RSS

TB-JEMM 2013

21 Feb

IMG_20130221_103948 

Joint External Monitoring Mission (JEMM) merupakan kegiatan rutin yang dilakukan di Negara yang memiliki beban tinggi terhadap TB. Tim JEMM kali ini diketuai oleh Prof. Donald Enerson beserta 21 ahli dari international, 24 ahli dari subdit-TB, 44 ahli dari STOP TB partners, NGO dan komunitas. Provinsi yang dikunjungi kali ini adalah Bangka Belitung, Jakarta, Maluku, Sulawesi Utara dan Jawa Timur.

Tuberkulosis adalah twin dari kemiskinan. Sehingga dengan eradikasi Tuberkulossi ke depan, akan meningkatkan skesejahateraan masyarakat. Dengan melihat tren insidensi TB, telah terjadi penurunan 3% per tahun. Namun, kita harus tetap mendorong mencapai penurunan 10% pertahun dan tantangan-tantangan lain yang harus dihadapi dnegan sumber daya dan partner yang sudah terjalin. Seringkali Negara tidak mengetahui masalah nya sendiri, oleh karena itu melalui JEMM diperkuat proses monitoring dan evaluasi. Sehingga ke depan kegiatan bisa dilakukan lebih efisien dan efektif.

Beberapa catatan penting terkait pembiayaan Tuberkulosis adalah telah meningkatnya kontribusi pembiayaan nasional untuk layanan tuberculosis. Namun demikian, tantangan kontribusi tersebut masih dinilai rendah secara proporsi dari total pengeluaran untuk pelayanan TB. Hal ini tentu saja akan memiliki dampak panjang dari keberlanjutan pembiayaan. Oleh karena itu, rekomendasi yang diberikan dalam menghadapi tantangan tersebut adalah dengan menginstruksikan pemerintah daerah untuk membangun, membiayai dan mengimplementasikan rencana aksi daerah dalam rangka peningkatan diagnosis, notifikasi dan pengobatan terutama MDR-TB dan mengurangi beban finansial pasien. Melalui peraturan menteri kesehatan tentang keberlanjutan pembiayaan program AIDS, Tuberkulosis dan Malaria untuk memastikan alokasi anggaran yang cukup dan peran yang jelas di tingkat provinsi maupun kabupaten/ kota.

Dalam acara ini Menteri Kesehatan langsung menanggapi rekomendasi yang dibeirkan oleh tim JEMM. Menteri Kesehatan mengatakan bahwa beliau setuju dengan rekomendasi-rekomendasi yang diberikan. Namun memang mudah dikatakan daripada dikerjakan. Beliau yakin dengan komitmen dan sumberdaya yang ada saat ini, hal tersebut bisa dilakukan. Mengingat target yang dicapai adalah penurunan insidensi sebesar 10% per tahun –saat ini 3% per tahun-. Menanggapi isu pembiayaan program TB, beliau menyampaikan bahwa telah dikirim surat instruksi kepada daerah untuk meningkatkan ekspansi dan pendanaan dalam layanan pasien TB, sehingga dapat mengurangi beban pasien ketika dalam fase pengobatan. Langkah berikutnya adalah dengan berkordinasi dnegan Kementerian Dalam Negeri dan melalui BAPPENAS untuk memberikan instruksi kepada BAPPEDA agar dapat mendorong TB dalam perencanaan anggaran di daerah. Selain itu, melalui SPM, akan dapat mendorong pemerintah daerah dalam mengalokasikan anggaran TB lebih baik. Mengingat kegiatan pelatihan yang saat ini dilakukan membutuhkan biaya yang sangat tinggi, Kementeiran Kesehatan akan melakukan pelatihan dengan inovasi baru sebagai contoh melalui e-learning, sehingga dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21/02/2013 in Dunia Kesehatan, Health economics

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: