RSS

BERTANDANG KE RUMAH ALLOH: ANTARA INDONESIA DAN INGGRIS PART 5: Haji besar

22 Sep

Arafah

Siang hari di tanggal 10 September, kami menyiapkan diri dengan berpakaian ihram berangkat menuju Arafah. Naik Bus berdasarkan rombongan dan turun ke dalam tenda yang telah disediakan yang tak jauh dari pintu gerbang masuk dari jalan besar. Tenda yang disediakan memiliki beberapa kipas angin ber-air, dan di sela sela atap tenda bisa melihat indahnya langit tanpa bintang. Air botol plastik disediakan oleh pihak panitia di sudut sudut tenda, namun rasanya tidak mencukupi kebutuhan seluruh jamaah. Bahkan ada kulkas juga, bagi yang ingin memasukkan makanan atau obat nya agar tetap bisa dingin.  Kebetulan tenda bersebelahan dengan rombongan KBIH yang  masih kosong karena mereka sedang melaksanakan tarwiyah, sehingga kami pinjam sementara hingga esok paginya. Di malam hari tidak ada kegiatan yang spesial selain beristirahat dan menunggu makan malam yang tak kunjung datang. Hingga akhirnya sekitar pukul 8.30 kami mendapatkan makan malam. Sepoi Sepoi kipas angin dengan cipratan air, dan suara sayup sayup mengaji mengantarkan tidur di cuaca yang hangat.

Hari ini merupakan puncak dari kegiatan haji. Yakni duk duduk di Arafah. Di pagi hari, sambil menunggu pukul 12:00 untuk khutbah, kami disarankan untuk tidak keluar dari tenda karena suhu di pagi hari sekitar pukul sembilan sudah mencapai 42 derajat Celsius. Pak Miftah membuka dengan khutbah mengenai padang Arafah sebagai percikan dari Padang Mahsyar. Bisa dibayangkan betapa panas nya di hari pembalasan kelak ketika dikumpulkan membuat kami sadar betapa kecil, lemah, dan penuh dosa. Setelah solat Duhur dan Ashar jama qasar, Pak Miftah memimpin doa bersama dan dilanjutkan dengan doa masing masing hingga terbenam nya matahari.

Mudzalifah

Ba’da solat Maghrib dan Isya, kami dibawa dengan bus menuju Mina Jadid tempat tenda kami. Sepertinya estimasi panitia terkait jumlah jamaah dan luas tenda kurang tepat, sehingga ada beberapa orang yang tidak mendapatkan ruang untuk beristirahat. Akhirnya saya memilih tidur di luar tenda. Rasanya juga lebih nyaman. Beratapkan langit, udara lebih segar dengan angin sepoi-sepoi. Tapi kali ini lagi sirine mobil dan lalu lalang orang berjalan yang menjadi backgroundnya.

Malam ini kami juga berkesempatan mabit di Muzdhalifah. Meskipun sebentar hanya dari jam 11:00 sampai 12:30. Sambil cari batu di sekitar WC. Sebagian besar orang orang yang mabit adalah orang Malaysia, dan kesannya kami seperti orang ilegal ke Muzdalifah karena lewat pintu belakang. emergensi, dan tidak dibuka terus pintunya.

 Mina

Mina Jadid adalah lokasi tenda kami, bersama negara-negara Asia tenggara lainnya. Sepertinya estimasi panitia terkait jumlah jamaah dan luas tenda kurang tepat, sehingga ada beberapa orang yang tidak mendapatkan ruang untuk beristirahat. Akhirnya saya memilih tidur di luar tenda. Rasanya juga lebih nyaman. Beratapkan langit, udara lebih segar dengan angin sepoi-sepoi. Tapi kali ini lagi sirine mobil dan lalu lalang orang berjalan yang menjadi background sound track nya.

Pagi hari terbangun oleh rasa ingin pipis. Antrian cukup mengular namun masih bisa ditolelir, sekitar 2 antrian masing masing toilet. Kelihatannya tips toilet di Mina, sebaiknya ke toilet sebelum kebelet bener. Biar masih ada tenaga ngempet. dan ingat juga kalau pakai jangan kelamaan biar nggak sampai digedor gedor orang dibelakang yang antri. Intinya, belum sampai perlu menggunakan pispot atau botol seperti yagn ditakut takuti oleh pedagang peralatan haji.

Selain masalah toilet, terkait kamar akhirnya saya menggunakan kamar yang ditinggalkan oleh kloter lain. Ternyata banyak jama’ah yang langsung pada dini hari nya melempar jumroh dan kembali ke hotel. Sehingga lumayan bisa agak lega istirahat nya.

Sesorean, ada diskusi panjang mengenai rute lempar jamaroh. Karena teman ada yang kakinya sedang sakit, beliau ingin mencari jalan tempuh yang terpendek, dibandingkan dengan harus setiap hari bolak balik tenda jamaroh sekitar 10km. Alternatif jalur tersebut ialah dengan menunggu mabit di sekitar jamaroh dan beristirahat di hotel yang memang tidak jauh dari lokasi.

Kami berenam pasang (Saya dan isteri, keluarga Pak Wahyu, Pak Trenggono, Pak Isnan, Pak Toko, dan Pak Erwan) mabit di daerah Jamaroh. Suasana memang terasa agak kacau karena banyak orang menunggu dan secara bersamaan polisi mengusir dan petugas kebersihan berusaha membersihkan jalan dengan mobil vacum cleaner nya. Sambil menunggu mabit, saya cukur rambut di daerah tersebut, seharga 20 riyal untuk mesin cukur, dan 30 riyal dengan pisau cukur.

35

Setelah melewati waktu tengah malam, kami pun berangkat menuju hotel untuk beristirahat sejenak, membersihkan diri dan berganti baju. Pukul 3:00 pagi mulai turun hotel mencari taksi yang cukup besar agar muat 12 orang. Harga yang ditawarkan cukup tinggi dan susah ditawar, yakni 500 riyal. Dengan kecepatan tinggi, terkadang menikuk tajam, mencari jalan karena ditutup, membuat saya pasrah dan tidur saja di kursi belakang. Kami diturunkan di depan terowongan pedestarian menuju Masjidil haram. Setelah tawaf, solat subuh, dan sa’i, kami jajan sarapan, dan pulang kembali dengan menggunakan taksi hyundai H1, dengan tawaran harga 30 riyal per kepala. Tanpa berpikir panjang, kami menyetujui nya. Pak Isnan sudah pesan, tidak usah buru buru. Tapi karena hanya bisa bahasa Tarzan, mobil kali ini rasanya lebih mengerikan karena dia enggan memutar jauh, tapi lebih memilih untuk jalan mundur di jalan satu arah.

Sore sekitar jam 5 setelah istirahat di hotel, berangkat ke jamarot untuk melempar, dan kembali menuju tenda Mina. Kami memilih untuk naik ke lantai 2 dan untuk kembali nya turun dan memutar balik kanan ke arah jalan Fahd. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 1 jam kurang untuk mencapai tenda di Mina Jadid.

36

Di hari berikutnya, tanggal 12 Dzulhijjah untuk menghemat energi, di pagi hari kami ikut naik bus bersama jamaah yang nafar awal. Perjalanan bus cukup padat, macet karena kekacauan lalu lintas  sehingga harus turun di hotel 507 dan berjalan ke hotel. Mengulangi seperti hari sebelumnya, setelah istirahat, sore harinya melempar jumroh bersama teman-teman yang tidak kembali ke tenda mina jadid, dan berjalan kembali ke tenda. Teman-teman yang mabit di Jamarot telah menemukan spot bagus yakni di atas jembatan laying, minim Azkar, dan bisa istirahat bahkan tidur di trotoarnya.

37

Di tanggal 13 Dzulhijjah setelah subuh, kami berangkat kembali ke hotel dengan bus, dan setelah sarapan, melempar jumroh terakhir. Dalam perjalanan ada salah satu ibu dari rombongan tiga yang sesak nafas dan kelelahan sehingga kita berhenti dulu di ambulans “bulan sabit merah”. Pada awalnya petugas enggan membantu dengan alasan tidak ada obat. Ya udah, kalau begitu saya minta tolong tempat saja, untuk ibu tersebut bisa beristirahat di ruang mereka. Eh, Alhamdulillah, dia berubah pikiran, dan akhirnya membuka ambulans, menyiapkan oksigen, dan memeriksa ibu tersebut.

Tanggal 19 September merupakan hari terakhir kami di Makkah. Kondisi thawaf masih padat, meski sudah banyak jamaah yang mulai pulang. Istirahat dan belanja di tower zam-zam lebih terasa nyaman. Selamat tinggal Ka’bah, semoga dapat bertemu lagi di lain waktu.

38

Refleksi:

Maafkan saya ya Allah, Azkar, jama’ah Haji. Saya ikut tergabung dalam gelombang mabit yang tidak teratur di Jamarot, dan tentunya menjadi salah satu pembuat kekacauan. Saya melihat masih jauh dari disiplin dan keteraturan yang diharapkan. Sampah bertebaran, jalanan penuh sesak. Dan sempat nguping, ada jama’ah yang tidak percaya dengan pemerintah Arab Saudi. Yang menganggap bahwa daerah tenda Mina hanyalah sebuah bisnis memaksa orang untuk tinggal di Mina bagi orang orang yang mampu membayarnya. Jadi kepikiran, kalau memang orang lebih suka mabit di Jamarot, kenapa tidak sekalian saja dibangun gedung atau memanfaatkan gedung Jamaroh untuk mereka singgah. Atau kalau memang mengharapkan daerah tersebut steril, harusnya tidak disediakan fasilitas umum, seperti toilet, minum, tempat makan, dll. Memang seharusnya bagaimana ya cara mengusir orang ke arah tenda minta tanpa menyakitinya? Kalau disiram, atau jalannya diairi air bagaimana ya? Biar pada nggak duduk di jalan.

39

Terkait hukum, apakah dengan alasan beribadah, lalu hukum manusia dianggap tidak ada? Saya bertemu dengan warga Tegal yang mengambil haji plus yang Mandiri yang saya curigai ilegal. Bagaimana tidak, mereka tidak memiliki kloter, tenda di Mina, dan mendapatkan visa sejak bulan puasa. Di kesempatan yang lain, karena sepinya kondisi melempar jumroh, banyak orang mengambil jalan pintas dari jalan keluar. Hal kecil memang, tapi karena hal kecil tersebut orang jadi merasa tidak bersalah melanggar peraturan.

Berkaca mengenai makna haji, rasanya memang ibadah haji ini masih didominasi sifat individualis, dan ritual check-list. Maksudnya, setiap masing-masing orang ingin melakukan ibadah dengan agendanya masing-masing dan kurang memperdulikan lingkungan dan orang sekitar. Contoh yang sering dijumpai adalah hal biasa jalan di depan orang yang sedang solat, atau sebaliknya solat di tempat orang berjalan. Haji yang seharusnya menurut saya menjadi kekuatan islam untuk bersatu, masing-masing kelompok memiliki wilayah kekuasannya masing-masing, bahkan sempat ada teman yang diusir karena bukan dari kelompok tersebut ketika ikut gabung beribadah tarwiyah bersama. Sedangkan ibadah check list yang saya maksud, seseorang melakukan ibadah yang penting secara fikih sah. Sebagai contoh, berdesak desakan memegang ka’bah, hajar aswat, sholat di Hijr Ismail, thawaf terburu buru menabrak orang orang sekitarnya, racing sa’i (tidak jarang orang sering tertabrak kakinya oleh kursi roda), mabit di Jamarot, tidak melihat mabit di Mina menjadi tempat untuk merefleksikan diri dalam situasi serba terbatas.

40

Konflik batin masih berputar putar di kepala. Kenapa ada tenda VIP di Arafah, kenapa ada hotel mewah dan istana mewah di Mina, kenapa ada kereta untuk ras Arab dan berbayar? Apakah mereka mengakses nya karena memiliki kekuatan finansial dan status sosial? Bukankah seharusnya kita satu layaknya kain ihram ini? Jika pun ada fasilitas tersebut, kenapa tidak untuk orang yang memang berkebutuhan khusus, seperti lansia dan disable. Atau memang suatu saat tempat ibadah bisa dibeli dengan uang? Semoga tidak. (Kultural shock saja kali ya dari Inggris, begitu kata teman).

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22/09/2016 in Journal

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: