RSS

Pengalaman melahirkan di Leeds, Inggris

29 Okt

AoXoZ4slu_0PkCshha8oj-0wVLZOEj_hKb_uhAZvyWKL Aor5ZuT94pe71OrgKvefLoxfrzIajepCvzeRK-74o4g7 Au1d1pJACGpGu6bDzKmgmZg5FHlVfV73oaLMwCZwtSeT ArMtO3nqLNIS4t9rOMI4HXGQtg7yxVY28oaTnd3C4dzM

Oleh: Maudi Fria Andhini

Untuk memori Zhafran Asyraf Firdaus..semoga menjadi seorang yg berjaya semasa hidupnya dan mendapat kemuliaan di surgaNya

Setengah tahun berlalu sejak aku melahirkan Zhafran di Leeds, UK, dan kami masih di sini. Aku ingin berbagi pengalaman hamil dan melahirkan di salah satu negara maju di dunia ini. Aku, bersama suami dan kedua anakku, tiba di Leeds pertengahan September (tepatnya tanggal 16) 2014. Saat itu kami tahu aku sedang hamil, sudah tes sebelumnya, namun belum sempat periksa ke dokter obsgyn karena banyak yang musti diurus untuk meninggalkan Indonesia dan bersiap bertahun-tahun menetap di Inggris. Sebenarnya beberapa hari sebelum berangkat pernah mau periksa, sudah datang dan daftar ke klinik tapi karena ditunggu dokternya lama banget ngga dateng-dateng terus pulang dulu eh pas balik lagi malah dokternya dah pergi, dah selese periksa semua pasien. Payah dah, dan udah ngga ada waktu lagi. Akhirnya di Leeds kami mendaftarkan diri di sebuah klinik, ceritanya kan kami terjamin asuransi kesehatan gratis di sini, dan mendaftar untuk periksa kehamilan. Sistem layanan kesehatan dengan asuransi pemerintah di sini untuk pemeriksaan non emergency harus membuat janji, ndilalah jadwal bidannya di klinik itu baru ada yg kosong di bulan November, jadilah aku menunggu sebulan untuk diperiksa. Alhasil ketika si bidan heran dan bertanya kenapa baru saat itu periksa ya aku cuma mesem aja, lah aku kan ngikut aja kapan bisanya periksa. Selama kehamilan, calon ibu ditawari beberapa pemeriksaan darah yang tidak dilakukan di Indonesia, seperti pemeriksaan down syndrome janin. Tapi sayang, umur kehamilanku terlalu tua untuk dilakukan itu. Ada alternatif lain dengan amniocentesis, tapi aku tolak karena tidak mau ambil resiko untuk efek sampingnya. Bismillah, semoga janinku sehat walafiat mengingat aku juga tidak memiliki resiko melahirkan anak dengan down syndrome. Di sini aku tidak medapatkan suntik TT, melainkan vaksinasi influenza dan setelah umur kehamilan 28 minggu mendapatkan imunisasi pertusis dikarenakan insidensi di sini tinggi.

Ketika usia kehamilanku memasuki minggu ke duapuluh, aku diminta datang ke rumah sakit untuk di USG. Sebuah surat dari rumah sakit yang ditunjuk akan dikirim ke rumahku memberi tahu kapan aku harus ke rumah sakit. Jadi setelah pemeriksaan kehamilanku yang pertama, proses berikutnya akan otomatis terprogram dan aku hanya tinggal menunggu surat atau sms pengingat kapan aku harus memeriksakan diri berikutnya. Di rumah sakit, aku tidak menemui dokter obgyn melainkan sonografer lah yang melakukan pemeriksaan USGku, seorang mahasiswa praktek malahan. Yah aku ngga keberatan, pernah ngalamin juga kok. Karena sambil belajar, dia begitu cermat dan detail memantau janin dalam perutku hingga makan waktu hampir satu jam. Aku seneng-seneng aja liat anakku yang belum lahir itu, tapi karena untuk pemeriksaan ini aku harus minum banyak satu jam sebelumnya kandung kemihku ada batasnya juga bertahan. Dia aware akan itu dan mempersilakanku ke toilet, lalu dia menawarkan untuk memanggil suami dan anak-anakku yang menunggu di ruang tunggu untuk bergabung denganku dan melihat USGnya lagi, dengan waktu yang lebih singkat tentunya. Setelah itu, dia mengkonsultasikan hasil pemeriksaannya dengan sonografer supervisor. Alhamdulillah semua normal dan semoga tetap begitu hingga bayi ini dilahirkan. Sebenarnya di surat konfirmasi janji periksa USG itu tertera bahwa untuk mencetak gambar USG dikenakan biaya beberapa pound, tapi sonografer magang itu memberikanku gratis dengan alasan dia tak bisa mendapatkan pose yang bagus dari janinku. Dan karena tidak ditemukan kelainan padaku dan calon bayiku maka aku tak perlu dirujuk ke dokter obgyn, pemeriksaan rutin berikutnya cukup dengan bidan klinik saja tanpa ada pemeriksaan USG lagi.

Pengalaman yang tidak menyenangkan adalah saat aku menderita sakit gigi yang amat sangat mengganggu dan tidak mempan diobati parasetamol. Karena dengan sistem asuransi, kami harus mendaftar di klinik gigi terdekat dan pada kenyataannya daftar antrian begitu panjang sehingga kami harus menunggu selama dua tahun. Maka ketika aku sudah tidak tahan, suami menelpon layanan assesmen awal kondisi medis di sini, supaya dirujuk ke klinik yang memiliki jadwal kosong untuk bisa memeriksaku tanpa harus terdaftar di sana. Beruntung, pada sore itu juga ada klinik yang bisa dan dengan 45 menit jalan kaki ke sana aku diperiksa oleh dokter gigi. Yang bikin hati mencelos, hanya sekitar 10 menit aku di dalam ruang periksa. Karena setelah sebentar dokter memeriksa dan menginfokan aku terkena radang gusi akut akibat kehamilan, dia menyatakan aku harus membuat janji pembersihan karang gigi dan itu hanya bisa dilakukan jika aku terdaftar di klinik gigi (kalau mau gratis) atau membayar cukup mahal kalau mau segera. Akhirnya dia menyarankan aku rajin kumur dengan air bergaram dan minum parasetamol (tentu saja tidak kulakukan yang terakhir itu).

Pada kontrol antenatal bila hasil darahku normal, aku tidak diberi vitamin apa-apa tapi diminta memenuhi sendiri. Ketika hasil hemoglobinku di bawah normal, baru aku diberi resep untuk menebus suplemen besi di apotek. Prosedurnya cukup aneh, karena setelah pemeriksaan aku tidak langsung mendapat resep tapi diminta menunggu 2 hari dan datang kembali ke klinik untuk mengambil resep baru kemudia pergi ke apotek untuk menebusnya, gratis. Waktu 2 hari itu digunakan untuk korrdinasi antara bidan dengan dokter yang memiliki wewenang menulis resep. Malahan ada surat yang datang memberitahu bahwa resep siap diambil di klinik. Aku dan suami heran kenapa segala-segala pakai surat segala, apa ngga besar biayanya? Yah negara maju, kelebihan uang kali. Meski di sisi lain, heran juga pas ada pegawai kereta api berencana mogok kerja dan demo. Beberapa minggu sebelum perkiraan hari melahirkan, seorang health visitor dijadwalkan untuk datang ke rumah menemuiku dan memberi buku kesehatan ibu anak (semacam di Indonesia berwarna pink) yang disebut red book. Dia juga akan memberi informasi untukku mempersiapkan diri ketika muncul tanda-tanda akan melahirkan. Namun, sayangnya dia mengabarkan sakit dan berencana untuk menjadwalkan lain waktu, yang ternyata baru bisa setelah aku melahirkan. Tidak masalah sih, bukan hal yang urgen. Aku mendengar cerita teman-teman di sini yang pernah melahirkan ataupun yang hanya diceritakan juga, kisah-kisah yang kurang enak seperti ketika si ibu sudah merasakan kontraksi lalu ke rumah sakit tapi disuruh pulang lagi karena belum bukaan, atau ketika ke rumah sakit ternyata kamar penuh sehingga harus ke rumah sakit lain yang lumayan jauh dan dengan usaha transportasi sendiri. Hal-hal itu membuat suamiku merasa kawatir, yah kami berharap kami akan lebih beruntung. Salah seorang tetangga asal Malaysia juga melahirkan di sini, dengan teknik waterbirth. Awalnya aku berniat akan melahirkan biasa saja, tapi lalu berpikir ulang kenapa tidak mencoba melahirkan dalam air, bisa jadi pengalaman sekali seumur hidup dan gratis pula di sini (itu poin terpenting). Di Indonesia biayanya cukup mahal, dan tidak terlalu direkomendasikan juga. Akhirnya setelah beberapa kali pemeriksaan fisik dan darah, tiba juga hari H.

Pagi hari aku mulai merasakan kontraksi, tapi karena tidak mau bernasib sama dengan yang diminta pulang pas ke rumah sakit aku menahannya. Hingga menjelang tengah hari ketubanku pecah, aku memberi tahu suamiku. Dan karena suamiku juga tidak mau kami diminta pulang lagi kalau ke rumah sakit, dia menelpon bangsal melahirkan rumah sakit. Dia menginfokan kepada si bidan tentang kondisiku, dan setelah beberapa pertanyaan kami diminta datang ke rumah sakit, karena meski kontraksiku belum memenuhi kriteria tapi ketubanku perlu diperiksa. Tiba di rumah sakit yang hanya berjarak lima menit naik taksi, kontraksiku sudah semakin sering hingga di bangsal ketika menunggu bidan menyiapkan berkas administrasiku. Dan saat aku diminta naik bed periksa, rasa sakit yang begitu kuat mulai membuatku ingin mengejan. Bidan yang memeriksaku cukup terkejut mendapati bukaanku sudah lengkap. Cepat-cepat aku didorong dengan kursi roda menuju kamar melahirkan. Aku bertanya apakah bisa dengan teknik waterbirth dan dia mengiyakan dengan kondisi bak mandi sudah siap sebelum aku keburu melahirkan. Syukurlah, masih sempat.. Di ruangan itu terdapat bed obgyn dan tersambung dengan kamar mandi dengan bak yang cukup besar untuk tempatku melahirkan. Aku membuka bajuku dan berendam dalam air sendirian, suamiku menemani tepat di sisiku. Sedang di sisi lain, bidan duduk dan membimbingku mengejan sambil mengamati keadaan di bawah sana. Beberapa dorongan, keluarlah kepala mungil. Bidan tidak melakuka apa-apa, dia terus menyemangatiku untuk mengejan setiap ku merasakan kontraksi untuk melahirkan sisa badan bayiku. Kepala bayiku dibiarkan di bawah sana terbenam air, serupa seperti terbenam air ketuban dalam kandungan. Lalu beberapa dorongan lanjutan, muncullah sosok mungil itu. Bidan mengangkatnya dan meletakkan di dadaku. Aku sempat kawatir saat melihat bayiku berwarna biru ketika keluar dari air, tapi bidan mengatakan apgarnya bagus dan bayiku bernapas lembut di pelukanku. Aku ditawari untuk mengeluarkan plasenta dalam air atau di bed obgyn, dan karena untuk proses normal di dalam air butuh waktu 1-2 jam dan air hangatnya bertambah dingin, kuputuskan utntuk naik saja. Setelah disuntik bagian paha dan mengejan dengan bayi tetap di dadaku, perjuanganku membuahkan hasil juga, plasenta lengkap dikeluarkan. Dia bertanya mau diminta atau tidak plasentanya, dan berpikir di sini tak punya halaman tanah untuk tempat menguburnya, kami serahkan saja padanya. Uh oh tapi perjuanganku belum saatnya berhenti, ada yang sobek di jalan lahir bawah sana. Bidan menaruh kasa dan memintaku mengempitnya selama beberapa lama, bila perdarahan belum berhenti baru akan dijahit. Satu jam lebih lamanya kau menunggu dan alhasil darah belum juga terhenti jadinya perjuanganku masih berlanjut, menahan nyeri jahitan meski sudah dibius lokal. Setelah kondisiku aman, aku diperbolehkan untuk mandi dan bayiku dipakaikan baju. Dia tidak diseka air atau dimandikan tapi dibersihkan kain langsung dibajukan, dan tidak berpindah ruangan sejak kulahirkan, tetap bersamaku. Lalu kami diantar ke bangsal pasca melahirkan.

Bangsal pasca melahirkan itu memiliki beberapa ruangan, yang dibagi dengan kerai menutupi enam tempat tidur dalam satu ruangan. Ada juga kamar yang hanya memuat satu tempat tidur. Namun untukku yang memakai fasilitas asuransi, di ruangan beramai-ramailah kami tidur. Meski begitu, tempatnya nyaman jauh berbeda dengan bangsal kelas 3 yang kutahu di rumah sakit pemerintah di Indonesia. Selama di situ, aku mendapat menu yang mencantumkan menu makan 3x sehari yang bisa kupilih, dan semuanya terbayang begitu nikmat, tidak seperti makanan rumah sakit Indonesia yang cuma bisa terima apa aja yang dikasih. Jadi betah di situ, meski hanya berdua dengan Zhafran (dan pasien lain) karena bahkan suamiku tidak boleh menginap menemaniku, hanya mendapat waktu kunjung yang lebih lama ketimbang penjenguk lain. Semalaman itu silih berganti bidan, petugas kesehatan datang memeriksa. Dan esoknya Zhafran juga tidak dimandikan oleh petugas bangsal. Dia mendapat pemeriksaan menyeluruh, mulai dari pemeriksaan pendengaran oleh seorang petugas kesehatan hingga pemeriksaan fisik lainnya oleh dokter anak secara detail. Tidak seperti anak-anakku terdahulu yang lahir di Indonesia. Dan ketika kami diperbolehkan pulang, kami merasa tenang karena kondisi kami baik adanya. Zhafran mendapat suntikan vitamin K setelah lahir, tapi untuk BCG tertunda karena stok di sana sedang habis. Tanpa mengurus berkas administrasi apa-apa, kami dilepas meninggalkan ruangan dan tidak juga dibekali obat apapun.

Sehari setelah melahirkan, bidan klinik datang ke rumah memeriksa dan menjadwalkan pemeriksaan heel prick test, yaitu pengambilan sampel darah dari tumit bayi untuk dilakukan pemeriksaan berbagai kelainan darah, misal sickle cell anemia. Tetangga Malaysiaku beruntung karena bidan datang ke rumahnya untuk melakukan pemeriksaan itu, tapi entah kenapa aku harus pergi ke klinik. Yah tidak mengapa, toh dekat rumah, cuma 3 menit jalan kaki. Esoknya, bidan yang lain datang untuk menimbang bayiku. Satu hal lagi yang membuat kami heran, kenapa musti dibedakan hari dan petugas untuk melakukan home visit, tapi mungkin memang begitu prosedurnya. Ketika tiba hari kami ke klinik, Zhafran dinilai agak kuning/jaundis jadi selain untuk pemeriksaan kelainan darah, dia juga diperiksa kadar bilirubinnya. Kami datang seminggu kemudian dengan hasil bilirubin yang masih normal, sedang hasil resmi heel prick test akan dikirim ke rumah meski bidan juga memberi bocoran bahwa hasilnya negatif untuk semua kelainan. Alhamdulillah..karena kami dinilai sudah cukup memenuhi kriteria untuk dilepas, bidan menyatakan kami tak perlu lagi periksa ke dia dan untuk selanjutnya kami menjadi tanggung jawab dokter umum di klinik itu.

Aku mendapat surat untuk memeriksakan Zhafran ke dokter umum pada saat usianya 6 minggu, sebenarnya untukku pun semestinya ada surat untuk bertemu dokter membicarakan alat kontrasepsi bersamaan itu tapi ternyata surat yang ditujukan padaku baru datang sebulan setelahnya. Yah ada kekurangannya juga jika segala sesuatu menunggu datangnya surat. Usia 8 minggu Zhafran mendapat vaksinasi pertamanya, dan bukan bidan yang memberikan namun perawat praktek. Begitu juga saat dia berusia 3 dan 4 bulan, mendapat suntikan dasar DPT, Polio, Hib, Meningitis C, dan untuk rotavirus berupa droplet telan. Vaksin berikutnya menunggu usia 12 bulan. Agak herannya lagi, ketika imunisasi tidak sekalian ditimbang tapi harus mendatangi (semacam posyandu di Indonesia) gedung komunitas kesehatan yang berada di sebelah klinik dan hanya pada setiap hari Senin pukul 13-15 waktu setempat.

Kesan yang kurasakan hamil dan melahirkan di sini menjadi pengalaman yang tidak keberatan kualami lagi (meski bukan berarti aku mengharapkannya). Yah di luar momen radang gusi akut itu..

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 29/10/2015 in Pertumbuhan Zhafran

 

Tag:

2 responses to “Pengalaman melahirkan di Leeds, Inggris

  1. sadarlahkawan

    09/12/2015 at 9:40 pm

    Wah…agak ribet tapi terdengar menyenangkan ya mbak, kebetulan saya mahasiswa bidan. Selama ini yg jadi kiblat dunia kebidanan memang di inggris, jadi niatan buat sekolah disana makin gede aja

     
    • Hafidz

      09/12/2015 at 10:21 pm

      Banyak rekan rekan bidan yang sedang mengambil s3 di sini.. monggo mbak, banyak teman untuk saling mendukung belajar dan hidup di luar negeri

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: