RSS

BERTANDANG KE RUMAH ALLOH: ANTARA INDONESIA DAN INGGRIS Part 7: Tanazul

22 Sep
45.jpg

kantor urusan haji Indonesia (Daker Makkah)

Di sela-sela waktu istirahat di Embarkasi Solo, saya manfaatkan untuk mengurus kebutuhan administrasi terkait kepulangan awal dan tujuan Inggris dari Arab Saudi. Menghubungi Whatsapp call centre haji pintar sangat bermanfaat (+966503500017). Admin haji pintar sangat responsive dan membantu memfasilitasi untuk membeirkan kontak kontak yang diperlukan. Secara administrative, saya harus berkoordinasi dnegan ketua kloter, dan ketua sector terlebih dahulu untuk mendapatkan surat rekomendasi. Surat permohonan dari saya ditujukan kepada ketua Kepada Yth. Kepala Daerah Kerja Mekkah Kantor Urusan Haji Indonesia, yang menyatakan tujuan, alasan, dan pernyataan kesanggupan bahwa tiket kepulangan ke Indonesia akan gugur, dan akan mengurus tiket pesawat ke Inggris secara Mandiri. Akan lebih baik jika kita sudah bisa memberikan informasi terkait tanggal kembali, tapi karena administrasi yang belum jelas, saya belum berani booking tiket, dan belum bisa memberikan infromasi tersebut secara detail. Di Embarkasi, print dokumen bisa difasilitasi di ruang tata usaha/ sekretariat, petugasnya sangat ramah dalam membantu print surat ini. Berikut contoh template surat permohonan dan pernyataan:

Hingga 5 September 2016 kami belum mendapatkan jawaban terkait permohonan kami ke peugas haji daerah kerja (daker) Makkah. Saya coba telp ke Kedutaan besar Indonesia di Jeddah +966114882800 juga tidak ada yang mengangkat. Dengar dengar dari teman yang orang tuanya pernah bekerja di sana, ketika musim haji seperti ini sebagian besar pegawainya juga ditugaskan sebagai petugas haji jadi mungkin juga sedang kosong, atau sedang sibuk sibuknya.

Tidak berhenti disitu, saya juga sempat bertemu dengan asisten Kedutaan besar yang sedang berkunjung ke hotel. Saya tanyakan kontak person untuk pengurusan imigrasi, Pak Syaifudin, namun juga mendapatkan jawaban yang sama, yakni silakan kontak sektor dan Daker karena mereka adalah petugas haji yang paling dekat dengan Muasasah (Pemahaman saya: petugas haji dari Arab Saudi yang paling atas).

Karena tidak ada kejelasan, saya menghubungi Sektor kembali dan mencoba langsung datang ke sana. Jawabannya ternyata cukup singkat, yakni dari infromasi dari Daker seksi pelayanan kedatangan dan kepulangan meminta untuk saya membeli tiket sebagai dasar untuk mengeluarkan paspor, dan dijadikan surat permohonan dari Daker ke Muasasah. Tanpa berpikir panjang, langsung istri bersama saya ke Daker dan booking tiket pinjam computer dan printer di sana. Yang paling bikin sedih, sebenarnya suratnya bukan sedang diproses, tapi mereka tidak bisa memproses karena tidak bisa menghungi saya karena tidak mengetahui kontak telepon saya.

Setelah beberapa hari, ketika kami berada di Mina, Alhamdulillah surat sudah disetujui oleh Muasasah, dan mereka akan mengirimkan surat ke Sektor dan ketua kloter. Surat ini merupakan surat sakti ke Maktab (Petugas haji Arab Saudi di bawah Muasasah), untuk penarikan paspor. Saya nggak bisa percaya begitu saja bahwa mereka akan mengirimkan surat tersebut dengan cepat, saya mengambil inisiatif untuk datang sendiri dan mengantarkan ke Sektor dan Ketua Kloter. Begitupula ketika Daker mengatakan bahwa untuk berikutnya Sektor yang akan memberikan informasi perkembangan karena mereka yang memiliki hubungan langsung dengan Maktab. Ternyata juga tidak semudah itu, dari pihak Sektor mengharapkan saya mengurus langsung ke Maktab sendiri. Waduh, bagaimana caranya? Tempat nya saya ketua sektor tidak bisa menunjukkan, Bahasa Arab saya nggak bisa sama sekali. Kenapnikan saya tersebut hilang setelah berkenalan dengan “pengubung Maktab” namanya Pak Athiah (orang Indonesia keturunan Palembang, yang lahir dan besar di Makkah, dan belum pernah pulang ke Indonesia). Beliau bersedia mengantarkan ke Maktab.

48

Maktab

Kunjungan pertama kami menggunakan tasi di hari Jumat ke Maktab disambut hangat dan direspon cpeat oleh Ketua Maktab. Sebagai informasi biaya taksi dari sektor ke Maktab sekali jalan adalah 30 riyal. Beliau memfotokopi surat sakti tersebut, dan mengatakan bahwa silakan ke sini kembali dua hari sebelum keberangkatan. Kunjungan kedua kami, menggunakan transport Sektor. Kami disambut lebih hangat, diberikan Al-Quran, lalu surat sakti difotokopi kembali, dan diskusi terkait transport menuju ke bandara. Perkiaraan biaya sekitar 650 riyal, atau ada yang murah 350 riyal. Kami diminta untuk datang ba’da Maghrib di hari H. Ternyata paspor tidak bisa ditarik langsung oleh kami, melainkan akan dipegang oleh pengantar sampai ke bandara.

Hari H kepulangan kami. Setelah sampai di Maktab sekitar pukul 19.30 kami diminta menunggu karena mereka juga sedang sibuk mempersiapkan paspor kloter yang akan pulang dalam waktu dekat. Untung sempat print e-tiket, berkali kali ditanyakan jam berapa berangkat, pesawat apa, dan nomor pesawat. Proses administrasi untuk tanazul saya ini sepertinya tidak dipersiapkan lebih awal meskipun kita sudah datang dua kali sebelumnya. Supir yang mengantarkan pun berekspresi kaget ketika diminta untuk mengatarkan kami ke Jeddah. Kata Pak Athiah, mereka tidak bisa memberangkatkan kami sebelum mendapatkan jawaban dari Kementerian Haji Arab Saudi. Tunggu dan menungu akhirnya kami bisa berangkat pukul 00:30 pagi hari. Pak Athiah mohon maaf karena ternyata supir menginginkan harga 500 riyal sebagai biaya menunggu dia juga dari ba’da isya hingga tengah malam. Karena rasa lelah dan kantuk yang berat, sudahlah saya terima saja toh diantarkan dengan mobil mewah (KIA caravan 2016).

49

keluar Makkah

Perjalanan ke bandara memakan waktu kurang lebih satu jam an. Perjalanan begitu cepat dengan suasana perjalanan yang sepi dan menggunakan jalur highway sepanjang jalan. Mobil yang kuharapkan nyaman, ternyata menjadi kekecewaan karena supir yang merokok sepanjang jalan, tiba-tiba memasang music yagn begitu keras, dan ngeri banget, seringkali nggak pegang setir dalam keadaan kecepatan tinggi karena utak atik hp, atau remote, atau lainnya. Dengan Bahasa Inggris dan Indonesia yang terbatas, obrolan pun juga terasa agak susah, meskipun sebenarnya dia (Muhammad) sangat ramah dan lucu. Sesampainya di bandara, ternyata ada counter khusus yang menangani haji ini, ada surat sakti yang dipegang oleh dia bersama dengan paspor. Akhirnya, paspor bisa dilepas dan diserahkan kepada kami. Dari pihak counter tersebut menemani kami check in. Dalam proses check in ini kami agak kecewa karena sepengetahuan kami, bisa mendapatkan jatah bagasi seberat @23 kg untuk dua koper. Tapi teryata tertulis di counter check in menjadi 20kg each. Setelah ditimbang ternyata bobot koper kami sekitar 26 kg dan 7 kg. Karena untuk dua koper melebihi 30kg mereka tidak memperbolehkan. Wadew, kok aturannya jadi begini, bukannya harusnya kalau dua koper digabung jadinya boleh 40kg? wah nggak ngerti dah. Alhasil dia memperbolehkan bagasi besarnya saja untuk dibagasikan. Beberapa kali pihak counter menyarankan untuk membeli zam-zam resmi yang berada di bandara, tapi saya males beli lagi karena berarti ada beban baru, dan harus ada uang yang keluar lagi. Ketakutan saya kalau air zam-zam tidak boleh dibawa seperti Garuda juga tidak terbukti. Khas check in di luar negeri, begipula di Jeddah, tidak ada pemeriksaan X-ray masuk bandara untuk bagasi, bagasi langung bisa dibawa ke counter check in. Jadi mau bawa koper isi air semua juga boleh, meskipun dari pihak counter check in melarang membawa air dengan kemasan lebih dari 10 liter. Kekecewaan berikutnya muncul ketika kami mau masuk ke ruang tunggu. Kursi duduk saya tidak boleh dibawa ke bandara, akhirnya disita oleh petugas. Wah tau gitu saya ikat saja dengan bagasi, tapi di sisi lain juga saya merasa hal ini nggak masuk akal, karena ini alat Kesehatan, bukan kursi lipat biasa.

50

Bandara international Jeddah

Ruang tunggu bandara padat, dan banyak yang duduk di lantai. Di luar harapan, sebagai negara kaya dan sudah berpengalaman dalam ibadah haji, kami pikir minimal bandara besar seperti di Abu Dhabi, Dubai, atau minimal sekelas Madinah. Berarti kemungkinan besar, bandara ini tidak begitu ramai untuk kondisi sehari hari di luar musim haji. Terbukti penerbangan kami ke Jeddah menggunakan pesawat flynas anak perusahaan Etihad cukup sepi.

Dari awal saya cukup deg-degan karena transit time yang diberikan hanya satu jam. Bertambah panic ketika pesawat delay setengah jam. Meskipun saya sudah menanyakan kepada pihak pramugari, mereka tidak bisa membantu banyak. Sesuai dugaan ketika kami mendarat, pesawat yang direncakan sudah meninggalkan kami. Pada awalnya petugas sangat sigap mencoba membantu, tapi berujung pada kata “silakan duduk, karena kami sudah tidak bisa naik pesawat tersebut”. Menunggu hingga antrian selesai kami harus dua kali datang ke counter untuk akhirnya ditangani dengan serius digantikan jadwal ke penerbangan berikutnya yakni pukul dua pagi esok harinya. Yah, meskipun cukup sedih karena tidak bisa menemui anak anak hari ini, kami bisa menelpon, dan mencoba layanan sleeping pod hingga jam 10 malam, dan dapat voucher makan siang, malam, dan pagi hari.

Perjalanan ke Manchaster di pagi hari tersebut berjalan dengan lancar, dan di imigrasi memilih jalur international student cuma menanyakan ngapain di UK, kuliah dimana, berapa lama liburan, dan isteri apakah baru pertama kali datang ke UK. Bagasi juga aman, datang sesuai pesawat, dan yang terpenting tidak bocor airnya. Pilih memilih menggunakan transport ke Leeds, kami memutuskan menggunakan bus yang paling murah (24 pounds) meskipun perjalanan memakan waktu dua jam. Kalau pakai taksi sekitar 139 pounds, kalau pakai train 60an pounds, sedangkan mau pakai car rental lihat petunjuk arah cukup jauh harus pakai bus ke village car rental.

Okay demikian proses tanazul kami yang cukup berliku namun Alhamdulillah perjalanan yang dulu sempat diragukan karena tidak lazim berjalan lancar. Terimakasih juga buat pihak pihak yang telah membantu proses dan teman-teman yang terus mendukung.

IMG_20161007_132731.jpg

Bahagia bisa berkumpul kembali dengan keluarga

Refleksi:

  • Sebarlah kontak person, dan tanyalah kontak person semua orang yang anda temui dalam proses pengurusan ini sejak awal.
  • Muka badak follow up proses dan datang ke tempat tempat dilakukannya proses. Karena tipikal orang Indonesia, kalau cuma telepon rasanya kurang mantep, meskipun sebenarnya informasi tersebut bisa diberikan lewat telepon atau email.
  • Jangan ambil transit yang mepet, kecuali kalau memang mau sengaja buat miss connection, biar dapat fasilitas di dalam airport.
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22/09/2016 in 1, Journal

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: