RSS

INA-CBGs – kuliah mahasiswa S1 FK-UGM

23 Okt

Oleh: dr. Endang Suparniati, M.Kes (RS Sardjito)

INA-CBGs saat ini yang masih digunakan untuk pelayanan Jamkesmas akan digunakan untuk jaminan kesehatan nasional. Dalam kuliah ini, pembicara menganalogikan pembayaran INA-CBGs dengan sebuah pelayanan di restoran. Ibarat sebuah harga nasi goreng, meskipun pedas maupun tidak pedas, harganya tetap sama misalnya 10 ribu rupiah. Di layanan kesehatan, dengan paket INA-CBGs seseorang dengan penyakit stroke harganya sudah ditetapkan, apakah mau menggunakan obat yang bervariasi, jumlah kunjungan dokter yang berkali kali, tetap sama. Meskipun jika ada tambahan diagnosis atau tindakan, tingkat keparahan nya bisa berbeda dengan nilai paket yang berbeda.

Sehingga, system case-mix/ DRG adalah sautu pengelompokan diagnosis penyakit pasien yang dikaitkan dengan biaya perawatan. Ciri setiap satu grup: ciri klinis yang sama dan pemakaian sumber daya hampir sama (biaya perawatan sama). Meskipun dalam pelayanan kondisi nya sangat bervairasi, namun sumber daya yang digunakan hamper sama.

13 indikator yang digunakan dalam case- mix adalah:

Data pasien

  1. ID (Nama, RN, AN, ras , Ward, disiplin)
  2. Umur
  3. Jenis kelamin
  4. Tanggal lahir, terutama untuk bayi < 28 hari
  5. Berat lahir, untuk neonates

Data kunjungan

  1. Tanggal masuk
  2. Tanggal keluar
  3. Lama dirawat
  4. Kondisi pulang (melarikan diri, meninggal, sembuh, dll)

Klinis

  1. Diagnosis utama
    1. Kondisi ketika akhir perawatan
    2. Kondisi yang menggunakan sumber daya paling besar,
    3. Kondisi yang paling menjustifikasi hari rawat inap
  2. Diagnosis sekunder (ko morbiditas, komplikasi) – hingga 14
    1. Co-morbiditas: kondisi yang sudah ada ketika masuk rumah sakit
    2. Complications: kondisi yang muncul ketika proses perawatan
  3. Prosedur utama
    1. Berhubungan langsung dengan diagnosis utama. Contoh diagnosis Apendisitis, berarti tindakan utamanya apendektomi.
    2. Termasuk tindakan non-surgical yang signifikan seperti contoh CT-Scan, MRI
  4. Prosedur lainnya – hingga 14
    1. Koding prosedur dilakukan untuk : Semua prosedur yang terjadi di ruang operasi
    2. Semua prosedur yang dilakukan di luar operasi namun membutuhkan petugas yang terampil dan alat yang mahal.

       

Pengkodean INA-CBGs terdiri dari 4 bagian

  1. Bagian satu = A s/d Z merupakan case mix major groups (CMG)
  2. Bagian dua = angka 1-9 = tipe CBG
  3. Bagian tiga = CBG number
  4. Bagian empat = (0, I, II, III) severity

Activity daily living (ADL). Merupakan skoring yang digunakan sebagai dasar penambahan tariff karena seringkali rumah sakit merasa rugi ketika merawat pasien kronis.

  • Lebih dari 43 hari, dikelompokkan sub akut
  • Lebih dari 103 hari, dikelompokkan menjadi kronis

Pengalaman Sardjito

Supaya rumah sakit tidak kebobolan, maka dilakukan pengendalian dari segi obat, tindakan, dan pemeriksaan penunjang. Sebagai contoh dalam rawat jalan dilakukan pemeriksaan TORCH, MRI tanpa indikasi yang kuat. Obat diverifikasi oleh farmasi, jika obat sudah melebihi batas –cut off yang digunakan 500 ribu- maka akan dibatasi jumlahnya dan pasien diminta kembali lagi, atau konfirmasi oleh instalasi penjaminan ke dokter kembali untuk verifikasi. Formulir telah dikembangkan secara mandiri oleh Sarjito untuk pengendalian secara internal.

Dalam melakukan prosedur grouping, jika hasil dari grouping rawat inap dihasilkan severity level 3, dilakukan pengesahan severity 3 oleh komite medis yang ditunjukkan untuk tugas ini. Setelah itu, dilakukan assembling rekam medis untuk diteruskan proses verifikasi.

Terdapat obat dan BHP khusus yang musti dicatat secara terpsiah (speisal). Yakni obat untuk pasien dengan thalassemia, hemophilia, Oncology. Sedangkan BHP, contohnya pen untuk ORIF. Setelah dilakukan grouping, akan diperiksa oleh independen verifikator yang berada di bawah PPJK saat ini. Lalu kemudian dikirim ke Jakarta jika sudah dianggap cukup secara administrasi. Sehingga seringkali revisi dilakukan karena tandatangan dokter yang terlewatkan.

Permasalahan lain yang seringkali dihadapi adalah Penulisan resume pasien. Laporan dilakukan secara tidak benar, bahkan seringkali tidak membuat menuliskan laporan. Hal ini akan menyulitkan koding karena tidak lengkapnya infromasi atau data missing.

Di akhir sebelum menutup presentasi, pembicara membandingkan biaya rumah sakit dengan tariff INA-CBGs. Terdapat selisih biaya yang negative dan positif, namun demikian beliau mengakui bahwa dengan menggunakan tariff INA-CBGs tidak selalu merugi seperti apa yang diberitakan selama ini.

Dalam diskusi, mahasiwa bertanya mengenai alasan Indonesia menggunakan INA-CBGs. Beberapa alasannya adalah untuk efisiensi, equity dan quality. Selama ini, dengan menggunakan fee schedule pada askes, pembatasan yang dilakukan menyebabkan pasien harus membayar sendiri, Dengan INA-CBGs. Namun di sisi lain ada kecenderungan untuk tindakan yang tidak diperlukan (moral hazard) baik dari sisi pasien maupun provider. Informasi tambahan menurut moderator –drg. Yulita Hendrartini- , dengan INA-CBGs, provider terutama dokter menjadi sadar biaya. Namu yang menjadi kelemahan dari system INA-CBGs, penyakit yang tidak terkait dengan diagnosis utama tidak ditanggung.

Proses kalim sangat tergantung dari jumlah pasien dan ketersediaan tenaga. Di sarjito saat ini masih terlambat dan lama dalam melakukan proses administrasi, bukan karena kesalhaan verifikator. Di Sardjito, 1 bulan kurang lebih pasien rawat jalan sebanyak 5000 dan rawat inap 700.

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada 23/10/2013 in Kuliah

 

5 responses to “INA-CBGs – kuliah mahasiswa S1 FK-UGM

  1. irine

    23/01/2014 at 6:43 am

    Jika boleh tau siapa saja yg ikut menyusun INA CBGs ini? tks

     
    • Hafidz

      02/02/2014 at 8:30 am

      Yang menyusun INA-CBGs ini adalah tim NCC (national casemix center) di bawah kementerian kesehatan. Anggotanya adalah para manajer rumah sakit di indonesia. Dibantu oleh konsultan dari Malaysia (UNU). Prof. Syed.
      Semoga bermanfaat.

       
  2. rudi

    22/04/2014 at 2:30 pm

    kpk memberi masukan hal-hal terkait penyalahgunaan prosedur ina cbgs di bpjs ..Bagaimana bisa terjadi mas.

     
    • Hafidz

      27/05/2014 at 4:01 pm

      KPK nya berarti orang kesehatan ya? kayaknya harus ada guideline yang jelas tuh.. arti korupi versi kpk untuk INA-CBGs.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: