RSS

BERTANDANG KE RUMAH ALLOH: ANTARA INDONESIA DAN INGGRIS PART 6: Hal-hal kecil

22 Sep

Sim card

41.jpg

Ini nieh salah satu bahan pokok baru rasanya setelah beras. Kenapa tidak, beberapa hari awal di Madinah kegiatannya Kutak katik hp orang lain dan penasaran bagaimana cara mengaktifkan data internet. Ada beberapa pilihan untuk data internet ini:

  1. Tri Ibadah: paket 3 giga untuk 30 hari (149 ribu rupiah), atau 2 giga untuk 9 hari (77 ribu rupiah). Memang paling murah, tapi sinyalnya hanya bisa dapat mobily, sehingga tidak heran Cuma dapat sinyal edge pada umumnya di hotel dan masjid.
  2. Telkomsel: sekitar 800-900 ribu rupiah untuk 30 hari, kalau nggak salah 15 giga. Pokoknya paling mahal dah dibanding yang lain, tapi memagn jos sinyalnya karena bisa pindah pindah tidak hanya mobily, tapi bisa ke STC dan Zain. Meskipun sempat teman juga nggak dapat sinyal, lalu harus manual searching network. Hebatnya lagi ada Grapari di Zam zam tower kalau ada masalah.
  3. Indosat, kalau nggak salah sekitar 30 ribu per hari unlimited. Tapi yang jadi masalah, dari beberapa orang yang saya temui, tidak bisa digunakan sama sekali di Arab Saudi, entah kenapa alasnnya, dan repotnya tidak bisa complain.
  4. Mobily, paket internet sebesar 30 giga, untuk 3 bulan, dengan maksimal penggunaan 10 giga per bulan. Beli lewat Tukang catering di hotel Madinah sebesar 100 riyal. Menurut saya cukup murah, tapi sekali lagi sinyal mobily kurang bagus, seringkali dapat edge.
  5. Zain, beberapa paketnya adalah 1 giga 20 riyal, 5 giga 80 riyal, dan 10 giga 130 riyal. Kelemahannya jarang ada calo yang jual, sehingga harus antri panajang. Tapi kelebihannya sinayal H+ terus, mantap dah pokoknya masalah sinyal. Menurut saya ini paling recommended selama di Arab Saudi.
  6. STC, nggak sempat searching berapa biayanya, dan belum tau pengalaman orang lain yang menggunakan. Tapi kelihatannya sinyalnya lebih baik dari Mobily.

Taksi

Sampai hari ini saya sudah naik taksi beberapa kali di Makkah. Taksi yang pertama bisa dibilang taksi resmi, dengan logo taksi. Namun tetap saja, untuk mengetahui biayanya, kita harus melakukan penawaran di awal sebelum naik taksi. Dan kita harus memastikan bahwa taksi mengetahui tujuan kita. Dari hotel sektor 5, menuju Jabal Rahmah, kami diminta 40 riyal, dengan alasan agak jauh sekitar 10km. Waktu tempuh sekitar 15-20 menit. Sedangkan untuk ke Masjidil haram taksi meminta kami dari hotel 20 riyal. Tapi karena pada waktu itu tidak ada bus, maka berputar putar di sekitar Masjidil haram untuk mencari jalan tapi tidak ada akhirnya dia minta 40 riyal, tapi saya bilang kalau cuma sanggup bayar 30 riyal.

Dan sempat juga naik bareng bareng dengan teman teman untuk jalan jalan ke Makkah Mall. Taksi yang dipakai ilegal, tidak ada logo taksi, dan kebetulan cocok dengan kebutuhan kami, agak besar hyundai H1. Terkadang mereka hanya melambatkan kecepatan di depan hotel. Orang nya sangat ramah dan mau ditawar yang awalnya per orang 10 riyal, total 80 riyal, menjadi 60 riyal sekali jalan. Dia juga bersedia di telp untuk menjemput kami dari Makkah Mall untuk menuju kembali ke hotel. Beliau juga menawarkan wisata ke Jeddah, yang dibilang lebih murah untuk berbelanja. tapi ternyata pihak kloter menyediakan paket wisata ke Jeddah dengan cukup membayar 50 riyal per orang. Untuk ke family complex di daerah Aziziyah taxi MPV meminta biaya sebesar 50 riyal sekali jalan. Nah yang paling mengerikan adalah taksi ketika bus shalwat tidak ada, pengalaman kami dengan mobil ompreng minibus sekitar untuk 12 orang meminta 500 riyal, sedangakan kembalinya dari Masjidil haram naik Hyundai H1, dia meminta 30 riyal per orang. Dengar dengar dari teman, kalau naik taksi sedan, per orang diminta mencapai 50 riyal. So, silakan pertimbangkan untuk naik taksi jika memang perjalanan cukup jauh dan anda bisa menawar. Beberapa teman lebih memilih jalan ke Masjidil haram dengan waktu tempuh 40 menit jalan kaki dibandingkan dengan naik taksi, tapi harus tetap waspada dengan membawa peta dan google maps agar tidak tersesat.

Air Zam Zam

Kata teman hanya dua yang asli Mekkah, yakni kurma dan zam-zam. Oleh oleh yang satu ini orang rela membawanya pulang dengan cara apapun, meskipun telah diberikan oleh pihak Garuda, dan dilarang untuk membawanya di tas mapun koper. Tapi karena kasus saya yang berbeda, yakni pulang ke Inggris, saya tidak bisa mencicipi air zam zam yang dikirim oleh Garuda. Air zam zam yang langsung dikirim oleh Garuda bisa diambil di Depag oleh saudara atau siapapun dengan membawa bukti fotokopi pelunasan haji, atau fotokopi KTP pengambil dan jamaah haji. Pemerintah memberikan masing-masing jamaah sebanyak 5 liter. Nah untuk saya sendiri, saya akhirnya membungkusnya dengan botol botol kecil ke dalam koper. Dengan alasan, jika memang over weight, bisa dikurang kurangi sebagian, tanpa harus membuang semuanya. Di daerah check in Jeddah international airport tidak ada pemeriksan X-Ray sehingga kita bisa langsung masukkan ke bagasi dengan bobot maksimal 30 kg. Di luar airport juga dijual air zam-zam yang boleh ditenteng ke dalam kabin dengan packanging yang telah dipastikan aman untuk penerbangan. Tapi saya sendiri kurang tau berapa harganya. Sempat juga tergiur ada iklan 9 riyal dikirim via udara sudah termasuk botol dan karton pembungkus. Oh ya, untuk kasus saya karena meskipun sudah cukup rapat menutup botol airnya, tetap aja ada yang rembes, mungkin karena tumpukan tumpukan koper yang berat.

Alas Kaki

Sempat beberapa kali mengalami cedera kaki. Karena mungkin pada dasarnya saya adalah orang yang cukup ceroboh kalau berjalan. Pernah terpeleset, kaki terinjak oleh ban kursi roda, lalu menyandung bata, dan terakhir menyandung tiang yang membuat kaki saya terluka. Mungkin pengalaman saya bisa jadi hal yang penting untuk yang lain terkait alas kaki. Di daerah sini banyak yang menjual sepatu tapi untuk indoor, seperti sepatu karet tipis, sering dipakai oleh petugas kebersihan juga di sini. Selain sifatnya yang karet tidak licin, juga melindungi seluruh bagian kaki. Tapi saya pribadi juga belum beli, tapi siapa tau di Indonesia ada silakan dibawa supaya nyaman ketika untuk jalan thawaf dan sai yang cukup membuat sakit kalau tidak terbiasa jalan tanpa menggunakana alas kaki (Jalan kaki sekitar 2 jam non-stop). Untuk outdoor, rasa-rasanya alas kaki yang bagus yang melindungi bagian punggung kaki, karena sengatan matahari tidak terasa membuat belang kaki, lalu melindungi bagian depan kaki, supaya tetap aman ketika tersandung, atau terinjak oleh yang lain. Sendal jepit memang nyaman dari sisi ukuran, dan kemudahan memakainya, tapi kurang aman menurut saya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22/09/2016 in Journal

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: