RSS

Apa Yang Bisa Kita Lakukan Bersama Atas Masalah Biaya Kesehatan?

14 Des

Oleh:

Firdaus Hafidz

Mahasiswa S2 dan peneliti Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran UGM,

"Kalau diubah menjadi asuransi kasihan rakyat kecil karena konsekuensinya harus ada iur biaya. Tidak semua penyakit juga bisa tercaver, kalau dulu orang gila pun tercaver Jamkesmas,” tandas Siti, Mantan Menteri Kesehatan.

Kritikan Siti Fadilah Supari (Mantan Menteri Kesehatan RI periode 2004-2009) atas kebijakan penghapusan program Jamkesmas oleh Menteri Kesehatan membuat saya sedikit tergelitik. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah benar program Jamkesmas lebih baik dari sistem Asuransi Sosial? Ataukah kritikan yang selama ini muncul hanya merupakan ungkapan emosional atas program yang tidak dilanjutkan?

Apa Permasalahan Pembiayaan Kesehatan di Indonesia?

Kita semua merasakan biaya pelayanan kesehatan yang terus meningkat tajam dari tahun ke tahun. Beberapa alasan terjadinya peningkatan pembiayaan atas pelayanan kesehatan menurut teori managed care adalah (1) Insentif yang tidak memadai atau tidak ada sama sekali bagi penyelenggara pelayanan kesehatan, badan penyelenggara jaminan dan pasien untuk menerapkan sistem pelayanan kesehatan secara efisien, (2) Harapan masyarakat yang tidak realistis terhadap sistem pelayanan kesehatan dan kurangnya tanggungjawab individu dalam memelihara gaya hidup sehat, (3) Tumbuh kembangnya teknologi baru dan mahal tetapi kurang bermanfaat, (4) Akibat meningkatnya populasi lanjut usia yang menyebabkan pergeseran ke arah pelayanan medis pada penyakit kornis, (5) Praktek kedokteran defensif, dimana pelayanan yang diberikan berlebihan dan tidak diperlukan karena kekuatiran akan dituntut atas malpraktek, dan (6) Kecurangan dan penyalahgunaan pelayanan kesehatan.

Namun terdapat hal yang sulit dihindari, yakni akibat inflasi biaya pelayanan kesehatan terutama biaya obat yang jauh melebihi komoditas umum lainnya. Terkait dengan program pemerintah untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dalam bidang kesehatan terutama pendanaan biaya kesehatan untuk masyarakat miskin, pada tahun 2009 pemerintah pusat telah menganggarkan biaya kesehatan sebesar Rp 5,8 trilyun. Anggaraan kesehatan ini meningkat dari tahun ke tahun sejak tahun 2005 hingga tahun 2009. Selama 4 tahun tersebut, anggaran negara untuk kesehatan masyarakat miskin telah dinaikkan sebesar 257 persen.

Dengan pembiayaan yang cukup besar itu, pemerintah berusaha melindungi masayrakat miskin dan tidak mampu sebesar 19,1 juta Rumah Tangga Miskin atau sekitar 76,4 juta jiwa. Pemanfaatan Jamkesmas oleh masyarakat miskin terus meningkat dari tahun ke tahun. Kunjungan rawat jalan dari tahun 2005 hingga 2007 meningkat sebesar 410 persen. Sedangkan kunjungan rawat inap dari tahun 2005 hingga 2007 sebesar 364 persen. Seharusnya dengan melihat angka-angka tersebut, Mantan Meteri Kesehatan tidak boleh bangga dengan programnya (Jamkesmas). Karena secara sekilas saja kita dapat melihat adanya berbagai permasalahan dalam pengelolaan Jamkesmas. Hal ini akan menjadi masalah besar dari tahun ke tahun akibat peningkatan pemanfaatan tidak seiring laju peningkatan kemampuan pemerintah membiayai orang miskin.

Di sisi lain, masih banyak masyrakat Indonesia yang berstatus sebagai setengah miskin atau menengah yang sakit sedikit dapat jatuh miskin. Oleh karena itu, berdasarkan survey atas hak kepemilikan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) terhadap 1.300 responden, 80% menyatakan berhak mendapatkannya. Hal ini menunjukkan betapa takutnya masyarakat untuk jatuh dalam jurang kemiskinan akibat permasalahan kesehatan yang dihadapinya. Jadi tidak heran jika masyarakat berlomba-lomba menjadi peserta Jamkesmas atau berusaha memiskinkan diri. Hal ini tentu saja berdampak pada pemanfaatan program jamkesmas yang tidak optimal oleh masayrakat miskin.

Apa Implikasinya Pada Pelayanan Kesehatan?

Dengan meningkatnya pemanfaatan pelayanan kesehatan yang tidak diiringi oleh pendanaan yang memadai, kualitas pelayanan kesehatan menjadi taruhannya. Hal ini memicu ketidakadilan dimana kualitas pelayanan kesehatan yang buruk bagi penduduk golongan bawah. Hal yang paling mengerikan yang bisa terjadi di kemudian hari adalah adanya diskriminasi pelayanan kesehatan terhadap orang miskin. Selain itu, hal ini dapat menjadi lingkaran setan ketika semakin banyak orang yang jatuh ke dalam jurang kemiskinan akibat permasalahan kesehatan oleh karena masih banyaknya penduduk yang tidak terlindungi oleh jaminan kesehatan saat ini (Jamkesmas).

Apakah ada solusi atas kenaikan biaya kesehatan?

Dalam kondisi seperti ini, pemerintah harus memprioritaskan pembangunan kesehatan untuk seluruh lapisan masyarakat dengan mempertimbangkan keterbatasan dana yang dimiliki oleh pemerintah. Jamkesmas sebagai salah satu program sebagai jawaban atas segala permasalahan pembiayaan kesehatan merupakan program yang sangat ideal. Namun, dengan kondisi keterbatasan yang dihadapi bangsa ini hal tersebut rasanya kurang tepat dan sebenarnya program tersebut telah menjauhi dan tidak sesuai dengan Undang-Undang no.40/2004 mengenai Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang menjamin pembiayaan kesehatan masyarakat berdasarkan sistem asuransi sosial.

Berdasarkan Sistem Jaminan Sosial yang diatur dalam UU No. 40 tahun 2004, seluruh warga negara akan mendapatkan jaminan sosial dalam bentuk asuransi. Bagi masyarakat kurang mampu, premi asuransinya tentu saja ditanggung oleh negara. Dengan sistem seperti ini, setiap warga negara dan pemerintah tidak akan lagi dipusingkan dengan biaya kesehatan yang cukup tinggi. Sehingga layanan kesehatan yang layak tidak hanya jadi monopoli kalangan masyarakat kelas atas.

Yang diperlukan bangsa ini adalah perlindungan kesehatan kepada seluruh penduduk. Batasan-batasan dan kendali biaya yang terjadi ketika asuransi sosial dijalankan merupakan hal yang musti dibayar dengan kondisi saat ini. Anda bisa bayangkan, biaya orang gila atau operasi jantung pada usia lanjut untuk orang miskin yang ditanggung Jamkesmas sebenarnya sangat lebih dibutuhkan untuk anak-anak yang sedang menghadapi ujung maut akibat demam berdarah di ruang gawat darurat. Memang tidak mudah untuk menentukan batasan terhadap suatu kondisi. Semuanya perlu dipandang dari sudut religi, teknis, operasional dan probabilitas. Hal ini bisa tidak menjadi permasalahan lagi ketika Pemerintah masih memiliki dana yang dapat dialokasikan setelah seluruh biaya atas Standar Pelayanan Minimal (SPM) terpenuhi.

Bayangkan jika kita bersama-sama seluruh Indonesia bersatu mengumpulkan dana untuk asuransi kesehatan sosial. Berdasarkan data BPS tahun 2007, kemampuan membayar kesehatan (Ability to pay) masyarakat rata-rata Rp. 18.421. Dan kemudian dengan asumsi premi yang ditetapkan pemerintah rata-rata di seluruh Indonesia adalah Rp. 18.000,-/ bulan dan jumlah rumah tangga Indonesia kurang lebih 58 juta jiwa. Maka jumlah dana masayrakat yang akan diperoleh oleh pemerintah untuk biaya kesehatan adalah Rp. 1,04 trilyun/ bulan. Dengan kata lain sebesar Rp. 12,52 trilyun /tahun. Sekarang anda bisa bayangkan program pemerintah sekarang yang hanya menganggarkan 5,8 triliyun rupiah. Sebenarnya asumsi ini pun dirasa masih lebih rendah, karena belum diperhitungkan potongan gaji PNS yang akan jauh lebih besar, donasi, dan sumber dana lainnya.

Tidak beralasan jika Mantan Menteri Kesehatan mengatakan bahwa masyarakat miskin akan terbebani. Untuk mengurus kartu SKTM saja mereka sudah banyak mengeluarkan biaya, baik dari sisi transportasi, uang adminstrasi seperti fotokopi, komunikasi dan lain-lain. Menurut survey rata-rata pengeluaran rumah tangga per bulan, untuk rokok saja masyarakat mampu mengeluarkan uang sebesar Rp 87.569 yang notabene merusak kesehatan. Kenapa meluangkan uang kebutuhan dasar sebesar Rp 18.000 tidak mampu? Maka dari itu, kita harus optimis bahwa sebenarya masyarakat ini mampu untuk bergotong royong untuk kepentingan bersama.

Tantangan apa yang harus kita hadapi bersama?

Kata “Asuransi” secara sepintas memang masih dianggap sesuatu yang hanya merugikan masyarakat. Hal ini juga disampaikan Mantan Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari, “Dengan sistem asuransi ada orang-orang yang mendapatkan untung dan komisi”. Namun jika kita telaah lebih lanjut, terdapat 2 sistem asuransi yang berlaku, yakni asuransi sosial dan asuransi komersial. Dengan sistem asuransi social ketakutan-ketakutan atas perubahan dari Jamkesmas menuju Asuransi sosial sangat tidak beralasan.

Asuransi sosial memegang prinsip kegotongroyongan, nirlaba, keterbukaan, kehati-hatian, akuntabilitas, portabilitas, kepesertaan, dana amanat dan hasil pengelolaan. Dengan prinsip-prnisp tersebut, dana yang terkumpul dari iuran peserta akan dikelola secara optimal oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial untuk kesejahteraan peserta sebesar-besarnya. Setiap hasil pengelolaan nantinya akan dikembalikan kepada seluruh penduduk Indonesia yang menjadi peserta jaminan sosial karena sifatnya yang nirlaba.

Mengenai perdebatan panjang siapa yang berhak menjadi Badan Penyelenggara, ketakutan atas pendaanaan yang kurang dan permasalahan lainnya yang menghambat sebenarnya tidak perlu terjadi jika terdapat komitmen dan persamaan persepsi bersama baik dari pemerintah maupun masyarakat atas penyelenggaraan Sistem Jaminan Sosial Nasional untuk melindungi kesehatan seluruh penduduk Indonesia secepat mungkin.

Semoga rakyat tidak dirugikan waktu lagi atas haknya tertundanya dalam pelaksanaan UU SJSN.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 14/12/2009 in Health economics

 

Tag: ,

2 responses to “Apa Yang Bisa Kita Lakukan Bersama Atas Masalah Biaya Kesehatan?

  1. itak

    27/12/2009 at 11:26 am

    thanks..artikelnya banyak membantu saya dalam membuat tugas paper…juga rencana thesis , tentu saya cantumkan sumbernya..

     
    • Hafidz

      28/12/2009 at 6:58 am

      Ya.. semoga bermanfaat. Namun perlu diketahui, untuk sumber data ATP/WTP dari BPS 2007 sebaiknya anda coba olah ulang kembali dari data aslinya.
      Sukses…

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: