RSS

Buat apa survey lama dan mahal tapi tanpa action

03 Nov

Tulisan ini saya buat berdasarkan kuliah singkat oleh Siddarth Agarwal, direktur Urban health resoruce centre, India, dengan judul: Qualitative adaptation of urban HEART (health equity and response) assessments across slums/ vulnerable neighbourhoods, bring knowledge and wisdom of slum women’s groups to the fore and prioritize the actions/ response components

Seringkali pemerintah, donor melakukan survei besar dengan alasan agar dapat merepresentasikan kondisi sebuah wilayah. Memang benar juga, tapi pada kenyataannya, waktu persiapan, pengambilan data, dan analisis memakan waktu yang lama. Menurut pengalaman saya yang lalu lalu, minimal sebuah survei menghabiskan waktu sekitar setahun paling sedikit untuk akhirnya dihasilkan sebuah laporan. Lalu kemudian ketika dipresentasikan kepada pengambil kebijakan, sepertinya mereka sudah merasa tidak hangat lagi akan isu tersebut, atau sudah ada perubahan kebijakan, dll. Alhasil action yang dilakukan rasanya tidak maksimal.

Oleh karena itu, di India dilakukan ujicoba untuk mengukur indikator kesehatan melalui alat yang simple, bersifat kualitatif, dan tidak perlu survei. Bagaimana caranya? menggunakan persepsi dari perwakilan warga. Berikut tahapannya:

  1. Tim konsultan mengadopsi indikator kesehatan dari WHO (HEART) dam membuatnya menjadi pertanyaan dan indikator yang simple
  2. Tim konsultan membentuk tim penilai yang terdiri dari wanita kader desa
  3. Lalu masing-masign tim mendiskusikan dan membeirkan penilaian secara kualitatif, yakni dengan cukup memberikan warga merah (buruk), kuning (sedang), hijau (baik). Sebagai contoh indikatornya adalah ketersediaan toilet di desa tersebut.
  4. Langkah berikutnya adalah, review dan validation dengan melakukan triangulasi. Dari masing-masing perwakilan di desa tersebut ke tingkat yang lebih atas (kecamatan) untuk melakukan review terhadap masing-masign desa nya, dan saling cross check.
  5. Mendiskusikan respon dan action yang perlu dilakukan terhadap problem yang dihadapi.

Dengan kegiatan ini, satu siklus assessment cukup memakan waktu hanya 1.5 bulan. Sehingga action bisa langsung dilakukan sebagai contoh petisi, atau kampanye.

Kegiatan ini tentu saja menurut saya memiliki limitasi, sebagai contoh:

  1. Memang yang dipertanyakan adalah, bagaimana sustainabilitas dari program ini jika tidak diadopsi oleh pemerintah setempat sebgai alat monitoring dan evaluasi?
  2. Karena kader desa yang memiliki pendidikan terbatas di daerah daerah tertentu, masih diperlukan pendampingan terutama untuk memahami indikator kesehtan yang kadang cukup rumit dipahami, dan pengambilan action yang do able.
  3. Karena hanya ibu ibu yang menjadi penilai, saya pribadi merasa ketika penilaian terhadap laki-laki cendrung menjadi buruk. Sebagai contoh: apakah masih banyak laki laki yang pemabuk, judi, dan tidak bekerja.

Semoga metode ini bisa dijadikan sebagai alternatif untuk kegiatan monitoring dan evaluasi sebuah kegiatan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 03/11/2015 in Kuliah

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: