RSS

Fact sheet: Kesehatan – Kemiskinan

05 Mar

Minggu ke 2 e-learning kali ini bicara mengenai hubungan kesehatan dan kemiskinan. Beberapa hal penting yang saya peroleh –dalam hal ini belajar dari kasus di Udaipur, India- adalah:

  1. Masyarakat masih sangat memiliki kepercayaan terhadap hal gaib sebagai penyebab sebuah penyakit. Sehingga dukun (Bhopa-sebutan orang Udaipur) memiliki peranan penting dalam proses pengobatan.
  2. Masyarakat lebih percaya terhadap pengobatan suntik dan bahkan infus dan antibiotik –yang sebenarnya tidak diperlukan – dalam pengobatan dari pada terapi pil yang benar. Di luar sana, ada dokter yang bahkan tidak lulus SMA.. gaul kan? 
  3. Masyarakat pededsaan tidak dapat mengakses layanan kesehatan publik karena sering tutup. Hal ini disebabkan petugas kesehatan lebih suka buka praktek swasta di perkotaan.
  4. Kalaupun buka, mereka punya gurauan “3”: 3 pertanyaan, 3 obat dan 3 menit saja…
  5. Masyarakat cenderung untuk tidak percaya terhadap kegiatan pencegahan seperti imunisasi karena mereka tidak dapat melihat hasilnya secara langsung, sulit dimengerti bagaimana cara kerjanya dan tentu saja berbiaya tinggi.  Sehingga hal ini menyebabkan kegiatan preventif menjadi sangat elastis. Bahkan masyarakat diiming-imingi mendapat insentif berupa makanan sebagai contoh supaya mau mendapatkan imunisasi lengkap.
  6. Bahkan masyarakat lebih mudah terpancing dengan pemberitaan efek samping dari imunisasi, sebagai contoh MMR menyebabkan autism, polio menyebabkan efek samping demam, dll
  7. Namun ketika masyarakat telah merasakan manfaat dan kegiatan pencegahan (jika diberikan gratis), mereka akan membeli layanan tersebut di kemudian hari. Oleh karena itu peran Pemerintah sangat penting untuk terus mempromosikan dan membuktikan manfaat dari kegiatan preventif.
  8. Malaria memiliki korelasi terhadap kemiskinan, meskipun ada faktor lain seperti geography. Tapi dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa negara Amerika latin bisa keluar dari endemic malaria.
  9. Anak-anak yang lahir tanpa terexpose malaria memiliki income 50% lebih tinggi selama hidup mereka dibandingkan dengan anak-anak yang lahir terekspose malaria
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 05/03/2013 in Health economics, Kuliah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: