RSS

Seminar Kesejahteraan (Sosial) Minimum

21 Des

IMG00202

Seminar Nasional dalam rangka Dies ke-60 UGM memiliki judul yang sangat menarik yakni Kesejahteraan (Sosial) Minimum dengan pembicara-pembicara kawan, seperti Muhaimin Iskandar, M. Maksum, Prof. Bambang Sudibyo, Prof. Ali Ghufron, Prof. Agus Dwiyanto, Ir. Haryadi Suyuti, Drs. Sularno, dr. Dyah R. M.Kes.

Di awal pembukaan, wakil rektor menyebutkan bahwa tidak mudah dalam penetapan arti kesejatahteraan minimum. Karena kita dapat melihat dari berbagai sudut pandang sehingga menyebabkan multi interpretasi. Sepertinya hal tersebut memang benar-benar terjadi. Bagaimana tidak?, yang saya harapkan adalah kebijakan-kebijakan saat ini terhadap masalah kesejahteraan minimum, namun yang disampaikan dalam keynote malah tentang kondisi perikanan dan tenaga kerja. Walah benar-benar di luar harapan. Udah gitu, yang seharusnya menteri yang berbicara malah wakilnya. Yang lebih mengecewakan lagi, cuma baca surat pidato titipan. Kalau itu mah, kita semua juga bisa baca.

Setelah selesai istirahat snack, kita semua siap menerima materi. Kalau yang ini sudah lumayan agak masuk, tapi karena keterlambatan 2 dari 3 pembicara, maka M. Maksum berbicara dahulu. Walah yang ini juga ngomongin permasalahan pertanian dan ekspor impornya. Sampai-sampai pada akhir sesi ada yang mengomentari sebagai provokator ulung. Meskipun pemaparannya menarik, tapi mengecewakan akibat cuma bisa menyampaikan masalah tanpa memberikan solusi. Dan hubungannya dengan kesejaahteraan minimum nya apa?

Sedangkan pembicaraan Prof. Agus beserta perwakilan dari Jogja meskipun sudah mengena tapi terlihat begitu normatif dan dengan gaya bicara yang diplomatis setiap menjawab pertanyaan. Prof. Agus mengatakan bahwa pemerintah harus embuat konsep yang jelas dan rinci mengenai setiap apa itu kesejahteraan minimum. Sehingga rakyat pun dapat menuntut balik kepada pemerintah akan hak minimum sebagai warga negara. Beliau memberi contoh mengenai anc dengan jumlahnya. Kalau dilihat-lihat SPM telah cukup rinci, namun yang jadi masalah adalah, masyarakt saja nggak tau kalau itu merupakan haknya. dan kalaupun memeang sudah menjadi haknya, dimana mereka bisa memeproleh hak nya tersbut. kalau cuma di fasilitas publik, yah mana cukup? dan bagaimana kualitasnya?

Sangat disayangkan saya tidak bisa mengikuti sesi berikutnya. Padahal pengen banget ndengerin Prof Ghufron berbiara.

Fly to Jakarta…..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21/12/2009 in Journal

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: