RSS

Strategi Pemasaran Universal Coverage

12 Mei

Oleh: Firdaus Hafidz

Pendahuluan

Asuransi kesehatan social merupakan salah satu metode pembiayaan kesehatan. Konsep ini sangat ideal, yakni mengumpulkan seluruh risiko (risk pooling) individual dan rumah tangga dari total biaya pelayanan kesehatan. Semakin besar derajat riskpooling pada sistem pembiayaan kesehatan, maka semakin sedikit konsekuensi untuk risiko pembiayaan kesehatan individual dan semakin mudah orang untuk mengakses pelayanan kesehatan yang dibutuhkan.

Terdapat dua puluh tujuh Negara yang telah berhasil menjalankan universal coverage melalui metode ini. Namun perlu diketahui, diperlukan effort yang sangat besar dan hampir seluruh Negara yang telah berhasil mengimplementasikannya  membutuhkan waktu yang sangat lama. Sebagai contoh Jerman sebagai Negara maju memerlukan waktu selama 127 tahun, dan yang paling cepat adalah 20 tahun di Costa Rica. Sehingga jika Indonesia ingin menargetkan universal coverage di tahun 2014 melalui system asuransi social, hal ini bisa dikatakan sangat sulit. Karena sebagaimana kita ketahui, Indonesia masih memiliki beberapa kendala untuk mengimplementasikannya, antara lain anggaran kesehatan yang masih jauh di bawah anggaran yang telah ditetapkan oleh WHO yakni 2,8% dari GDP, permasalahan atas pemerataan fasilitas dan tenaga kesehatan, system informasi kesehatan dan yang paling terpenting adalah komitmen dari para pengambil kebijakan itu sendiri.

Namun kita tidak perlu pesimis dahulu. Kita harus mengerti bahwa universal coverege memiliki dua dimensi yang berbeda. (1) perlindungan kesehatan yang mencukupi (adequate health care) dan (2) melindungi seluruh populasi (health care for all). Kita tidak dapat meraih keduanya dalam satu waktu, semuanya butuh road map yang jelas dalam pelaksanaannya dan penetapan prioritas atas pilihan-pilihan yang tersedia.

Terdapat dua pilihan untuk mencapai universal coverege. Pertama adalah sistem pembiayaan kesehatan berdasarkan pajak (general tax revenue) sebagai sumber pembiayaan kesehatan. Sering disebut sebagai NHS (National health Service) dan Asuransi Kesehatan Sosial (SHI), dimana mewajibkan seluruh populasi untuk menjadi anggota. Untuk pekerja akan dipotong dari gajinya langsung, sedangkan pekerja informal berdasarkan estimasi pendapatan. Pemerintah juga dapat memberikan kontribusi untuk menentukan siapa yang tidak perlu membayar (orang miskin dan orang yang memiliki pendapatan rendah). Sedangkan pelayanan kesehatan dapat di pemerintah maupun swasta.

Dari pilihan yang telah disebutkan di atas, saat ini Indonesia akan melakukan kombinasi atas metode pembayaran tersebut. Karena kita memerlukan metode NHS untuk membiayai penduduk miskin dan pekerja informal yang sangat sulit atau bisa dikatakan mustahil menarik iuran premi secara wajib terhadap mereka. Hal ini dibuktikan dengan pembayaran pajak NPWP hanya 2% dari penduduk. Tapi, di sisi lain diperlukan system gotong royong untuk melindungi seluruh pendudk melalui metode SHI.

berupaya mengembangkan system jaminan social untuk mewujudkan cakupan terlindunginya seluruh penduduk (universal coverage).

Ide yang begitu normative dan ideal yang telah disampaikan di atas memerlukan “strategi pemasaran ide”  agar ide tersebut dapat terwujud. Pemasaran menjadi sangat penting sebagai suatu proses social yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang berniali dengan pihak lain. Sehingga pemasaran tidak hanya berarti menjual ide asuransi dan penjualan hanya merupkan puncak kecil dari pemasaran.

Segmentation

Jarang seorang pemasar dapat memuaskan setiap orang di pasar. Tidak setiap orang menyukai minuman rinagan, ruangan hotel, restoran, mobil dan lain-lain sama hal nya juga dengan ide asuransi social. Oleh karena itu, para pemasar ide harus memulainya dengan segmentasi pasar. Mereka perlu mengidentifikasi dan membedakan kelompok pembeli yang mungkin lebih menyukainya. Hal ini sangat ditentukan oleh marketing mix (produk, harga/price, tempat/place, promosi) . Yang paling sulit dalam pemasaran asuransi adalah produk, meskipun harganya sudah dibanting. Kesulitan dalam pemasaran asuransi adalah karena sifatnya intangible/ tidak dapat dinilai dengan uang. Meskipun pada akhirnya asuransi soial nantinya bersifat kewajiban dalam pembayarannya.

Segmen pasar dapat diidentifikasi dengan memeriksa perbedaan-perbedaan demografis, psikografis dan perilakuk di kalangan para pembeli.

Bila kita melihat dari sisi demografi, usia yang dapat menerima ide akan asuransi adalah orang-orang yang telah beusia setengah baya (40 tahun ke atas). Kenapa? Karena mereka sudah mulai menderita penyakit-penyakit degenerative seperti hipertensi, gula, dan lain-lain. Lain hal nya dengan anak muda yang lebih memilih mengambil risiko dalam masalah kesehatan karena mereka berasumsi selalu sehat.

Sedangkan dari sisi pendidikan, rata-rata orang yang mengenyam pendidikan perguruan tinggi akan lebih sadar akan kesehatan, meskipun sekarang semenjak adanya Jamkesmas dan Jamkesda masyarakat desa mulai terpapar akan pentingnya jaminan kesehatan. Namun jika diminta untuk membayar premi mungkin masih diragukan.

Pekerjaan dapat kita bedakan dari legislative sebagai pengambil kebijakan, orang-orang yang mempunyai risiko tinggi terhadap kecelakaan kerja.

Targeting

Kegagalan atas pemasaran asuransi selama ini adalah karena  pemasar ide berusaha membidik pasar sasaran yang tidak jelas dan terlalu luas. Setelah melihat beberapa segmentasi pasar di atas kita dapat melihat targeting pasar secara spesifik. Mana yang lebih potensial dalam realisasi asuransi kesehatan secara nasional.

Yang perlu diyakinkan dalam pemasaran asuransi tersebut adalah kepada para pengambil kebijakan pada intinya karena Penerapan jaminan kesehatan bagi masyarakat Indonesia hanya bisa terlaksana dengan baik jika ada kemauan politik (political will) dari pemerintah. Sehingga targeting ide asuransi kesehatan dapat dibedan menjadi berikut:

  1. DPR, cara mempromosikannya adalah dengan diberi kartu untuk mengalami pengalaman atau rapat dengar pendapat, atau studi banding. Hal ini telah dilakukan oleh PT. ASKES dalam pemasarannya. Sehingga orang-orang pengambil kebijakan tersebut terus mendukung pihak asuransi karena telah merasakan manfaatnya.
  2. Namun melalui siapa untuk melakukan pemasaran kepada DPR? “Melalui MEDIA”. Pemsaran kepada media ialah dengan cara memberikan berita yang dapat meningkatkan rating atau oplah. Contoh: di Amerika 40 juta tidak terasuransi, di Indoneisa 120 juta orang tidak terasuransi. Cukai rokok tidak membantu kesehatan. Jamsostek asetnya 84 triliun, bagaimana alokasinya untuk jaminan social kepada pekerja selama ini? Hal ini akan menggugah komitmen para pengambil kebijakan.
  3. Menemui penguasa/ key person media. Contoh: Bakrie, Surya Paloh, Muchtar Yadi, dll.
  4. Kepada orang-orang miskin/ orang-orang yang telah mengalami trauma atas permasalahan kesehatan seperti Bilqies dan Prita dan lain-lain yang bisa ikut menggugah media untuk memasarkannya kepada pengambil kebijakan.

Positioning

Keputusan pemasaran ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan lingkungan politik dan hukum. Lingkungan itu debentuk oleh hukum, badan pemerintah dan kelompok penekan yang mempengaruhi dan membatasi beragam organisasi daninvidu. Sehingga perlu mencari celah-celah peluang hokum untuk memacu dan memasarkan asuransi kesehatnan. Apalagi di tahun 2010 ini banyak pilkada yang merupakan sebuah peluang besar dalam pemasaran ausaransi/ jaminan kesehatan.

Positioning sebagai alat menanamkan dalam benak “in the mind” para pengambil kebijakan. Bagaimana meyakinkan para stake holder akan asuransi. Sehingga ide terseubt dirasakan dapat memberikan manfaat yang sangat penting bagi pembeli. Positioning  sering menjadi salah karena ketidakjelasan menetapkan target pasar. Dan positioning juga bisa tidak kuat akibat kesalahan memasang atribut, sehingga lemah dalam menetapkan positioning statement

Beberapa label yang dapat diberikan sebaiknya tidak terlalu formal, tapi benar-benar mengena di masyarakat dan para pengambil kebijakan. Salah satu contoh kesalahan pemerintah masa lalu adalah pemasaran mobil Mazda MR. yang berarti Mobil  rakyat. Meskipun hal ini diadopsi dari VW, namun hal ini tidak berlaku di Indonesia.

Penutup

Beberapa negara di dunia bahkan telah berhasil menjalankan program universal coverage secara baik. Inggris dan Saudi Arabia misalnya, memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi semua penduduk.

Adapun Kanada dan negara-negara di Eropa, Australia, dan Asia menerapkan sistem asuransi kesehatan nasional, di mana seluruh penduduknya telah memiliki asuransi kesehatan. Semua ini tidak terlepas dari sisi strategi pemasaran, sehingga terdapat komitmen pengambil kebijakan dalam menyelenggarakan asuransi/ jaminan kesehatan bagi seluruh rakayat Indonesia.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12/05/2010 in Kuliah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: