RSS

BERTANDANG KE RUMAH ALLOH: ANTARA INDONESIA DAN INGGRIS PART 4: Ibadah di Makkah

22 Sep

17.jpg

Sebelum pergi ke Makkah, kami diminta untuk siap siap dengan sudah memakai ihram sejak solat Subuh. Turun dari kamar, seluruh tas telah diserahkan ke lobi untuk dimasukkan ke bus. Setelah sampai hotel dari solat Subuh, kami langsung naik bus untuk berangkat. Sekitar hanya setengah jam, bus sudah sampai di Masjid Bir Ali, untuk miqot. Dalam perjalanan ini, sarapan diberikan di bus dalam perjalanan awal, dan mendapatkan dua kali snack gratis dari pemerintah Arab Saudi di perbatasan Madinah dan Makkah. Perjalanan cukup lancar, dan hanya memakan waktu sekitar 7 jam termasuk pemberhentian.

Sesampainya di hotel, kami diberikan gift terdiri dari alat hitung, name card, dan gelang untuk menunjukkan tempat kami menginap. Setelah itu, kami beres-beres kamar dan beristirahat dulu menunggu malam untuk umroh. Hotel kami cukup jauh sekitar 3.5 km dari Masjidil Haram, namun pemerintah telah menyediakan bus “shalawat” yang mengantarkan jamaah dari hotel ke Masjidil Haram. Di malam itu, beberapa bus yang hendak kami naiki penuh terus, karena waktu tersebut adalah waktu pulang dari solat isya. Akhirnya dari tim transportasi menyediakan bus yang kosong untuk kami rombongan berangkat bersama. Tapi yang bikin sebel, kami sudah antri di awal dan sudah diatur untuk antriannya, malah jadi berantakan, karena ada rombongan dari hotel lain yang menyerobot di depan.

Untuk ke Masjidil Haram sehari hari menggunakan Bus Shalawat ini, perjalanan membutuhkan waktu sekitar setengah jam. Nah Masjidil Haram ini meskipun sangat besar, namun juga sangat padat, sehingga jika datang sudah mepet, kemungkinan besar hanya bisa solat di pelataran karena jalan menuju Masjid sudah tertutup. Meskipun sekarang saya dan isteri lebih suka solat di lantai atas, lantai 1,5 (aneh kan, karena memang begitu, ada lantai yang nanggung, yang sebenarnya untuk said an thawaf menggunakan kursi roda) sehingga ketika masuk Masjid langsung naik escalator ke lantai atas, dan ada jembatan menuju daerah thawaf, sehingga bisa langsung melihat ka’bah dan sepi juga, plus minim Azkar.

Terlepas dari perbedaan pendapat tentang umroh sunat, saya, isteri, dan teman-teman juga berkesempatan untuk umroh sunat. Untuk umroh sunat, kami berangkat pagi jam 7 dari hotel naik bus ke Haram. Sampai di terminal Sym Amir, langsung cari bus merah saptco lokasinya di paling ujung terinal. Disitu tempat parker semua bus Saptco warna merah termasuk bus sholawat Indonesia nomor 6 parkir disitu. Bus ke Tan’im ada di paling ujung. Kalau bus belum ada, tunggu aja. Sambil menunggu, bis amembeli kepada petugas tiket di dektas bus. Harga tiket 2 riyal untuk 1 tiket ke Tan’im. Bus baru Berangkat kalau bus sunah penuh, termasuk yang berdiri. Perlu diperhatikan, pintu bus yang dibuka hanya pintu depan. Penumpang naik dengan menyerahkan tiket ke sopir. Karena Cuma ada satu pintu, harap hati hati dan sabar karena banyak yagn berebutan naik. Jika rombongan dan haru terpisah di beberapa bus, jangan khawatir, karena semua akan diturunkan di Masjid Aisyah di Tan’im. Sesaimpainya di Masjid Aisyah, silakan ke toilet dan ambil wudhu. Selesai ambil miqot cari bus ke Haram. Lokasi berbeda dengan saat bus turun. Lokasinya berseberangan ketika turun (di belakang Masjid). Beli tiket di petugas, atau ada pilihan lain kalau nggak mau rebutan bus pakai taksi. Taksi minibus secara sekilas mereka menawarkan 50 riyal untuk kira kira 10 orang. Bus ke Haram berhenti dan penumpang diturunkan di dekeat Gran Zamzam Tower (sisi selatan Masjidil Haram). Dari segi waktu, ibadah ini memakan waktu sekitar 4-5 jam, berangkat dari hotel jam 7 pagi hingga selesai sekitar jam 12 siang. (Diadopsi dari tulisan WhatsApp Pak Wahyu)

Tanggal 4 September, beberapa hari sebelum Armina, karena kondisi mulai padat, ada pengalaman unik terkait transportasi. Subuh-subuh sudah siap menuju ke Masjidil Haram, ternyata bus yang ditunggu tunggu tidak kunjung datang. Saya, isteri, dan Mas Gono berburu taksi menuju Masjid. Tanpa menawar saya menyanggupi tawaran supir harga 20 riyal. Dalam perjalanan menuju Masjid, ternyata jalan mobil akses menuju ke Masjid telah ditutup semua, jadi kami cuma berputar putar sekitar Masjid, ada satu jalan yang dibuka tapi macet sekali yang menurut perkiraan supir perlu waktu sekitar 1 jam menuju Masjid. Akhirnya kami memutar kembali ke daerah hotel, untuk solat di masjid dekat Bin Dawood. Jadi untuk ke depan, jika mau solat ke Masjidil Haram, harus sudah mulai naik bus 1,5 jam sebelum waktu sholat.

24

Kami juga berkesempatan untuk mendengarkan ceramah promotif dan preventif kesehatan dari Kementerian Kesehatan. Beberapa hal yang diingatkan adalah terkait menjaga kondisi kesehatan terutama mengukur kekuatan diri sendiri, dan berperilaku hidup sehat. Sebagai contoh, umroh wajib yang dipaksakan langsung setelah sampai di Makkah, sehingga karena kelelahan sesak nafas ketika thawaf. Ada juga, hari kedua, langsung ingin umroh sunat, sehingga karena waktu yang masih ramai, terjadi kecelakaan. Terkait warna gelang Kesehatan juga diingatkan, untuk yang warna diharapkan untuk control dalam seminggu. Beberapa hal yang harus disiapkan ketka Armina adalah obat-obatan, perlengkapan pakaian, minum oralit, semprot. Sektor 5 merupakan tempat yang paling dekat dengan Jamarot, sedangkan posisi di Mina berada di Mina Jadid, di perbatasan musdalifah. Jarak dari Mina Jadid ke Jamarot sekitar 7 km. Oleh karena itu, setiap orang harus mengukur kemampuan masing-masing untuk jalan sejauh ini, terkait sifatnya yang wajib , bukan rukun sehingga bisa diwakilkan jika merasa tidak mampu. Dari hasil rapat daker dan sector, tidak dilarang untuk kembali ke hotel, tapi juga tidak mewajibkan untuk kembali ke Mina Jadid. Namun terkait makanan, pemerintah tidak memberikan ke hotel.

25

Kesepakatan pelemparan Jamarot, berdasarkan rapat Daker dan sector, yang telah disepakati oleh Kementerian Agama Indonesia dan Arab Saudi. Tahun ini ada jalur-jalur baru, sehingga pengalaman KBIH tidak bisa menjadi sandaran. Oleh karena itu besar harapannya untuk terkoordinasi dalam kloter. Beberapa keputusan untuk SOC 25:

  • Memutuskan untuk kembali ke tenda. Karena, malam sekitar jam 11 baru mulai melempar. Lalu esok harinya jika kembali ke hotel, sebelum matahari terbenam (Maghrib) harus kembali ke Mina disekitar jamarot. Namun masalahnya jumlah jamaah sangat banyak, di jamarot bersamaan dengan orang yang masih melempar jamarot, akhirnya ditakutkan akan terpisah karena berada di area terbuka. Terkiat jadwal, dalam jumlah yang besar, ketika kembali ke sana, ditakutkan bertabrakan dengan yang lainnya.
  • Terkati bagasi, penimbangan langsung ditimbang oleh pihak maskapai (Garuda/ Saudia) dengan beban maksimal 32 kg sebelum 48 jam sebelum peswat take-off (H-2 kepulangan). Pihak maskapai melarang untuk membawa barang berbahaya termasuk, benda tajam, bahan peledak, air zam-zam di koper. Yang dikhawatirkan, karena seringkali karena tidak ada SOP yang jelas, worst scenario nya bagasinya langsung ditinggal, atau seluruh kloter ditinggal semua.
  • Diupayakan tidak ada yang mauk ke rumah sakit Arab Saudi. Karena bisa terjadi ganti identitas di rumah sakit, ada jamaah yang wafat, dicari-cari tidak ketemu, terjadi identitasnya berubah.
  • Safari wukuf, kuotanya hanya 138 orang dari seluruh Jamaah Indonesia. Terdapat beberapa kriteria risiko tinggi
  • Lokasi Armina di Mina Jadid menuju Jamarot sekitar 7 km. Ada pemandu jalan dan berjalan di malam hari harapannya bisa tidak tersesat dan lebih menghembat energy.
  • Waktu melempar Jumroh, masih belum definitive, dan akan diatur di Mina terkait jam pasti keluar dari tenda. Namun ada waktu yang dilarang yakni:
    • Hari pertama melempar 10 Dzulhijah (12 September), waktu dilarang 6:00-10:30 (ba’da Duhur baru melempar)
    • Hari kedua melempar 11 Dzulhijah (13 September), waktu yang dilarang 14:00 – 18:00 (ba’da Maghrib baru melempar)
    • Hari ketiga melempar 12 Dzulhijah (14 September), waktu yang dilarang 10:30 – 14:00 (ba’da Ashar baru melempar)

Refleksi:

Ibadah di Makkah cukup menguras energy. Karena jauhnya lokasi, menyebabkan kita harus menyiapkan diri lebih awal, seringkali hanya subuh yang bisa ting tong, sisanya sayang kalau mau pulang. Masjid yang sangat besar sering membuat orang enggan untuk minum banyak karena takut harus kecing di luar masjid. Selain itu, semangat untuk tawaf sunat juga menguras energy seharian. Tidak salah memang ketika orang mengatakan, “mumpung”, “sudah bayar mahal”, dan lainnya, tapi menjaga Kesehatan di Makkah sebelum hari besar haji sangat dibutuhakan.

Hal lain yang saya masih kurang sreg adalah penataan tempat solat, thawaf, sa’i dimana laki dan perempuan bercampur, dan rebutan mengusap ka’bah / hajar aswad, dan solat di hijr ismail. Memang dari tahun ke tahun terjadi seperti itu, dan saya yakin mereka telah mencoba memperbaiki. Sekedar sumbang saran, siapa tau suatu saat ada pengambil kebijakan yang membaca. Andaikan thawaf utama di pelataran dapat menggunakan Manajemen waktu, jadi jam tertentu untuk laki-laki, dan jam tertentu untuk perempuan. Lokasi thawaf lainnya ditentukan untuk laki-laki, perempuan, dan kursi roda, sebagai contoh lantai 1 untuk perempuan, lantai 2 untuk kursi roda, dan lantai 3 untuk laki-laki sebagai contoh. Begitu pula dengan sa’i. Sedangkan untuk solat, rasanya akan mengikuti kegiatan thawaf dan sa’i yang teratur, ditambah dengan penentuan ruang ruang yang jelas seperti di gedung baru dimana tempat solat telah dikotak kotak, dan pasti bisa ditentukan untuk jenis kelamin tertentu. Nah, karena saking besarnya Masjid, seharusnya ada istilah meeting point dengan tanda yang sangat jelas, termasuk information centre.  Sehingga ketika pasangan terpisah, atau rombongan terpisah untuk ibadah, mereka bisa menentukan tempat meeting point, dan kalaupun tidak bertemu bisa dibantu oleh information centre.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22/09/2016 in Journal

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: