RSS

BERTANDANG KE RUMAH ALLOH: ANTARA INDONESIA DAN INGGRIS PART 3: Ibadah di Madinah

22 Sep

10.jpg

Solat Jumat merupakan pengalaman pertama kami Solat di Masjid Nabawi. Sejak pukul 10 pagi, kami sudah bergegas berangkat. Karena lebih dari jam tersebut, kemungkinan besar semakin sulit untuk mendapatkan tempat di dalam Masjid (biar lebih adem). Alhamdulillah, pihak masjid juga menyediakan kursi kecil untuk duduk karena punggung saya mulai nyeri ketika duduk di lantai berlama-lama. Terkait sandal, silakan saja bungkus dengan plastic, pihak masjid juga menyediakan, dan anda bisa menaruhnya di dalam masjid di rak-rak yagn telah disediakan. Saking lelahnya rasa kantuk tidak dapat tertahan selama menunggu hingga pukul 12.25 ketika Solat dimulai. Khutbah disampaikan menggunakan Bahasa Arab dan cukup sekitar 15 menit, dan solat pun menggunakan surat surat pendek sehingga tidak lama. Di dalam masjid juga disediakan air zam-zam menggunakan jirigen yang telah disiapkan, tersedia dalam air dingin dan tidak dingin sehingga jika haus bisa meminumnya.

11

Raudhah dan Ziarah makam Rasulullah swa. Untuk bisa ke tempat Raudhah, saya mencoba datang keesokan paginya ba’da Subuh. Pintu dibuka pukul 6.00 dan berebetuan masuk ke dalam masjid. Antri menuju tempat tersebut cukup lama dan berdesak desakan. Sistem antriannya di buat beberapa tahap, ketika itu 3 tahap. Karena cukup sesak, ketika mencoba solat dan berdoa menjadi cukup sulit. Ketika dirasa cukup, petugas akan mengusir kita keluar. Selama perjalanan keluar kita akan melewati makam Rasulullah SWA.

12.jpg

Di sekitar masjid juga terdapat Kuburan Baqi’, Alquran exibition, Nama Allah exhibition, Masjid Abu Bakar, Masjid Ghumama, Masji Ali bin Abi Talib, dan Masjid Umar bin Khatab. Tempat-tempat ini sangat bagus untuk kita sebagai umat muslim belajar mengenai sejarah Islam. Namun sangat disayangkan situs bersejarah seperti Masjid selain sekitar Masjid Nabawi tidak terawatt. Banyak coret-coretan di pagar masjid, dan cenderung rusak. Sedangkan di kuburan Baqi’, awalnya saya sangat berharap kita bisa belajar mengenai silsilah nabi dan melihat kuburannya beserta sahabat. Namun ternyata di kuburan tersebut tidak ada tanda atau informasi mengenai siapa yang dikubur, meskipun ada tiga kuburan yang di istimewakan, terpisah dengan kuburan yang lain. Setelah diskusi dengan teman, ternyata Pemerintah Saudi sangat concern dengan syirik, sehingga banyak situs bersejarah yang dibongkar. Plang peringatan tentang syirik di kuburan pun ada yang menggunkan Bahasa Indonesia, mengisyaratkan bahwa banyak rakyat Indonesia yang dianggap melakukan kegiatan syirik di tempat ini. Di sisi lain, menurut saya kebijakn ini sangat disayangkan karena menurut saya pribadi, situs situs berserajah apalagi hal yang terkait langsung dengan Rasul seharusnya dipelihara tidak hanya sebagai bukti sejarah, namun juga untuk pengembangan ilmu Pengetahuan. Saya menjadi tidak heran, kenapa benda-benda berserajah terkait islam seperti Quran di zaman Rasul malah berada di Birmingham, alat-alat perang Islam berada di Museum Inggris, dan bahkan yang saya takutkan ketika semua itu sudah digusur, bisa -bisa kita hanya bisa semua itu dianggap sebagai dongeng (Lebay).

13.jpg

Dalam perjalanan di Madinah, kita diberikan kesempatan untuk berziarah. Beberapa tempat yang kami kunjungi adalah Uhud, Kebun kurma, Masjid Quba, Masjid Qiblatain, dan 6 Masjid lainnya (tapi cuma lewat). Supir yang baik akan memberitahu dimana membeli kurma yang murah, dan mahal. Di hari yang lain, kami pergi mengunjungi jabal magnet, yang sebenarnya menurut informasi dari pengantar bahwa ini sebenarnya gaya gravitasi. Searching dari internet, sebenarnya merupakan ilusi mata, jadi sebenarnya kita berjalan dari atas ke bawah. Sebenarnya kita juga direncanakan untuk melihat percetakan Al-Quran, tapi hanya lewat karena ramai, dan mulai sekarang tidak dibagikan lagi secara gratis.

14.jpg

Di Masjid Nabawi terdapat pos pos kecil. Jangan lewatkan kesempatan ini untuk datang dan mendapatkan beragai informasi yang bermanfaat. Silakan anda datang kepada petugasnya, dan katakaan “Indonesia please”. Nanti dikasih buku, atau informasi dengan terjemahan Bahasa Indonesia. Saya mendapatkan kumpulan doa dalam Al-quran dan hadis oleh Said bin Ali bin Wahf Al-Qoththoni, Ringkasan tata-cara umroh, Menjaga Tauhid, Kaifiyat shalat mayit, dan petunjuk jamaah haji dan umrah serta peziarah masjid Rasul SAW oleh badan penerangan haji. Terkadang mereka juga membagikan gift, berisi air zam-zam, kurma, jus.

15.jpg

Anyway, Kalau kangen makanan Indonesia, di beberapa hotel menyediakan makanan Indonesia dari bakso, nasi goring, dll bervariasi antara 8 sampai 13 riyal per porsi. Sedangkan untuk oleh-oleh, saya tidak banyak belanja di sini, saya hanya belanja sajadah buatan Madinah. Kebetulan ada sajadah khas Raudhah, dengan harga 120 riyal satu pasang warna merah dan hijau. Setelah 8 hari di Madinah, kami bersiap siap untuk pergi ke Makkah. Nantikan Part 4

 

Refleksi:

Saya merefleksikan untuk diri saya pribadi, membayangkan betapa indahnya jika umat muslim dapat tertib, disiplin, dan bisa teratur. Memang tidak bisa dibandingkan secara langsung, tapi saya melihat Disney Land, dengan orang yang begitu banyak datang yang juga berasal dari berbagai kultur dan negara, juga bisa teratur masuk dalam wahana wahana yang tersedia, atau budaya Jepang dalam mengantri masuk kereta api meski dalam kondisi yang begitu padat. Semoga ke depan, pihak Manajemen Masjid Nabawi bisa dapat membuat regulasi yang lebih nyaman untuk beribadah. Sebagai contoh pengumuman pukul berapa dan penentuan pintu untuk dapat ziarah ke Makam Rasul, dan solat di Raudhah. Kemudian membuat antrian awal, dengan jumlah yang telah ditentukan sehingga tidak terjadi kelebihan orang di tempat solat. Disiapkan timer, sehingga setiap orang bisa memprediksi waktu Ibadah maupun antri.

16.jpg

Refleksi di Masjid yang agung dan mewah ini, saya agak sedih ketika melihat pengemis atau pasukan hijau yang mengharapkan sedekah dari para pengunjung Masjid. Kenapa harus ada peminta-minta di dalam masjid juga dengan berbagai alasannya, pedagang illegal di daerah yang makmur dan maju seperti ini. Jutaan orang datang mengeluarkan uang yang menurut saya tidak sedikit untuk datang ke tempat ini, membelanjakan uangnya, dan pemerintah yang begitu kaya. Apakah ini masalah tata kelola pemerintah? Masalah mental yang memiskinkan diri? Masalah penegakan hukum? Atau masalah umat yang masih jauh dari kepedulian terhadap sesama? Saya tidak membenci mereka, namun membenci kondisi ini.

Refleksi ziarah ke Jabal magnet membuat saya juga menyadari bahwa pengambilan keputusan tidak bisa hanya bisa disandarkan hanya pada satu indera, yakni mata. Pandangan dapat merupakan sebuah ilusi, kita harus lebih kritis dalam melihat sesuatu, dan melihatnya dari berbagai perspektif. Karena seringkali kita mengambil keputusan hanya pada satu perspektif keyakinan tanpa memperdulikan pertimbangan lain, dan kadang menuduh perspektif lain sebagai kesesatan, meski belum tentu benar.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22/09/2016 in Journal

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: