RSS

Efficiency Measurement in Health

10 Sep

Oleh Citra Dewi Astuti

Sebagai pendahuluan, dr Citra menyampaikan bahwa setiap kesempatan memiliki mekanisme trade off, karena keterbatasan sumber daya. Oleh karena itu, efisiensi merupakan penggunaan sumberdaya yang terbatas ini untuk output yang sebesar-besarnya.

Sebagai tambahan beliau juga menjelaskan mengenai “equity”=”size of economic pie”, yang sering kali bertabrakan dengan “efficiency”=”to what extent the pie is devided”. Sebagai contoh, ketika asuransi kesehatan hanya untuk orang miskin sebagai kebijakan pemerataan kesempatan untuk mendapatkan layanan kesehatan, padahal orang miskin tersebut biasanya memiliki status kesehatan yang lebih buruk, bahkan dimungkinkan tidak produktif.

Definisi berikutnya yang beliau jelaskan adalah “cost” = pengorbanan yang diperlukan untuk mendapatkan sesuatu. Dalam hal ini membandingkan biaya dan manfaat yang diperoleh dari berbagai alternative, termasuk opportunity cost. Sebagai contoh: seorang ibu yang harus memilih mengantarkan anaknya yang sakit ke Puskesmas, atau tetap di rumah bekerja sehari-hari.

Grafik yang menunjukan berbagai kombinasi output yang dimungkinkan diproduksi dengan adanya input dan teknologi yang ada. Pareto efficiency, efisiensi yang terjadi ketika menggunakan seluruh sumber daya yang ada.

Allocative efficiency, keduanya baik input maupun output digunakan secara optimal untuk mendapatkan benefit social yang secara maksimal. Oleh karena itu digunakan grafik social indifference curve (apa yang masyarakat mau dari pelayanan yang diberikan).

Technical efficiency, memproduksi sebanyak mungkin output dengan input tertentu dan tingkat teknologi tertentu (output oriented). Atau, meminimalkan input yang digunakan untuk ouput tertentu (input oriented). Contoh: vaksinasi di daerah terpencil untuk 1000 anak. penggunaan kombinasi input: bidan minggu, dan bicycle weeks. iso=sama; quant=jumlah. Sehingga jika sudah bisa mencapai titik titik tersebut maka efesiensi telah tercapai.

Economic efficiency: mengkomibinasikan input yang meminimalkan biaya. Dengan menambahkan isocost. Ketiak bersinggungan antara garis isocost dan isoquant, terjadi economic effiency. Kalau terlau rendah costnya, outputnya tidak tercapai, atau sebaliknya.

Permasalahan penggunaan efisiensi di layanan kesehatan antara lain, sebagai contoh: di Emergency care ketika alat tidak terpakai, atau sumberdaya tidak melayani ketika harus menunggu pasien, sebagai bagian dari “Readiness”. Kemudian, ketika efisiensi semakin tinggi, maka terjadi penurunan kualitas, hal ini sangat tergantung ouput yang dipilih. Contoh: output imunisasi : jumlah anak yang diimunisasi, kasus yang dapat terhindar, kematian yang dapat dihindari, harapan hidup. Jika kita memilih output yang sangat dekat (jumlah anak yang diimunisasi), maka kualitas nya tidak bisa langsung diukur. Karena mungkin saja ternyata tidak berdampak pada kematian.

Sebagai studi kasus untuk diskusi, pertanyaan mendasar adalah mana yang paling efisien dengan sumber pembiayaan berdasarkan: 1) Pajak; 2) social insurance; 3) private? Hasilnya cukup menarik, ada asumsi bahwa private financing bisa lebih efisien karena orang harus berpikir ketika ke layanan, tapi di sisi lain masih ada asimetri informasi, sehingga terjadi supply induce demand.

Mengapa perlu pengukuran efisiensi layanan kesehatan? Hal ini menjadi penting karena 1) pengeluaran kesehatan diberbagai Negara meningkat sangat tajam, baik di Negara OECD, maupun Negara berkembang di Asia. 2) Terdapat fenomena pergeseran supply layanan kesehatan, yakni memberikan pelayanan dnegan teknologi baru tanap bukti cost-effectivenes. 3) Yang terakhir, adanya peningkatan demand layanan kesehatan akibat populasi yang makin menua dan penyakit kronis.

Bagaimana pengukuran efisiensi?

1) economic evaluation. (Analaisis komparasi 2 atau lebih alternaif, dengan cara membandingkan cost (inputs) dan consequences (outputs). Tujuan dari evaluasi ini adalah menemukan “the value for money” untuk intervensi/ program kesehatan. Memang benar bahwa sebagian besar pengukurannya digunakan untuk kegiatan kuratif, namun saat ini juga sudah mulai banyak terkait kegiatan kesehatan masyarakat, sebagai contoh penggunaan chlorin untuk air. Memang ada perbedaan variable output dan jenis cost yang diukur.


Tipe studi

Pengukuran input

Identifikasi Konsekuensi

Pegukuran konsekuensi

Decision

Cost analysis/ minimization

Monetary unit

None

None (asumsi: outputnya sama; ini yang sulit.)

Least cost alternative

CEA

Monetary unit

Single, sama alternative keduanya

Unit natural (life-years gained, disability-days saved, blood pressure, other health outcome)

Cost per unit of consequences. Contoh biaya per LY gain

CUA

Monetary unit

Single or multiple, tidak musti sama alternative outputnya

Utility weight (QALY)

Cost per unit of consequences. Contoh: cost per QALY

CBA

Monetary unit

Single or multiple, tidak musti sama alternative outputnya.

As for CUA but valued in monetary unit

Net $ cost/ benefit ratio

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan:

a) Rentang biaya dan benefit (sebagai contoh jangka waktu pengukuran)

b) Memastikan biayanya diperhitungkan secara penuh

c) Penggunaan harga pasar

d) Penggunaan ent present value atau modelling ketiak melakukan ekstrapolasi

e) Memperhitungkan ketidakpastian, sebagai contoh: fluktuatif dan variasi harga. Caranya bisa dengan melakukan sensitivity analysis dengan pengukuran yang berbeda, sehingga lebih berhati-hati dalam interpretasinya.

2) Analisis yang lain adalah adalah frontier analysis untuk layanan kesehatan: layanan kesehatan/ sistem kesehatan sebagai fungsi produksi, dengan tujuan menemukan seberapa efisien layanan kesehatan yang diproduksi oleh pemberi layanan/ sistem kesehatan.

Dari penelitian yagn sering dilakukan adalah data evenlopment analysis (DEA), dan SFA. Dalam DFA, mengobservasi data input dan output dengan teknik program matematis. Hasilnya adalah koefisien efisiensi dari masing-masing provider dan ranking. Karena kita membandingkan satu dengan yagn lain, maka hasilnya merupakan efisensi relative. DEA ini merupakan parametric analisis sehingga tidak perlu asumsi distribusi inefisiensi. Analisis ini dapat digunakan untuk multiple input dan multiple output, yang sering diguankan di rumah sakit.

Stochastic frontier analysis (SFA). Merupakan parametric analisis dengan memperhitungkan distribusi inefisiensi. Hal ini menggunakan dengan dasar klasik linier regression model. Keuntugnannya adalah dapat membedakan pengukuran inefisiensi dan pure error, tidak seperti DFA. Untuk ini dapat mengestimasi tingkat efisiensi secara individu provider itu sendiri tanpa membandingkan dengan provider lain.

Studi dengan metode ini masih terus dikembangkan, sehingga harus hati-hati dalam menginterpretasinya, dan tentu saja di sisi lain penelitian seperti ini tidak terlalu masalah untuk trial and error.

Okay sekian dulu pelajaran hari ini.

 
 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: