RSS

Jangan Bad Mood ya…

07 Okt

img-20160908-wa0015

Leeds 4/10/2016 – Tertarik mengikuti mini master class di institute, karena topiknya tentang pengukuran mood dalam penelitian, oleh Professor Allan House. Dalam kuliah singkatnya, beliau menyampaikan bahwa mood ini memang diakui sulit untuk dilihat dengan kasat mata. Sebagai contoh orang yang mungkin memiliki kehidupan kekurangan atau miskin, bisa jadi merasakan kebahagiaan, sedangkan orang yang memiliki kehidupan yang lebih atau kaya malah yang mengalami depresi. Beliau juga menekankan bahwa mood adalah sebuah “state” yakni sebuah kondisi dalam waktu tertentu, bukan sebuah “episode” yakni kejadian yang muncul sebagai bagian dari rangkaian.

Pengukuran mood dapat dilihat dari beberapa tahap, yakni dari psikologis sampai mempengaruhi fisik:

  1. Afeksi atau emosi:depresi, cemas, apatis, euforia, dll
  2. Perilaku: menangis, tidak perduli, mencari perlindungan, dll
  3. Kognitif: ide bunuh diri, kuatir, dll
  4. Somatis: anorexia (tidak bisa makan), turun berat badan, nyeri, tegang, tidak bisa tidur

Alat alat pengukuran yang sudah ada saat ini antara lain: hospital anxiety and depression scale (HAD 14 items), general health questionnaire (GHQ 12, 28, 30, 60 items), beck depression inventory (BDI 21 items), centre for epidemiological studies (CES-D 20 items), dan mental health (MH5 subscale dari SF-36 : 5 items).

Seseorang dianggap mengalami depresi mayor ketika memiliki 3 gejala berikut lebih dari 2 minggu:

  • Penurunan berat badan
  • tidak bisa tidur (insomnia)
  • Agitasi
  • Lemah
  • Merasa tidak berharga
  • Konsentrasi yang lemah
  • Memikirkan kematian

Dan ternyata telah terbukti oleh Simon sejak tahun 1999 bahwa terdapat hubungan yang linier antara gejala psikologi dengan gejala fisik. Dari beberapa kota yang diteliti, kota yang rendah gejala psikologi dan fisiknya adalah di Nagasaki (pantas saja orangnya sehat-sehat ya), dan yang paling buruk adalah di Santiago. Sedangkan di Manchaster posisinya berada di tengah. Sayang nggak ada Indonesia.

Penelitian beliau juga menunjukkan bahwa orang yang memiliki mood yang buruk memiliki peluang untuk meninggal lebih tinggi. Dalam penelitian pasien stroke, orang yang mempunyai skor mood paling buruk memiliki 3x kemungkinan lebih tinggi untuk meninggal dibandingkan mood yang paling baik. Meskipun memang ada faktor lain, seperti usia di atas 72 tahun, dan indikator lainnya. Lebih rinci lagi, jika pasien tersebut memiliki perasaan menjadi orang yang tidak berarti, memiliki kemungkinan 2.5 kali untuk meninggal, sedangkan orang yang merasakan tidak ingin hidup lagi, memiliki kemungkinan 2.2 kali untuk meninggal.

Jadi, mood ini sangat penting untuk diperhatikan dalam dunia kesehatan. karena bisa dijadikan sebagai prediktor outcome penyakitnya. So, untuk mengingatkan diri sendiri juga, pasrah kepada Allah atas penyakit kita untuk diizinkan disembuhkan, dan mempunyai semangat untuk sembuh, tetap merasa berarti dan mencoba terus berpikir positif adalah penting.

Sebagai penutup dari Prof. Allan “depression defines who I am; depression is a shameful weakness”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 07/10/2016 in Dunia Kesehatan, Kuliah

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: