RSS

Berlebih-lebihan dalam Islam: bagaimana Teori Ekonomi menginterpretasikannya?

17 Feb

Oleh: Firdaus Hafidz

Dipaparkan pada pengajian ba’da Jumat 12 Februari 2016, Leeds Grand Mosque

Seorang pengajar menyetir pernah bertanya kepada saya, “bagaimana penelitianmu terkait dengan Islam?” lalu dengan lugunya saya pun hanya bisa menjawab, “referensi kami selama ini masih merujuk kepada jurnal-jurnal atau teori pemikir barat”, tapi memang begitu kenyataannya. Oleh karena itu, saya menjadi tergelitik bagaimana penelitian yang saya lakukan saat ini terkait efsiensi dalam Islam.

Untuk memulai tulisan ini saya melakukan pencarian informasi terkait kata Tabzir (foya-foya), dan berlebihan dengan menggunakan Program Indeks Tafsir atau Terjemah Al-Quran[1]. Lalu kemudian membaca dan menginklusi ayat dari terjemahan tafsir Ibnu Katsir[2] yang terkait langsung dengan berlebihan-lebihan dalam kaitannya dengan ekonomi, bukan sikap, atau perilaku.

Saya temukan terdapat 6 ayat Al-Quran yang berhubungan langsung dengan hal tersebut yakni:

  1. 6 (Al An ‘Aam):141, terkait berlebih-lebihan dalam makan, dan tunaikanlah zakat
  2. 7 (Al A’ Raaf):31, memakai pakaian yang indah ketika memasuki masjid, dan tidak makan dan minum secara berlebihan
  3. 17 (Al Israa’) :26, jangan menghamburkan harta secara boros, dan Allah Ta’ala melarang berlebih-lebihan dalam berinfak, dan menyuruh melakukannya secara seimbang, atau menginfakkan harta untuk jalan maksiat atau kerusakan.
  4. 17 (Al Israa’):27, para pemboros adalah saudara syaitan
  5. 17 (Al Israa’):29, jangan kikir, namun juga jangan memberi di luar kemampuan, sehingga lebih banyak pengeluaran dari pemasukan.
  6. 25 (Al Furqaan) :67, tidak membelanjakan harta secara berlebihan, namun juga tidak kikir atau berada di tengah-tengah.

Kutipan lengkapnya terdapat pada lampiran

Dalam perspektif ilmu ekonomi yang menjadi pertanyaan, sejauh mana dianggap berlebihan? Boros? Kikir? Seimbang?. Melirik definisi efisiensi yang merupakan kemampuan meminimalkan pemborosan dalam penggunaan sumberdaya (input) yang tersedia untuk menghasilkan sebuah produk (output) [3] [4]

JIka kita lihat dari ayat-ayat Al-Quran tersebut di atas, sebagai contoh Qs.6 (Al An ‘Aam):141, dan Qs.7 (Al A’ Raaf):31, makan, minum, dan berpakaian adalah input. Sedangkan beribadah termasuk menunaikan zakat, dan memasuki masjid adalah output. Dalam grafik dengan menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas bisa digambarkan dalam Figure 1. Garis O-V merupakan garis maksimal (frontier) ketika seseorang menggunakan input dan output yang dihasilkan. Sehingga titik Y yang berada di bawah garis O-V dianggap tidak efisien, karena menggunakan input yang setara dengan output di titik X. Namun juga tidak sesederhana itu, orang-orang yang sudah berada di titik O-V pun bisa dibagi menjadi 3, yakni masih berada di antara O-X (increasing return to scale), dii titik X (constant return to scale/ optimal), atau berada di antara X-V (decreasing return to scale).  Sebagai ilustrasi, jika seseorang makan, minum (input) harapannya seseorang memiliki energy untuk bekerja lebih giat, sehat, dan lebih produktif sehingga meningkatkan penghasilan dan bisa lebih giat beribadah termasuk menunaikan zakat (output). Nah di titik Y, seseorang mengkonsumsi sebanyak A, tapi zakatnya cuma B, yang seharusnya bisa C. Tapi di dua sisi yang lain, seseorang yang masih mengkonsumsi di bawah A, sebenarnya memiliki potensi untuk terus mengkonsumsi makan agar dapat beribadah lebih baik. Nah, orang-orang yang sudah berada di atas garis A, merupakan orang yang semakin banyak mengkonsumsi tidak memberikan dampak kenaikan yang setara dengan konsumsinya. Saya pribadi menganggap, dalam kondisi ini berarti sudah kategori boros, karena sebagai contoh orang yang sudah bisa ke masjid dengan pakaian indah di titik X, tapi kemudian di tambah lagi pakai perhiasan berlebihan.

 

figure 1 input output

Figure 1 Efisiensi: input dan output

Okay, kita beralih ke Qs.17 (Al Israa’) :26, 29, dan Qs.25 (Al Furqaan) :67. Bagaimana teori ekonomi melihat keseimbangan, tengah? Sekali lagi saya akan menggambarkannya dalam sebuah grafik yang disebut isoquant  (Figure 2) , yakni grafik yang memilik satu input yang sama (Misal: pendapatan 2.5 juta rupiah) dan dua output (Misal: infak dengan unit kalori fakir miskin, dan belanja keluarga dengan unit kalori keluarga). Sekali lagi, sekarang kita berasumsi bahwa input adalah pendapatan bukan makan, dan minum seperti contoh pertama. Garis   dibentuk dari titik-titik orang yang memaksimalkan pengeluarannya, baik ekstrim, uang 2.5 juta rupiah hanya  untuk mengeluarkan hanya untuk kebutuhan keluarga di  tanpa sisa, dan ekstrim hanya untuk infak sebagai contoh di  . Sehingga orang yang jelas berada di posisi A, merupakan orang yang membuang-buang uangnya karena dengan pendapatan 2.5 juta yang dimiliki dia tidak bisa mencapai yang seharusnya di titik B atau titik C. Nah sekarang yang menjadi pertanyaan lebih lanjut, kita harus berada di titik mana dalam memaksimalkan output (maximand)? Hal ini tergantung dari tujuan. Bagaimana dengan titik B? titik B merupakan pandangan yang bertujuan untuk mendistribusikan output secara sama (equal), di tengah, antara pengeluaran keluarga dan infaq, sehingga diambil dari garis 45°. Sedangkan titik C bertujuan untuk mencari output terbanyak dalam hal ini kalori dengan pendapatan yang dimiliki yakni titik pertemuan garis  (budget) dengan garis   . Yang terakhir titik D, bertujuan untuk mencapai social walfare yang berada di antara titik B dan C. Titik D melihat garis kurva demand (). Sehingga dalam titik ini memastikan bahwa alokasi pengeluaran sesuai dengan kebutuhan, sehingga tercapai titik keseimbangan.

figure 2

Figure 2 isoquant orientasi output

Kemungkinan besar kita masih bertanya tanya, bagaimana implementasi praktisnya untuk mengukur hal tersebut? Menurut saya, dalam kehidupan sehari-hari kita bisa melakukan pencatatan keuangan secara rutin dan rinci, sekecil apapun pengeluaran dan pemasukan kita. Memang hal ini butuh komitmen, jika sudah memiliki pasangan, bisa saling mengingatkan. Atau istri bisa sebagai leader dalam pencatatan ini. Nah dicobalah monitor setiap bulan, setiap tiga bulanan, setiap tahun. Apakah kita banyak membeli hal-hal yang tidak perlu atau berlebihan sehingga akhirnya terbuang? atau jika sudah tidak ada yang terbuang, dengan konsumsi kita yang  bertambah, apakah zakat, infak, sadaqah kita bertambah?

Sekarang, kembali kepada diri kita masing-masing, anda ingin berada di titik mana? Semoga kita dijauhkan dari titik yang jelas menghamburkan-hamburkan uang namun tidak bermanfaat, atau bahkan membelanjakan untuk maksiat kepada Allah. Karena pemboros merupakan salah satu saudara Syaitan.

Lampiran: Kutipan terjemahan Al-quran dan terjemahan tafsir Ibnu Katsir

Qs.6 (Al An ‘Aam):141 : Dan dialah yang menjadikan Kebun-kebun yang berjunjung dan yang tdak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan.

Mengenai firman-Nya ini, Ibnu Jarir memilih pendapat ‘Atha’ yang menyatakan, “Bahwa hal itu merupakan larangan berlebih-lebihan dalam segala sesuatu itu adalah benar, tetapi wallahu a’lam secara lahiriyah redaksi ayat yang berbunyi “Makanlah dari buahnya….” Menunjukkan kembali kepada masalah memakan(nya). Maksudnya, janganlah kalian berlebih-lebihan dalam makan karena dapat berbaya bagi pikiran dan tubuh. Sebagaimana halnya firman Allah, QS. Al-A’raaf: 31: makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan

Dalam Sahih al-Bukhari terdapat sabda Rasulullah sebagai penjelas:

“Makan, minum, dan berpakaianlah dengan tidak berlebih-lebihan dan sombong”

Qs.7 (Al A’ Raaf):31: Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan

Ayat ini merupkana bantahan atas tindakan orang-orang musyrik yang dengan sengaja mengerjakan thawaf di Baitullah dalam keadaan telanjang. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim, an-Nasa’I dan Ibnu Jarir. Maka Allah berfirman “ Pakaila pakainmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.

Demikian yang dikatakan oleh Mujahid, ‘Atha’, Ibrahim an-Nakha

Qs.17 (Surat Al Israa’) :26: Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan jangan kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros)

Setelah menyuruh mengeluarkan infak, Allah Ta’ala melarang berlebih-lebihan dalam berinfak, dan menyuruh melakukannya secara seimbang/ pertengahan.

Qs.17 (Al Israa’):27: Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya

Dengan (perintah untuk) menjauhi tindakan mubadzir dan berlebih-lebihan, Allah berfirman “QS 17:27”. Yakni, dalam hal itu, mereka menjadi orang yang serupa dengan syaitan. Ibnu Mas’ud mengatakan “Tabdzir ialah infak yang tidak pada tempatnya.” Demikian pula yang dikemukakan oleh Ibnu ‘Abbas.

Mujahid mengatakan: “Seandainya seseorang menginfakkan hartanya secara keseluruhan menurut haknya, maka ia tidak dikategorikan sebagai pemboros. Dan jika ia menginfakkan satu mud (satu genggam) tetapi tidak sesuai dengan haknya, maka ia termasuk sebagai pemboros.

Sedangkan Qatadah mengatakan: “Tabdzir ialah, menginfakkan harta dalam maksiat kepada Allah, dalam jalan yang tidak benar dan untuk kerusakan.”

Saudara syaitan, yakni saudara dalam keborosan, kebodohan, pengabaian terhadap ketaatan, dan kemaksiatan kepada Allah. Oleh karena itu, Dia berfirman “dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya”. Maksudnya, benar-benar ingkat, karena syaitan itu telah mengingkari nikmat Allah yang diberikan kepadanya dan sama sekali tidak mau berbuat taat kepada-Nya, bahkan ia cenderung durhaka kepada-Nya dan menyalahi-Nya.

Qs.17 (Al Israa’):29: Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelunggu dengan lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.

Allah berfirman seraya memerintahkan untuk berlaku sederhana dalam menjalani hidup, dan mencela sifat kikir sekaligus melarang bersikap berlebih-lebihan. “Dan janganlah.. pada lehermu”, maksudnya janganlah kamu kikir dan bakhil, tidak pernah memberikan sesuatu pun kepada seseorang. Sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang Yahudi –la’ natuallah ‘alaihim-: “Tangan Allah itu terbelenggu.” Yang mereka maksudkan dengan kalimat itu adalah bahwa Allah itu kikir. Mahatinggi Allah dan Mahasuci serta Mahapemurah lagi Mahadermawan.

“dan jangalah.. terlalu mengulurkannya”, maksudnya, janganlah kamu berlebihan dalam berinfak, di mana kamu memberi di luar kemampuanmu dan mengeluarkan pengeluaran yang lebih banyak daripda pemasukan. Karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. Artinya, jika kamu kikir, niscaya kamu akan menjadi tercela yang senantiasa mendapat celaan dan hiaan dari orang-orang serta tidak akan dihargai dan mereka tidak memerlukanmu lagi. Sebagaimana yang dikatakan oleh Zuhair bin Abi Salma, dalam mu’alaqatnya: Barangsiapa yang mempunyai banyak harta lalu ia kikir dengan kekayaannya itu, niscaya ia akan diabaikan kamumnya, dan mendapat hinaan.

Bila kamu mengulurkan tanganmu di luar kemampuanmu, mka kamu akan hidup tanpa sesuatu apapun yang dapat kamu nafkahkan, sehingga kamu menjadi seperti hasir, yaitu binatang yang sudah tidak mampu berjalan, yang berhenti, lemah dan tiada daya. Demikianlah yang dinamakan hasil. Ayat di atas ditafsirkan oleh Ibnu ‘Abbas, al-Hassan, Qatadah, Ibnu Juraij, Ibnu Zaid, dan lain-lain, bahwa yang dimaksudkan di sini adalah sifat kikir dan sifat berlebih-lebihan.

Dan dalam kitab ash-Shahihain diriwayatkan dari Asma’ binti Abi Bakar, ia bercerita, Rasulullah bersabda: “berinfaklah kamu begini, begini, dan begini, dan janganlah kamu kikir sehingga Allah pun akan kikir kepadamu, serta janganalah pula kamu enggan memberi orang sehingga Dia pun akan menahan pemberian kepadamu.”

Dalam lafazh yang lain disebutkan:” Dan janganlah kamu menghitung-hitung (pemberian) sehingga Allah pun akan menghitung-hitung (pemberian) kepadamu”.

Dan dalam kita Shahih Muslim disebutkan, dari Abu Hurairah, ia bercerita, Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Allah pernah berkata kepadaku, ‘berinfaklah, maka aku akan memberi infak kepadamu” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Qs.25 (Al Furqaan) :67: dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

Yakni, mereka tidak terlalu boros dalam mengeluarkan infaq, mereka mengaturnya sesuai dengan kebutuhan, tidak membiarkan keluarga mereka menurunkan hak-hak keluarga mereka, mereka berlaku adil dan baik. Dan sebaik-baik perkara adalah pertengahan, tidak boros/ lebih dan tidak kikir/ kurang. “Dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian” sebagaimana firman-Nya: Al-Israa’:29). Al-Hasan al-Bashri berkata: “tidak ada istilah berlebihan dalam berinfaq di jalan Allah. “Iyas bin Mu’awiyah berkata: “Apa yang dibolehkan dalam (melaksanakan) perintah Allah Ta’la adalah berlebihan (dalam infaq).” Selainnya berkata: “Istilah berlebih-lebihan dalam membelanjakan harta hanya untuk maksiat kepada Allah”.

[1] http://www.tafsirqu.com/2015/06/program-indeks-tafsir-al-quran-lengkap.html

[2] http://www.tafsirqu.com/2015/06/pdf-ebook-tafsir-ibnu-katsir-tafsir.html

[3] Jacobs, R. et al. Measuring efficiency in health care: analytic techniques and health policy. New York: Cambridge University Press, 2006.

[4] Mas-Colell, A. et al. Microeconomic Theory. New York: Oxford University Press, 1995.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17/02/2016 in 1, Efisiensi, Pemikiran

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: