RSS

Elastisitas harga e-cigarette di Amerika.

27 Jul

Oleh: John Buckell

Sejak lama,dari  tahun 1604 sudah ada pertentangan terhadap rokok, termasuk yang paling terbaru di tahun 2016 penentangan terhadap e-cigarattes. Hal ini menjadi penting dalam kebijakan kesehatan karena terjadi peningkatan penggunaan. Meskipun e-cigarette jelas merugikan, namun masih terdapat kontroversi bukti apakah lebih harmful atau less harmful disbanding dengan rokok konvensional. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa price elasticity e-cigarettes -1.8, yang berarti cenderung elastis. Tapi yang menjadi pertanyaan berikutnya, apakah ada perbedaan elastisitas terhadap: 1) Jenis e-cigarate (disposable e-cigarette, recharagble e-cigarette, combustible cigarate); 2) Jenis perokok; 3) Demografi (umur, jenis kelamin, dll); Tingkat pendapatan.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan elastisitas e-cigarette inelastic, dengan rincian -0.06 hingga -.0.09 untuk disposable e- cigarette, dan -.0.8 hingga -0.11 untuk reusable e- cigarette. Perokok konvensional (smokers) dan perkok e-cigarette (vapers) memiliki preferences terahadap jenis e-cigarette yakni disposable atau reusable. Tapi untuk perkok yang menggunakan keduanya (dual users), mereka tidak masalah terhadap jenis e-cigarettes.  Dilihat dari karakteristik demografi, smokers dan vapers cenderung bukan Afrika Amerika, pendidikan yang rendah, perokok berat, dan membayar mahal untuk rokok. Sedangkan vapers cenderung anak muda, buakn Afrika Amerika. Etnis Afrika Amerika cenderung lebih elastis terhadap harga rokok. Sedangkan dilihat dari perbedaan pendapatan, ternyata dengan pendapatan yang rendah tidak terlihat dampak yang signifikan dengan kenaikan harga, kecuali untuk dual users.

Dari hasil penelitian di atas, kebijakan terkait kenaikan harga rokok sepertinya tidak akan memberikan dampak yang signifikan terhadap konsumsi rokok. Mereka akan membayar berapapun harganya. Hanya dual users yang memberikan respon terhadap kenaikan Pajak rokok. Oleh karena itu diperlukan kebijakan alternative untuk menghentikan rokok, seperti pengemasan yang polos atau memberikan peringatan bergambar, penurunan tingkat nikotin, perluasan tempat pelarangan rokok, pelarangan rokok dengan rasa tertentu atau mengancurkan rokok dengan rasa tertentu seperti permen sehingga orang dapat beralih ke permen daripada rokok, dan melihat bagaimana respon perkok terhadap berbagai jenis sumber informasi untuk berhenti merokok.

Untuk penelitian berikutnya: bagaimana dengan elastisitas produk lainnya yang sejenis? Seperti cerutu, shisha, snus, dll?

 

 
 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: