RSS

Workshop “Penatalaksanaan Terapi Hipertensi di Rawat Jalan Tingkat Pertama” dan Sosialisasi DPHO

29 Sep

Narasumber: dr. Bambang Djarwoto, dr. Heru, dr. Sutarmadji, dr. Iri

Penyelenggara: ASKES untuk dokter keluarga

Diskusi

  1. Hipertensi merupakan kasus yang kompleks dan multifactorial. Sehingga jika terdapat pasien yang susah terkontrol hipertensinya, perlu dipherhatikan factor-faktor langsung maupun tidak langsung seperti:
    1. Dislipedimia, Asam urat
    2. Infeksi, radang kronis. Hal ini sering terjadi pada pasien DM. Ada infeksi kronis yagn tidak terasa (silent infection)
    3. Manajemen stress
    4. Oedema berarti terjadi overload. Hal ini butuh ditelusuri lebih lanjut. Sebagai contoh mungkin terjadi hipoalbumin. Sehingga hal ini harus terjadi koreksi dahulu. Apakah perlu diberikan diet tinggi protein? Hal ini perlu dikonsulkan lebih lanjut kepada spesialis penyakit dalam.
  2. Pasien HT dengan TD terkontrol, apakah perlu diturunkan dosis dan jenisnya?

    Mengobati pasien HT membutuhkan waktu yang lama. Paling cepat 2 minggu. Sehingga dapat dilakukan adjusting per 2 minggu. Tidak ada aturan yang pasti untuk diturunkan. Lihat mana yang peka. Turunkan dosisnya dulu, baru jenis. INI SENINYA MEMANG.

  3. Ada pasien HT dengan keratinin 1.5. jadi obat nya apa?

    Gunakan ARB, Irbesartan dikombinasikan dengan thiazide.

    Terdapat penelitian, bahwa dengan fix dose (kombinasi ARB dan thiazide) lebih baik dari satu-satu. Dan dengan thiazide ini menjadi mendoorng/ katalisator dari ARB dan CCB. Contoh obat: co-aprofel, atau …plus

  4. Hipertensi dan hyperlipidemia berapa bulan sekali?

    Pemeriksaan disarankan 3 bulan sekali untuk pemeriksaan lab nya.

  5. Pasien dengan tensi 170/90 dan stabil, sulit untuk diturunkan. Maka tetap untuk komitmen senormal mungkin dengan catatan secara perlahan (3 bulanan). Dengan tensi yang lebih rendah, perlindungan organ lebih baik.
  6. Obat alami hipertensi yang jelas telah diakui secara medis adalah : akar-akar alang dan seledri
  7. Pasien yang takut di tensi, menyebabkan TD nya tinggi sekali. Sehingga apa yang harus dilakukan? White coat.

    Yang paling mudah adalah, pasien diajari menensi dirinya sendiri. Sebagai contoh tensi digital, dan sekalian yang bagus agar tidak cepat rusak dan lebih akurat. Yang baik adalah memiliki cut off power. Sehingga jika batrei dengan kekuatan tertentu akan langsung mati. Hal ini lebih baik dari pada batrei sudah lemah tapi tetap bisa digunakan, karena bisa menghasilkan nilai yang tidak sesuai. Dan ketika periksa ke dokter, juga dibawa alatnya.

  8. Olahraga dilakukan 3-4x seminggu. Pasien DM bahkan tiap hari dengan ½ jam perhari. Pasien dengan DM berolahrga 1 ½ jam setelah makan. HR yang diahrapkan adalah 200-umur-10 pada waktu inti olah raga.

    Perlu diperhatikan, pasien dengan tensi 170/100 tidak disarankan berolahraga. Dan pasien yang obesitas tidak disarankan untuk lari/ jalan karena mencederai dengkul.

  9. Thiazid bisa menimbulkan hiperglikemia, setelah berapa bulan harus memeriksa Kalium nya?

    20% pasien akan jatuh ke dalam hipoglikemia. Dan pemeriksaan secara regular memang belum ada aturan. Tapi bisa dilakukan setiap 3 bulan.

  10. Pengobatan yang paling cepat adalah: dengan pilihan diuretic +
    1. ARB
    2. CCB (Amilodipin)
    3. ACE Inhibitor


DSC_0337[1]

Kasus

Pemeriksaan tekanan darah,

Persiapan:

Dokter:

  • Tidak boleh tergessa-gesa
  • Lepaskan cincin, cat kuku, kuku palsu dan
  • Cuci tangan menggunakan antiseptic 3-5cc (tandanya hampir luber), selama 20-30 detik.
    • Telapak tangan berputar
    • Punggun tangan dan sela-sela jari
    • Telapak tangan
    • Jempol menggosok telpak tangan Bagian ulnar.
    • Ibu jari
    • Menguncup berputar di telapak tangan semakin ke dalam.
  • Dokter dalam posisi duduk dan melihat sejajar dengan alat tensi

Pasien:

  • Tidak sedang mengkonsumsi kafein (teh, kopi, batasan 30 menit), nikotin/ merokok, zat-zat penstimulasi adrenalin (pseudoefedrin),
  • Saluran cerna dan kandung kecing dalam keadaan nyaman, tenang, tidak sedang stress atau menahan sakit atau cemas.
  • Baju lengan pendek-pendek belahan depan, duduk bersandar dengan rilex, akki harus menyentuh lantai, kedua tungkai tidak disilangkan.
  • Baju:
    • Laki-laki    : lengan pendek, belahan di depan.
    • Wanita        : 2 potong pakaian, belahan di depan, bra digunakan dnegan kancing di belakang. Pemeriksaan mamae hanya dibolehkan untuk pemeriksaan breast cancer.
  • Pasien tidak boleh diajak ngobrol. Kalau pasiennya sudah berhenti bicara, bisa disuruh
  • Pasien tidak boleh melihat pengukuran.
  • Posisi duduk, kaki menyentuh lantai, tidak boleh bersilang, dan tangan bersandar

Alat,

Tensimeter, lebih baik digunakan air raksa. Karena penggunaan alat:

  • Digital: 6 mm lebih tinggi
  • Per: 10 mm lebih rendah

Stetopskop

  • Amerika pakai bel
  • Inggris pakai diafratma
  • Indonesia: terserah lah…
  • Panjangnya 12-15 inchi.

Pelaksanaan:

  • Tensimeter: manset seusai ukuran (jangan terlalu ketat atau kendor) dililitkan 2-3cm (2 jari tangan) di atas siku. Jangan terlalu kencang atau terlalu longgar.
  • Lengan: posisi volar letakkan di meja
  • Palpasi mencari arteri brachialis/ radialis. Lalu memompa untuk melihat sistolik palpatoar.
  • Lalu naikkan 30mm/hg untuk pemeriksaan ulang dengan stetoskop.
  • Memeriksa di sebelah kanan dan kiri sama saja. Karena tekanan darah tidak berubah.
  • Suhu ruangan nyaman.

Monitoring

  • Pemeriksaan lab profil lipid, gula dan asam urat setiap 6 bulan.

Kasus 1.

Laki-laki 53 tahun dating dengan keluhan kaki bengkak 1 minggu. Kaki bengkak bila pasien berdiri lama, bila bangun pagi hari kaki tidak bengkak. 5 tahun tekanan darah tinggi, mendapat amilodipin namun jarang control. 150/90. Kaki oedema.

Hipertensi st. I. Indikasi: dyslipidemia, proteinuria, LVH, GDP>110 (118).

Klasfikasi CKD: Stage 1 (Penurunan fungsi / cadangan ginjal)

Jenis hipertensi: hipertensi sekunder, karena ada factor usia, dyslipidemia, meskipun harus digali factor-faktor lain.

Factor riisko:

  1. Dyslipidemia
  2. TGT
  3. Kemungkinan yang lain: obesitas, lifestyle, genetika

Target organ damage:

  • Jantugn à LVH
  • Ginjal à proteinuria, oedema
  • Cerebrovaskular à stroke, TIA
  • Mata à retinopati

Pilihan obat:

Dengan kelainan lain:

    Diabetes: THIAZ + BB, ACEI, ARB (direkomendaiskan karena bersifat renoprotektif), CCB

Penggunaan THIAZ untuk mengakibatkan hiperglikemi adalah 10%. Sehingga diperlukan monitoring setiap 6 bulan.

Pemberian furosemide dapat diberikan untuk mengurangi cairan. Namun perlu dipikrikan agar tidak mengganggu kehidupan pasien.

Ada juga yang mengatakan bahwa, furosemide lebih banyak bekerja di loop dan distal. Dengan asumsi ginjal yang sedang bermasalah, furosemide pemakaiannya seminimal mungkin untuk mengurangi beban ginjal.

Pemakaian diuretic yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan renal failure.

Target tekanan darah diturnkan sampai <140/90mmHg or <130/80mmHg

Efek samping obat hipertensi

  • Diuretic: muscle weakness, hipokalemi
  • ACE 1: Batuk
  • ARB: hyperkalemia, gagal ginajl pada pasien stenosis renalis

Pengawasan

  • Monitoring TD, setiap 2 minggu.
  • Evaluasi fungsi ginjal, profil lipid, elektrolit, gula darah minimal 3 bulan sekali
  • Monitoring BMI
  • Edukasi pola makan, olahrga (life style), kepatuhan pasien
  • Hidup sehat.

Sistem Rujukan Pasien Hipertensi

Pasien 55 tahun, HT, Perokok, peggunaan HCT, ibu stroke, TD: 132/88, BMI 27, Kolesterol 213. EKG normal.

Hari berikutnya dating ke UGD dengan, kesadaran menurun, tidak dapat menggerakkan tangan kanan.

Kasus apa saja yang ahrus dirujuk:

  • 6 bulan terapi tidak tercapai target
  • Ada kondsi lain

Pembahasan;

  • Kemungkinaan terkena storke karena ada gangguan persyarafan, factor risiko HT, kegemukan, riwayat keluarga

Cara rujukan:

  • Tindakan pertama adalah pemberian oksigen
  • Edukasi keluarga
  • Pembuatan surat rujukan
    • Kepada institusi. Secara system.
    • Identitas pasien, termasuk no ASKES
    • Riwayat penyakit sekarang
    • Hasil pemeriksaan penunjang
    • DIagnosa
    • Terapi dan tindakan yang dilakukan
    • Permohonan maksud rujukan
  • Persiapan alat transportasi, jika memungkinkan kerjasama dengan puskesamas ke rumah sakit.

Hal ini sangat penting karena dalam kasus seperti ini harus ada komunikasi dan kerjasama secara system antara dokter keluarga dan puskesmas. Seperti penggunaan oksigen, ambulance dan supir.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29/09/2012 in Dunia Kesehatan

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: