam adalah hal krusial juga. Merekam menggunakan video memang paling ideal, sehingga kita mengerti maksudnya dan membaca gerakan tubuhnya untuk menghindari salah interpretasi ketika melakukan tarnskrip. Tapi masalahnya beliau mengalami kesulitan untuk mengambil gambar, Karena bukan masalah sensitive, melainkan responden tidak percaya diri Karena belum dandan atau lainnya. Sehingga alangkah baiknya ketika memberikan informasi di awal agar responden bisa menyiapkan diri.
  4. Lalu pertanyaan lain juga terkait apa benefit dari responden dengan anda mengambil data dari mereka? Hal ini menjadi sangat krusial, Karena seringkali peneltiian hanya mengambil data namun tidak memberikan dampak positif, atau bahkan menjadi dampak buruk. Sebagai contoh Karena kita berasal dari universitas luar negeri, lalu hal ini menjadi gejolak social tersendiri di antara para warga, atau Karena kita akan mempublikasikan salah satu teknik kelompok tertentu, maka teknik tersebut dapat dicuri idenya oleh kelompok lain dalam usaha bisnis. Atau hal kecil terkait apakah anda akan memberikan insentif kepada responden, ada yang setuju dan ada yang tidak setuju dalam hal ini. Tips salah satu Mahasiswa PhD memberikan gift Manchaster yang cukup terjangkau dan hal tersbut membuat para responden senang. Sedangkan Mahasiswa yang tidak setuju, gift dianggap sebagai hal yang akan mempengaruhi informasi responden.

Tips lain dalam curhat ini:

  1. Terkait proteksi data jika hal tersebut sensitive. Bisa dengan cara melakukan embargo tesis dalam jangka waktu tertentu.
  2. Terkait proteksi data juga dalam pengambilan data, bisa menggunakan anti-virus contoh McAfee untuk enkripsi jika dirasa software dari universitas cukup ribet.

Demikian dulu tulisan Curhat edisi Bulan Mei.. samnpai juga di edisi berikutnya

Review film Iqro’

WhatsApp Image 2017-04-28 at 09.32.41

Alhamdulillah, kami memiliki kesempatan untuk menonton bersama film iqro’ di Leeds bersama kru film dari Masjid Salman, dan Salaman film academy berserta salah satu aktor yakni Pak Cok Simbara yang berperan sebagai Opa. Film dimulai pukul 6 sore dan berakhir sekitar pukul 8 malam. Ramai sekali, ditambah bonus snack gratis selama menonton oleh Panitia KIBAR Leeds. Anak-anak antusias menonton dari yang bisa konsentrasi menonton dari awal hingga akhir, hingga konsentrasi lari ke depan dan belakang guling guling di depan dan mengganggu operator.

Film ini bercerita tentang seorang anak bernama Aqila yang sangat antusias terhadap ilmu pengetahuan dan ingin melihat planet pluto dari Boscha tempat kakeknya bekerja. Namun kakeknya memberikan syarat untuk dapat mengaji terlebih dahulu jika ingin datang ke Boscha. Dalam perjalanan, ternyata ada masalah sosial di lingkungan Boscha yang membuat janji sang Kakek kepada cucu mengalami hambatan.

Film ini sangat menginspirasi bagaimana agama dan sains seharusnya dapat berjalan beriringan. Semangat pantang menyerah memperjuangkan hal yang kita yakini, kejujuran dan kepasrahan kepada Allah pasti akan membuahkan hasil yang tidak sia-sia. Aktor dan aktirs dalam film berperan sangat baik karena diperankan oleh para senior dan membuat emosi kita terbawa, terutama sebagai orang tua yang tentunya menghadapi masalah yang sama untuk mengajarkan anaknya mengaji namun kadang sangat sulit karena interst anak yang berbeda. Sehingga membuat orang tua semakin semangat untuk mengajarkan anak mengajarkan Al-Quran dan tidak segan untuk meminta bantuan keluarga sendiri yang mungkin akan lebih manjur untuk memotivasi mereka.

Namun saya juga ingin memberikan masukan terhadap film ini. Saya sangat senang di awal film dimulai dengan animasi imajinasi anak yang yang ingin menjadi astronot. Saya berharap film ini akan menjadi film yang penuh imajinasi anak, dengan ilustrasi kartun dan penuh fun. Tapi saya salah, film ini lebih ditujukan untuk para orangtua, sehingga permasalahan yang lebih ditekankan adalah terkait masalah sosial di Boscha dan bagaimana pendidikan terhadap anak itu sendiri. Sehingga tokoh yang lebih menonjol menurut say adalah Opa sang profesor yang berpetualang dalam lika liku kehiduapn Boscha dibandingkan bagaimana perjuangan Aqila untuk bisa mengaji dan membaca ilmu pengetahuan. Yah mungkin karena saya membandingkan dengan film Sherina yang cukup sukses ketika itu, dimana pertualangan  lebih ditekankan pada Sherina diselingi lagu yang fun. Sehingga alhasil, yang tertanam pada anak saya selama film ketika saya tanya malah terkait usaha pemboman oleh Jepang di Boscha ketika itu sebagai salah satu ucapan Professor ketika mempertahankan argumennya dalam rapat. Memang kebetulan anak saya senang dengan sejarah perang dunia ke-2 saat ini. Jadi hal-hal berbau peperangan menempel kuat. Tapi intinya, kalau film dibuat sesuai perspektif dan imajinasi anak mungkin bakal lebih mengena, seru, dan jadi memotivasi mereka bertanya tanya apa isi Al-Quran, dan orang tua juga senang menemani anak menonton.

Dalam sesi tanya jawab, film Iqro’ 2 juga sedang dalam proses katanya. Semoga film tersebut tidak kalah menariknya dengan film pertama ini. Tentu saja kami tunggu, dan karena terkait jarak dan fasilitas, besar harapan kami untuk dapat menonton streaming di luar negeri. Salah satu hal yang sangat saya harapkan untuk ada web official streaming film film Indonesia secara legal. Sukses selalu untuk tim Iqro’ dan selamat kembali ke Indonesia setelah perjalanan yang melelahkan di Inggris dan Eropa.

Tips menempuh PhD

Oleh: Pak Albertus Kurniadi

WhatsApp Image 2017-04-14 at 15.36.48.jpeg

Tulisan ini dibuat atas presentasi di acara curhat akademis (Curdis) bulan April 2017. Pak Kurniadi bercerita tentang pengalamannya dari tahun pertama hingga viva akhir. Pesan utama yang beliau sampaikan dari seluruh proses PhD adalah “Fokus dan berani mengatakan cukup”. Karena peneltian bisa sangat luas dan tidak akan pernah berakhir.

Tips di tahun kedua melihat rekannya yang kelihatannya sempat mengalami kesulitan dari Iraq, kita harus bisa menjaga tempo bekerja. Jangan terlena dengan keberhasilan transfer. Sehingga Pak Kurniadi, ketika assessment memasuki tahun ketiga telah memiliki full draft chapter seluruh tesisnya yang diperbaiki di tahun ke-3.

Pelajaran berikutnya adalah “be active”. Karena ini adalah budaya Inggris rasanya. Ketika itu beliau telah submit tesisnya, namun setelah dua hari yang dijanjikan untuk dikirimkan, ternyata belum diperiksa. Sehingga harus rajin rajin follow up.

Sebelum viva, yang diperlukan hanya baca, baca, dan baca. Terutama baca tesis kita sendiri. Karena semakin kita baca, akan semakin kita temukan kesalahan dan kekurangannya. Seperti typo, limitasi struktur, titik koma, dll. Dengan mengetahui kesalahan kita sendiri, kita bisa mengakui, atau berargumen seharusnya seperti apa.

Ada baiknya kita melakukan mock. Latihan presenasi dan diskusi di depan teman atau orang awam. Memastikan bahwa bahasa kita mudah untuk dimengerti dan mempersiapkan diskusi atas pertanyaan-pertanyaan yang dapat diantisipasi menghilangkan kegugupan.

Ketika viva, be yourself, it is defence, but not defensive:

  • Think: take time to think before answering. Hela nafas, pikirkan dan jawab
  • Honest: Admit if you don’t know the answer. Atau pakai bahasa diplomasi: I am not sure, but to the best my knowleddge, …Atau terimakasih atas pemekirannya, akan saya baca dan terima masukannya untuk tulisan saya.
  • Ask: Ask the question to be repeated
  • Talk: have a diaglogue with the examiners

sebagai awalan dari viva, kita harus bisa menyampaikan isi tesis kita dengan singkat. sehingga peras tesis anda untuk menjelaskannya dalam 10 menit, atau secara ekstream dalam satu kalimat. Presentasikan apa yang telah kita lakukan dan highlights point-point nya. Highlights originality, findings, dan contribution.

Dalam tulisan, highlights tersebut dapat ditaruh pada intorduction, masing-masing chapter, dan conclusion. Memang terkesan repetisi, tapi hal ini dimaksudkan untuk memberikan penekanan.

Viva Checklist:

  • I know my thesis thoroughly
  • I have written a one-page summary of each chapter
  • I have kept up to date with relevant literature
  • I have explained my thesis to friends and family who are not familiar with it
  • I have investigated the backgrounds and publications of my examiners
  • I have looked at my institution’s guidelines for vivas
  • I have produced a list of likely questions
  • I have identified areas of my thesis that are likely to be challenged
  • I have marked up my thesis to help me refer to it in the viva
  • I know how I will be informed of the outcome of my viva

Pengalaman menghadapi penguji. Pertanyaannya disisir per halaman, hingga titik koma dan typo. kalau ini gampang, yang penting kita mengerti maksud kalimat kita dan terima jika ada masukan. Karena mereka adalah native. Sehingga minor correction untuk tesis beliau lebih pada struktur tesis yang harus diselesaikan dalam 3 bulan.

Jangan menganggap bahwa tesis dibaca oleh expert. Sehingga jelaskan terminologi dalam foot note atau body.

Jangan lupa bawa post it, dan menggunakan print tesis satu halaman print, sehingga dapat ditulis catatan catatan atas masukan yang diberikan.

Terakhir yang paling penting adalah “jaga kesehatan”, karena beliau sempat drop karena tekanan mental untuk menghadapi  viva ini.

Semoga kita semua sukses melewati ini semua.

Tulisan di atas juga diambil dari berbagai sumber website salah satunya https://www.vitae.ac.uk

Apa yang mempengaruhi orang menggunakan rekam medis elektronik personal?

WhatsApp Image 2017-04-06 at 13.49.07.jpeg

Seminar dengan judul : ” Factors affecting patient’s use of ePHRs: Systematic review”

Oleh: Alaa Abd-arazaq

ePHRs adalah electronic-Personal Health Records yang merupakan web-based yang bisa diguankan oleh pasien untuk melihat informasi kesehatan, booking, melakukan peresepan berulang, dll. Terdapat 3 ePHRs: Stand alone (hanya untuk pasien, dan paling umum), Tethered PHR (hanya dapat direview oleh pasien, dan paling umum digunakan); dan Integrated PHR.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya adopsi penggunaan padahal telah banyak investasi untuk program ini.

Dari review yang dilakukan, meskipun banyak penelitian yang kualitasnya kurang, berikut beberapa faktor yang mempengaruhi penggunaan ePHRs:

  1. Ketersediaan akses internet
  2. Persepsi terhadap kegunaan
  3. Privacy dan security
  4. Sedangkan jenis kelamin tidak mempengaruhi

Oleh karena itu, dari segi dampak praktis: sangat jelas bahwa akses internet menjadi sangat krusial, melakukan outreach program sesuai dengan kebutuhan pasien, memastikan keamanan, memberikan technical support dan training pada pasien.

(Penelitiannya jadi bikin inget tesis S2..hehe.. )