RSS

Fact Sheet: Pendidikan–Kemiskinan

14 Mar
  • Terdapat istilah “top-down” dan “bottom-up” dalam pendidikan. Beberapa kebijakan populer top-down adalah: pendidikan gratis dan hak pendidikan atau kalau di Indonesia wajib belajar.
  • Meskipun penduduk saat ini semakin banyak yang sekolah, namun ternyata tidak ada peningkatan yang signifikan dalam peningkatan income. Why?
  • Kebijkaan top-down untuk pendidikan tidak bisa berjalan dengan baik. Orang datang ke sekolah hanya untuk memenuhi kewajiban. Mereka tidak tahu apa yang hendak mereka capai. begitupula dengan guru dan orang tuanya. Banyak guru absen dari mengajar, dan orang tua tidak perduli dengan nilai anak mereka. Sehingga anak tidak belajar dengan benar. 
  • Sedangkan di negara maju, orang mau sekolah karnea mereka tahu bahwa pendidikan penting karena negara mereka terus berkembang, bahkan mereka butuh uang untuk dididik (bottom-up)
  • Bantuan donor internasional untuk pendidikan adalah sia-sia.
  • Namun untuk kebijakan top-down sebagai kegiatan awal sangat bermanfaat. Sebagai contoh Sekolah INPRES di tahun 1974-1978. Pak harto membangun kurang lebih 62 ribu sekolah dari uang minyak. Ternyata orang-orang yang berada di tempat pembangunan INPRES tersebut memiliki kenaikan pendapatan dalam hidup mereka dibandingkan dengan yang tidak mendapatkan pembangungan sekolah INPPRES.
  • Secara kasar, pendidikan meningkatkan 8% gaji untuk  setiap tahunnya bersekolah.
  • Di Taiwan, dengan meningkatnya pendidikan, menurunkan kematian bayi secara signifikan.
  • Di Nigeria, dengan meningkatknay pendidikan, menurunkan angka pertumbuhan penduduk.
  • Namun demikian, masih banyak masalah dalam pendidikan. Di antara lain: survei di India (ASER) menemukan 35% anak India (7-14 tahun)  tidak dapat membaca 1 paragraf.  dan 60% tidak dapat membaca cerita. Hal ini juga terjadi di Kenya, Uganda, Pakistan, ..apa masalahnya?
  • Ternyata guru seringkali hanya memperhatikan anak yang pintar dalam sekolah. Karena mereka mengejar target sebagai sekolah yang terbaik. Sehingga seringkali guru mengajar hal yang bukan menjadi konsumsi tingkat murid tersebut dan tentu saja ujian menjadi sangat sulit. Hal ini menjadikan murid yang kurang pintar kurang diperdulikan. Oleh karena itu, treatment dengan menggunakan guru pembantu khusus (program Balshaki di India) untuk anak-anak yang kurang pintar sangat membantu. Mereka adalah sukarelawan dari penduduk lokal untuk sekolah.
  • Untuk mengukur keberhasilan program tersebut, diukur dengan melihat “intention to treat” yakni selisih/ difference antara tretment A dan B. Lalu karena ada sekolah yang tidak ikut dalam kegiatan (drop out), maka treatment effect adalah “intention to treat” / proporsi sekolah yang ikut dalam studi.
  • Pemberian program “Read India” juga sangat bermanfaat, yakni membuat program khusus untuk anak-anak pada saat liburan sekolah oleh guru-guru sekolah. Hal ini membuat anak-anak yang belum bisa membca bisa belajar secara khusus.
  • Hal ini membuktikan, bahwa peningkatna pendidikan bisa dicapai, bahkan motivasi untuk mengajar dari sukarelawan sangat tinggi.
  • Pendidikan harus mulai dipisahkan antara yang pintar dan kurang pintar, sehingga guru pun bisa mengajar lebih fokus terhadap audience nya untuk target masing-masing.
  • Ada kecenderungan dari masyarakat di negara berkembang, berharap bahwa dengan semakin tinggi nya pendidikan mereka bisa bekerja di pemerintahan. Padahal fakta membuktikan, bahwa hanya 33% orang yang bisa mendapatkannya. Sehingga semakin tinggi pendidikan, terkadang tidak sesuai dengan harapan pendapatan.
  • Oleh karena pendidikan membutuhkan biaya, seringkali orangtua hanya menyekolahkan anak hingga tingkat awal saja. Setelah mereka melihat siapa yang pintar, dan hanya anak itu saja yang terus disekolahkan. Bahkan seringkali di negara tertentu, orang tua mereka mengatakan anak saya ini pintar dan yang satu lagi bodoh. Sehingga si anak juga mengatakan “saya tidak sekolah karena saya bodoh”. Padahal belum tentu anak di tingkat awal kurang pintar tapi banyak juga yang masuk MIT.
  • Bahkan di negara yang masih memiliki kasta, mereka guru yang memiliki kasta rendah akan menilai lebih rendah siswa yang berasal dari kasta yang rendah. Karena merasa ketidak percayaan pada diri dan kastanya.
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 14/03/2013 in Kuliah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: