RSS

BERTANDANG KE RUMAH ALLOH: ANTARA INDONESIA DAN INGGRIS PART 2: Keberangkatan menuju Madinah

22 Sep

4.jpg

Pada tanggal 17 Agustus 2016, 12:00 kami semua berkumpul di Masjid Agung Sleman. Jangan lupa menempelkan stiker di mobil, dan membuka jendela untuk memastikan adanya Jamaah haji dalam mobil sehingga bisa diantar hingga depan Masjid.  Kami kira telah disiapkan tempat parkir mobil, namun ternyata cuma drop off. Sehingga kami turun di jalan depan Masjid, sedangkan orangtua saya mencari parkiran di sekitaran (Telkom).

5.jpg

Acara di Masjid dimulai dengan solat duhur dan ashar berjamaah. Kemudian pukul satu, acara pelepasan oleh Bupati Sleman, dan menuju di bus sesuai rombongan. Kami berangkat dari Sleman menuju Donohudan cukup cepat sekitar 1.5 jam dikawal oleh polisi. Meskipun dalam hati merasa kenapa seorang yang berangkat haji harus dikhususkan seperti ini? Padahal kami tidak dalam keadaan emergency. Bahkan sempat terdapat informasi bahwa bus di belakang ada yang mengalami insiden kecelakaan karena saking terburu burunya.

6.jpg

Sesampainya di Embarkasi Solo, kami disambut oleh petugas pendamping ibadah haji. Dilakukan pemeriksaan Kesehatan oleh Kementerian Kesehatan dengan menunjukkan buku Kesehatan haji (pastikan jangan tertinggal karena ada kloter sebelumnya yang tertinggal bukunya). Vaksin dari Inggris sempat ditanyakan berkali kali, karena ternyata vaksin tersebut tidak beredar di Indonesia karena tidak termasuk yang dianggap halal oleh MUI, namun digunakan di Eropa dan Timur Tengah. Konsultasi oleh dokter terkait riwayat penyakit, dan pemeriksaan kehamilan untuk wanita usia subur. Jika terdapat penyakit yang memerlukan perhatian dari pihak tim Kesehatan, jamaah akan diberikan gelang berwarna kuning (memiliki penyakit di bawah 60 tahun), merah (memiliki penyakit di atas 60 tahun), hijau (Tidak memiliki penyakit di atas 60 tahun) beserta diagnosis ICD X nya tertera. Setiap orang mendapatkan paket Kesehatan yang terdiri dari masker, botol minuman yang bisa dijadikan spray, oralit, cream menthol. Jadi nyesel kemarin beli masker dan spray yang cukup mahal menurut saya di toko.

Kami masuk ke kamar yang terdiri dari 10 orang dengan 2 kamar mandi di dalamnya. Selama di embarkasi, kebutuhan makan dan minum sangat tercukupi. Sebagai peunjang, di sekitaran selasar penginapan terdapat lapak lapak yang menjual kebutuhan haji, termasuk SIM card untuk berhaji, penukaran uang riyal, hp, perbaikan tas haji, oleh oleh haji. Di malam harinya melalui ketua regu, dibagi gelang haji, dan peta Madinah dan Makkah. Lalu keesokan pagi harinya, dibagikan passport, uang living cost sebesar 1500 riyal, dan pengembalian uang pembuatan passport sebesar 366 ribu rupiah. Di dalam passport, terdapat stiker yang harus ditempelkan di tas paspor untuk menunjukkan nomor tempat duduk di pesawat dan nomor bus. Juga, terdapat kartu pengganti identitas termasuk passport dan KTP.

7.jpg

Siang hari, kami bersiap-siap menuju bandara embarkasi. Kami diingatkan kembali terkait barang-barang yang bisa terdeteksi ketika melalui pemeriksaan deteksi logam, seperti jam tangan, hp, sabuk, dll sehingga bisa dimasukkan ke dalam tas dahulu untuk mempercepat proses pemeriksaan. Karena banyaknya barang bawaan, Garuda sangat tegas untuk melarang membawa tas tambahan selain tas dari Garuda, sehingga sebisa mungkin dimasukkan ke dalam tas tentengan yang sudah dibagikan. Di dalam ruang check in, kami disambut oleh DPRD DIY, untuk pelepasan terakhir. Naik bus menuju ke pesawat, dimulai dari rombongan delapan terlebih dahulu, yang duduk di kursi belakang, dan di akhiri rombongan satu. Nomor tempat duduk pesawat tidak menggunakan nomor selayaknya nomor pesawat contoh 21 A, tapi nomor urut 1 hingga 300. Nomor Ini bisa dilihat di pegangan kursi pesawat.

Perjalanan pesawat dari Solo menuju Padang terlebih dahulu untuk mengisi bensin. Setelah menunggu sekitar hamper satu jam, kami berangkat menuju Madinah. Selama di perjalanan, kami mendapatkan snack di awal keberangkatan, dan dua kali makan malam. Menu yang dihidangkan pun khas Indonesia, seperti dodol, the kotak, dll. Sayangnya pelayanan Garuda kali ini cukup mengecewakan, tidak seperti Garuda yang saya kenal. Beberapa hal yang harus lebih ditingkatkan adalah pramugari yang kurang senyum, bahkan sempat saya dengar tidak ramah dalam memberitahu. Informasi terkait ketersediaan toilet juga tidak diberitahu, sehingga banyak orang mengantri hanya di beberapa tempat sehingga menyebabkan antrian yang cukup panjang. Saya sangat berharap ke depan, Garuda bisa dapat lebih ramah dan professional menghadapi situasi seperti ini.

8

Sesampainya di Madinah pukul 1 dini hari, kami diperiksa oleh pihak imigrasi, cap 4 jari kanan, 4 jari kiri, dan kedua jempol. Setelah itu, passport diserahkan kepada kembali kepada petugas untuk diberi stiker biru (saya juga kurang mengerti ini untuk apa). Lalu kita langsung menuju bus. Karena jumlah peserta dalam satu kloter yang cukup banyak, maka cukup lama, hingga akhirnya setelah Subuhan di Masjid Airport, kami baru siap berangkat. Pasport diserahkan sebagai pegangan jumlah kamar. Perjalanan dari Airport menuju Hotel Jauharat Rashidin di sector III tidak memakan waktu lama, tapi proses ketika di hotel untuk mendapatkan kamar yang cukup lama. Hal ini dikarenakan koper kita dari bus tidak ditata dengan rapi di dalam hotel, melainkan dilempar menggunung. Sehingga menyulitkan kami mencari koper. Keterbatasan ruang lift juga membuat lama dalam antrian untuk mengangkat. Sempat sekali naik lewat tangga hingga lantai tujuh, cukup melelahkan. Ketua rombongan sempat pusing tujuh keliling ketika proses pembagian kamar. Ada baiknya, ke depan, pembagian kamar yang berdekatan diserahkan kepada Kepala regu, karena sebagian besar kami adalah pasangan suami istri, sehingga butuh berdekatan untuk komunikasi, dan sudah lebih akrab dengan regunya masing-masing.

9.jpg

Refleksi:

Ibadah haji memang penting, jamaah juga perlu dijaga keselamatannya. Tapi bukan berarti kami prioritas dibanding dengan pengguna jalan yang lain. Seharusnya kita sebagai jamaah lebih merasa merendah demi kepentingan umat yang lebih besar. Namun di sisi lain, ketika di pesawat, saya merasa sebaliknya, pekerjaan harus tetap dilaksanakan secara professional siapapun pelanggan di depan anda.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22/09/2016 in Journal

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: