RSS

Workshop: Sustainable TB Financing, Day 2

19 Apr

Pada hari ini, dilanjutkan presentasi dari Myanmar dan Loas. Kedua negara ini juga memiliki ketergantungan yagn sangat tinggi terhadap donor. Bahkan Myanmar dalam rangka keberlanjutan pembiayaan kesehatannya juga akan tetap memperjuangkan donor sebagai sumber pendanaan. Asuransi di kedua negara ini juga tidak memiliki peran yang sangat besar. Pada kesempatan ini, Pak David dan saya juga berkesempatan untuk mempresentasikan hasil studi yang telah kita lakukan selama ini. Beberapa diskusi dan komentar yang muncul adalah: 1) berpindahnya pembiayaan dari satu sumber ke sumber yang lain, tidak hanya sekedar shifting, tapi ada terjadi penambahan biaya atau pengurangan biaya akibat penggunaan fix cost yang bersama. Jadi mustinya harus dilihat biaya sistem. 2) Integrasi sebuah sistem infromasi bukan merupakan sebuah hal yang mudah, bahkan dikatakan oleh Pak Anis, bahwa itu merupakan sebuah utopia. Jadi yang paling terpenting adalah bagaimana berbagi data secara bersama. 3) Tidak adanya koordinasi, menandakan bahwa tidak adanya komunikasi antar bagian. Namun bukan berarti tidak ada datanya, meskipun data rawat jalan TB tidak bisa didapat. 4) Responden pada studi juga snagat menentukan opini dari hasil studi, karena wasor hanya mengerti hal teknis terkait TB. 5) Perhitungan cost effectiveness model terhadap kegiatan prevention yang dilakukan dalam sebuah program merupakan demand yang sangat tinggi dari peserta.

Pada sesi berikutnya, Pak David berusaha untuk mendorong peserta berpikir terhadap bagaimana kegiatan TB didanai dan di setiap tingkat, sumber, manager dan mekanisme pembayaran. Diskusi cukup sulit di awal dengan grup besar. Lalu grup dibagi menjadi 2 agar memudahkan diskusi.

Diskusi mengenai tantangan dan potensial solusi dari masing masing issue juga dibahas. Beberap ahal menaik yang saya peroleh adalah: 1) penggunaan score card sebagai bagian dari monitoring dan feedback kepada fasilitas kesehatan merupakan hal yang krusial sebagai alat quality assurance 2) di malaysia, pegawai negeri yang dipindahkan, hanya dipindahkan di dalam departemen tersebut. Sehingga tidak terjadi permasalahan pengkaderan. 3) Malaysia juga menetapkan negative policy, dimana orang yang terkena TB, atau ada jentik nyamuk, akan di denda kurang leibh 1000RM. 4) Filipina menetapkan kebijakan untuk tidak memberikan sebuah incentive dari project yang dilaksanakan. karena hal tersebut tidak membuat sebuah project bersifat sustainable.

Demikian hari kedua yang cukup melelahkan, sampai-sampai Pak David tidak bisa berpikri lagi.. dan sekarang pergi ke bandara menjemput keluarga di tengah hujan dan macetnya jakarta.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19/04/2013 in Dunia Kesehatan, Health economics

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: