RSS

KURUN WAKTU 1996-2009, 144 WARGA BANTUL POSITIF HIV/AIDS

03 Sep

BANTUL (KR) –Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul Siti Noor Zaenab Mkes mengungkapkan, dalam rentang waktu tahun 1996-2009 sebanyak 144 orang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA). Rinciannya 45 orang positif AIDS dan 99 orang HIV. Jumlah tersebut berdasarkan data dari empat rumah skait di Yogyakarta yang memberikan pelayanan konsultasi bagi ODHA. Jumlah penderita diperkirakan lebih banyak dari yang terdata.

Kepala Dinas Kesehatan Bantul menyatakan hal itu kepada KR, Selasa (1/9). Siti menambahkan, data diperoleh dair empat rumah sakit di Yogyakarta yang membeirkan layanan konsultasi penyakit HIV/AIDS meliputi RS Dr.Sardjito, Bethesda, Panti Rapih serta PKU Yogyakrata. Sampai saat ini, kata Siti 15 ODHA meninggal dunia.

Jumlah penderita HIV/AIDS itu, kata Siti, seperti fenomena gunung es, jumlahnya sangat banyak tetapi tidak teridentifikasi. “Bisa saja di Bantul warga yang terjangkiti lebih banyak dari data yang ada, karena penderita tidak mudah terindentifikasi,” terang Stii. Menurutnya, orang positif AIDS memiliki tanda spesifik, yaitu diare tidak kunjung sembuh, bantuk berkepanjangan, berat badan turun. Tetapi meski gejala itu ada, untuk memastikan harus diperiksa. Siti menjelaskan, bila seseorang terserang viru HIV, dalam darah orang itu ada kuman dan bisa diupayakan disembuhkan. Tetapi bila seseorang sudah positif AIDS, kesempatan sembuh kecil.

Penularan virus itu, lanjuutnya, bisa melalui cairan tuh baik dari sperma, vagina, darah, lewat pleasenta saat melahirkan, jarum suntik bagi yang mengonsumsi narkoba karena biasanya digunakan bergantian.

Menurutnya masyarakat dengan risiko tinggi tertular penyakit HIV/AIDS ialah pekerja seks komersial (PSK), pecandu narkoba, berhubungan seks berganti pasangan. Ia mengimbau agar menghindari hubungan seks yang bukan pasangannya. Tetapi bila terpaksanya berhubungan agar menggunakan kondom. Dari jumlah ODHA itu, Siti tidak bisa mengatakan dari wilayah mana mereka. “Yang jelas mereka dari Bantul,” ungkapnya.

Pihaknya berupaya menghindari adanya penyebaran virus HIV/AIDS dengan pemeriksaan setiap kantong darah yang adadi PMI untuk dilakukan skliring. Bila dalam darah ada indikasi terkontaminasi HIV, maka tidka akan digunakan transfusi darah. Tetapi dirinya tidak menampik, bahwa pihaknya merasa kesulitan untuk melakukanp emeriksaan terhadap PSK di pantai selatan “Mereka kan ilegal, jadi hal itu menyulitkan untuk dilakukan pemeriksaan secara berkala,” terang Siti (Kedaulatan Rakyat 2 September 2009)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 03/09/2009 in HIV/AIDS

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: