RSS

Jangan Bad Mood ya…

img-20160908-wa0015

Leeds 4/10/2016 – Tertarik mengikuti mini master class di institute, karena topiknya tentang pengukuran mood dalam penelitian, oleh Professor Allan House. Dalam kuliah singkatnya, beliau menyampaikan bahwa mood ini memang diakui sulit untuk dilihat dengan kasat mata. Sebagai contoh orang yang mungkin memiliki kehidupan kekurangan atau miskin, bisa jadi merasakan kebahagiaan, sedangkan orang yang memiliki kehidupan yang lebih atau kaya malah yang mengalami depresi. Beliau juga menekankan bahwa mood adalah sebuah “state” yakni sebuah kondisi dalam waktu tertentu, bukan sebuah “episode” yakni kejadian yang muncul sebagai bagian dari rangkaian.

Pengukuran mood dapat dilihat dari beberapa tahap, yakni dari psikologis sampai mempengaruhi fisik:

  1. Afeksi atau emosi:depresi, cemas, apatis, euforia, dll
  2. Perilaku: menangis, tidak perduli, mencari perlindungan, dll
  3. Kognitif: ide bunuh diri, kuatir, dll
  4. Somatis: anorexia (tidak bisa makan), turun berat badan, nyeri, tegang, tidak bisa tidur

Alat alat pengukuran yang sudah ada saat ini antara lain: hospital anxiety and depression scale (HAD 14 items), general health questionnaire (GHQ 12, 28, 30, 60 items), beck depression inventory (BDI 21 items), centre for epidemiological studies (CES-D 20 items), dan mental health (MH5 subscale dari SF-36 : 5 items).

Seseorang dianggap mengalami depresi mayor ketika memiliki 3 gejala berikut lebih dari 2 minggu:

  • Penurunan berat badan
  • tidak bisa tidur (insomnia)
  • Agitasi
  • Lemah
  • Merasa tidak berharga
  • Konsentrasi yang lemah
  • Memikirkan kematian

Dan ternyata telah terbukti oleh Simon sejak tahun 1999 bahwa terdapat hubungan yang linier antara gejala psikologi dengan gejala fisik. Dari beberapa kota yang diteliti, kota yang rendah gejala psikologi dan fisiknya adalah di Nagasaki (pantas saja orangnya sehat-sehat ya), dan yang paling buruk adalah di Santiago. Sedangkan di Manchaster posisinya berada di tengah. Sayang nggak ada Indonesia.

Penelitian beliau juga menunjukkan bahwa orang yang memiliki mood yang buruk memiliki peluang untuk meninggal lebih tinggi. Dalam penelitian pasien stroke, orang yang mempunyai skor mood paling buruk memiliki 3x kemungkinan lebih tinggi untuk meninggal dibandingkan mood yang paling baik. Meskipun memang ada faktor lain, seperti usia di atas 72 tahun, dan indikator lainnya. Lebih rinci lagi, jika pasien tersebut memiliki perasaan menjadi orang yang tidak berarti, memiliki kemungkinan 2.5 kali untuk meninggal, sedangkan orang yang merasakan tidak ingin hidup lagi, memiliki kemungkinan 2.2 kali untuk meninggal.

Jadi, mood ini sangat penting untuk diperhatikan dalam dunia kesehatan. karena bisa dijadikan sebagai prediktor outcome penyakitnya. So, untuk mengingatkan diri sendiri juga, pasrah kepada Allah atas penyakit kita untuk diizinkan disembuhkan, dan mempunyai semangat untuk sembuh, tetap merasa berarti dan mencoba terus berpikir positif adalah penting.

Sebagai penutup dari Prof. Allan “depression defines who I am; depression is a shameful weakness”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 07/10/2016 in Dunia Kesehatan, Kuliah

 

Tag:

BERTANDANG KE RUMAH ALLOH: ANTARA INDONESIA DAN INGGRIS Part 7: Tanazul

45.jpg

kantor urusan haji Indonesia (Daker Makkah)

Di sela-sela waktu istirahat di Embarkasi Solo, saya manfaatkan untuk mengurus kebutuhan administrasi terkait kepulangan awal dan tujuan Inggris dari Arab Saudi. Menghubungi Whatsapp call centre haji pintar sangat bermanfaat (+966503500017). Admin haji pintar sangat responsive dan membantu memfasilitasi untuk membeirkan kontak kontak yang diperlukan. Secara administrative, saya harus berkoordinasi dnegan ketua kloter, dan ketua sector terlebih dahulu untuk mendapatkan surat rekomendasi. Surat permohonan dari saya ditujukan kepada ketua Kepada Yth. Kepala Daerah Kerja Mekkah Kantor Urusan Haji Indonesia, yang menyatakan tujuan, alasan, dan pernyataan kesanggupan bahwa tiket kepulangan ke Indonesia akan gugur, dan akan mengurus tiket pesawat ke Inggris secara Mandiri. Akan lebih baik jika kita sudah bisa memberikan informasi terkait tanggal kembali, tapi karena administrasi yang belum jelas, saya belum berani booking tiket, dan belum bisa memberikan infromasi tersebut secara detail. Di Embarkasi, print dokumen bisa difasilitasi di ruang tata usaha/ sekretariat, petugasnya sangat ramah dalam membantu print surat ini. Berikut contoh template surat permohonan dan pernyataan:

Hingga 5 September 2016 kami belum mendapatkan jawaban terkait permohonan kami ke peugas haji daerah kerja (daker) Makkah. Saya coba telp ke Kedutaan besar Indonesia di Jeddah +966114882800 juga tidak ada yang mengangkat. Dengar dengar dari teman yang orang tuanya pernah bekerja di sana, ketika musim haji seperti ini sebagian besar pegawainya juga ditugaskan sebagai petugas haji jadi mungkin juga sedang kosong, atau sedang sibuk sibuknya.

Tidak berhenti disitu, saya juga sempat bertemu dengan asisten Kedutaan besar yang sedang berkunjung ke hotel. Saya tanyakan kontak person untuk pengurusan imigrasi, Pak Syaifudin, namun juga mendapatkan jawaban yang sama, yakni silakan kontak sektor dan Daker karena mereka adalah petugas haji yang paling dekat dengan Muasasah (Pemahaman saya: petugas haji dari Arab Saudi yang paling atas).

Karena tidak ada kejelasan, saya menghubungi Sektor kembali dan mencoba langsung datang ke sana. Jawabannya ternyata cukup singkat, yakni dari infromasi dari Daker seksi pelayanan kedatangan dan kepulangan meminta untuk saya membeli tiket sebagai dasar untuk mengeluarkan paspor, dan dijadikan surat permohonan dari Daker ke Muasasah. Tanpa berpikir panjang, langsung istri bersama saya ke Daker dan booking tiket pinjam computer dan printer di sana. Yang paling bikin sedih, sebenarnya suratnya bukan sedang diproses, tapi mereka tidak bisa memproses karena tidak bisa menghungi saya karena tidak mengetahui kontak telepon saya.

Setelah beberapa hari, ketika kami berada di Mina, Alhamdulillah surat sudah disetujui oleh Muasasah, dan mereka akan mengirimkan surat ke Sektor dan ketua kloter. Surat ini merupakan surat sakti ke Maktab (Petugas haji Arab Saudi di bawah Muasasah), untuk penarikan paspor. Saya nggak bisa percaya begitu saja bahwa mereka akan mengirimkan surat tersebut dengan cepat, saya mengambil inisiatif untuk datang sendiri dan mengantarkan ke Sektor dan Ketua Kloter. Begitupula ketika Daker mengatakan bahwa untuk berikutnya Sektor yang akan memberikan informasi perkembangan karena mereka yang memiliki hubungan langsung dengan Maktab. Ternyata juga tidak semudah itu, dari pihak Sektor mengharapkan saya mengurus langsung ke Maktab sendiri. Waduh, bagaimana caranya? Tempat nya saya ketua sektor tidak bisa menunjukkan, Bahasa Arab saya nggak bisa sama sekali. Kenapnikan saya tersebut hilang setelah berkenalan dengan “pengubung Maktab” namanya Pak Athiah (orang Indonesia keturunan Palembang, yang lahir dan besar di Makkah, dan belum pernah pulang ke Indonesia). Beliau bersedia mengantarkan ke Maktab.

48

Maktab

Kunjungan pertama kami menggunakan tasi di hari Jumat ke Maktab disambut hangat dan direspon cpeat oleh Ketua Maktab. Sebagai informasi biaya taksi dari sektor ke Maktab sekali jalan adalah 30 riyal. Beliau memfotokopi surat sakti tersebut, dan mengatakan bahwa silakan ke sini kembali dua hari sebelum keberangkatan. Kunjungan kedua kami, menggunakan transport Sektor. Kami disambut lebih hangat, diberikan Al-Quran, lalu surat sakti difotokopi kembali, dan diskusi terkait transport menuju ke bandara. Perkiaraan biaya sekitar 650 riyal, atau ada yang murah 350 riyal. Kami diminta untuk datang ba’da Maghrib di hari H. Ternyata paspor tidak bisa ditarik langsung oleh kami, melainkan akan dipegang oleh pengantar sampai ke bandara.

Hari H kepulangan kami. Setelah sampai di Maktab sekitar pukul 19.30 kami diminta menunggu karena mereka juga sedang sibuk mempersiapkan paspor kloter yang akan pulang dalam waktu dekat. Untung sempat print e-tiket, berkali kali ditanyakan jam berapa berangkat, pesawat apa, dan nomor pesawat. Proses administrasi untuk tanazul saya ini sepertinya tidak dipersiapkan lebih awal meskipun kita sudah datang dua kali sebelumnya. Supir yang mengantarkan pun berekspresi kaget ketika diminta untuk mengatarkan kami ke Jeddah. Kata Pak Athiah, mereka tidak bisa memberangkatkan kami sebelum mendapatkan jawaban dari Kementerian Haji Arab Saudi. Tunggu dan menungu akhirnya kami bisa berangkat pukul 00:30 pagi hari. Pak Athiah mohon maaf karena ternyata supir menginginkan harga 500 riyal sebagai biaya menunggu dia juga dari ba’da isya hingga tengah malam. Karena rasa lelah dan kantuk yang berat, sudahlah saya terima saja toh diantarkan dengan mobil mewah (KIA caravan 2016).

49

keluar Makkah

Perjalanan ke bandara memakan waktu kurang lebih satu jam an. Perjalanan begitu cepat dengan suasana perjalanan yang sepi dan menggunakan jalur highway sepanjang jalan. Mobil yang kuharapkan nyaman, ternyata menjadi kekecewaan karena supir yang merokok sepanjang jalan, tiba-tiba memasang music yagn begitu keras, dan ngeri banget, seringkali nggak pegang setir dalam keadaan kecepatan tinggi karena utak atik hp, atau remote, atau lainnya. Dengan Bahasa Inggris dan Indonesia yang terbatas, obrolan pun juga terasa agak susah, meskipun sebenarnya dia (Muhammad) sangat ramah dan lucu. Sesampainya di bandara, ternyata ada counter khusus yang menangani haji ini, ada surat sakti yang dipegang oleh dia bersama dengan paspor. Akhirnya, paspor bisa dilepas dan diserahkan kepada kami. Dari pihak counter tersebut menemani kami check in. Dalam proses check in ini kami agak kecewa karena sepengetahuan kami, bisa mendapatkan jatah bagasi seberat @23 kg untuk dua koper. Tapi teryata tertulis di counter check in menjadi 20kg each. Setelah ditimbang ternyata bobot koper kami sekitar 26 kg dan 7 kg. Karena untuk dua koper melebihi 30kg mereka tidak memperbolehkan. Wadew, kok aturannya jadi begini, bukannya harusnya kalau dua koper digabung jadinya boleh 40kg? wah nggak ngerti dah. Alhasil dia memperbolehkan bagasi besarnya saja untuk dibagasikan. Beberapa kali pihak counter menyarankan untuk membeli zam-zam resmi yang berada di bandara, tapi saya males beli lagi karena berarti ada beban baru, dan harus ada uang yang keluar lagi. Ketakutan saya kalau air zam-zam tidak boleh dibawa seperti Garuda juga tidak terbukti. Khas check in di luar negeri, begipula di Jeddah, tidak ada pemeriksaan X-ray masuk bandara untuk bagasi, bagasi langung bisa dibawa ke counter check in. Jadi mau bawa koper isi air semua juga boleh, meskipun dari pihak counter check in melarang membawa air dengan kemasan lebih dari 10 liter. Kekecewaan berikutnya muncul ketika kami mau masuk ke ruang tunggu. Kursi duduk saya tidak boleh dibawa ke bandara, akhirnya disita oleh petugas. Wah tau gitu saya ikat saja dengan bagasi, tapi di sisi lain juga saya merasa hal ini nggak masuk akal, karena ini alat Kesehatan, bukan kursi lipat biasa.

50

Bandara international Jeddah

Ruang tunggu bandara padat, dan banyak yang duduk di lantai. Di luar harapan, sebagai negara kaya dan sudah berpengalaman dalam ibadah haji, kami pikir minimal bandara besar seperti di Abu Dhabi, Dubai, atau minimal sekelas Madinah. Berarti kemungkinan besar, bandara ini tidak begitu ramai untuk kondisi sehari hari di luar musim haji. Terbukti penerbangan kami ke Jeddah menggunakan pesawat flynas anak perusahaan Etihad cukup sepi.

Dari awal saya cukup deg-degan karena transit time yang diberikan hanya satu jam. Bertambah panic ketika pesawat delay setengah jam. Meskipun saya sudah menanyakan kepada pihak pramugari, mereka tidak bisa membantu banyak. Sesuai dugaan ketika kami mendarat, pesawat yang direncakan sudah meninggalkan kami. Pada awalnya petugas sangat sigap mencoba membantu, tapi berujung pada kata “silakan duduk, karena kami sudah tidak bisa naik pesawat tersebut”. Menunggu hingga antrian selesai kami harus dua kali datang ke counter untuk akhirnya ditangani dengan serius digantikan jadwal ke penerbangan berikutnya yakni pukul dua pagi esok harinya. Yah, meskipun cukup sedih karena tidak bisa menemui anak anak hari ini, kami bisa menelpon, dan mencoba layanan sleeping pod hingga jam 10 malam, dan dapat voucher makan siang, malam, dan pagi hari.

Perjalanan ke Manchaster di pagi hari tersebut berjalan dengan lancar, dan di imigrasi memilih jalur international student cuma menanyakan ngapain di UK, kuliah dimana, berapa lama liburan, dan isteri apakah baru pertama kali datang ke UK. Bagasi juga aman, datang sesuai pesawat, dan yang terpenting tidak bocor airnya. Pilih memilih menggunakan transport ke Leeds, kami memutuskan menggunakan bus yang paling murah (24 pounds) meskipun perjalanan memakan waktu dua jam. Kalau pakai taksi sekitar 139 pounds, kalau pakai train 60an pounds, sedangkan mau pakai car rental lihat petunjuk arah cukup jauh harus pakai bus ke village car rental.

Okay demikian proses tanazul kami yang cukup berliku namun Alhamdulillah perjalanan yang dulu sempat diragukan karena tidak lazim berjalan lancar. Terimakasih juga buat pihak pihak yang telah membantu proses dan teman-teman yang terus mendukung.

IMG_20161007_132731.jpg

Bahagia bisa berkumpul kembali dengan keluarga

Refleksi:

  • Sebarlah kontak person, dan tanyalah kontak person semua orang yang anda temui dalam proses pengurusan ini sejak awal.
  • Muka badak follow up proses dan datang ke tempat tempat dilakukannya proses. Karena tipikal orang Indonesia, kalau cuma telepon rasanya kurang mantep, meskipun sebenarnya informasi tersebut bisa diberikan lewat telepon atau email.
  • Jangan ambil transit yang mepet, kecuali kalau memang mau sengaja buat miss connection, biar dapat fasilitas di dalam airport.
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22/09/2016 in 1, Journal

 

Tag:

BERTANDANG KE RUMAH ALLOH: ANTARA INDONESIA DAN INGGRIS PART 6: Hal-hal kecil

Sim card

41.jpg

Ini nieh salah satu bahan pokok baru rasanya setelah beras. Kenapa tidak, beberapa hari awal di Madinah kegiatannya Kutak katik hp orang lain dan penasaran bagaimana cara mengaktifkan data internet. Ada beberapa pilihan untuk data internet ini:

  1. Tri Ibadah: paket 3 giga untuk 30 hari (149 ribu rupiah), atau 2 giga untuk 9 hari (77 ribu rupiah). Memang paling murah, tapi sinyalnya hanya bisa dapat mobily, sehingga tidak heran Cuma dapat sinyal edge pada umumnya di hotel dan masjid.
  2. Telkomsel: sekitar 800-900 ribu rupiah untuk 30 hari, kalau nggak salah 15 giga. Pokoknya paling mahal dah dibanding yang lain, tapi memagn jos sinyalnya karena bisa pindah pindah tidak hanya mobily, tapi bisa ke STC dan Zain. Meskipun sempat teman juga nggak dapat sinyal, lalu harus manual searching network. Hebatnya lagi ada Grapari di Zam zam tower kalau ada masalah.
  3. Indosat, kalau nggak salah sekitar 30 ribu per hari unlimited. Tapi yang jadi masalah, dari beberapa orang yang saya temui, tidak bisa digunakan sama sekali di Arab Saudi, entah kenapa alasnnya, dan repotnya tidak bisa complain.
  4. Mobily, paket internet sebesar 30 giga, untuk 3 bulan, dengan maksimal penggunaan 10 giga per bulan. Beli lewat Tukang catering di hotel Madinah sebesar 100 riyal. Menurut saya cukup murah, tapi sekali lagi sinyal mobily kurang bagus, seringkali dapat edge.
  5. Zain, beberapa paketnya adalah 1 giga 20 riyal, 5 giga 80 riyal, dan 10 giga 130 riyal. Kelemahannya jarang ada calo yang jual, sehingga harus antri panajang. Tapi kelebihannya sinayal H+ terus, mantap dah pokoknya masalah sinyal. Menurut saya ini paling recommended selama di Arab Saudi.
  6. STC, nggak sempat searching berapa biayanya, dan belum tau pengalaman orang lain yang menggunakan. Tapi kelihatannya sinyalnya lebih baik dari Mobily.

Taksi

Sampai hari ini saya sudah naik taksi beberapa kali di Makkah. Taksi yang pertama bisa dibilang taksi resmi, dengan logo taksi. Namun tetap saja, untuk mengetahui biayanya, kita harus melakukan penawaran di awal sebelum naik taksi. Dan kita harus memastikan bahwa taksi mengetahui tujuan kita. Dari hotel sektor 5, menuju Jabal Rahmah, kami diminta 40 riyal, dengan alasan agak jauh sekitar 10km. Waktu tempuh sekitar 15-20 menit. Sedangkan untuk ke Masjidil haram taksi meminta kami dari hotel 20 riyal. Tapi karena pada waktu itu tidak ada bus, maka berputar putar di sekitar Masjidil haram untuk mencari jalan tapi tidak ada akhirnya dia minta 40 riyal, tapi saya bilang kalau cuma sanggup bayar 30 riyal.

Dan sempat juga naik bareng bareng dengan teman teman untuk jalan jalan ke Makkah Mall. Taksi yang dipakai ilegal, tidak ada logo taksi, dan kebetulan cocok dengan kebutuhan kami, agak besar hyundai H1. Terkadang mereka hanya melambatkan kecepatan di depan hotel. Orang nya sangat ramah dan mau ditawar yang awalnya per orang 10 riyal, total 80 riyal, menjadi 60 riyal sekali jalan. Dia juga bersedia di telp untuk menjemput kami dari Makkah Mall untuk menuju kembali ke hotel. Beliau juga menawarkan wisata ke Jeddah, yang dibilang lebih murah untuk berbelanja. tapi ternyata pihak kloter menyediakan paket wisata ke Jeddah dengan cukup membayar 50 riyal per orang. Untuk ke family complex di daerah Aziziyah taxi MPV meminta biaya sebesar 50 riyal sekali jalan. Nah yang paling mengerikan adalah taksi ketika bus shalwat tidak ada, pengalaman kami dengan mobil ompreng minibus sekitar untuk 12 orang meminta 500 riyal, sedangakan kembalinya dari Masjidil haram naik Hyundai H1, dia meminta 30 riyal per orang. Dengar dengar dari teman, kalau naik taksi sedan, per orang diminta mencapai 50 riyal. So, silakan pertimbangkan untuk naik taksi jika memang perjalanan cukup jauh dan anda bisa menawar. Beberapa teman lebih memilih jalan ke Masjidil haram dengan waktu tempuh 40 menit jalan kaki dibandingkan dengan naik taksi, tapi harus tetap waspada dengan membawa peta dan google maps agar tidak tersesat.

Air Zam Zam

Kata teman hanya dua yang asli Mekkah, yakni kurma dan zam-zam. Oleh oleh yang satu ini orang rela membawanya pulang dengan cara apapun, meskipun telah diberikan oleh pihak Garuda, dan dilarang untuk membawanya di tas mapun koper. Tapi karena kasus saya yang berbeda, yakni pulang ke Inggris, saya tidak bisa mencicipi air zam zam yang dikirim oleh Garuda. Air zam zam yang langsung dikirim oleh Garuda bisa diambil di Depag oleh saudara atau siapapun dengan membawa bukti fotokopi pelunasan haji, atau fotokopi KTP pengambil dan jamaah haji. Pemerintah memberikan masing-masing jamaah sebanyak 5 liter. Nah untuk saya sendiri, saya akhirnya membungkusnya dengan botol botol kecil ke dalam koper. Dengan alasan, jika memang over weight, bisa dikurang kurangi sebagian, tanpa harus membuang semuanya. Di daerah check in Jeddah international airport tidak ada pemeriksan X-Ray sehingga kita bisa langsung masukkan ke bagasi dengan bobot maksimal 30 kg. Di luar airport juga dijual air zam-zam yang boleh ditenteng ke dalam kabin dengan packanging yang telah dipastikan aman untuk penerbangan. Tapi saya sendiri kurang tau berapa harganya. Sempat juga tergiur ada iklan 9 riyal dikirim via udara sudah termasuk botol dan karton pembungkus. Oh ya, untuk kasus saya karena meskipun sudah cukup rapat menutup botol airnya, tetap aja ada yang rembes, mungkin karena tumpukan tumpukan koper yang berat.

Alas Kaki

Sempat beberapa kali mengalami cedera kaki. Karena mungkin pada dasarnya saya adalah orang yang cukup ceroboh kalau berjalan. Pernah terpeleset, kaki terinjak oleh ban kursi roda, lalu menyandung bata, dan terakhir menyandung tiang yang membuat kaki saya terluka. Mungkin pengalaman saya bisa jadi hal yang penting untuk yang lain terkait alas kaki. Di daerah sini banyak yang menjual sepatu tapi untuk indoor, seperti sepatu karet tipis, sering dipakai oleh petugas kebersihan juga di sini. Selain sifatnya yang karet tidak licin, juga melindungi seluruh bagian kaki. Tapi saya pribadi juga belum beli, tapi siapa tau di Indonesia ada silakan dibawa supaya nyaman ketika untuk jalan thawaf dan sai yang cukup membuat sakit kalau tidak terbiasa jalan tanpa menggunakana alas kaki (Jalan kaki sekitar 2 jam non-stop). Untuk outdoor, rasa-rasanya alas kaki yang bagus yang melindungi bagian punggung kaki, karena sengatan matahari tidak terasa membuat belang kaki, lalu melindungi bagian depan kaki, supaya tetap aman ketika tersandung, atau terinjak oleh yang lain. Sendal jepit memang nyaman dari sisi ukuran, dan kemudahan memakainya, tapi kurang aman menurut saya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22/09/2016 in Journal

 

Tag:

BERTANDANG KE RUMAH ALLOH: ANTARA INDONESIA DAN INGGRIS PART 5: Haji besar

Arafah

Siang hari di tanggal 10 September, kami menyiapkan diri dengan berpakaian ihram berangkat menuju Arafah. Naik Bus berdasarkan rombongan dan turun ke dalam tenda yang telah disediakan yang tak jauh dari pintu gerbang masuk dari jalan besar. Tenda yang disediakan memiliki beberapa kipas angin ber-air, dan di sela sela atap tenda bisa melihat indahnya langit tanpa bintang. Air botol plastik disediakan oleh pihak panitia di sudut sudut tenda, namun rasanya tidak mencukupi kebutuhan seluruh jamaah. Bahkan ada kulkas juga, bagi yang ingin memasukkan makanan atau obat nya agar tetap bisa dingin.  Kebetulan tenda bersebelahan dengan rombongan KBIH yang  masih kosong karena mereka sedang melaksanakan tarwiyah, sehingga kami pinjam sementara hingga esok paginya. Di malam hari tidak ada kegiatan yang spesial selain beristirahat dan menunggu makan malam yang tak kunjung datang. Hingga akhirnya sekitar pukul 8.30 kami mendapatkan makan malam. Sepoi Sepoi kipas angin dengan cipratan air, dan suara sayup sayup mengaji mengantarkan tidur di cuaca yang hangat.

Hari ini merupakan puncak dari kegiatan haji. Yakni duk duduk di Arafah. Di pagi hari, sambil menunggu pukul 12:00 untuk khutbah, kami disarankan untuk tidak keluar dari tenda karena suhu di pagi hari sekitar pukul sembilan sudah mencapai 42 derajat Celsius. Pak Miftah membuka dengan khutbah mengenai padang Arafah sebagai percikan dari Padang Mahsyar. Bisa dibayangkan betapa panas nya di hari pembalasan kelak ketika dikumpulkan membuat kami sadar betapa kecil, lemah, dan penuh dosa. Setelah solat Duhur dan Ashar jama qasar, Pak Miftah memimpin doa bersama dan dilanjutkan dengan doa masing masing hingga terbenam nya matahari.

Mudzalifah

Ba’da solat Maghrib dan Isya, kami dibawa dengan bus menuju Mina Jadid tempat tenda kami. Sepertinya estimasi panitia terkait jumlah jamaah dan luas tenda kurang tepat, sehingga ada beberapa orang yang tidak mendapatkan ruang untuk beristirahat. Akhirnya saya memilih tidur di luar tenda. Rasanya juga lebih nyaman. Beratapkan langit, udara lebih segar dengan angin sepoi-sepoi. Tapi kali ini lagi sirine mobil dan lalu lalang orang berjalan yang menjadi backgroundnya.

Malam ini kami juga berkesempatan mabit di Muzdhalifah. Meskipun sebentar hanya dari jam 11:00 sampai 12:30. Sambil cari batu di sekitar WC. Sebagian besar orang orang yang mabit adalah orang Malaysia, dan kesannya kami seperti orang ilegal ke Muzdalifah karena lewat pintu belakang. emergensi, dan tidak dibuka terus pintunya.

 Mina

Mina Jadid adalah lokasi tenda kami, bersama negara-negara Asia tenggara lainnya. Sepertinya estimasi panitia terkait jumlah jamaah dan luas tenda kurang tepat, sehingga ada beberapa orang yang tidak mendapatkan ruang untuk beristirahat. Akhirnya saya memilih tidur di luar tenda. Rasanya juga lebih nyaman. Beratapkan langit, udara lebih segar dengan angin sepoi-sepoi. Tapi kali ini lagi sirine mobil dan lalu lalang orang berjalan yang menjadi background sound track nya.

Pagi hari terbangun oleh rasa ingin pipis. Antrian cukup mengular namun masih bisa ditolelir, sekitar 2 antrian masing masing toilet. Kelihatannya tips toilet di Mina, sebaiknya ke toilet sebelum kebelet bener. Biar masih ada tenaga ngempet. dan ingat juga kalau pakai jangan kelamaan biar nggak sampai digedor gedor orang dibelakang yang antri. Intinya, belum sampai perlu menggunakan pispot atau botol seperti yagn ditakut takuti oleh pedagang peralatan haji.

Selain masalah toilet, terkait kamar akhirnya saya menggunakan kamar yang ditinggalkan oleh kloter lain. Ternyata banyak jama’ah yang langsung pada dini hari nya melempar jumroh dan kembali ke hotel. Sehingga lumayan bisa agak lega istirahat nya.

Sesorean, ada diskusi panjang mengenai rute lempar jamaroh. Karena teman ada yang kakinya sedang sakit, beliau ingin mencari jalan tempuh yang terpendek, dibandingkan dengan harus setiap hari bolak balik tenda jamaroh sekitar 10km. Alternatif jalur tersebut ialah dengan menunggu mabit di sekitar jamaroh dan beristirahat di hotel yang memang tidak jauh dari lokasi.

Kami berenam pasang (Saya dan isteri, keluarga Pak Wahyu, Pak Trenggono, Pak Isnan, Pak Toko, dan Pak Erwan) mabit di daerah Jamaroh. Suasana memang terasa agak kacau karena banyak orang menunggu dan secara bersamaan polisi mengusir dan petugas kebersihan berusaha membersihkan jalan dengan mobil vacum cleaner nya. Sambil menunggu mabit, saya cukur rambut di daerah tersebut, seharga 20 riyal untuk mesin cukur, dan 30 riyal dengan pisau cukur.

35

Setelah melewati waktu tengah malam, kami pun berangkat menuju hotel untuk beristirahat sejenak, membersihkan diri dan berganti baju. Pukul 3:00 pagi mulai turun hotel mencari taksi yang cukup besar agar muat 12 orang. Harga yang ditawarkan cukup tinggi dan susah ditawar, yakni 500 riyal. Dengan kecepatan tinggi, terkadang menikuk tajam, mencari jalan karena ditutup, membuat saya pasrah dan tidur saja di kursi belakang. Kami diturunkan di depan terowongan pedestarian menuju Masjidil haram. Setelah tawaf, solat subuh, dan sa’i, kami jajan sarapan, dan pulang kembali dengan menggunakan taksi hyundai H1, dengan tawaran harga 30 riyal per kepala. Tanpa berpikir panjang, kami menyetujui nya. Pak Isnan sudah pesan, tidak usah buru buru. Tapi karena hanya bisa bahasa Tarzan, mobil kali ini rasanya lebih mengerikan karena dia enggan memutar jauh, tapi lebih memilih untuk jalan mundur di jalan satu arah.

Sore sekitar jam 5 setelah istirahat di hotel, berangkat ke jamarot untuk melempar, dan kembali menuju tenda Mina. Kami memilih untuk naik ke lantai 2 dan untuk kembali nya turun dan memutar balik kanan ke arah jalan Fahd. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 1 jam kurang untuk mencapai tenda di Mina Jadid.

36

Di hari berikutnya, tanggal 12 Dzulhijjah untuk menghemat energi, di pagi hari kami ikut naik bus bersama jamaah yang nafar awal. Perjalanan bus cukup padat, macet karena kekacauan lalu lintas  sehingga harus turun di hotel 507 dan berjalan ke hotel. Mengulangi seperti hari sebelumnya, setelah istirahat, sore harinya melempar jumroh bersama teman-teman yang tidak kembali ke tenda mina jadid, dan berjalan kembali ke tenda. Teman-teman yang mabit di Jamarot telah menemukan spot bagus yakni di atas jembatan laying, minim Azkar, dan bisa istirahat bahkan tidur di trotoarnya.

37

Di tanggal 13 Dzulhijjah setelah subuh, kami berangkat kembali ke hotel dengan bus, dan setelah sarapan, melempar jumroh terakhir. Dalam perjalanan ada salah satu ibu dari rombongan tiga yang sesak nafas dan kelelahan sehingga kita berhenti dulu di ambulans “bulan sabit merah”. Pada awalnya petugas enggan membantu dengan alasan tidak ada obat. Ya udah, kalau begitu saya minta tolong tempat saja, untuk ibu tersebut bisa beristirahat di ruang mereka. Eh, Alhamdulillah, dia berubah pikiran, dan akhirnya membuka ambulans, menyiapkan oksigen, dan memeriksa ibu tersebut.

Tanggal 19 September merupakan hari terakhir kami di Makkah. Kondisi thawaf masih padat, meski sudah banyak jamaah yang mulai pulang. Istirahat dan belanja di tower zam-zam lebih terasa nyaman. Selamat tinggal Ka’bah, semoga dapat bertemu lagi di lain waktu.

38

Refleksi:

Maafkan saya ya Allah, Azkar, jama’ah Haji. Saya ikut tergabung dalam gelombang mabit yang tidak teratur di Jamarot, dan tentunya menjadi salah satu pembuat kekacauan. Saya melihat masih jauh dari disiplin dan keteraturan yang diharapkan. Sampah bertebaran, jalanan penuh sesak. Dan sempat nguping, ada jama’ah yang tidak percaya dengan pemerintah Arab Saudi. Yang menganggap bahwa daerah tenda Mina hanyalah sebuah bisnis memaksa orang untuk tinggal di Mina bagi orang orang yang mampu membayarnya. Jadi kepikiran, kalau memang orang lebih suka mabit di Jamarot, kenapa tidak sekalian saja dibangun gedung atau memanfaatkan gedung Jamaroh untuk mereka singgah. Atau kalau memang mengharapkan daerah tersebut steril, harusnya tidak disediakan fasilitas umum, seperti toilet, minum, tempat makan, dll. Memang seharusnya bagaimana ya cara mengusir orang ke arah tenda minta tanpa menyakitinya? Kalau disiram, atau jalannya diairi air bagaimana ya? Biar pada nggak duduk di jalan.

39

Terkait hukum, apakah dengan alasan beribadah, lalu hukum manusia dianggap tidak ada? Saya bertemu dengan warga Tegal yang mengambil haji plus yang Mandiri yang saya curigai ilegal. Bagaimana tidak, mereka tidak memiliki kloter, tenda di Mina, dan mendapatkan visa sejak bulan puasa. Di kesempatan yang lain, karena sepinya kondisi melempar jumroh, banyak orang mengambil jalan pintas dari jalan keluar. Hal kecil memang, tapi karena hal kecil tersebut orang jadi merasa tidak bersalah melanggar peraturan.

Berkaca mengenai makna haji, rasanya memang ibadah haji ini masih didominasi sifat individualis, dan ritual check-list. Maksudnya, setiap masing-masing orang ingin melakukan ibadah dengan agendanya masing-masing dan kurang memperdulikan lingkungan dan orang sekitar. Contoh yang sering dijumpai adalah hal biasa jalan di depan orang yang sedang solat, atau sebaliknya solat di tempat orang berjalan. Haji yang seharusnya menurut saya menjadi kekuatan islam untuk bersatu, masing-masing kelompok memiliki wilayah kekuasannya masing-masing, bahkan sempat ada teman yang diusir karena bukan dari kelompok tersebut ketika ikut gabung beribadah tarwiyah bersama. Sedangkan ibadah check list yang saya maksud, seseorang melakukan ibadah yang penting secara fikih sah. Sebagai contoh, berdesak desakan memegang ka’bah, hajar aswat, sholat di Hijr Ismail, thawaf terburu buru menabrak orang orang sekitarnya, racing sa’i (tidak jarang orang sering tertabrak kakinya oleh kursi roda), mabit di Jamarot, tidak melihat mabit di Mina menjadi tempat untuk merefleksikan diri dalam situasi serba terbatas.

40

Konflik batin masih berputar putar di kepala. Kenapa ada tenda VIP di Arafah, kenapa ada hotel mewah dan istana mewah di Mina, kenapa ada kereta untuk ras Arab dan berbayar? Apakah mereka mengakses nya karena memiliki kekuatan finansial dan status sosial? Bukankah seharusnya kita satu layaknya kain ihram ini? Jika pun ada fasilitas tersebut, kenapa tidak untuk orang yang memang berkebutuhan khusus, seperti lansia dan disable. Atau memang suatu saat tempat ibadah bisa dibeli dengan uang? Semoga tidak. (Kultural shock saja kali ya dari Inggris, begitu kata teman).

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22/09/2016 in Journal

 

Tag:

BERTANDANG KE RUMAH ALLOH: ANTARA INDONESIA DAN INGGRIS PART 4: Ibadah di Makkah

17.jpg

Sebelum pergi ke Makkah, kami diminta untuk siap siap dengan sudah memakai ihram sejak solat Subuh. Turun dari kamar, seluruh tas telah diserahkan ke lobi untuk dimasukkan ke bus. Setelah sampai hotel dari solat Subuh, kami langsung naik bus untuk berangkat. Sekitar hanya setengah jam, bus sudah sampai di Masjid Bir Ali, untuk miqot. Dalam perjalanan ini, sarapan diberikan di bus dalam perjalanan awal, dan mendapatkan dua kali snack gratis dari pemerintah Arab Saudi di perbatasan Madinah dan Makkah. Perjalanan cukup lancar, dan hanya memakan waktu sekitar 7 jam termasuk pemberhentian.

Sesampainya di hotel, kami diberikan gift terdiri dari alat hitung, name card, dan gelang untuk menunjukkan tempat kami menginap. Setelah itu, kami beres-beres kamar dan beristirahat dulu menunggu malam untuk umroh. Hotel kami cukup jauh sekitar 3.5 km dari Masjidil Haram, namun pemerintah telah menyediakan bus “shalawat” yang mengantarkan jamaah dari hotel ke Masjidil Haram. Di malam itu, beberapa bus yang hendak kami naiki penuh terus, karena waktu tersebut adalah waktu pulang dari solat isya. Akhirnya dari tim transportasi menyediakan bus yang kosong untuk kami rombongan berangkat bersama. Tapi yang bikin sebel, kami sudah antri di awal dan sudah diatur untuk antriannya, malah jadi berantakan, karena ada rombongan dari hotel lain yang menyerobot di depan.

Untuk ke Masjidil Haram sehari hari menggunakan Bus Shalawat ini, perjalanan membutuhkan waktu sekitar setengah jam. Nah Masjidil Haram ini meskipun sangat besar, namun juga sangat padat, sehingga jika datang sudah mepet, kemungkinan besar hanya bisa solat di pelataran karena jalan menuju Masjid sudah tertutup. Meskipun sekarang saya dan isteri lebih suka solat di lantai atas, lantai 1,5 (aneh kan, karena memang begitu, ada lantai yang nanggung, yang sebenarnya untuk said an thawaf menggunakan kursi roda) sehingga ketika masuk Masjid langsung naik escalator ke lantai atas, dan ada jembatan menuju daerah thawaf, sehingga bisa langsung melihat ka’bah dan sepi juga, plus minim Azkar.

Terlepas dari perbedaan pendapat tentang umroh sunat, saya, isteri, dan teman-teman juga berkesempatan untuk umroh sunat. Untuk umroh sunat, kami berangkat pagi jam 7 dari hotel naik bus ke Haram. Sampai di terminal Sym Amir, langsung cari bus merah saptco lokasinya di paling ujung terinal. Disitu tempat parker semua bus Saptco warna merah termasuk bus sholawat Indonesia nomor 6 parkir disitu. Bus ke Tan’im ada di paling ujung. Kalau bus belum ada, tunggu aja. Sambil menunggu, bis amembeli kepada petugas tiket di dektas bus. Harga tiket 2 riyal untuk 1 tiket ke Tan’im. Bus baru Berangkat kalau bus sunah penuh, termasuk yang berdiri. Perlu diperhatikan, pintu bus yang dibuka hanya pintu depan. Penumpang naik dengan menyerahkan tiket ke sopir. Karena Cuma ada satu pintu, harap hati hati dan sabar karena banyak yagn berebutan naik. Jika rombongan dan haru terpisah di beberapa bus, jangan khawatir, karena semua akan diturunkan di Masjid Aisyah di Tan’im. Sesaimpainya di Masjid Aisyah, silakan ke toilet dan ambil wudhu. Selesai ambil miqot cari bus ke Haram. Lokasi berbeda dengan saat bus turun. Lokasinya berseberangan ketika turun (di belakang Masjid). Beli tiket di petugas, atau ada pilihan lain kalau nggak mau rebutan bus pakai taksi. Taksi minibus secara sekilas mereka menawarkan 50 riyal untuk kira kira 10 orang. Bus ke Haram berhenti dan penumpang diturunkan di dekeat Gran Zamzam Tower (sisi selatan Masjidil Haram). Dari segi waktu, ibadah ini memakan waktu sekitar 4-5 jam, berangkat dari hotel jam 7 pagi hingga selesai sekitar jam 12 siang. (Diadopsi dari tulisan WhatsApp Pak Wahyu)

Tanggal 4 September, beberapa hari sebelum Armina, karena kondisi mulai padat, ada pengalaman unik terkait transportasi. Subuh-subuh sudah siap menuju ke Masjidil Haram, ternyata bus yang ditunggu tunggu tidak kunjung datang. Saya, isteri, dan Mas Gono berburu taksi menuju Masjid. Tanpa menawar saya menyanggupi tawaran supir harga 20 riyal. Dalam perjalanan menuju Masjid, ternyata jalan mobil akses menuju ke Masjid telah ditutup semua, jadi kami cuma berputar putar sekitar Masjid, ada satu jalan yang dibuka tapi macet sekali yang menurut perkiraan supir perlu waktu sekitar 1 jam menuju Masjid. Akhirnya kami memutar kembali ke daerah hotel, untuk solat di masjid dekat Bin Dawood. Jadi untuk ke depan, jika mau solat ke Masjidil Haram, harus sudah mulai naik bus 1,5 jam sebelum waktu sholat.

24

Kami juga berkesempatan untuk mendengarkan ceramah promotif dan preventif kesehatan dari Kementerian Kesehatan. Beberapa hal yang diingatkan adalah terkait menjaga kondisi kesehatan terutama mengukur kekuatan diri sendiri, dan berperilaku hidup sehat. Sebagai contoh, umroh wajib yang dipaksakan langsung setelah sampai di Makkah, sehingga karena kelelahan sesak nafas ketika thawaf. Ada juga, hari kedua, langsung ingin umroh sunat, sehingga karena waktu yang masih ramai, terjadi kecelakaan. Terkait warna gelang Kesehatan juga diingatkan, untuk yang warna diharapkan untuk control dalam seminggu. Beberapa hal yang harus disiapkan ketka Armina adalah obat-obatan, perlengkapan pakaian, minum oralit, semprot. Sektor 5 merupakan tempat yang paling dekat dengan Jamarot, sedangkan posisi di Mina berada di Mina Jadid, di perbatasan musdalifah. Jarak dari Mina Jadid ke Jamarot sekitar 7 km. Oleh karena itu, setiap orang harus mengukur kemampuan masing-masing untuk jalan sejauh ini, terkait sifatnya yang wajib , bukan rukun sehingga bisa diwakilkan jika merasa tidak mampu. Dari hasil rapat daker dan sector, tidak dilarang untuk kembali ke hotel, tapi juga tidak mewajibkan untuk kembali ke Mina Jadid. Namun terkait makanan, pemerintah tidak memberikan ke hotel.

25

Kesepakatan pelemparan Jamarot, berdasarkan rapat Daker dan sector, yang telah disepakati oleh Kementerian Agama Indonesia dan Arab Saudi. Tahun ini ada jalur-jalur baru, sehingga pengalaman KBIH tidak bisa menjadi sandaran. Oleh karena itu besar harapannya untuk terkoordinasi dalam kloter. Beberapa keputusan untuk SOC 25:

  • Memutuskan untuk kembali ke tenda. Karena, malam sekitar jam 11 baru mulai melempar. Lalu esok harinya jika kembali ke hotel, sebelum matahari terbenam (Maghrib) harus kembali ke Mina disekitar jamarot. Namun masalahnya jumlah jamaah sangat banyak, di jamarot bersamaan dengan orang yang masih melempar jamarot, akhirnya ditakutkan akan terpisah karena berada di area terbuka. Terkiat jadwal, dalam jumlah yang besar, ketika kembali ke sana, ditakutkan bertabrakan dengan yang lainnya.
  • Terkati bagasi, penimbangan langsung ditimbang oleh pihak maskapai (Garuda/ Saudia) dengan beban maksimal 32 kg sebelum 48 jam sebelum peswat take-off (H-2 kepulangan). Pihak maskapai melarang untuk membawa barang berbahaya termasuk, benda tajam, bahan peledak, air zam-zam di koper. Yang dikhawatirkan, karena seringkali karena tidak ada SOP yang jelas, worst scenario nya bagasinya langsung ditinggal, atau seluruh kloter ditinggal semua.
  • Diupayakan tidak ada yang mauk ke rumah sakit Arab Saudi. Karena bisa terjadi ganti identitas di rumah sakit, ada jamaah yang wafat, dicari-cari tidak ketemu, terjadi identitasnya berubah.
  • Safari wukuf, kuotanya hanya 138 orang dari seluruh Jamaah Indonesia. Terdapat beberapa kriteria risiko tinggi
  • Lokasi Armina di Mina Jadid menuju Jamarot sekitar 7 km. Ada pemandu jalan dan berjalan di malam hari harapannya bisa tidak tersesat dan lebih menghembat energy.
  • Waktu melempar Jumroh, masih belum definitive, dan akan diatur di Mina terkait jam pasti keluar dari tenda. Namun ada waktu yang dilarang yakni:
    • Hari pertama melempar 10 Dzulhijah (12 September), waktu dilarang 6:00-10:30 (ba’da Duhur baru melempar)
    • Hari kedua melempar 11 Dzulhijah (13 September), waktu yang dilarang 14:00 – 18:00 (ba’da Maghrib baru melempar)
    • Hari ketiga melempar 12 Dzulhijah (14 September), waktu yang dilarang 10:30 – 14:00 (ba’da Ashar baru melempar)

Refleksi:

Ibadah di Makkah cukup menguras energy. Karena jauhnya lokasi, menyebabkan kita harus menyiapkan diri lebih awal, seringkali hanya subuh yang bisa ting tong, sisanya sayang kalau mau pulang. Masjid yang sangat besar sering membuat orang enggan untuk minum banyak karena takut harus kecing di luar masjid. Selain itu, semangat untuk tawaf sunat juga menguras energy seharian. Tidak salah memang ketika orang mengatakan, “mumpung”, “sudah bayar mahal”, dan lainnya, tapi menjaga Kesehatan di Makkah sebelum hari besar haji sangat dibutuhakan.

Hal lain yang saya masih kurang sreg adalah penataan tempat solat, thawaf, sa’i dimana laki dan perempuan bercampur, dan rebutan mengusap ka’bah / hajar aswad, dan solat di hijr ismail. Memang dari tahun ke tahun terjadi seperti itu, dan saya yakin mereka telah mencoba memperbaiki. Sekedar sumbang saran, siapa tau suatu saat ada pengambil kebijakan yang membaca. Andaikan thawaf utama di pelataran dapat menggunakan Manajemen waktu, jadi jam tertentu untuk laki-laki, dan jam tertentu untuk perempuan. Lokasi thawaf lainnya ditentukan untuk laki-laki, perempuan, dan kursi roda, sebagai contoh lantai 1 untuk perempuan, lantai 2 untuk kursi roda, dan lantai 3 untuk laki-laki sebagai contoh. Begitu pula dengan sa’i. Sedangkan untuk solat, rasanya akan mengikuti kegiatan thawaf dan sa’i yang teratur, ditambah dengan penentuan ruang ruang yang jelas seperti di gedung baru dimana tempat solat telah dikotak kotak, dan pasti bisa ditentukan untuk jenis kelamin tertentu. Nah, karena saking besarnya Masjid, seharusnya ada istilah meeting point dengan tanda yang sangat jelas, termasuk information centre.  Sehingga ketika pasangan terpisah, atau rombongan terpisah untuk ibadah, mereka bisa menentukan tempat meeting point, dan kalaupun tidak bertemu bisa dibantu oleh information centre.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22/09/2016 in Journal

 

Tag:

BERTANDANG KE RUMAH ALLOH: ANTARA INDONESIA DAN INGGRIS PART 3: Ibadah di Madinah

10.jpg

Solat Jumat merupakan pengalaman pertama kami Solat di Masjid Nabawi. Sejak pukul 10 pagi, kami sudah bergegas berangkat. Karena lebih dari jam tersebut, kemungkinan besar semakin sulit untuk mendapatkan tempat di dalam Masjid (biar lebih adem). Alhamdulillah, pihak masjid juga menyediakan kursi kecil untuk duduk karena punggung saya mulai nyeri ketika duduk di lantai berlama-lama. Terkait sandal, silakan saja bungkus dengan plastic, pihak masjid juga menyediakan, dan anda bisa menaruhnya di dalam masjid di rak-rak yagn telah disediakan. Saking lelahnya rasa kantuk tidak dapat tertahan selama menunggu hingga pukul 12.25 ketika Solat dimulai. Khutbah disampaikan menggunakan Bahasa Arab dan cukup sekitar 15 menit, dan solat pun menggunakan surat surat pendek sehingga tidak lama. Di dalam masjid juga disediakan air zam-zam menggunakan jirigen yang telah disiapkan, tersedia dalam air dingin dan tidak dingin sehingga jika haus bisa meminumnya.

11

Raudhah dan Ziarah makam Rasulullah swa. Untuk bisa ke tempat Raudhah, saya mencoba datang keesokan paginya ba’da Subuh. Pintu dibuka pukul 6.00 dan berebetuan masuk ke dalam masjid. Antri menuju tempat tersebut cukup lama dan berdesak desakan. Sistem antriannya di buat beberapa tahap, ketika itu 3 tahap. Karena cukup sesak, ketika mencoba solat dan berdoa menjadi cukup sulit. Ketika dirasa cukup, petugas akan mengusir kita keluar. Selama perjalanan keluar kita akan melewati makam Rasulullah SWA.

12.jpg

Di sekitar masjid juga terdapat Kuburan Baqi’, Alquran exibition, Nama Allah exhibition, Masjid Abu Bakar, Masjid Ghumama, Masji Ali bin Abi Talib, dan Masjid Umar bin Khatab. Tempat-tempat ini sangat bagus untuk kita sebagai umat muslim belajar mengenai sejarah Islam. Namun sangat disayangkan situs bersejarah seperti Masjid selain sekitar Masjid Nabawi tidak terawatt. Banyak coret-coretan di pagar masjid, dan cenderung rusak. Sedangkan di kuburan Baqi’, awalnya saya sangat berharap kita bisa belajar mengenai silsilah nabi dan melihat kuburannya beserta sahabat. Namun ternyata di kuburan tersebut tidak ada tanda atau informasi mengenai siapa yang dikubur, meskipun ada tiga kuburan yang di istimewakan, terpisah dengan kuburan yang lain. Setelah diskusi dengan teman, ternyata Pemerintah Saudi sangat concern dengan syirik, sehingga banyak situs bersejarah yang dibongkar. Plang peringatan tentang syirik di kuburan pun ada yang menggunkan Bahasa Indonesia, mengisyaratkan bahwa banyak rakyat Indonesia yang dianggap melakukan kegiatan syirik di tempat ini. Di sisi lain, menurut saya kebijakn ini sangat disayangkan karena menurut saya pribadi, situs situs berserajah apalagi hal yang terkait langsung dengan Rasul seharusnya dipelihara tidak hanya sebagai bukti sejarah, namun juga untuk pengembangan ilmu Pengetahuan. Saya menjadi tidak heran, kenapa benda-benda berserajah terkait islam seperti Quran di zaman Rasul malah berada di Birmingham, alat-alat perang Islam berada di Museum Inggris, dan bahkan yang saya takutkan ketika semua itu sudah digusur, bisa -bisa kita hanya bisa semua itu dianggap sebagai dongeng (Lebay).

13.jpg

Dalam perjalanan di Madinah, kita diberikan kesempatan untuk berziarah. Beberapa tempat yang kami kunjungi adalah Uhud, Kebun kurma, Masjid Quba, Masjid Qiblatain, dan 6 Masjid lainnya (tapi cuma lewat). Supir yang baik akan memberitahu dimana membeli kurma yang murah, dan mahal. Di hari yang lain, kami pergi mengunjungi jabal magnet, yang sebenarnya menurut informasi dari pengantar bahwa ini sebenarnya gaya gravitasi. Searching dari internet, sebenarnya merupakan ilusi mata, jadi sebenarnya kita berjalan dari atas ke bawah. Sebenarnya kita juga direncanakan untuk melihat percetakan Al-Quran, tapi hanya lewat karena ramai, dan mulai sekarang tidak dibagikan lagi secara gratis.

14.jpg

Di Masjid Nabawi terdapat pos pos kecil. Jangan lewatkan kesempatan ini untuk datang dan mendapatkan beragai informasi yang bermanfaat. Silakan anda datang kepada petugasnya, dan katakaan “Indonesia please”. Nanti dikasih buku, atau informasi dengan terjemahan Bahasa Indonesia. Saya mendapatkan kumpulan doa dalam Al-quran dan hadis oleh Said bin Ali bin Wahf Al-Qoththoni, Ringkasan tata-cara umroh, Menjaga Tauhid, Kaifiyat shalat mayit, dan petunjuk jamaah haji dan umrah serta peziarah masjid Rasul SAW oleh badan penerangan haji. Terkadang mereka juga membagikan gift, berisi air zam-zam, kurma, jus.

15.jpg

Anyway, Kalau kangen makanan Indonesia, di beberapa hotel menyediakan makanan Indonesia dari bakso, nasi goring, dll bervariasi antara 8 sampai 13 riyal per porsi. Sedangkan untuk oleh-oleh, saya tidak banyak belanja di sini, saya hanya belanja sajadah buatan Madinah. Kebetulan ada sajadah khas Raudhah, dengan harga 120 riyal satu pasang warna merah dan hijau. Setelah 8 hari di Madinah, kami bersiap siap untuk pergi ke Makkah. Nantikan Part 4

 

Refleksi:

Saya merefleksikan untuk diri saya pribadi, membayangkan betapa indahnya jika umat muslim dapat tertib, disiplin, dan bisa teratur. Memang tidak bisa dibandingkan secara langsung, tapi saya melihat Disney Land, dengan orang yang begitu banyak datang yang juga berasal dari berbagai kultur dan negara, juga bisa teratur masuk dalam wahana wahana yang tersedia, atau budaya Jepang dalam mengantri masuk kereta api meski dalam kondisi yang begitu padat. Semoga ke depan, pihak Manajemen Masjid Nabawi bisa dapat membuat regulasi yang lebih nyaman untuk beribadah. Sebagai contoh pengumuman pukul berapa dan penentuan pintu untuk dapat ziarah ke Makam Rasul, dan solat di Raudhah. Kemudian membuat antrian awal, dengan jumlah yang telah ditentukan sehingga tidak terjadi kelebihan orang di tempat solat. Disiapkan timer, sehingga setiap orang bisa memprediksi waktu Ibadah maupun antri.

16.jpg

Refleksi di Masjid yang agung dan mewah ini, saya agak sedih ketika melihat pengemis atau pasukan hijau yang mengharapkan sedekah dari para pengunjung Masjid. Kenapa harus ada peminta-minta di dalam masjid juga dengan berbagai alasannya, pedagang illegal di daerah yang makmur dan maju seperti ini. Jutaan orang datang mengeluarkan uang yang menurut saya tidak sedikit untuk datang ke tempat ini, membelanjakan uangnya, dan pemerintah yang begitu kaya. Apakah ini masalah tata kelola pemerintah? Masalah mental yang memiskinkan diri? Masalah penegakan hukum? Atau masalah umat yang masih jauh dari kepedulian terhadap sesama? Saya tidak membenci mereka, namun membenci kondisi ini.

Refleksi ziarah ke Jabal magnet membuat saya juga menyadari bahwa pengambilan keputusan tidak bisa hanya bisa disandarkan hanya pada satu indera, yakni mata. Pandangan dapat merupakan sebuah ilusi, kita harus lebih kritis dalam melihat sesuatu, dan melihatnya dari berbagai perspektif. Karena seringkali kita mengambil keputusan hanya pada satu perspektif keyakinan tanpa memperdulikan pertimbangan lain, dan kadang menuduh perspektif lain sebagai kesesatan, meski belum tentu benar.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22/09/2016 in Journal

 

Tag:

BERTANDANG KE RUMAH ALLOH: ANTARA INDONESIA DAN INGGRIS PART 2: Keberangkatan menuju Madinah

4.jpg

Pada tanggal 17 Agustus 2016, 12:00 kami semua berkumpul di Masjid Agung Sleman. Jangan lupa menempelkan stiker di mobil, dan membuka jendela untuk memastikan adanya Jamaah haji dalam mobil sehingga bisa diantar hingga depan Masjid.  Kami kira telah disiapkan tempat parkir mobil, namun ternyata cuma drop off. Sehingga kami turun di jalan depan Masjid, sedangkan orangtua saya mencari parkiran di sekitaran (Telkom).

5.jpg

Acara di Masjid dimulai dengan solat duhur dan ashar berjamaah. Kemudian pukul satu, acara pelepasan oleh Bupati Sleman, dan menuju di bus sesuai rombongan. Kami berangkat dari Sleman menuju Donohudan cukup cepat sekitar 1.5 jam dikawal oleh polisi. Meskipun dalam hati merasa kenapa seorang yang berangkat haji harus dikhususkan seperti ini? Padahal kami tidak dalam keadaan emergency. Bahkan sempat terdapat informasi bahwa bus di belakang ada yang mengalami insiden kecelakaan karena saking terburu burunya.

6.jpg

Sesampainya di Embarkasi Solo, kami disambut oleh petugas pendamping ibadah haji. Dilakukan pemeriksaan Kesehatan oleh Kementerian Kesehatan dengan menunjukkan buku Kesehatan haji (pastikan jangan tertinggal karena ada kloter sebelumnya yang tertinggal bukunya). Vaksin dari Inggris sempat ditanyakan berkali kali, karena ternyata vaksin tersebut tidak beredar di Indonesia karena tidak termasuk yang dianggap halal oleh MUI, namun digunakan di Eropa dan Timur Tengah. Konsultasi oleh dokter terkait riwayat penyakit, dan pemeriksaan kehamilan untuk wanita usia subur. Jika terdapat penyakit yang memerlukan perhatian dari pihak tim Kesehatan, jamaah akan diberikan gelang berwarna kuning (memiliki penyakit di bawah 60 tahun), merah (memiliki penyakit di atas 60 tahun), hijau (Tidak memiliki penyakit di atas 60 tahun) beserta diagnosis ICD X nya tertera. Setiap orang mendapatkan paket Kesehatan yang terdiri dari masker, botol minuman yang bisa dijadikan spray, oralit, cream menthol. Jadi nyesel kemarin beli masker dan spray yang cukup mahal menurut saya di toko.

Kami masuk ke kamar yang terdiri dari 10 orang dengan 2 kamar mandi di dalamnya. Selama di embarkasi, kebutuhan makan dan minum sangat tercukupi. Sebagai peunjang, di sekitaran selasar penginapan terdapat lapak lapak yang menjual kebutuhan haji, termasuk SIM card untuk berhaji, penukaran uang riyal, hp, perbaikan tas haji, oleh oleh haji. Di malam harinya melalui ketua regu, dibagi gelang haji, dan peta Madinah dan Makkah. Lalu keesokan pagi harinya, dibagikan passport, uang living cost sebesar 1500 riyal, dan pengembalian uang pembuatan passport sebesar 366 ribu rupiah. Di dalam passport, terdapat stiker yang harus ditempelkan di tas paspor untuk menunjukkan nomor tempat duduk di pesawat dan nomor bus. Juga, terdapat kartu pengganti identitas termasuk passport dan KTP.

7.jpg

Siang hari, kami bersiap-siap menuju bandara embarkasi. Kami diingatkan kembali terkait barang-barang yang bisa terdeteksi ketika melalui pemeriksaan deteksi logam, seperti jam tangan, hp, sabuk, dll sehingga bisa dimasukkan ke dalam tas dahulu untuk mempercepat proses pemeriksaan. Karena banyaknya barang bawaan, Garuda sangat tegas untuk melarang membawa tas tambahan selain tas dari Garuda, sehingga sebisa mungkin dimasukkan ke dalam tas tentengan yang sudah dibagikan. Di dalam ruang check in, kami disambut oleh DPRD DIY, untuk pelepasan terakhir. Naik bus menuju ke pesawat, dimulai dari rombongan delapan terlebih dahulu, yang duduk di kursi belakang, dan di akhiri rombongan satu. Nomor tempat duduk pesawat tidak menggunakan nomor selayaknya nomor pesawat contoh 21 A, tapi nomor urut 1 hingga 300. Nomor Ini bisa dilihat di pegangan kursi pesawat.

Perjalanan pesawat dari Solo menuju Padang terlebih dahulu untuk mengisi bensin. Setelah menunggu sekitar hamper satu jam, kami berangkat menuju Madinah. Selama di perjalanan, kami mendapatkan snack di awal keberangkatan, dan dua kali makan malam. Menu yang dihidangkan pun khas Indonesia, seperti dodol, the kotak, dll. Sayangnya pelayanan Garuda kali ini cukup mengecewakan, tidak seperti Garuda yang saya kenal. Beberapa hal yang harus lebih ditingkatkan adalah pramugari yang kurang senyum, bahkan sempat saya dengar tidak ramah dalam memberitahu. Informasi terkait ketersediaan toilet juga tidak diberitahu, sehingga banyak orang mengantri hanya di beberapa tempat sehingga menyebabkan antrian yang cukup panjang. Saya sangat berharap ke depan, Garuda bisa dapat lebih ramah dan professional menghadapi situasi seperti ini.

8

Sesampainya di Madinah pukul 1 dini hari, kami diperiksa oleh pihak imigrasi, cap 4 jari kanan, 4 jari kiri, dan kedua jempol. Setelah itu, passport diserahkan kepada kembali kepada petugas untuk diberi stiker biru (saya juga kurang mengerti ini untuk apa). Lalu kita langsung menuju bus. Karena jumlah peserta dalam satu kloter yang cukup banyak, maka cukup lama, hingga akhirnya setelah Subuhan di Masjid Airport, kami baru siap berangkat. Pasport diserahkan sebagai pegangan jumlah kamar. Perjalanan dari Airport menuju Hotel Jauharat Rashidin di sector III tidak memakan waktu lama, tapi proses ketika di hotel untuk mendapatkan kamar yang cukup lama. Hal ini dikarenakan koper kita dari bus tidak ditata dengan rapi di dalam hotel, melainkan dilempar menggunung. Sehingga menyulitkan kami mencari koper. Keterbatasan ruang lift juga membuat lama dalam antrian untuk mengangkat. Sempat sekali naik lewat tangga hingga lantai tujuh, cukup melelahkan. Ketua rombongan sempat pusing tujuh keliling ketika proses pembagian kamar. Ada baiknya, ke depan, pembagian kamar yang berdekatan diserahkan kepada Kepala regu, karena sebagian besar kami adalah pasangan suami istri, sehingga butuh berdekatan untuk komunikasi, dan sudah lebih akrab dengan regunya masing-masing.

9.jpg

Refleksi:

Ibadah haji memang penting, jamaah juga perlu dijaga keselamatannya. Tapi bukan berarti kami prioritas dibanding dengan pengguna jalan yang lain. Seharusnya kita sebagai jamaah lebih merasa merendah demi kepentingan umat yang lebih besar. Namun di sisi lain, ketika di pesawat, saya merasa sebaliknya, pekerjaan harus tetap dilaksanakan secara professional siapapun pelanggan di depan anda.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22/09/2016 in Journal

 

Tag: