RSS

JAMKESDA

22 Agu

Diskusi mengenai Jamkesda bersama David Dunlop (GTZ), Matthias Deters, Jan Van Lente (AOK) dengan teman-teman dari Dinas kesehatan Kabupaten dan Propinsi Jogjakarta.

Tim dari GTZ dan AOK ingin membantu dalam pembangunan jaminan kesehatan daerah. Bagaimana model terbaik untuk mengintegrasikan antara daerah dan propinsi serta harmonisasi dengan nasional. Dan nantinya dengan formulasi yang tepat untuk diajukan kepada DJSN. Karena sebagaimana kita ketahui terdapat perbedaan premi, benefit dan lain-lain di setiap daerah.

Dalam pembangunan JAMKESDA, dengan konsep desentralisasi terintegrasi, diperlukan integrasi yang bersifat horizontal maupun vertikal. dengan pengelolaan jaminan kesehatan yang tidak eksklusif, maka dapat mengatasi permasalahan portabilitas dengan lebih mudah.

Konsep ke depan dalam integrasi horizontal adalah dengan adanya bapel yang sudah ada di setiap daerah baik komersial maupun sosial. Harus memiliki koordinator di setiap daerah (kabupaten). Sehingga dapat dikumpulkan semua data mengenai uang, peserta dll . Hal ini untuk Perencanaan Local government., contoh: bed, kapasitas dll. Dengan begitu, daerah tersebut dapat menyamakan standar pelayanan dan setiap konsumen hanya memiliki 1 jenis asuransi/ jaminan kesehatan. Selain integrasi horizontal, integrasi vertikal yakni standarisasi beneift package atau SPM yang mungkin dapat digunakan sebagai standar berasal dari pusat. Namun jika masyrakat memiliki kemampuan lebih, maka dapat ditambah sendiri sesuai kemampuan. Dalam hal portabilitas yang sering ditakutkan jika tidak tersentralisasi, setiap kabupaten dapat memiliki tanggung jawab penuh terhadap peserta dari kabupatennya masing-masing. Namun jika peserta keluar dari kabupaten, maka ada tanggung jawab dari propinsi. Dan jika peserta keluar dari propinsi, maka terdapat tanggung jawab dari pusat. Sehingga diperlukan kesepakatan dan diterbitkannya aturan untuk mengatur hal tersebut.

 

Sekarang ini terdapat 68 daerah telah mengembangkan JAMKESDA secara mandiri. Masalahnya adalah setiap daerah:

  1. Masih ragu akan legalisasi dan bagaimana teknisnya.
  2. Ahli masih kurang
  3. Terdapat berbagai variasi premi, benefit –> hal ini karena national tidak menetapkan standar norma, dan juga karena kapasitas dan kebijakan tiap daerah
  4. Infrastruktur fasilitas kesehatan
  5. Kekurangan sumber daya manusia.
  6. Kerja sama berbagai wilayah dan pusat belum terbentuk, masih bekerja sendiri-sendiri.
  7. Daerah merasa kontribusi pusat masih terbatas.
  8. Terkadang masih double penerima jamkesmas dan jamkesda.

Kekurangan sentralisasi adalah:

  1. Realisasi lama.
  2. Kekurangan anggaran
  3. Dan jika semua uang dari tiap daerah dikumpulkan ke pusat maka daerah kurang setuju, bahkan mereka ingin sebaliknya, uang dari pusat membantu daerah
  4. Nantinya jika sudah terealisasi, segala hal urusan harus menunggu keputusan di tingkat pusat yang memakan waktu dan rantai penyelesaian masalah yang panjang. Daerah tidak dapat beperan sebagai safe guarding.

Pertanyaan berikutnya adalah, apa kesulitan dalam membangun JAMKESDA saat ini?

  1. Keanggotaan. Terdapat perbedaan mengenai data penduduk miskin di pusat dan daerah. Pada tingkat pusat terdapat 7 aspek dengan 11 indikator, sedangkan di tingkat daerah terapat 7 aspek dengan 18 indikator.
  2. Koleksi premi. Mau tidak mau, untuk saat ini koleksi premi hanya bersifat sukarela. Namun menurut pengalaman di Vietnam, terdapat sistem sukarela wajib. Yakni suatu komunitas membuat keputusan untuk mengikuti program ini atau tidak. Namun setelah komunitas tersebut sepakat untuk mengikuti, maka sifatnya menjadi wajib untuk membayar premi.
  3. Model apakah yang terbaik? apakah dengan BLUD hal ini bisa menjawab segalanya? karena proses yang lama dan argumen yang baik.
  4. Benefit package. Jika orang Jakarta datang ke Jogjakarta dengen benefit package yang sama, namun tidak bisa dihindari fasilitas di Jakarta mungkin jauh lebih baik dari Jogjakarta meskipun sama-sama kelas 3.

Baik, dengan adanya seluruh permasalahan tersebut, kita perlu berpikir bersama dan bekerjasama dengan saling mendukung agar terciptanya universal coverage.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 22/08/2009 in Health economics

 

Tag: , , , ,

2 responses to “JAMKESDA

  1. ghufron

    04/09/2009 at 10:30 pm

    Mas Hafidz,

    Sebaiknya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris juga jadi ada dua bahasa. Bisa minta tolong bu Diah.

    Makasih

    Ghufron

     
    • Hafidz

      05/09/2009 at 3:18 am

      Baik Prof, nanti saya koordinasikan dengan Bu Diah.
      Terimakasih atas komentarnya

      Hafidz

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: