RSS

Learning Halth System from Cambodia

13 Jul

Di hari ke-3 kami melakukan field visit ke 4 tempat di Kampoeng Thom. Ke Puskesmas, Rumah Sakit, Pagoda dan Dinas Kesehatan Provinsi.

Lesson Learn dari Puskesmas:

  • SUMBER DAYA MANUSIA. Di daerah terpencil, sumber daya kesehatan sangat terbatas. Di puskesmas yang notabene memiliki quality score yang tinggi, mereka hanya memiliki 4 bidan dan 2 perawat. Dan Kepala Puskesmasnya pun pendidikannya nggak jelas.. yang penting semua orang yang punya berkomitmen tinggi. Saya rasa ini menjadi pelajaran penting. Dengan melihat negara kita dan negara Asia Tenggara lain, kita terlalu fokus untuk mengangkat medical staff untuk menjadi kepala puskesmas. Sebenarnya ini menjadi kesulitan ke depan. Karena rotasi yang terlalu sering dan menjadi ketidak berlanjutan program. Andaikata Kepala Puskesmas adalah orang yang cukup senior di masyrakat tersebut dan punya power dirasa itu sudah cukup. Lalu medical staff nya dirotasi, karnea menurut Pak Andre, sudah jelas, bahwa dokter tidak hanya membutuhkan gaji yang cukup. tapi juga dari segi sosial. Sehingga jangan berharap dokter mau lama-lama di daerah terpencil. Dengan begitu ketersediaan dokter tetap ada dan program tetap jalan. Atau kalau rotasi pun tidak bisa dilakukan, bisa dilakukan dengan cara schedule yang reguler.
  • STRUKTUR. Di Kamboja, masyarakat memiliki peranan penting dalam struktur masyarakat dan terkait erat dengan Puskesmas. Dalam strukturnya terbagi menjadi 3 besar: (1) Policy –chief concil, communie concil- (2) health centre – head of PHC, midwife- (3) Civil society – village chief, voluntary-. Dengan struktur seperti ini, komplain manajemen dilakukan melalui civil society. Dan perwakilan civil society akan memberikan masukan kepada health centre, dan sekaligus menjadikan sebagai policy ke depan.
  • SUMBER PEMBAIYAAN. Sumber pembiayaan dari Puskesmas terdiri dari Health Equity fund (Pembiayaan untuk orang miskin), CBHI (Health insurance), Self paid, Government. Dalam CBHI, kebanyakan malah orang kaya tidak mau ikut. kenapa? karena mereka merasa mampu untuk membayar. Dan kelihatannya memang dilihat dari jumlah yang harus dibayar terlihat cukup mahal. Bisa dibayangkan jika rumah tangga terdiri dari 1 orang = 1$; 2-4 orang = 1,2$; 5-7orang = 2$; lebih dari 8 orang = 2.89$ max. per bulan. Saya dengan sangat yakin, dengan utilization rate yang rendah (31% HEF; 5% CBHI; 64% Self Paid), maka orang akan berpikir ulang untuk terus mengikuti CBHI. Untung saja seluruh kegiatan ini masih didanai oleh donor.. let see the future?

DSC_3398DSC_3400DSC_3401DSC_3406DSC_3410DSC_3416

Lesson lean dari Pagoda:

  • Pagoda sebagai tempat ibadah selain dijadikan tempat ibadah namun juga berfungsi untuk melakukan fund rising. Dan selama 2 tahun terakhir ini sudah di legal kan secara sistem dan hukum.
  • Dalam penggunaan dana nya, bisa beraneka ragam. Di awal-awal, lebih untuk pembangunan temple. lalu untuk education, kemudain karena semakin banyak HIV/AIDS cases, bencana alam –banjir-, poor,  lalu muncul 4 box. Sehingga orang yang memberikan donasi bisa memilih. Bahkan dimungkinkan untuk memasang nama di dalam pagoda bagi para donasi. Namun ke depan dilakukan 1 box besar, lalu mereka yang me manage.
  • Untuk penerima dana, ditentukan oleh Monk dan sesepuh di daerah tersebut. Karena mereka yang paling dekat dengan masyarakat.
  • Dengan struktur Central Pagoda dengan sub Pagoda. Peranan Central Pagoda lebih ke arah save keeping and book account. Sedangkan sub pagoda untuk bertanggung jawab pada penggunaan dengan bekerjasama dengan organisasi terkait (e.g. Action for health, red cross, etc)  termasuk monitoring kegiatannya
  • Di Filipina dan German memiliki ide yang bagus juga untuk mendapatkan dana untuk charity. Yaitu, aset-aset yang dimiliki gereja, contohnya: tanah-tanah yang dimiliki gereja dibangun gedung-gedung tinggi, perusahaan dan mereka bebas pajak. Hasil dari bisnis ini untuk menghidupi gereja dan untuk kegiatan sosial lain. Jadi pada dasarnya kita nggak bisa hanya tergantung dari donasi – not sustain.

 

DSC_3431DSC_3424DSC_3430

 

Lesson learn dari Hospital:

  • Health insurance Staff di kamboja lebih bertanggung jawab hanya untuk proses administrasi. Namun di sisi lain, mereka juga bertanggung jawab terhadap kepuasan pasien dan melakukan edukasi untuk motivasi. Kelemahan dalam health insurance di sini adalah, mereka tidak bisa merubah klaim yang di klaim kan oleh Rumah Sakit, namun mereka bisa melakukan diskusi untuk perbaikan ke depan. Namun perlu ditekankan, pembayaran dilakukan berdasarkan case based system. Dan dokter tidak mendapatkan incentive dengan makin banyaknya pemeriksaan. sebagai contoh:  untuk rawat jalan untuk konsultasi dan obat hanya perlu bayar 2,5 $, apapun obatnya.
  • Pembayaran cukup cepat kepada rumah sakit, hanya cukup menunggu 1 bulan.
  • Di Indonesia (PT. ASKES). Sebelum pasien mendapatkan layanan fasilitas kesehatan, diperiksa dulu oleh petugas ASKES untuk eligibilitas. Setelah pengobatan juga diperiksa untuk reimbursment, apakah ada pemeriksaan yang tidak ditanggung atau pemeriksaan di luar. normal.Hal ini juga didukung oleh komite medik, sehingga bisa menjadi penengah ketika diskusi antara dokter yang menangani dan pihak asuransi.
  • Di Filipina, terhadap delegasi Phil Health di rumah sakit untuk mengawasi prosedur yang dilakukan oleh Rumah Sakit. Phil health telah membuat pedoman standar terapi dan diagnosis yang ditanggung, dan mereka sangat strict. Tapi lalu menjadi masalah di sisi rumah sakit. Karena sebagai contoh ketika diagnosis yang ditanggung hanya diare dengan mild dehidrasi, namun tiba-tiba muncul pasien yang jauh datang dari pedesaan. Mau nggak mau harus menginap dan tambahan lain-lain. Ini menjadi tidak bisa ditanggung. Grey area.. what should it be?
  • Di Filipina, saat ini pembayaran di PhilHealth menuju pembayaran DRG. Karena dengan Fee For Service, mereka harus memeriksa seluruh kegiatan secara detail yang berarti tidak efisien. Dan karena banyaknya administrasi proses, seperti ID, Rujukan dan lain-lain, maka mereka mulai dengan kartu swab yang berisi seluruh informasi.
  • Di Filipna, formlary obat sangat spesifik karena sudah berdasarkan jenis penyakit yang sangat spesifik. Dan karena dibayar berdasarkan case based system juga, jadi dokter tidak memperoleh keuntangan kalau memakai branded/ yang mahal.
  • Di Vietnam, VSS sebagai lembaga asuransi bertanggungjawab baik untuk social health insurance maupun untuk insurance for the poor. Di rumah sakit perkotaan, mereka memiliki 2-3 orang yang akan memeriksa dokumen klaim. Sedangkan kalau di daerah terpencil, akan ada 1 orang yang dikirim ke rumah sakit setiap minggu atau bulan. Dan karena cuma cek dokumen, maka tidak ada komunikasi dengan rumah sakit. Dan health insurance akan tidak membayar, atau kalau sudah pre paid, maka rumah sakit harus mengembalikan.
  • Di Vietnam, harga obat berbeda-beda tiap regional. Dan Rumah Sakit diberikan dalam bentuk in-kind. Sehingga tidak ada insentif untuk sang dokter / farmasi yang meresepkan obat paten dengan harga yang tinggi.

DSC_3509DSC_3466DSC_3467DSC_3468DSC_3469DSC_3471DSC_3474DSC_3475DSC_3476DSC_3477DSC_3478DSC_3481DSC_3484DSC_3487DSC_3488DSC_3501DSC_3503DSC_3507DSC_3508

Lesson Learn dari Dinas Kesehatan Provinsi (Provincial Health Department).

  • Mereka melakukan bottom up approach, baik dari obat sampai peralatan yang dibutuhkan. District –> Province –> MoH. Dan seperti biasa, terkadang tidak semua kebutuhan dapat dipenuhi. Dan kebutuhan dipenuhi dalam bentuk in-kind, kecuali gaji.
  • Di Fasilitas kesehatan, revenue dibagi menjadi 60 persen digunakan untuk insentive, 39 persen untuk operasional, dan 1% untuk tax. Operasional dapat digunakan untuk membeli obat jika kebutuhan obat tidak mencukupi.
  • 3-5% dari total budget hospital merupakan pemasukan dari seluruh self paid, CBHI, HEF, Dari sini, terlihat bahwa asuransi tidak mempunyai power yang kuat. Sedangkan di Filipina, fasilitas kesehatan lebih takut dengan asuransi dibandingkan dengan MoH.

DSC_3511

 
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: